
Maaf, typo bertebaran. Selamat membaca🌹🌹
🌸🌸🌸🌸
"Kenapa kita gak ke mall aja sih, sayang? Kalo di mall kan enak, sayang gak usah capek-capek keliling, nanti pelayannya yang bakal bawain barang yang ingin sayang beli." Usul Reza sekaligus protes.
Bukannya Reza tak ikhlas, hanya saja Reza tak pernah menginjakkan kakinya ke pasar. Bayangan pasar yang kotor dan bau membuatnya merasa enggan untuk menginjakkan kakinya ke tempat itu.
"Ya, gak papa mas. Lira lebih suka belanja di pasar karena nanti Lira bisa menawar harga barangnya lebih murah." Jawab Lira santai. "Lagian juga dari kecil Lira belanjanya di pasar, gak pernah belanja di mall." Lanjut Lira yang membuat Reza menjadi bungkam.
Reza lupa jika istrinya berasal dari kalangan yang berbeda dengan dirinya. Ia juga lupa jika hingga saat ini, Lira belum pernah menginjakan kaki ke mall. Reza menjadi merasa bersalah dengan apa yang sudah ia ucapkan tadi. Reza takut jika nanti Lira menjadi tersinggung karena ucapannya.
"Maaf ya, sayang. Mas gak ada maksud buat nyinggung perasaan sayang." Ucap Reza dengan wajah sesal sambil memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Iya, mas. Lira gak merasa tersinggung, kok." Jawabnya sambil tersenyum tulus.
🌸🌸🌸🌸
Sebelum pergi, Lira dan Reza lebih dulu meminta izin pada orang tua mereka. Lira juga sudah menceritakan tentang kehidupan serta kondisi rumah keluarga Nur kepada ketiga orang tuanya.
Orang tua Lira sangat mendukung niat baiknya dan bahkan, Martin juga bersedia mencarikan rumah baru yang lebih layak untuk keluarga Nur. Mengapa Martin memilih mencarikan rumah baru daripada merenovasi rumah Nur? Itu karena rumah Nur berdiri di atas tanah milih orang lain yang ia sewa pertahun. Kalau pun tanah itu dibeli, ukurannya hanya seluas kamar Reza yang ada di Jakarta dan menurut Reza itu sangat tidak cukup keluarga Nur.
Lira sangat bersyukur karena keluarganya sangat mendukung tindakannya dalam membantu keluarga Nur.
Sambil menggendong Inas, Lira dan Reza berpamitan pada ketiga orang tua mereka. Awalnya Irma melarang Lira untuk tidak membawa Inas, karena Irma tak ingin Lira merasa kecapekan nantinya. Selain itu juga, Irma sengaja karena ingin bermain dengan cucu kesayangannya. Namun, Lira menolak dengan halus dengan alasan ia tak ingin nanti Inas menangis jika tak melihat orang tuanya dalam waktu yang lama. Irma hanya bisa pasrah saat melihat Lira membawa Inas ikut bersamanya.
"Mas, nanti habis beli baju, kita mampir beli sembako ya." Ucap Lira saat mereka telah menaiki mobil menuju pasar.
"Iya, sayang." Jawab Reza dengan pandangannya fokus ke depan.
Kali ini juga , Reza memilih menyetir sendiri karena ia ingin menghabiskan waktunya bersama keluarga kecilnya. Meski hanya mengunjungi pasar, tapi Reza sudah sangat bersyukur. Apalagi melihat wajah istrinya yang terlihat begitu antusias saat ingin mengunjungi pasar, Reza jadi ikut bahagia.
"Mimi-mimi-mimi." Ucap Inas sambil menyusupkan wajah mungilnya ke dada Lira untuk meminta ASI.
__ADS_1
"Dedek mau mimi ya, nak?" Tanya Lira dan hanya mendapat anggukan dari Inas. "Bentar, ya."
Lira membuka kancing bajunya lalu mulai menyusui Inas yang sudah kehausan. Reza melihat tingkah putrinya hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Semakin hari, rasa sayang dan cinta Reza pada Lira semakin bertambah. Meski usianya masih sangat muda, tapi Lira bisa bersikap dewasa dengan menempatkan dirinya sebagai istri serta ibu yang baik bagi keluarga kecilnya. Tak pernah sekali pun Reza mendengar keluhan yang keluar dari bibir istri kecilnya. Semua Lira lakukan dengan senang hati dan penuh keikhlasan, semata-mata hanya untuk meraih Ridha Allah.
🌸🌸🌸🌸
Tiba di pasar, Lira mulai sibuk mengelilingi toko-toko pakaian. Inas sudah beralih ke gendongan Reza karena Lira sedang sibuk memilih pakaian untuk anak-anak Nur.
"Langsung ambil aja, sayang. Gak usah ditawar." Ucap Reza mengingatkan dengan peluh yang sudah memenuhi wajah tampannya. Belum lagi kemeja yang ia kenakan, sudah basah persis seperti orang yang terkena hujan deras.
Sejak tadi istrinya gagal membeli baju hanya karena harganya terlalu mahal menurutnya dan penjualnya juga enggan menurunkan harga meski Lira sudah menawar. Padahal, meski tidak menawar harganya, suaminya sanggup untuk membayar semua belanjaanya, semahal apapun itu. Tapi ya, yang namanya ibu-ibu jika sudah ke pasar, pasti akan tawar-menawar dulu sebalum membeli.
'Iya, mas. Sabar ya, Lira mau milih-milih dulu yang bagus." Jawabnya tanpa menoleh ke arah suaminya yang sudah berkeringat. Belum lagi ibu-ibu yang menatapnya dengan tatapan memuja, membuat Reza menjadi semakin risih dibuatnya.
"Mas, yang ini lucu. Lira beli buat dedek ya." Ucap Lira sambil menunjukan topi Pororo berwarna merah campur kuning pada Reza.
"Ya udah, deh." Lira langsung memasang wajah cemberut lalu menaruh kembali tapi lucu itu ke tempat semula.
🌸🌸🌸🌸
Puas berbelanja pakaian, mereka memutuskan untuk menuju toko sembako. Namun, saat mereka melewati trotoar yang dijadikan lahan menjual pakaian bekas, langkah Lira langsung terhenti ketika mendengar teriakan dari seorang ibu yang memanggil namanya dengan suara yang cukup kencang.
"Neng Lira." Panggil ibu itu.
Lira dan Reza langsung menoleh ke sumber suara. Wajah Lira langsung sumringah saat melihat siapa yang memanggilnya dengan suara lantang.
"Ini bener Neng Lira, kan?" Tanya ibu itu untuk meyakinkan ingatannya.
"Bener bu, ini Lira." Jawab Lira dengan senyum mengembang di wajah cantiknya. "Ibu apa kabar?" Tanya Lira sambil memeluk ibu itu.
"Alhamdulillah, ibu baik. Udah lama ibu gak liat neng, sekarang neng tambah cantik aja." Jawab si ibu dengan membalas pelukan Lira erat. "Neng mau beli baju, ibu? Ibu ada stok baru, lho." Lanjutnya lalu menarik tangan Lira menuju tenda jualannya tanpa menghiraukan Reza yang sudah memasang tampang bingung.
__ADS_1
"Ini neng, pakaiannya baru tiba kemarin sore. Ayo, dilihat dulu. Siapa tahu ada yang neng suka." Ucap ibu itu antusias.
Lira hanya tersenyum. Melihat pakaian bekas itu, mengingatkan Lira pada kenangannya ketika yang dulu. Saat itu, Lira tak mampu membeli baju baru di toko. Ia hanya mampu membeli baju bekas di tempat ibu itu yang sudah menjadi langganannya sejak dulu.
"Sayang, ayo buruan. Kita harus ke toko sembako sebelum dzuhur, lho." Ucap Reza saat menghampiri Lira.
"Iya, mas."
"Neng, itu siapa?" Tanya si ibu ingin tahu.
"Oh iya, kenalin bu, ini suami dan anak Lira."
Mata ibu itu langsung melotot dengan mulut terbuka lebar saat melihat wajah tampan Reza yang sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Masya Allah, suami neng ganteng banget. Anak Neng Lira juga cantik banget." Ucapnya tanpa berkedip menatap Reza dan Inas secara bergantian.
"Terima kasih, bu." Jawab Lira.
"Reza, suami Lira." Ucap Reza sambil menangkupkan kedua tangannya ke dada.
"Ah, iya. Saya Ibu Ita, penjual pakaian bekas langganan Neng Lira." Jawabnya dengan wajah bangga.
Reza mengerutkan keningnya. "Langganan beli baju bekas?"
"Iya. Dulu Neng Lira suka beli pakaian bekas di tempat ibu. Dari kecil hingga SMA, Neng Lira suka belanja ke sini. Apalagi kalo udah dekat lebaran, pasti Neng Lira dateng lebih awal biar bisa dapat baju yang lumayan masih bagus. Ya, walaupun kadang bajunya suka ada yang bolong, tapi kan gak keliatan. Harganya juga jauh lebih murah dibandingkan harga pakaian di toko." Jawab Ita panjang lebar tanpa memikirkan perasaan Reza yang sudah menjerit sakit saat mendengar pengakuan dari mulutnya.
🌸🌸🌸🌸
Bersambung.......😊
jangan lupa dukungannya, ya
terima kasih......
__ADS_1