
Hai...hai...hai.....
othor kaleng-kaleng balik lagi..
maaf ya, udah ngaprank kalian. othor ketawa lho, baca komen kalian yg katanya terkedut-kedut karena dikira beneran TAMAT.
panik gak, panik gak, panik gak?? ya gak paniklah, biasa aja keles. Othor mah kepedean๐
KHSI belum tamat kok, masih panjang kisah Reza dan Lira yang belum tuntas untuk diceritakan. Rencananya juga nanti othor mau buatin kisah tentang anak-anak Reza dan Lira yg udah pada dewasa-menikah. Tapi nanti ya, gak sekarang...
Lanjut......
Selamat membaca.....๐น๐น๐น๐น
๐ธ๐ธ๐ธ
"Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, Kami-lah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertaqwa.โ (QS. Thaahaa : 132)
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Sudah tiga hari Lira dirawat di rumah sakit. Hari ini tepat pukul satu siang, Lira akan pulang bersama baby Haidar yang sudah terlihat semakin berisi. Reza dengan setia menemani dan membantu Lira untuk duduk di kursi roda sembari menggendong baby Haidar yang masih tertidur pulas.
Kepulangan Lira disambut bahagia oleh seluruh keluarganya. Mereka telah menyiapkan kejutan untuk menyambut kepulangan Lira bersama baby Haidar. Inas begitu antusias membantu menyiapkan kejutan untuk adik kecilnya.
Mobil Reza telah memasuki halaman rumah.
Lira turun dari mobil dibantu oleh Reza yang dengan sigap mengambil alih baby Haidar dari gendongan Lira agar mempermudah Lira berjalan.
Di dalam rumah sudah ada Bela, Amel, Doni, Martin, Irma, Indah, beserta para asisten rumah yang sudah menunggu kedatang baby Haidar. Mereka juga menghias ruang keluarga dengan banyak balon berwarna biru muda serta dan hiasan-hiasan lainnya, khas anak laki-laki.
Lira dan Reza masuk ke dalam rumah dengan mengucap salam dan langsung disambut oleh seluruh penghuni rumah yang sudah menunggu di depan pintu. Mereka semua membalas salam Lira dan Reza dengan pelan lalu memberi kejutan.
"Surprise........" Ucap mereka serentak saat Lira dan Reza masuk ke dalam rumah.
"Selamat datang di rumah baby Haidar." Ucap Irma dengan riang lalu mengambil alih baby Haidar dari gendongan Reza dengan tidak sabaran. "Masya Allah, cucu eyang tambah embem aja sih. Jadi gemes deh." Lanjutnya sambil menyium pipi baby Haidar dengan gemas.
"Papa, tanen (kangen)." Ucap Inas sambil memeluk kaki Reza.
Reza langsung menggendong putri kecilnya yang selama beberapa hari ini sudah jarang memeluk dirinya. Reza menjadi merasa bersalah karena lebih fokus menjaga baby Haidar hingga jarang menanyakan kabar putri kecilnya.
"Papa juga kangen sama kakak. Maafin papa ya, papa sibuk jagain adek jadi lupa sama kakak." Inas hanya mengangguk kecil lalu memeluk leher ayahnya dengan penuh kerinduan.
Mendengar hal itu, Lira pun langsung mengelus kepala putrinya dengan perasaan bersalah. Lira tak bermaksud mengabaikan putrinya. Hanya saja, jahitannya yang belum kering membuatnya masih kesulitan untuk leluasa bergerak. Maka dari itu, Reza lebih sering menemaninya selama di rumah sakit agar bisa membantunya dalam mengurus baby Haidar.
"Kakak gak kangen sama bunda?"
__ADS_1
"Tanen bunda duga." Sahut Inas polos, lalu kembali memeluk leher ayahnya dengan erat.
"Udah, mending sekarang kita duduk dulu. Mama udah nyiapin kejutan untuk kalian." Timpal Irma karena tak sanggup melihat kesedihan di mata cucunya.
Para asisten rumah mengucapkan selamat kepada Lira atas kelahiran baby Haidar. Mereka juga mendoakan agar baby Haidar menjadi anak yang soleh serta paruh pada kedua orang tua. Setelah itu, para asisten rumah kembali ke dapur untuk mengerjakan kembali pekerjaan mereka yang sempat tertunda.
Sementara Irma bersama yang lainnya langsung masuk ke dalam lift untuk menuju kamar yang berada di lantai dua dekat dengan kamar Inas. Di lantai dua itu terdapat empat kamar dan dua di antaranya merupakan kamar Reza dan Lira serta kamar Inas yang berada di sebelahnya.
Tiba di depan pintu kamar yang bertuliskan Baby Haidar room, Bela pun langsung membuka pintu kamar lalu mempersilakan yang lainnya untuk masuk. Mereka pun langsung masuk ke dalam kamar yang sudah diihias dengan berbagai macam ornamen dan kartun-kartun khas anak laki-laki. Ada juga beberapa boneka mobil berwarna merah, berukuran cukup besar terletak di atas sofa panjang.
Semua hiasan kamar itu merupakan pilihan Inas sendiri. Karena saat sedang mencari hiasan kamar untuk baby Haidar, Irma mengajak serta Inas. Di situlah Inas merengek memilihkan boneka serta hiasan kamar lainnya untuk sang adik. Irma pun tak merasa keberatan atas pilihan Inas.
Dengan perasaan takjub, Lira terus menelusuri kamar putranya yang terlihat lucu. Pandangan Lira langsung mengarah ke arah orang tua serta sahabatnya.
"Masya Allah, ini bagus banget. Siapa yang nyiapain?"
"Kalo yang nyiapin sih, kami semua. Tapi yang milihin semua hiasan dari yang paling kecil sampe besar, itu si kakak." Jawab Irma sambil tersenyum bangga pada cucunya.
"Oya? Pinter banget sih, anak papa." Puji Reza pada putrinya yang masih terus memeluknya.
Reza dan Lira langsung menyium gemas kedua pipi Inas secara bersamaan. Di situlah Inas mulai kembali ceria. Inas tak bisa menyembunyikan rasa rindunya pada kedua orang tuanya. Meski Inas beberapa kali ikut ke rumah sakit, namun ia tak bisa bermain bersama kedua orang tuanya karena sedang sibuk merawat adiknya. Alwanya, balita menggemaskan sangat antusias atas kelahiran adiknya, namun lambat laun ia mulai merasa cemburu karena perhatian orang tuanya lebih banyak tercurah pada sang adik.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Usai sholat Ashar berjamaah di masjid, Doni dan Amel berpamitan pulang karena putri mereka yang dititipkan pada orang tuanya di rumah, sudah menangis mencari keberadaan orang tuanya. Sementara Bela sudah pulang lebih dahulu ke rumahnya karena Farel yang tiba-tiba rewel meminta tidur.
"Papa." Teriak Inas kencang merasa bahagia melihat ayahnya yang baru saja pulang dari masjid. "Papa dayi mana?"
"Papa baru pulang dari sholat di masjid, sayang." Jawab Reza lalu mengecup pipi Inas.
"Tolat di madit?"
"Iya, sayang. Kakak kok gak bobo siang kayak Abang Farel?"
"Nda mau bobo, papa. Mau dendong ade, boyeh?" Tanya Inas dengan wajah menggemaskan.
"Boleh, sayang. Yuk, kita duduk di sofa terus kakak boleh gendong adek bayi." Jawab Reza lembut.
Reza pun mengambil baby Haidar dari dalam box bayi lalu meletakannya di atas paha Inas. Rasa bahagia kembali terpancar di wajah balita menggemaskan itu. Inas menyium pipi adiknya dengan gemas lalu tertawa girang memperlihatkan deretan gigi kecilnya yang lucu saat melihat adiknya menggeliat dengen bibir yang mengerucut.
Irma dan Indah langsung berpamitan, memberi ruang pada keluarga kecil itu untuk menikmati kebersamaan mereka. Saat Irma dan Indah keluar kamar dan menutup pintu, terdengar suara canda tawa dari Inas dan Reza. Kedua ibu itu langsung saling memandang dan tersenyum bahagia.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Satu Minggu setelah kelahiran baby Haidar, hari ini tepat pukul 8 pagi di rumah Martin, diadakan aqiqahan untuk baby Haidar. Dua ekor kambing sehat telah disiapkan. Reza mengundang anak-anak yatim dari Panti Asuhan Kasih Ibu, tempat Amel dibesarkan. Tak lupa, keluarga besar serta sahabat Reza juga turut hadir dalam acara aqiqahan itu.
__ADS_1
Rumah mewah milik Martin disulap begitu elegan dengan hiasan khas anak laki-laki dan balon berwarna biru muda memenuhi setiap sudut ruangan. Seluruh keluarga serta sahabat Reza juga kompak menggunakan baju muslim berwarna biru muda sesuai tema dekorasinya.
Inas tampil begitu menggemaskan dengan gamis kaftan senada dengan yang dikenakan ibunya. Gamis berwarna biru muda dengan dihiasan pita kecil berwarna putih yang melingkar di pinggangnya serta jilbab senada, menambah kesan lucu pada Inas. Sedangkan untuk baby Haidar, menggunakan gamis biru muda yang kainnya disiapkan khusus untuk bayi agar tetap merasa nyaman.
Reza keluar dari kamar sambil menggendong Inas yang sejak beberapa hari yang lalu tak mau lepas dari ayahnya. Sementara Lira menggendong baby Haidar. Mereka langsung menuju ruang keluarga untuk menemui para tamu dan ustadz yang sudah menunggu.
Usai acara pembacaan doa bersama, acara selanjutnya diisi dengan tausiah singkat dari ustadz yang membahas tentang mendidik anak dengan cara-cara yang baik dan sabar agar anak dapat mengenal dan mencintai Allah, yang menciptakannya dan seluruh alam semesta. Mengenal dan mencintai Rasulullah shallallaahu โalaihi wa sallam, yang pada diri beliau terdapat suri tauladan yang mulia serta mendidik anak agar mengenal dan memahami Islam untuk diamalkan dalam kedupannya. Mengajarkan Tauhid, yaitu bagaimana mentauhidkan Allah, dan jauhkan serta laranglah anak dari berbuat syirik.
Ajarkan kepada anak kalimat-kalimat yang baik serta bacaan Al-Qur-an, seperti yang dicontohkan oleh para sahabat sehingga banyak dari mereka yang sudah hafal Al-Qur-an pada usia yang masih sangat muda. Karena Allah telah memberikan kelebihan kepada manusia pada masa kecil dengan kemampuan menghafal yang luar biasa. Oleh karena itu, orang tua harus pandai memanfaatkan kesempatan untuk mengajarkan anak-nya dengan hal-hal yang bermanfaat pada usia-usia balita.
Bukan mendengarkan kalimat-kalimat yang tak pantas didengarkan pada usia mereka, seperti mendengarkan musik atau lagu cinta untuk orang dewasa lalu menyanyikannya. Padahal, mereka belum paham apa arti cinta itu yang sebenarnya. Ajarkanlah cinta yang sesungguhnya yaitu cinta pada Allah, Rasulullah, dan cinta pada Al-Qur'an agar hidup anak dipenuhi cinta dari para penghuni langit dan bumi.
Perhatian terhadap shalat juga harus menjadi prioritas utama bagi orang tua kepada anaknya. Shalat merupakan tiang agama serta amalan yang pertama kali akan dihisab oleh Allah di akhirat nanti. Maka dari itu, orang tua jangan pernah merasa bosan untuk selalu memberikan contoh dengan shalat di awal waktu dengan berjamaโah di masjid serta mengajak anak laki-laki untuk ikut melaksanakan sholat berjamaah di masjid. Jangan lupa juga untuk selalu menanyakan kepada anak apakah ia sudah menunaikan kewajiban shalatnya atau belum. Rasulullah shallallaahu โalaihi wa sallam bersabda:
"Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur 7 tahun, dan kalau sudah berusia 10 tahun meninggal-kan shalat, maka pukullah ia. Dan pisahkanlah tempat tidurnya (antara anak laki-laki dan anak wanita)" (HR. Abu Dawud).
Seluruh tamu undangan termasuk keluarga Reza dan Doni, mendengar tausiah itu dengan khusyuk. Ilmu yang disampaikan oleh ustadz itu, sangatlah penting untuk diterapkan dalam kehidupan mereka dalam mendidik anak.
Beberapa dari saudara Reza yang hadir, tertunduk malu usai mendengar tausiah itu. Mereka merasa malu pada diri mereka sendiri karena terlalu sibuk mengejar dunia hingga melupakan kewajiban sebagai seorang hamba dalam sujud pada yang Maha Pemberi Rezeki. Mereka juga tak pernah mendidik anak mereka dengan baik seperti apa yang baru saja ustadz sampaikan. Mereka terlalu fokus memanjakan anak-anak mereka dengan harta yang melimpah.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Sekitar pukul 10.30 pagi, acara aqiqahan pun selesai dan ditutup dengan menyantuni anak yatim serta makan siang bersama. Lagi-lagi Inas tak mau lepas dari ayahnya. Reza makan bersama para pria sambil menyuapi Inas yang duduk dipangkuannya. Reza dengan telaten menyuapi putri kecilnya yang begitu manja padanya.
"Mau minum, papa." Pintanya dengan yang masih terisi makanan.
"Oke, sayang."
Reza menyodorkan sedotan kecil yang sudah dimasukan ke dalam Aqua gelas. Inas meminum air itu hingga setengah gelas lalu bersendawa dengan kecil. Reza tersenyum gemas lalu melap bekas air yang mengalir ke dagu Inas.
"Maacih papa."
"Sama-sama sayang. Kakak mau puding, gak?"
"Mau papa, mau." Sahut Inas sambil bertepuk tangan dengan girang.
Reza pun mengambilkan puding lalu menyuapinya ke mulut putrinya. Inas memakan beberapa potong puding coklat itu dengan gembira. Hal itu tak lepas dari pandangan beberapa saudara Reza yang merasa salut melihat kedekatan serta cara mendidik Reza pada putrinya yang begitu sabar dan lembut.
"Anak lo tambah cantik ya, Za. Kayaknya kalo udah gede nanti, bakal jadi rebutan deh." Celetuk salah satu sepupu Reza.
"Iya, Za. Nanti jodohin sama anak gue aja, ya. Biar kita tambah deket. Anak gue juga ganteng kok." Timpal sepupu Reza yang satunya lagi.
"Gue gak bisa jawab sekarang, karena jodoh di tangan Allah." Sahut Reza bijak.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
__ADS_1
Bersambung........๐