Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 150


__ADS_3

Lanjut......๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


โ€Dan mereka berkata: โ€œKehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup danย tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa (waktu)โ€œ, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.โ€ (QS. Al Jatsiyah [45] : 24).


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


"Hari ini tuan putri mau kemana dulu, nih?" Tanya Reza saat mobil yang mereka tumpangi telah melesat jauh dari halaman rumah.


Inas tampak berfikir sambil mengetuk-ketukkan telunjuknya ke dagu. Ia belum punya rencana mau kemana karena semua serba mendadak. Jika saja ia diberi tahu lebih awal, mungkin Inas sudah menyusun rencana agar kencannya bersama sang ayah menjadi berkesan dan menarik.


Reza sangat gemas melihat wajah anaknya yang terlihat begitu serius memikirkan tempat menarik yang akan ia kunjungi. Reza mengusap gemas kepala putri kesayangannya yang tertutup kerudung itu.


"Kenapa kak? Masih bingung mau ke mana?"


"Iya pa. Habisnya papa sama bunda gak bilang dali awal, sih," sahutnya sedikit cemberut.


"Kan biar kejutan sayang,"


"Telus kita halus ke mana pa? Kakak bingung banget nih?"


"Oke. Gimana kalo kita ke mall dulu. Habis itu baru kakak yang pilih tempat selanjutnya," usul Reza.


"Mau pa, kakak mau ke mall. Kakak mau main sampe puas. Boleh ya, pa?"


"Boleh dong, sayang. Tapi kakak gak boleh kecapean ya."


"Oke, pa."


Setibanya mereka di salah satu mall terbesar di ibu kota itu, Reza langsung menggandeng tangan mungil putrinya dengan sangat posesif. Suasana mall di pagi hari masih terlihat lengang meski di akhir pekan. Reza memanfaatkan situasi itu dengan mengajak putrinya ke tempat permainan anak agar mereka bisa bermain sepuasnya tanpa harus berdesak-desakkan dengan anak-anak yang lain.


"Pa, kakak mau main yang itu boleh gak?" tunjuk Inas pada sebuah tempat bermain yang penuh dengan bola berwana-warni.


Reza mengerutkan dahinya merasa heran. Dari sekian banyak jenis permainan, Inas justru tertarik pada sebuah permainan yang terlihat seperti area mandi bola yang dilengkapi dengan perosotan untuk anak-anak.


Reza jadi tersenyum mengingat kenangan saat ia mengajak istri dan anaknya berjalan-jalan di salah satu mall. Saat itu usia Inas baru satu tahun lebih dan Inas sudah menyukai tempat bermain itu.


"Boleh dong sayang," sahut Reza tak tega melihat wajah putri kesayangannya yang penuh harap.


"Yeeee. Ayo kita ke sana, pa. Kakak udah gak sabal pengen main itu," seru Inas dengan semangat.


"Ayo! Go...go..go!!!!"


Reza mengangkat tubuh mungil Inas masuk ke dalam tumpukan bola berwarna-warni yang tak terhitung jumlahnya itu dengan semangat.


Inas tertawa girang saat berada di dalam tumpukan bola. Sesekali Inas melempari ayahnya dengan bola hingga tertawa nyaring. Beberapa pengunjung memerhatikan mereka sambil tersenyum. Wajah Reza yang tampan dilengkapi dengan tubuh yang atletis, serta Inas paras Inas yang lucu dan menggemaskan sukses membuat mereka menjadi pusat perhatian.


Ada yang berbisik-bisik, namun masih bisa terdengar samar di telinga Reza. Mereka mengira jika Reza adalah seorang duda yang sedang menemani putrinya berlibur di akhir pekan. Reza yang mendengar hal itu hanya mendengus kesal. Secara tidak langsung, mereka telah mendoakannya menjadi duda.


Tak terasa, sudah satu jam Inas bermain. Reza juga melihat wajah anaknya yang nampak puas.


"Udah puas belum kak, mainnya?"


"Udah, pa. Tapi kakak masih pengen main yang lain lagi, pa."


"Boleh, sayang. Udah yuk, kita cari permainan yang lain lagi."


"Oke, pa."


Reza menggendong Inas mengitari area permainan anak sambil melihat-lihat, permainan apa yang Inas inginkan. Dari kejauhan, Inas melihat deretan permainan capit boneka. Inas pun meminta ayahnya untuk ke area permainan capit itu.


"Waaaah! Bonekanya banyak banget. Pa, kakak mau main yang itu," seru Inas.


"Siap tuan putri."


Dengan bantuan ayahnya, Inas mulai memainkan permainan capit boneka. Inas terlihat sangat antusias mencapit boneka. Namun, usahanya selalu gagal. Tak ingin menyerah, Inas mengulanginya lagi dan lagi hingga ia benar-benar menyerah.


"Kakak kok gagal telus sih, pa?" Ucapnya penuh kecewa.


"Gak papa, sayang. Biar papa bantuin ya. Kakak bilang aja pengen ambil boneka yang mana."


Mendapat bantuan ayahnya membuat Inas langsung kembali ceria seperti sedia kala. Reza memang paling tahu cara menenangkan putri kesayangannya.


"Kakak pengen boneka beluang yang walna pink itu, pa," tunjuk Inas pada boneka beruang berukuran sedang.


"Siap, laksanakan tuan putri."

__ADS_1


Reza mulai menunjukkan kemampuannya di depan putri kesayangannya. Tak ingin diam saja, Inas langsung menyemangati ayahnya dengan cara bertepuk tangan sambil bersorak.


"Ayo pa, semangat. Ayo, telus pa. Papa pasti bisa," sorak Inas dengan penuh semangat sambil berloncat-loncat kecil, hingga membuat sebagian pengunjung melihat ke arah mereka.


Reza menjadi semakin bersemangat saat mendapat dukungan dari putrinya. Ia tak menghiraukan banyak pasang mata yang menatapnya penuh kekaguman.


Beberapa kali Reza gagal mencapit boneka beruang itu. Ia bahkan sempat merasa kesal dan berfikir untuk membeli saja boneka seperti yang diinginkan putrinya, tanpa harus bersusah payah. Namun, Reza tak ingin usahanya sia-sia dan membuat putrinya merasa kecewa. Reza bisa merasakan perbedaan dari usaha mencapit boneka dengan membelinya langsung. Melalui permainan capit boneka itu, secara tidak langsung Reza telah mengajarkan pada putrinya tentang sebuah perjuangan sebelum menggapai hasil yang memuaskan.


Memikirkan hal itu, Reza semangat Reza langsung kembali menyala. Hingga dipercobaan terakhir saat ia sudah merasa lelah, boneka beruang itu langsung berhasil dicapitnya.


"Yeeaaaahhhhh....Uhuhu!" Reza dan Inas bersorak gembira bersama.


"Papa memang hebat," seru Inas memuji ayahnya sambil mengacungkan dua jempol.


Tak jauh dari tempat mereka berada, sekumpulan wanita yang sejak tadi mengamati kegiatan Reza bersama Inas pun ikut bertepuk tangan dengan sangat meriah. Mereka ikut merasa senang dengan apa yang Reza lakukan. Bagi mereka, melihat pria tampan dan matang membawa anak, menjadi sebuah hiburan tersendiri.


Mendengar suara tepuk tangan meriah dari para wanita itu, Reza dan Inas sontak langsung menoleh ke sumber suara. Merasa ayahnya menjadi pusat perhatian dan sedang dikagumi oleh para wanita, Inas langsung maju selangkah sambil merentangkan kedua tangannya sebagai bentuk protes.


"Ngapain liat-liat papa aku? Pelgi! Papa cuma milik aku, bunda sama adek. Gak ada yang boleh liat-liat papa," ucap Inas penuh amarah dengan mata melotot ke arah sekumpulan para wanita yang bersorak tadi.


Wajah Inas terlihat kesal bercampur marah, namun tetap saja tak bisa menutupi wajahnya yang imut dan menggemaskan.


"Kakak, udah. Gak boleh kasar kayak gitu, sayang. Gak baik. Cuekin aja mereka. Mending sekarang kita makan siang. Kakak juga udah laper, kan?"


Reza berusaha membujuk putrinya agar tak menggubris para wanita itu karena ia sangat tahu sifat putrinya, yang tidak suka dan tidak rela bila ada wanita lain merasa kagum pada ayahnya.


"Tapi tante-tante itu udah belani liatin papa," adu Inas dengan wajah cemberut.


"Yang penting kan, papa gak liat mereka. Papa juga udah punya bunda sama tuan putri cantik terus ada adek Haidar yang ganteng."


Inas langsung tersenyum lebar karena dipuji cantik seperti seorang putri. Sebelum pergi, Inas menoleh sinis ke para wanita yang masih tersenyum melihat Reza.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Di sinilah sepasang ayah dan anak itu, memilih restoran yang menyajikan makanan khas Indonesia. Inas tak masalah diajak makan kemana pun karena Inas memiliki selera makanan yang sama dengan ayahnya.


Reza memilih soto daging serta jus jeruk dan jus strowberry sebagai menu makan siang untuknya dan Inas. Meski udara di luar cukup panas, menyantap soto tetap terasa segar dan nikmat bagi keduanya.


"Habis ini kakak pengen ke mana lagi?"


Sambil menunggu pesanan datang, Reza manfaatkan waktu dengan mengobrol hangat bersama putrinya yang sudah jarang ia lakukan karena kesibukkanya bekerja.


"Iya sayang. Maksud papa, selesai sholat kakak pengen ke mana lagi?" Reza benar-benar dibuat gemas oleh tingkah putrinya.


"Kakak pengen main ke Ancol, pa. Boleh?"


Inas memilih Ancol karena ia sangat ingin bermain pasir di pantai. Inas juga sudah berencana akan membuat istana dari pasir. Pasti seru.


"Boleh dong. Insya Allah, selesai sholat kita ke sana ya." Inas mengangguk semangat.


Mereka kembali mengobrol hangat. Inas menceritakan tentang aktifitasnya di sekolah. Selain itu, Inas juga menceritakan tentang kelucuan teman-temannya di kelas. Obrolan mereka terhenti saat pelayan datang membawakan pesanan. Reza dan Inas langsung makan dengan lahap. Sesekali Reza juga membantu menyuapi putrinya makan.


Selesai makan, Reza mengajak putrinya mencari masjid terdekat untuk melaksanakan sholat dhuhur. Tak lupa, Reza mengambil tas kecil berisi perlengkapan sholat yang telah Lira siapkan untuk putrinya.


Setelah melaksanakan sholat berjamaah, Reza langsung memenuhi keinginan putrinya, menuju Pantai Ancol. Sepanjang perjalan, Inas terlihat antusias dan sudah tak sabar untuk segera tiba di sana. Reza hanya tersenyum melihat putri kesayangannya yang begitu menikmati liburannya yang mendadak ini.


Tak butuh waktu lama, mereka pun tiba di Ancol. Inas yang sudah tak sabaran, langsung meminta ayahnya membuka pintu mobil.


"Pa, cepetan. Kakak udah gak sabal nih."


"Iya sayang, sabar,"


Reza membuka jasnya, menyisakan kemeja lalu menggulungnya hingga siku. Ia juga tak lupa memakai topi. Sementara Inas masih mengenakan gaun yang sama. Saat pintu dibuka, Inas langsung berlarian dengan girang menuju area pantai.


"Pelan-pelan dong, kak. Jangan lari-lari kayak gitu, nanti jatuh sayang."


"Iya, pa," sahut Inas. "Di sini lame ya, pa. Kalo bunda sama adek ikut, pasti selu."


"Insya Allah, lain kali kita ajak bunda sama adek ke sini."


"Benel ya, pa."


"Iya sayang. Insya Allah.


Inas bermain ombak dengan begitu gembira. Ia juga membuat istana dari pasir. Banyak pasang mata yang merasa gemas melihat wajah imut Inas. Namun, bocah menggemaskan itu memilih cuek. Reza hanya memerhatikan putrinya tanpa berniat mengganggunya. Ia mengambil ponselnya lalu mengabadikan kegiatan putrinya dalam sebuah foto dan video. Mereka juga berfoto bersama sambil tersenyum ceria.


"Seru gak, kak?"

__ADS_1


"Selu banget, pa."


"Kakak mau kemana lagi? Mumpung masih sore, nih."


"Kakak mau pulang aja. Udah kangen sama bunda sama adek."


"Oke. Kita pulang sekarang ya, sayang. Tapi sebelum itu, kita mampir beliin bunda oleh-oleh dulu yuk."


"Iya pa."


Reza dan Inas benar-benar menikmati waktu kebersamaan mereka dengan sangat bahagia. Hingga tak terasa, waktu telah menjelang petang. Inas juga sudah terlihat lelah dan mengantuk. Reza pun mengajak Inas pulang untuk beristirahat. Namun sebelum itu, Reza mampir membelikan sate Padang kesukaan istri dan mertuanya. Reza juga membelikan cokelat untuk putra tampannya serta membelikan.


Merasa lelah bercampur bahagia mereka rasakan. Dalam perjalanan pulang, Inas tertidur dengan memeluk boneka beruang pink hasil capitan ayahnya sambil tersenyum kecil.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


"Tadi jalan-jalan ke mana aja mas, sampe si kakak ketiduran gitu? Keliatan banget si kakak kecapean. Oh iya, itu satenya mas beli di mana?" Tanya Lira saat membantu Reza membuka kemejanya untuk bersiap-siap membersihkan tubuhnya yang lengket.


"Cuma ke mall sama pantai aja, sayang," sahut Reza sambil mengusap wajah Lira yang semakin cubby. "Satenya mas beli di deket kantor. Kebetulan tadi, pulangnya mas lewat situ. Satenya enak kok, sayang. Mas juga sering makan di situ sama Doni," lanjutnya.


"Pantesan rasanya beda. Ini bener lebih enak dari yang Lira biasa makan," Lira tersenyum manis merasa tersanjung dengan perlakuan suaminya. "Tapi kok bisa sih, mas sama kakak cuma pergi ke dua tempat itu aja?" heran Lira.


"Ya, mau gimana lagi? Orang kakaknya aja bingung mau ke mana. Tadi juga dia protes karena bunda gak bilang kalo mau jalan. Katanya, kalo di kasih tahu dari awal, pasti dia udah nyusun rencana mau ke mana."


Lira hanya tertawa geli membayangkan wajah murung putrinya.


"Tapi tetep seru kan, mas kencannya?"


"Seru banget, sayang. Lain kali, kita liburan bareng ya."


"Iya, mas. Insya Allah."


"Oh ya, tadi bunda ngapain aja nih di rumah? Seru dong, gak ada yang gangguin." Reza mengusap lembut perut Lira.


"Gak ngapa-ngapin sih. Cuma makan-makan, terus ngobrol seru-seruan tentang masa sekolah dulu, terus saling ngasih tips cara ngasuh anak. Udah, itu aja sih."


"Kalian gak bahas mantan, kan?" selidik Reza.


Meski ia tahu Lira tak pernah dekat dengan laki-laki lain, namun tetap saja ada rasa cemburu di hatinya. Apalagi jika ia mengingat pertemuannya beberapa tahun lalu dengan lelaki yang mengaku kakak kelas Lira di SMA, yang saat itu menatap Lira dengan penuh kerinduan, hati Reza kembali cemburu.


"Mantan siapa? Mas kan tahu selama sekolah, Lira gak pernah deket sama cowo," sahut Lira sambil cemberut.


"Maaf sayang. Mas kan cuma nanya. Udah, jangan cemberut gitu dong," bujuk Reza.


Merasa bersalah, Reza langsung memeluk tubuh mungil Lira dan mendekapnya penuh kasih sayang.


"Habisnya, mas gitu. Udah tahu Lira gak pernah pacaran, malah ditanya kayak gitu. Siapa gak kesel, coba."


"Iya, mas ngaku salah. Maaf ya."


Lira hanya mengangguk dalam dekapan hangat suaminya.


"Udah ya, mas mau mandi. Bentar lagi Maghrib. Sayang tolong bangunin si kakak mandi ya. Udah bau acem soalnya."


"Ssttt....pelan-pelan, mas. Nanti kalo si kakak denger, bisa repot urusannya."


Mereka langsung tertawa mengingat wajah murung putrinya yang hari ini sudah berusia lima tahun. Rasanya mereka belum rela putri kecil mereka tumbuh besar. Terutama Reza yang masih ingin terus menggendong dan menyium gemas putrinya. Jika sudah besar nanti, belum tentu Inas masih mau digendong dan dicium. Rasa malunya pasti sudah semakin besar.


"Mas masih gak nyangka waktu begitu cepat berlalu, umur si kakak juga udah lima tahun. Masih gak rela aja, nanti pasti dia gak mau lagi dicium seperti sekarang," ucap Reza sendu.


"Istighfar mas. Secara gak langsung, mas udah mencela dan menyalahkan waktu," ucap Lira mengingatkan.


"Astaghfirullah! Mas khilaf."


Reza mengusap wajahnya menggunakan kedua tangannya merasa menyesal.


"Mencela dan menyalahkan waktu adalah perbuatan yang tidak disenangi oleh Allah. Itulah kebiasan orang musyrik dan hal ini berarti kebiasaan yang jelek. Secara gak sadar, kita sering mengucapkan kalimat itu dan secara gak sadar pula kita udah menyakiti Allah."


"Allah โ€™Azza wa Jalla berfirman,โ€™ Aku disakiti oleh anak Adam.ย Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.โ€ (HR. Muslim).


"Setiap manusia yang diciptakan di dunia ini, pasti akan melewati fase lahir, merangkak, berjalan dan berlari. Tugas kita sebagai orang tua yaitu mendidik anak-anak kita sebaik mungkin. Memberikan bekal agama yang cukup agar mereka bisa menjalani hidup dengan baik dan lurus. Jangan lupa untuk terus beristighfar pada Allah. Maaf kalo Lira terkesan menggurui. Lira hanya ingin mengingatkan mas dan tentu untuk diri Lira juga, agar selalu bertakwa pada Allah."


"Iya sayang, mas ngerti. Makasih ya, udah ngingetin mas."


"Sama-sama. Itu gunanya Lira sebagai istri."


Lagi-lagi Reza patut bersyukur, dianugerahi isteri yang begitu dewasa dan tentu paham pada agama.

__ADS_1


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Bersambung...........๐Ÿ˜Š


__ADS_2