Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 132


__ADS_3

Maaf ya, othor baru muncul sekarang. Selama beberapa hari ini, othor disibukkan dengan kegiatan yang cukup padat, dari pagi-malam dan cukup menguras tenaga.. Jadi othor baru bisa up sekarang.


Terima kasih bagi pembaca setia KHSI yang selalu setia menunggu kelanjutan dari kisah Papa Reza, Bunda Lira, Si gemes Inas dan Baby Haidar. ๐Ÿ˜˜


Semoga sehat selalu dan puasanya dipancarkan sampe bertemu lebaran. Aamiin.


Lanjut....


selamat membaca.....๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


โ€œDan bagi para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara maโ€™ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.ย Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Baqarah: 233)


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Pada waktu tengah malam, di saat semua penghuni rumah telah tertidur lelap, Lira masih terjaga sambil menyusui Baby Haidar yang beberapa saat lalu terbangun dan merengek karena kehausan. Dengan penuh kelembutan Lira mengusap kening bayi nya yang begitu rakus menyedot susu dari dadanya.


Sementara, Reza masih terlelap sambil memeluk putri kecil mereka yang tak pernah mau berpisah dari sang ayah. Sejak Baby Haidar pulang ke rumah dan tidur bersama di kamar orang tuanya, Inas pun tak mau kalah dan merengek untuk ikut tidur bersama orang tuanya seperti adiknya. Inas akan menangis kencang jika keinginannya tidak dipenuhi. Inas juga akan menangis jika melihat Reza menggendong Baby Haidar. Rasa cemburu dari balita menggemaskan itu sangat besar terhadap sang adik. Namun, Lira dan Reza tak pernah marah. Sebisa mungkin mereka memberikan perhatian dan kasih sayang yang sama pada kedua buah hati mereka.


Reza mulai terusik karena mendengar suara Baby Haidar yang tiba-tiba menangis karena Lira melepaskan dadanya dari mulut anaknya. Reza duduk di sebelah Lira yang sedang menyusui sambil bersandar pada kepala ranjang.


"Ada apa sayang? Dedek haus, ya?" Tanya Reza sambil mengusap wajahnya lalu membetulkan selimut putrinya yang melorot.


"Biasa mas, nangis karena gak mau berhenti nyusu."


"Anak papa kuat banget sih, nyusunya. Bobo sekarang ya, sayang. Udah malem ini, kasian bunda." Ucap Reza sembari mengusap lembut pipi gembul sang putra.


Melihat posisi duduk sang istri yang kurang nyaman, Reza pun membantu membetulkan bantal yang berada di belakang Lira agar Lira bisa duduk dengan nyaman.


"Makasih, mas." Ucap Lira lembut.


Reza tersenyum lalu mengusap wajah istrinya yang terlihat begitu lelah. Sesekali Lira menguap diiringi mata merah dan berair, pertanda jika Lira sedang menahan kantuk.


"Sayang tidur aja. Biar mas yang jagain dedek."


"Gak bisa, mas. Dedeknya gak mau lepasin dada Lira. Tadi Lira sempet paksa lepas, tapi dedeknya malah nangis."


"Terus, gimana dong? Masak sayang mau kayak gini terus sampe pagi."


"Gak papa, mas. Ini udah jadi kewajiban Lira. Lagian, bentar lagi si dedek tidur kok."

__ADS_1


"Ya udah, kalo gitu mas temenin sayang ya."


Lira hanya mengangguk lalu menyandarkan kepalanya di bahu Reza. Setidaknya, rasa lelah dan mengantuknya sedikit berkurang karena sang suami tercinta menemaninya sambil bercerita tentang kelucuan sang putri yang begitu menggemaskan saat sedang cemburu pada adiknya. Reza juga bercerita tentang rancangan masa depan anak-anaknya yang telah ia siapkan dengan sangat matang. Namun, Reza tak ingin mengekang anak-anaknya. Ia akan mengikuti keinginan anak-anaknya, asalkan mereka tak lupa akan kewajiban mereka sebagai seorang hamba yang selalu sujud pada sang pencipta.


Tak lama kemudian, Lira mulai terlelap dengan posisi masih menyusui anaknya yang juga sudah tertidur menyusul ibunya. Reza mengusap pipi anak dan istrinya lalu mendaratkan kecupan hangat di kening anak dan istrinya.


Reza mengambil Baby Haidar dari dekapan Lira lalu menaruhnya ke dalam box bayi yang berada tepat di sebelah ranjang mereka. Setelah itu, Reza membentulkan baju Lira yang terbuka dan posisi tidur Lira lalu menyelimuti tubuh mungil itu. Reza memeluk Lira dengan penuh kasih sayang untuk bersama-sama menjemput mimpi indah.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


"Mau itut papa, mau itut." Rengek Inas saat melihat ayahnya telah rapi dengan setelah kantornya.


Sejak usia Baby Haidar memasuki satu bulan, Reza mulai aktif ke kantor karena pekerjaannya yang sangat padat dan tak bisa ditinggal lebih lama lagi. Karena selama Lira melahirkan, Reza memilih bekerja di rumah. Jika ada berkas penting yang ingin ditanda tangani, maka Arman atau Ferdi yang harus ke rumah.


"Papa mau kerja, sayang. Kakak di rumah aja ya, temenin bunda sama adek." Ucap Reza lembut sambil mengusap kepala putrinya.


"Nda mau papa. Mau itut. Huuwaaaa...."


"Kakak, kita main sama adek yuk. Adek ada boneka baru, lho." Bujuk Lira sambil memperlihatkan beberapa boneka berjenis ikan seperti Nemo, dan lumba-lumba serta pinguin yang baru saja dibelikan oleh Martin.


Inas menggeleng kencang dan terus memeluk erat leher ayahnya. Tangis Inas langsung pecah saat keinginannya tak terpenuhi. Reza mendesah pelan. Jika sudah seperti ini, Reza tak bisa meninggalkan rumah dengan tenang sebelum putrinya berhenti menangis. Terpaksa, Reza mengajak Inas ikut bersamanya ke kantor.


"Ya udah, kakak boleh ikut papa kerja. Tapi Kakak harus janji, setelah ini kakak harus nurut apa kata papa dan bunda."


"Iya, dandi."


Reza mengusap bekas air mata yang mengalir di pipi putri kecilnya serta membersihkan cairan yang keluar dari hidung Inas menggunakan tisu. Lira yang sejak tadi melihat betapa sabar dan sayangnya Reza pada sang putri, pun menjadi terharu.


Lira membantu mendandani Inas dengan gamis lucu berwana pink muda khas anak-anak yang lengkap dengan hijabnya. Tak lupa juga tas selempang kecil berwarna putih serta sepatu berwana pink muda tanpa tali, dengan hiasan pita pada bagian depannya. Inas terlihat lucu dan menggemaskan.


"Anak papa lucu banget, sih. Sini, papa cium dulu." Reza mulai menyium gemas kedua pipi Inas yang sudah ditaburi bedak bayi, hingga membuat Inas memekik kegelian.


"Udah dong, mas. Ntar telat ngantornya." Omel Lira sambil menggendong Baby Haidar yang juga sudah terlihat rapi dan wangi.


"Iya, sayang. Yuk, kita pamitan dulu sama bunda dan adek."


Reza menyium kening Lira lalu menyium gemas kedua pipi Baby Haidar yang wangi khas bayi. Sifat posesif Inas langsung muncul hingga berteriak kencang saat melihat Reza menyium pipi adiknya.


"Papaaaaaaa!!!!!!"


"Iya sayang. Jangan teriak gitu, sakit telinga papa."

__ADS_1


"Nda boyeh tium ade!" Ucapnya marah namun terlihat menggemaskan.


"Iya, papa boleh cium adek."


Bukannya berhenti, Reza malah semakin menggoda putrinya dengan menyium kembali pipi gembul Baby Haidar. Hak itu langsung membuat Inas menjerit kencang.


"Mas, udah ih. Kasian anaknya, digodan mulu."


"Cup...cup...cup...Papa minta maaf, ya. Papa gak cium adek lagi, kok."


Inas langsung diam dengan hidung yang sudah memeeah merah dan mata sembab. Reza yang merasa gemas melihat wajah lucu putrinya langsung menyium kedua pipi gembul Inas. Setelah itu, Reza berpamitan pada istrinya dan ketiga orang tuanya ke kantor.


Ketiga orang tua Reza sudah biasa melihat tingkah manja Inas yang tak pernah mau jauh dari ayahnya. Mereka tak mempermasalahkan hal itu, selama mereka masih dalam batas wajar. Mereka berpikir, lambat laun Inas akan terbiasa dengan kehadiran adiknya.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Tiba di kantor, Reza langsung mendudukan Inas di atas karpet bulu bersama tumpukan mainan yang memang sudah tersedia di ruangan Reza.


Berbagai macam jenis mainan telah Reza siapkan untuk putri manjanya, jika sewaktu-waktu ikut bersamanya ke kantor. Selan itu, Reza sengaja menyiapkan mainan agar istrinya tak perlu lagi kerepotan menyiapkan mainan untuk putri mereka.


Saat Inas mulai sibuk dengan mainannya, Reza memilih menyeselesaikan pekerjaannya yang sudah menumpuk di atas mejanya. Meski serius bekerja, namun mata Reza tak lepas dari putri kecilnya yang sedang bermain sambil mengajak bonekanya berbicara. Reza tersenyum melihat tingkah lucu putrinya.


Hingga waktu menunjukan pukul 12 siang, Inas sudah tertidur di atas karpet bulu yang lembut sambil memeluk boneka kelinci kesayangannya. Reza pun memilih beristirahat terlebih dahulu, setelah itu mengangkat tubuh mungil putrinya ke dalam kamar pribadinya, lalu memesan makan siang untuknya dan Inas.


Sambil menunggu makan siangnya tiba, Reza menunaikan kewajibannya sebagai seorang hamba karena waktu sholat dhuhur telah tiba. Tak lupa, Reza memberitahu pada kedua asistennya agar membawa masuk pesananya ke dalam ruangannya.


Usai sholat, Reza menyantap makan siangnya dengan lahap. Mata Reza terus mengawasi Inas yang masih terlelap dengan nyenyak. Reza sengaja tak membangunkan putrinya karena tak ingin mimpi indah putrinya terganggu.


Selesai makan, Reza kembali berkutat dengan pekerjaannya. Satu jam kemudian, barulah Inas terbangun sambil menangis meminta susu. Untung lah, Lira telah menyiapkan keperluan Inas ke dalam tas seperti susu, pakaian ganti, popok, sabun mandi, serta shampo. Jadi Reza tak lagi kerepotan. Reza tinggal menyeduh susu formula menggunakan air hangat saja, kemudian diberikan pada Inas.


Tangis Inas mulai Reza saat dot susu sudah berada dalam mulutnya. Namun, balita menggemaskan itu enggan tertidur kembali. Inas menyedot susunya dengan lahap sambil membuka lebar matanya.


"Kakak, makan dulu ya sayang." Ucap Reza usai Inas menghabiskan susunya.


"Iya, papa."


Reza mulai menyuapi Inas dengan telaten. Rasa sayang Reza begitu besar pada sang putri, hingga apapun ia lakukan agar putrinya selalu bahagia. Setelah menyuapi Inas, Reza kembali bekerja dengan meninggalkan Inas bermain bersama bonekanya.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Bersambung.....๐Ÿ˜Š

__ADS_1


__ADS_2