
Selamat membaca.........πΉπΉπΉπΉ
πΈπΈπΈπΈ
Malam pun tiba. Saat ini, seluruh keluarga Martin telah kumpul bersama untuk menikmati makan malam mereka. Kali ini untuk pertama kalinya, suasana bahagia begitu hangat terasa. Mereka menyantap makan malam dengan lahap. Hanya Lira yang masih terlihat canggung duduk bersama Reza setelah satu tahun lalu mereka duduk satu meja, makan bersama usai mereka menikah. Setelah itu, tak ada lagi makan bersama karena Reza tak pernah mengizinkan Lira untuk menginjakkan kakinya di dapur dan ikut makan bersama di meja makan.
Irma yang sejak tadi makan sambil memangku Inas, melihat Lira hanya diam memandangi piringnya dengan tatapan kosong, langsung membuka suara.
"Kenapa gak dimakan, Ra? Kamu kurang selera sama menunya? Atau ada yang pengen kamu makan?" Pertanyaan Irma sontak membuat yang lainnya langsung mengarahkan padangannya ke Lira.
"Kamu kenapa, Ra? Sakit?" Tanya Reza lembut, namun terlihat jelas gurat kekhawatiran di wajahnya.
Lira hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Ma, sini biar Lira aja yang nyuapin dedek Inas. Dari tadi mama gak kelar-kelar makannya karena repot nyuapin dedek." Ucap Lira mengalihkan pembicaraan.
"Eh, gak usah. Mama gak merasa repot kok. Mama malah seneng bisa nyuapin cucu mama yang gemesin ini." Jawab Irma sambil mengusap lembut pipi Inas.
Balita menggemaskan itu hanya tertawa dengan liur yang ikut menetes di sela-sela seolah paham dengan apa yang neneknya katakan padanya.
"Tjajaja..mmamamam." Celoteh Inas bersamaan dengan liurnya yang meluncur dari mulut kecinya.
"Maaf ma, dedek nya ileran. Sini ma, biar Lira lap dulu. Maaf udah bikin kalian jadi gak nyaman." Ucap Lira tak enak hati lalu berdiri untuk mengambil Inas dari pangkuan mertuanya.
"Gak papa, Ra. Mama paham kok. Pasti dulu kamu ngidam tapi gak kesampaian. Iya, kan?" Sindir Irma pada Reza yang sejak tadi hanya diam memandangi putri kecilnya dengan perasaan bersalah.
Lira hanya diam sambil tersenyum canggung. Makan malam yang tadinya terasa hangat, kini berubah menjadi canggung.
__ADS_1
"Udah ma. Gak baik ribut dihadapan rezeki." Akhirnya Martin membuka suara setelah melihat suasana yang sudah berubah menjadi canggung.
"Maaf, mas." Sahut Irma.
Mereka kembali menikmati makan malam mereka masih dengan suasana canggung. Hanya suara dentuman sendok dan garpu yang saling bersenggolan, ditambah suara celotehan Inas yang memecah keheningan.
Sementara, Reza diam menikmati makanannya tapi pikirannya kembali memikirkan ucapan ibunya. Benar apa yang ibunya katakan, dahulu ia Lira pernah ingin sekali makan sate Padang. Meski Lira tak pernah mengatakan langsung kepadanya, tapi Reza bisa menyimpulkan ketika ia melihat Lira beberapa kali berdiri di depan warung sate Padang. Sayangnya, saat itu Reza tidak merasa peka dengan keadaan yang Lira alami.
Menyesal? Sudah pasti Reza merasa menyesal. Andai waktu bisa diputar kembali, ia ingin sekali menebusnya dengan memenuhi semua keinginan Lira saat ngidam. Jadi anaknya tak akan ileran seperti sekarang ini. Namun apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Reza hanya bisa menebusnya dengan memberi kebahagiaan yang sebelumnya tidak Reza berikan pada anak dan istrinya.
πΈπΈπΈπΈ
Usai makan malam, mereka memilih beristirahat sejenak di ruang keluarga. Sekaligus ada hal penting yang ingin Irma tanyakan perihal status rumah tangga Reza dan Lira.
"Za, apa kalian gak pengen gitu, nikah ulang? Kan kalian sempat pisah cukup lama, satu tahun loh, Za. Biar status kalian itu jelas." Tanya Irma saat mereka telah berkumpul bersama.
"Buat apa, ma? Reza kan gak pernah merasa menjatuhkan talak untuk Lira."
Melihat perdebatan antara ibu dan anak yang juga kelar, akhirnya Indah ikut bersuara untuk meluruskan kesalahpahaman di antara mereka.
"Maaf mbak, kalo boleh saya mau menjawab pertanyaan yang barusan mbak tanyakan ke Nak Reza." Sela Indah.
"Boleh, silakan." Jawab Irma.
"Sebenarnya mereka tidak perlu menikah ulang untuk memperjelas status pernikahan mereka karena selama yang saya tahu, Nak Reza tidak pernah menjatuhkan talak kepada Lira. Meski mereka pernah terpisah cukup lama tanpa adanya nafkah lahir dan batin dari Reza untuk Lira. Tapi selama Lira merasa ridho dan tak pernah merasa keberatan, jadi mereka tidak perlu melakukan nikah ulang. Karena ada beberapa ulama yang berpendapat, jika suami istri yang terpisah tanpa ada kata talak, dan mereka berniat untuk kembali, maka mereka boleh rujuk tanpa harus menikah ulang. Tapi, jika mereka merasa harus menikah ulang untuk memperjelas status pernikahan, itu tidak masalah." Jelas Indah dan mereka pun mengangguk paham
"Ya udah, kalo gitu mama akan urus pesta pernikahan kalian. Biar masyarakat tahu, kalo penerus MM Group udah punya istri dan anak. Gimana mas, boleh kan?" Tanya Irma pada suaminya dengan antusias.
__ADS_1
"Kita tanya Lira sama Reza dulu dong, ma. Gak boleh seenaknya. Siapa tahu aja mereka keberatan dengan ide mama." Jawab Martin bijak.
"Kalo Reza sih, terserah Lira aja. Gimana, kamu mau gak kalo kita ngadain pesta pernikahan kita?" Tanya Reza lembut sambil menggenggam tangan Lira yang sedang memeangku Inas.
Lira hanya diam, bingung tak tahu harus menjawab apa. Selama ini, ia tak pernah membayangkan untuk menggelar pesta pernikahan mewah seperti apa yang mertuanya rencanakan. Lira menoleh ke arah ibunya untuk meminta saran, namun ibunya hanya membalasnya dengan senyuman.
"Maaf, ma. Kayaknya gak usah deh. Lira udah nyaman seperti ini, yang penting kan kami udah bersatu kembali." Jawab Lira.
Irma sempat merasa kecewa mendengar jawaban Lira yang menolak idenya untuk menggelar pesta pernikahan mewah. Namun, ia harus bisa menghargai keputusan yang diambil Lira. Memang benar, yang penting sekarang anak dan menantunya telah kembali bersama, ditambah dengan hadirnya Inas di tengah-tengan keluarga kecil mereka.
πΈπΈπΈπΈ
Usai berbincang-bincang hangat, mereka pun kembali beristirahat di kamar masing-masing. Awalnya Irma ingin membawa Inas untuk tidur bersamanya. Namun, karena balita itu terus saja rewel, jadi Lira membawa Inas untuk tidur di kamar mereka.
Lira meletakan tubuh mungil Inas di atas tempat tidur lalu menutup tubuh mungil anaknya menggunakan selimut lembut hingga ke dada.
Reza menyusul anak dan istrinya di ranjang dan ikut berbaring di samping kanan putri kecilnya yang sudah tertidur lelap. Reza tersenyum kecil saat mengamati wajah anaknya yang sangat mirip dengannya. Reza merasa bersyukur karena anaknya sudah mau menerimanya dan tak lagi menjerit histeris saat ia menggendong anaknya.
Pandangan Reza beralih ke Lira yang sedang menidurkan Inas sambil menepuk pelan dada putri kecilnya itu. Reza mengusap lembut kepala Lira, yang begitu sabar menghadapi semua sikap dan sifat buruknya itu. Usapan Reza turun ke pelipis Lira yang terdapat bekas luka yang terlihat begitu jelas. Bekas luka itu yang sudah menjadi saksi bisu bagaimana kejamnya ia dahulu pada istrinya yang tak bersalah. Bekas luka itu akan menjadi pengingat Reza untuk selalu berusaha membahagiakan istrinya. Reza berjanji pada dirinya sendiri, tak akan melakukan hal bodoh itu lagi.
"Terima kasih, kamu sudah menerimaku kembali dan memberikan aku kesempatan kedua untuk menebus kesalahanku. Aku janji akan buat kamu dan anak kita bahagia. Terima kasih juga karena kamu sudah berkorban dan berjuang membesarkan anak kita dengan sangat baik." Ucap Reza tulus.
"Sama-sama. Itu memang sudah kewajiban aku sebagai istri juga ibu." Jawab Lira sambil tersenyum tulus.
Senyum itu yang selalu Reza rindukan. Senyum yang selalu terukir indah meski sedang dalam kekecewaan.
Akhirnya keluarga kecil itu pun tertidur dengan posisi saling memeluk satu sama lain.
__ADS_1
πΈπΈπΈπΈ
Bersambung.....π