Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 135


__ADS_3

Hai hai hai.....epribadeh...


maaf ya othor baru muncul. Soalnya, beberapa hari ini, othor sibuk dengan pernikahan yang baru saja digelar tanggal 20 Mei kemarin. Othor juga sibuk dengan gelar baru sebagai istri yaitu ngurus suami. Pasti Bu ibu juga udah pernah ngalamin waktu pertama kali nikah, iyakan?😁


Othor gak akan bosan buat ngucapin terima kasih banyak pada kalian semua yang selalu menantikan kelanjutan dari kisah ini.


Terima kasih juga atas doa yang kalian kirim untuk pernikahan othor. Semoga Allah membalas segala kebaikan kalian semua. Aamiin.


Lanjut.......


Selamat membaca.....🌹🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


"Bacalah Alquran, maka sesungguhnya ia akan datang di hari kiamat memberi syafaat kepada pembacanya." (HR. Muslim).


🌸🌸🌸🌸


Kebahagiaan yang Reza rasakan, kini semakin bertambah seiring bertambahnya usia yang kini hampir menginjak 40 tahun. Reza semakin merasakan betapa baik dan sayangnya Allah padanya. Di usianya yang sudah tak muda itu, ia telah diberikan dua anak yang lucu-lucu dan menggemaskan.


Inas kini hampir memasuki usia 5 tahun dan Haidar terlah berusia 2 tahun. Kedua anak itu telah tumbuh menjadi anak yang sangat pintar. Terutama Inas yang semakin fasih untuk menghafalkan Al-Qura'an. Meski usianya masih sangat muda dan masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak kelas B, tapi Inas sudah mampu menghafalkan Al-Qur'an dengan baik dan tentu dengan bantuan dari guru mengaji terbaik yang sudah disiapkan oleh ayahnya sejak usianya dua tiga tahun. Sementara Haidar, kini telah memasuki tahap awal menghafalkan Al-Qur'an.


Sebagai orang tua, tentu Reza dan Lira merasa sangat bahagia dan bangga melihat prestasi dari kedua anaknya bisa tumbuh menjadi anak-anak yang memegang teguh pada Al-Qur'an dan hadist.


"Papa jangan lama-lama, kalna kakak mau pelgi sekolah." Ucap Inas pada ayahnya yang sedang sibuk menyisir rambutnya di depan cermin.


"Iya sayang, sabar ya. Dikit lagi papa selesai kok." Jawab Reza lembut.


Inas tak menjawab dan hanya menatap ayahnya dengan wajah cemberut karena sejak tadi bocah menggemaskan itu sudah menunggu ayahnya dengan cukup lama.


"Jangan cemberut gitu dong, sayang. Ntar gak cantik lagi, lho." Bujuk Reza dengan mengusap lembut kepala putri kesayangannya yang terbungkus jilbab instan berwarna biru muda. "Uluh, uluh, gemes banget sih anak papa. Tambah gede, tambah cantik." Lanjutnya sambil menyubit gemas kedua pipi Inas.


Sejak Inas berusia 2 tahun, ia sudah dibiasakan untuk mengenakan hijab serta pakaian yang menutup aurat. Hingga kini usia Inas hampir menginjak 5 tahun, bocah menggemaskan itu sudah terbiasa untuk menutup aurat. Reza juga bahkan memasukan Inas ke sekolah yang berbasis Islami, agar anaknya bisa belajar agama sejak dini. Hal itu tentu didukung penuh oleh istri dan keriga orang tuanya. Mereka sangat berharap, Inas bisa menjadi anak yang berakhlak mulia dan beradab tentunya.


"Papa lama. Kakak juga mau salapan papa. Pasti adek, bunda sama eyang udah tunggu di bawah."


"Iya sayang. Maafin papa ya, udah buat kakak nunggu lama."

__ADS_1


"Iya, kakak maafin."


Reza tersenyum senang. Inilah salah alasan yang membuatnya merasa bahagia karena telah berhasil memberi contoh yang baik untuk anak-anaknya yaitu mudah memaafkan.


🌸🌸🌸🌸


Usai menyiapkan sarapan untuk suami, anak-anak serta mertuanya, Lira menata semua masakannya di atas meja sambil menunggu semua anggota keluarganya untuk sarapan bersama.


Beginilah aktifitas Lira sekarang. Sejak usia Haidar memasuki dua tahun, Lira mengambil peran untuk menyiapkan sendiri keperluan keluarganya seperti, memasak makanan kesukaan suami dan kedua anaknya, menyiapkan pakaian kerja suaminya serta seragam sekolah Inas. Semua Lira lakukan sendiri tanpa bantuan siapa pun. Meski di awal Reza tak mengizinkan dengan alasan tak ingin istri tercintanya kelelahan, namun akhirnya ia menyerah karena bujuk rayu Lira yang mengatakan jika ia ingin mengurus sendiri keluarga kecilnya. Alhasil, sekarang Reza merasa ketagihan dengan masakan istrinya. Reza tak akan makan jika itu bukan masakan istrinya. Berlebihan memang, tapi begitulah cara Reza mencintai istrinya. Dengan memberi pujian atas hal-hal kecil yang istrinya lakukan untuk keluarganya.


"Makasih untuk sarapan lezatnya, bunda. Kami sayang bunda." Ucap Reza usai menyantap sarapan buatan istri tercintanya.


"Sama-sama, papa. Anak-anak bunda, suka gak sama sarapannya?"


"Suka, bunda." Jawab Inas antusias. "Kakak suka banget sama masakan bunda. Telima kasih, bunda."


"Ade duga tuka tama matakan unda." Timpal Haidar dengan bahasa cadelnya yang menggemaskan.


Sementara Martin dan Irma hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala melihat tingkah lucu kedua cucunya yang semakin menggemaskan.


"Siap, bunda." Sahut Reza dan Inas bersamaan dengan semangat.


Lira hanya tersenyum melihat tingkah suami dan anaknya yang selalu saja kompak jika sudah bersama. Meski usia Inas telah mendekati 5 tahun, namun Reza selalu memperlakukan Inas layaknya anak berusia satu atau dua tahun. Reza seolah belum rela jika Inas tumbuh semakin besar. Di mata Reza, Inas tetaplah putri kecilnya yang manja dan sampai kapan pun akan tetap seperti itu.


🌸🌸🌸🌸


Tepat pukul 11 siang, bel sekolah telah berbunyi dengan cukup nyaring, pertanda waktu belajar telah usai. Anak-anak telah berlarian keluar ruangan usai berdoa bersama. Sebagian dari mereka, ada yang sudah memasang tampang cemberut, lesu dan lelah. Sebagian lagi merasa bahagia karena nyaman dengan pelajaran yang mereka terima. Inas adalah salah satu anak yang paling bahagia karena telah berhasil mengerjakan tugas yang diminta oleh gurunya.


Inas berjalan dengan riang menuju halaman sekolah untuk menunggu jemputan. Namun, baru beberapa langkah saja, Inas sudah melihat sosok lelaki tampan yang selalu menjadi pelindungnya telah berjalan ke arahnya sembari tersenyum lembut padanya. Siapa lagi kalau bukan Reza, ayahnya yang begitu posesif.


Di sela-sela kesibukannya, Reza selalu berusaha menyempatkan diri untuk menjemput putri kesayanganya setiap pulang sekolah. Bukannya Reza tak percaya pada supir yang selalu menjemput putrinya. Hanya saja, Reza ingin menjadi orang pertama yang selalu ada untuk putri kecilnya di saat apa pun dan kapan pun serta selalu ingin menghabiskan waktu bersama putrinya.


Meski terkadang Reza harus mengorbankan waktu pentingnya bersama kliennya, tapi Reza tak pernah menyesali itu. Menurutnya, waktu yang paling berharga adalah ketika ia bisa bersama keluarga kecilnya. Karena semua waktu yang telah lewat, tak akan pernah bisa kembali. Maka dari itu, Reza selalu berusaha untuk menyempatkan waktunya agar bisa selalu bersama keluarga kecilnya.


Inas berlari kecil menghampiri ayahnya yang masih berjalan ke arahnya. Sembari merentangkan tangan, Reza menyambut putri kecilnya yang terlihat sangat bahagia karena kehadirannya.


"Papaaaaaa!!" Teriak Inas girang lalu masuk ke dalam pelukan ayahnya.

__ADS_1


"Anak papa kok keliatan seneng banget. Ada apa, sayang?" Tanya Reza saat Inas sudah berada dalam gendongannya.


"Iya papa. Tadi kakak habis setol hafalan sama ustadzah."


"Oya? Terus, Kakak berhasil?"


"Iya papa. Kata ustadzah, kakak Masya Allah bisa hafalin semuanya."


"Emang, tadi setor surah apa sayang?"


"Surah Al-Humazah, papa."


"Masya Allah. Anak papa emang pinter." Puji Reza sambil mengecup gemas kedua pipi Inas.


Reza tersenyum haru karena ia tahu bagaimana perjuangan putrinya dalam menghafalkan surah itu. Selama satu Minggu, hampir setiap hari ia mendengar dan menyaksikan secara langsung saat Lira membantu Inas untuk menghafalkannya dengan baik dan nantinya, akan disetorkan kepada gurunya di sekolah sebagai tugas tambahan di rumah.


Sebenarnya, Reza tahu apa saja yang dilakukan putrinya di sekolah karena ia sengaja menempatkan anak buahnya untuk memantau dan melaporkan setiap kegiatan putrinya di sekolah serta menjaganya dari jarak jauh agar tak ketahuan oleh siapa pun, termasuk Lira.


Bukan tanpa alasan Reza melakukan hal itu. Ia hanya ingin melindungi putri kesayangannya dari para pesaingnya yang setiap saat bisa saja berniat jahat pada keluarganya.


"Sekarang, anak papa mau ke mana? Mau pulang ke rumah atau ikut papa kerja?" Tanya Reza saat mereka telah berada di dalam mobil.


"Mau pulang papa. Kakak mau kasih bunda, adek, sama eyang. Kakak juga mau telfon nenek."


Reza hanya tersenyum melihat antusias putrinya yang sudah tak sabar untuk segera tiba di rumah dan memberitahukan kepada semua penghuni rumah atas prestasinya hari ini. Reza sudah tak kaget lagi melihat sikap putrinya karena setiap Inas berhasil melakukan tugas sekolahnya dengan baik, maka ia pasti akan melaporkannya pada semua anggota keluarganya, termasuk Farel dan Riri yang juga bersekolah di tempat yang sama dengannya tapi mereka berbeda kelas.


"Oke, sayang. Kita pulang sekarang, ya."


"Oya, papa."


🌸🌸🌸🌸


Bersambung.....


Maaf cuma dikit, karena othor kecapean habis pulang kerja..


Ini juga othor curi" waktu karena suami lagi kerja.😁

__ADS_1


__ADS_2