Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 106


__ADS_3

"Wahai manusia! Sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Alquran) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman." (QS. Yunus : 57)


Selamat membaca.......🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Usai melaksanakan sholat subuh, Lira melanjutkan ibadahnya dengan membaca Al-Qur'an. Seperti di kehamilan sebelumnya, ketika usia kandungannya yang telah memasuki bulan ke empat, Lira menjadi lebih sering membaca Al-Qur'an, berdzikir atau bersholawat.


Membaca Al-Quran sangat baik dilakukan kapanpun dan di mana pun, selain di tempat najis. Apalagi ketika sedang hamil, sebab indra pendengaran pada bayi mulai berkembang pada pekan ke-8 dan selesai pembentukan pada pekan ke-24. Indra pendengaran ini juga dibantu oleh air ketuban yang merupakan penghantar suara yang baik. Janin akan mulai mendengar suara aliran darah melalui plasenta, suara denyut jantung dan suara udara dalam usus. Selain itu, janin akan bereaksi terhadap suara-suara keras, bahkan bisa membuat janin terlonjak kaget. Maka dari itu, biasakanlah mendengarkan ayat-ayat suci Al-Qur'an ketika sedang hamil agar anak bisa mengenali Tuhan nya sejak dini dan ia akan lebih pandai bersyukur.


Seperti dalam surah An-Nahl ayat 78.Β 


"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur."


Lira mengaji dengan sangat merdu dan penuh penghayatan hingga ia tak sadar jika saat ini, Reza sudah duduk tepat di sebelahnya dan ikut mendengarkannya melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Lira membaca hingga beberapa lembar surah, setelah itu Lira menghentikan bacaanya dan meletakan kembali Al-Qur'an ke tempat semula.


Lira mengembangkan senyumnya sambil mengusap perutnya yang sudah mulai membuncit. Rasa syukur tiada tara, Lira ucapkan pada sang pencipta. Di kehamilannya yang kedua ini, Lira sama sekali tak merasakan mual atau muntah. Lira juga tak merasa ngidam seperti ketika ia mengandung Inas. Padahal, Reza sangat menantikan momen itu. Di awal kehamilan, Reza selalu bertanya tentang makanan yang ingin sekali Lira makan. Bahkan meski Lira sedang tak mengidam pun, Reza tetap membelikannya makanan khas ibu ngidam seperti mangga muda atau buah kecut lainnya, setiap kali ia pulang dari kantor.


"Sayang, hari ini temenin mas ke kantor ya." Ucap Reza sambil memeluk erat Lira dari samping hingga membuat Lira terkejut.


"Astaghfirullah, mas. Lira kaget banget, tahu." Pekik Lira sambil mengelus dadanya dengan pelan.


"Maaf, sayang. Ada yang sakit, gak." Balas Reza dengan raut wajah bersalah bercampur khawatir.


"Gak ada, mas. Lira cuma kaget aja karena gak ada suara, tiba-tiba mas peluk Lira."


Reza menghela nafas lega. "Alhamdulillah. Mas kira ada yang sakit. Maaf ya, sayang."


"Iya mas, gak papa." Balas Lira sambil mengelus lembut wajah Reza yang sangat dekat dengan wajahnya.


"Oh iya, tadi mas ngomong apa ke Lira?" Lanjutnya.


"Mas bilang, hari ini sayang temenin mas ke kantor ya."


"Emangnya ada apa, mas?"


"Ya, gak ada papa. Mas cuma pengen ditemenin sama sayang dan kakak aja. Emangnya gak boleh?"


"Boleh dong. Lira malah seneng bisa temenin mas kerja. Ya udah, Lira siapin pakaian mas ya. Sekalian Lira juga mau bangun si kakak buat mandi terus kita sarapan bareng."


"Gak usah, sayang. Biar mas aja yang bangunin dan mandiin kakak. Sayang tolong siapin baju mas aja, ya."


"Baiklah Baginda Raja, Ibu Ratu siap laksanakan titah Baginda Raja dengan baik." Gurau Lira dan langsung mendapat kecupan di seluruh wajahnya oleh Reza hingga membuatnya memekik geli.


"Coba Ibu Ratu ulangi. Baginda belum puas mendengarnya."


"Mohon ampun, baginda! Ibu Ratu merasa geli."


"Baiklah, sekarang kita menuju kastil istana yang sesungguhnya."

__ADS_1


Reza langsung menggendong tubuh mungil Lira dengan hati-hati dan membawanya menuju tempat tidur. Mata Lira langsung melotot saat melihat wajah Reza yang sudah dipenuhi gairah.


"Mas, mau ngapain?" Tanya Lira panik.


"Sekarang Baginda Raja sangat ingin mendapat pelayanan dari Ibu Ratu karena baginda sudah sangat lama berpuasa. Tolong siapkan menu buka puasa yang mengenyangkan untuk baginda, wahai ratuku."


"Mas, ini udah pagi. Bentar lagi mas mau ke kantor."


"Bentar aja kok, sayang. Plis, sayang mau ya." Bujuknya dengan wajah memelas.


Lira merasa tak tega melihatnya. Memang sejak awal kehamilan Lira, Reza sebisa mungkin menahan hasratnya tak menyentuh istrinya karena ia tak ingin membahayakan calon anaknya hanya demi kepuasannya.


Akhirnya Lira mengangguk mau dengan wajah yang sudah merah karena malu. Meski mereka sudah sering melakukannya, tapi Lira tetap saja merasa malu hingga membuat Reza menjadi gemas.


Tanpa menunggu lama, sang raja pun langsung membawa sang ratu terbang ke langit ketujuh untuk menyelami kehangatan yang mereka ciptakan bersama.


🌸🌸🌸🌸🌸


Lira telah bersiap-siap untuk ikut Reza ke kantor. Hari ini, Lira memilih mengenakan gamis umbrella syar'i berwarna ungu lavender yang padukan dengan hijab berwarna senada yang menutupi dada.


Lira menuju kamar Inas yang berada di sebelah kamarnya melalui pintu penghubung yang ada di kamar mereka. Reza sengaja membuat pintu yang menghubungkan kamarnya dengan kamar Inas, agar Reza bisa memantau langsung putrinya ketika sedang tertidur sendiri dan Lira juga tak perlu repot harus keluar kamar lagi hanya untuk menengok putrinya.


Lira mendandani Inas dengan gamis yang sama dengan yang ia kenakan. Lira selalu membeli gamis yang sepaket dengan putri kecilnya. Lira juga sudah membiasakan Inas memakai hijab sejak dini, agar ketika Inas dewasa nanti, ia sudah tak terkejut atau merasa gerah ketika mengenakan hijab. Selain itu juga, Lira ingin Inas tahu batasan aurat dari seorang wanita yang boleh dilihat dan tak boleh dilihat oleh orang lain yang bukan mahramnya.


"Kakak udah cantik, deh. Sekarang kita temuin papa, yuk sayang."


"Jalan sendiri aja, ya. Kakak kan udah gede."


"Ndak mau, bunda. Mau gendong." Pintanya manja dengan wajah memelas.


"Ya udah, sini bunda gendong."


Lira menggendong Inas keluar kamar menuju meja makan di mana suaminya sudah menunggunya.


Pagi ini terasa berbeda karena kedua orang tua Reza tak ada di rumah. Mereka sedang mengunjungi sanak saudaranya yang ada di Bandung. Sedangkan Indah, sudah pulang berpamitan pulang setelah acara tasyakuran empat bulanan Lira selesai. Indah tak bisa bermalam lama-lama karena tak tega harus meninggalkan anak-anaknya di rumah.


Reza langsung berdiri menghampiri Lira lalu mengambil alih Inas dari gendongannya. Rahang Reza sudah mengeras saat Lira dengan berani menggendong Inas yang jelas-jelas itu adalah larangan keras untuknya.


"Sayang kok bandel banget, sih?! Gak bisa dibilangin. Mas udah bilang berapa kali? Sayang gak boleh gendong si kakak, biar mas aja yang gendong. Kenapa hari ini sayang melanggar?" Ucapnya pelan, namun terdengar tegas.


"Maaf, mas. Habisnya tadi si kakak gak mau jalan sendiri." Jawabnya sambil tertunduk takut.


Melihat wajah ayahnya yang mengerikan menurutnya, Inas langsung menangis kencang. Inas seolah tahu jika saat ini ayahnya sedang marah pada ibunya..


"Huuuwaaaaa.....huuwaaaa....huuwaaaa. Papa dahat." Ucap Inas di sela tangisnya yang terdengar semakin kencang.


"Sayang, papa minta maaf ya. Papa gak marah kok, sama bunda sama kakak juga. Papa kan sayang sama bunda dan kakak." Bujuk Reza.


Reza merasa sangat bersalah karena telah membuat putrinya menjadi takut padanya. Reza terus berusaha membujuk putrinya yang masih duduk dipangkuannya.

__ADS_1


"Ya udah, sekarang papa mau minta maaf ke bunda. Kakak lihat, ya."


Reza langsung menggenggam tangan Lira lalu menatap matanya dengan dalam dan perasaan bersalah. Reza merasa menyesal karena tak bisa mengendalikan emosinya.


"Bunda, papa minta maaf ya. Papa janji gak bakal marah-marah lagi seperti tadi ke bunda."


"Iya papa, bunda udah maafin kok." Jawab Lira dengan senyum manis di wajahnya.


"Tuh, kakak lihat sendiri kan, bunda udah maafin papa. Sekarang giliran kakak yang maafin papa."


"Udah papa." Jawabnya dengan wajah gemas karena hidung yang memerah bekas menangis.


"Terima kasih, ya. Papa sayang banget sama kakak dan bunda."


"Tayang papa duga."


Reza membawa Lira ke dalam pelukannya bersama Inas di tengah-tengah mereka. Kemudian, Inas menyium pipi Reza dan pipi Lira secara bergantian. Reza dan Lira juga melakukan hal yang sama, mengecup kedua pipi Inas dengan gemas.


Seperti inilah Reza dan Lira, selalu berusaha memberi contoh yang baik untuk putri kecilnya. Apapun masalah yang dihadapi, sebisa mungkin keduanya saling meminta maaf agar Inas dapat mencontohnya ketika dewasa nanti.


Reza dan Lira juga berusaha agar tak bertengkar di depan Inas, meski itu hanya masalah sepele. Seperti tadi, Reza segera menyadari kesalahannya dan langsung meminta maaf pada anak juga istrinya.


Meski Inas masih sangat kecil, tapi ia sangat kritis dan cepat menirukan apa yang dilihatnya. Maka dari itu, Reza dan Lira sepakat tak menggunakan jasa baby sitter untuk menjaga Inas karena mereka takut, nanti Inas akan lebih dekat dekat baby sitter nya daripada orang tuanya. Selain itu juga, mereka takut jika putrinya salah mendapat didikan hingga membuatnya menjadi anak yang suka membangkang.


🌸🌸🌸🌸


Setibanya mereka di kantor, Reza langsung menggandeng tangan istrinya sambil menggendong tubuh mungil putrinya, masuk ke dalam gedung tinggi miliknya.


Inas begitu antusias saat memasuki ruang kerja ayahnya. Inas sudah sering ikut ayahnya bekerja, jadi ia sudah hafal dengan suasana kantor. Ditambah lagi, para karyawan banyak yang mengenalnya dan merasa gemas melihat pipi gembulnya, membuat Inas menjadi semakin senang karena ia merasa seperti memiliki banyak teman.


Tak jarang juga, Reza sering mengajak serta putrinya untuk ikut ke dalam ruang rapat bersama para kliennya. Saking seringnya para klien melihat wajah menggemaskan Inas, ada beberapa dari mereka yang menawarkan perjodohan dini dengan putra mereka. Tentu saja lansung ditolak oleh Reza dengan halus dan santun agar tak menyinggung perasaan para kliennya. Reza ingin putri kesayangannya, kelak mendapat pendamping hidup yang paham akan agama serta dapat membimbing putrinya ke jalan yang lebih baik.


"Sayang, kalo laper bilang ya."


"Iya, mas."


Saat ini Lira sedang duduk di sofa sambil membaca buku tentang "Cara Rasulullah Saw Mendidik Anak." Buku itu ia dapat dari Reza sebagai hadiah agar Lira selalu memanfaatkan waktunya di sela-sela mengurus keluarga dengan membaca buku.


"Kakak, papa kerja dulu ya sayang. Kalo kakak ngantuk, nanti tidur aja di kamar papa."


"Iya, papa."


Sebelum menuju singgasananya, Reza lebih dulu mengecup kening istrinya lalu menyium kedua pipi putrinya yang sedang sibuk mengeluarkan permainan peralatan masak dari dalam koper kecilnya yang berwarna pink cerah dengan hiasan gambar kuda poni di atasnya.


Reza memulai kerjanya dengan perasaan bahagia dan semangat yang berkobar karena ia ditemani langsung oleh dua orang yang paling berharga dalam hidupnya, yaitu anak dan istrinya yang merupakan belahan jiwanya serta permata hatinya.


🌸🌸🌸🌸


Bersambung........😊

__ADS_1


__ADS_2