
"Maka istri-istri yang saleh itu ialah yang taat kepada Allah dan memelihara diri ketika suaminya tidak ada. Oleh karenanya Allah telah memelihara (menjaga) mereka.” - (QS. An Nisa: 34).
Lanjut.........
🌸🌸🌸🌸
"Sayang, makan dulu yuk." Ajak Reza setengah berteriak menghentikan tawa Lira dan Bela.
"Iya, mas." Sahut Lira.
"Kita makan dulu yuk, terus kita lanjutin lagi cerita kita yang tadi."
"Iya, ayo."
Lira dan Bela berjalan sambil bergandengan tangan menuju ke arah gazebo tempat di mana suami dan orang tua mereka berkumpul. Senyum bahagia tak pernah luntur dari wajah cantik keduanya.
Lira dan Bela langsung duduk di sebelah suami mereka masing-masing. Mereka makan dengan tenang sambil ditemani semilir angin pagi yang terasa sejuk menyapu wajah mereka.
Selesai makan, mereka mengobrol hangat tentang susana kampung yang terasa nyaman dan begitu menenangkan bagi Reza dan kedua orang tuanya yang notabenenya berasal dari kota dan sangat jarang menginjakan kaki ke desa atau kampung seperti sekarang.
"Papa, kakak mau makan cokat boyeh?" Pinta Inas dengan wajah menggemaskan hingga membuat Reza menjadi tak tega jika menolak keinginan putri kesayangannya yang sejak tadi sudah merengek meminta untuk memakan coklat kesukaannya.
"Boleh sayang, tapi dikit aja ya. Nanti gigi kakak sakit."
"Yeeee..Maacih papa." Sahutnya girang sambil meloncat-loncat kecil dipangkuan ayahnya.
"Sama-sama, sayang."
Inas langsung membagi coklatnya menjadi dua bagian lalu memberikannya kepada Farel. Hal itu langsung membuat kagum orang tua serta kakek dan neneknya. Mereka merasa bangga pada sikap Inas. Meski masih kecil, tapi Inas sudah mengerti tentang arti berbagi. Tentu hal itu tak lepas dari peran orang tuanya yang selalu memberi contah yang baik pada putri mereka.
Inas dan Farel memakan coklat itu dengan senang sambil tertawa hingga mulut mereka dipenuhi coklat.
"Pelan-pelan makannya, sayang." Ucap Lira lembut.
Inas hanya mengangguk lalu kembali memasukan sisa coklat ke dalam mulutnya yang masih penuh. Semua yang melihatnya langsung tertawa geli melihat wajah gemas dari kedua bocah itu.
__ADS_1
Saat coklat Farel sudah habis, ia meminta lagi pada Inas, tapi Inas menggelengkan kepala tanda tak setuju.
"Ndak boyeh banak-banak, abang." Ucapnya dengan mulut yang masih dipenuhi coklat.
Farel masih merengek meminta coklat pada Inas tapi lagi-lagi Inas menolak sambil menoleh ke arah ayahnya yang tersenyum padanya.
Melihat wajah putranya yang sudah ingin menangis, Bela langsung turun tangan dengan cara menasehatinya. Cara mendidik Bela tak jauh beda dengan Lira yang terkesan lembut. Hanya saja, Bela sedikit lebih cerewet dibanding Lira yang kalem. Namun soal mengurus anak, mereka berdua cukup berpengalaman dan terlihat cekatan.
Usai makan bersama, mereka mulai mengobrol hangat. Suasana hangat begitu terasa di antara mereka. Inas dan Farel juga semakin akrab. Meski di awal, kedua bocah lucu itu terus bertengkar kecil, tapi kini mereka sudah bisa saling menerima satu sama lain.
Melihat suasana yang begitu hangat, Arman berinisiatif untuk mengabadikan momen itu ke dalam kameranya yang sengaja ia bawa dari rumah. Arman juga meminta pada Reza dan Lira untuk berfoto bersama putri mereka, sebagai kenang-kenangan di masa kehamilan Lira. Inas sangat bahagia saat kamera Arman mengarah padanya. Inas mulai bergaya lucu dan menggemaskan di depan kamera. Farel pun tak mau kalah, ia juga ikut duduk di sebelah Inas lalu meminta ayahnya untuk memotret mereka berdua yang sedang bergaya sambil tertawa lucu. Hal itu langsung membuat orang tua mereka tertawa melihat tingkah lucu dari kedua bocah menggemaskan itu.
Kemudian, Arman mengatur waktu kameranya dan mengarahkan semua yang ada di gazebo untuk duduk dengan sedikit rapat agar wajah mereka dapat tertangkap oleh kamera. Mereka berfoto dengan berbagai macam gaya. Ada gaya santai, lucu, romantis, dan terakhir gaya bebas. Mereka terlihat sangat bahagia dan menikmati acara piknik dadakan itu.
🌸🌸🌸🌸
Tak terasa, dua hari sudah Lira dan Reza serta kedua orang tuanya menghabiskan waktu liburan mereka di kampung. Hari ini, mereka harus kembali ke Jakarta karena pekerjaan Reza di kantor sudah menantinya. Bela beserta anak dan suaminya juga ikut bersama mereka ke Jakarta. Sesuai kesepakatan, suami Bela akan bekerja di perusahaan sebagai sekretaris pribadi Reza.
Suasana haru begitu kental terasa saat Lira berpamitan pada ibunya. Indah memeluk erat tubuh putri kesayangannya serta tubuh cucunya secara bergantian. Tak lupa juga, Indah menyium gemas seluruh wajah cucu kesayangannya. Indah merasa belum puas memeluk cucunya. Apalagi, mereka sangat jarang bertemu. Tapi, Reza sudah berjanji akan selalu meluangkan waktu untuk mengunjungi Indah di kampung. Reza juga akan menjemput Indah saat Lira mendekati HPL.
"Sayang udah dong, jangan murung kayak gitu. Mas janji, insya Allah nanti kita bakal sering-sering luangin waktu untuk tengokin ibu."
Lira hanya mengangguk sembari tersenyum tipis sebagai jawaban. Reza mengerti dengan perasaan istrinya saat ini. Sebagai anak perempuan tunggal yang sudah berkeluarga, tentu bukan hal mudah bagi Lira untuk meninggalkan orang tua satu-satunya sendiri di rumah. Namun, Lira mengingat kembali, bahwa kodrat istri adalah mengikuti kemana pun suaminya pergi. Orang tua bukanlah alasan bagi seorang istri untuk tidak mentaati suami. Asalkan, anak tidak melupakan dan tetap berbakti pada orang tuanya.
Syekh Kamil Muhammad ‘Uwaidah dalam buku Al Jami’ fi Fiqh An Nisaa’ mengatakan seorang perempuan, sebagaimana laki-laki, mempunyai kewajiban sama berbakti terhadap orang tua. Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA. menguatkan hal itu. Penghormatan terhadap ibu dan ayah, sangat ditekankan oleh Rasulullah. Namun, menurut Syekh Yusuf al- Qaradhawi dalam kumpulan fatwanya yang terangkum di Fatawa Mu’ashirah bahwa memang benar, taat kepada orang tua bagi seorang perempuan hukumnya wajib. Tetapi, kewajiban tersebut dibatasi selama yang bersangkutan belum menikah. Bila sudah berkeluarga, seorang istri diharuskan lebih mengutamakan taat kepada suami. Selama ke taatan itu masih berada di koridor syariat dan tak melanggar perintah agama.
Oleh karena itu, orang tua tidak diperbolehkan untuk mengatur atau ikut campur dalam kehidupan rumah tangga putrinya. Termasuk memberikan perintah apa pun padanya. Jika orang tua ikut campur dalam masalah kehidupan rumah tangga putrinya, maka itu merupakan suatu kesalahan yang besar. Karena setelah menikah, seorang anak perempuan akan memasuki babak baru dan bukan lagi di tanggung jawab orang tuanya, melain kan menjadi tanggung jawab suaminya.
Allah SWT berfirman, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan se ba hagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita). (QS an-Nisaa’ [4]: 34).
🌸🌸🌸🌸
"Nah, selamat datang di rumah kami. Anggap aja ini rumah sendiri, ya. Kalian jangan sungkan." Ucap Irma ramah pada Bela dan Arman saat mereka telah memasuki rumah.
Waktu menunjukan pukul delapan malam, mereka baru tiba di rumah. Rombongan keluarga Reza, berangkat dari kampung Lira pada pukul lima sore dan tiba pada pukul delapan malam karena mereka harus mampir beberapa kali untuk melaksanakan sholat Maghrib dan isya di masjid serta mampir untuk makan di restoran. Akhirnya mereka tiba lebih lama dari biasanya.
__ADS_1
"Iya tante, terima kasih banyak." Sahut Bela sungkan.
"Eh, kok tante sih. Mama dong. Kamu kan sahabat Lira, berarti anak mama juga. Iya kan, pa?"
"Iya, ma. Kalian udah kami anggap seperti anak sendiri. Jadi gak usah sungkan." Timpal Martin tak kalah ramah.
Bela dan Arman merasa sangat bersyukur karena telah dipertemukan dengan keluarga Reza yang begitu baik. Tak sia-sia Arman memutuskan untuk berhenti bekerja di Kairo dan kembali ke Indonesia. Ternyata Allah telah menyiapkan rezeki yang tiada disangka-sangka di Indonesia. Bela juga tak lupa mengucap syukur, sahabat baiknya kini telah memiliki suami yang begitu mencintai dan akan selalu membahagiakannya serta mertua yang baik hati. Allah memang Maha Adil.
"Silakan kalian istirahat dulu di kamar. Besok Arman sudah bisa ikut aku kerja. Dan soal rumah, kalian gak usah khawatir. Aku udah siapin, gak jauh dari sini biar Bela bisa menemani Lira di sini saat kami sedang bekerja." Jelas Reza.
"Terima kasih banyak ya, mas." Ucap Bela dan Arman.
"Sama-sama."
Bela serta suami dan anaknya, langsung menuju kamar tamu yang berada di lantai satu, dekat kamar tamu yang biasa ditempati oleh Indah. Sementara Reza, menggendong putri kecilnya menuju kamar mereka menggunakan lift.
"Mas, makasih ya. Mas udah sering banget usaha supaya Lira bahagia dengan kejutan-kejutan yang gak pernah Lira duga. Mas juga udah bantuin suami Bela untuk kerja di perusahaan papa." Ucap Lira dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Reza memeluk tubuh mungil istrinya dengan penuh kasih sayang. "Sama-sama, sayang. Semua ini mas lakukan, karena mas ingin liat sayang bahagia."
Reza sadar, apa yang dilakukannya ini tentu tak sebanding dengan semua penderitaan yang sudah ia berikan pada istrinya. Lira, wanita yang sejak kecil sudah sering merasakan penderitaan, hingga ia menikah dengan Reza, lelaki yang Lira anggap dapat membantunya keluar dari pahitnya kemiskinan dan dapat memberikannya kebahagiaan, justru tega membuatnya semakin masuk ke dalam jurang penderitaan yang sangat dalam. Namun, kini Reza telah berubah. Luka yang dahulu ia torehkan di hati Lira, kini perlahan mulai tergantikan dengan kebahagiaan demi kebahagiaan yang Reza berikan dengan penuh cinta.
"Ya udah, Sekarang mas bantu sayang bersih-bersih. Terus kita ganti baju, habis itu kita tidur. Tapi jangan lupa, sayang harus minum susu dulu." Lanjut Reza sambil mengecup kening Lira berkali-kali dengan penuh kasih sayang.
"Siap, komandan."Canda Lira dengan bergaya hormat seperti seorang prajurit pada komandannya.
"Eh, eh. Kok tambah gemes sih, istri mas. Tambah cantik, tambah cinta dan tambah ndut juga."
"Maaaasss." Rengek Lira manja sambil mengerucutkan bibirnya.
Reza tertawa renyah melihat wajah cemberut istrinya yang justru terlihat semakin menggemaskan menurutnya. Reza kembali memeluk dan mengecup pucuk kepala Lira lalu mereka tertawa bahagia bersama.
🌸🌸🌸🌸
Bersambung.......😊
__ADS_1