
Selamat membaca.......πΉπΉπΉπΉ
πΈπΈπΈπΈ
Usai sholat subuh berjamaah bersama di rumah, Doni dan Amel melanjutkan ibadah mereka dengan mengaji bersama. Sejak menikah dengan Amel, kehidupan Doni menjadi lebih terarah. Jika dulu Doni sering lalai dalam beribadah, kini ia menjadi lebih taat. Perlahan-lahan Doni berubah menjadi lebih baik.
Ditambah lagi, saat ini Amel sedang mengandung anak dari buah cintanya bersama Doni. Kehamilan Amel yang sudah memasuki bulan ke delapan, membuat Doni menjadi suami yang super siaga karena anaknya adalah cucu pertama di keluarganya yang sudah lama dinantikan kehadirannya.
Demi menjadi imam yang baik untuk istri dan anak-anaknya nanti, Doni bahkan rela belajar langsung dari ustadz. Banyak hal yang telah Doni pelajari tentang kiat-kiat menjadi seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab untuk keluarga kecilnya.
"Terima kasih ya sayang, udah bersedia menjadi istri dari seorang lelaki yang banyak kekurangan seperti mas." Ucap Doni usai mereka menyelesaikan bacaan Qur'an nya.
"Sama-sama. Harusnya Amel yang berterima kasih karena mas mau menerima gadis panti seperti Amel." Balas Amel dengan senyum tulus di wajah cantiknya.
"Sayang, udah berapa kali mas bilang? Jangan pernah ngucapin itu lagi. Sayang adalah anugerah terindah yang dikirim Allah untuk lelaki seperti mas."
Doni mengelus kepala Amel yang terbungkus kerudung putih lalu mengecup kening Amel dengan lembut. Doni sangat bersyukur, pertemuanmya yang tak sengaja dahulu dengan Amel membawanya pada sebuah takdir yang begitu membahagiakan dalam hidup Doni.
πΈπΈπΈπΈ
Saat ini Doni dan Amel sedang menikmati sarapan bersama. Setelah menikah, Doni mengajak Amel untuk tinggal di rumah pribadinya yang telah ia siapkan jauh-jauh hari sebelum menikah. Doni sengaja tinggal terpisah dari orang tuanya dan memilih tinggal di rumahnya sendiri karena ia ingin mengatur keluarganya tanpa campur tangan dari kedua orang tuanya, terutama ibunya.
Ibu Doni sangat menyayangi Amel melebihi anak kandungnya sendiri. Ibu Doni juga sempat melarang Doni dan Amel untuk pindah dengan alasan kesepian. Padahal, ibunya tak ingin jauh dari Amel, menantu kesayangannya. Namun, berkat bujuk rayu Doni, akhirnya ibunya setuju dengan syarat mereka harus sering mengunjungi kedua orang tuanya.
"Sayang, nanti setelah sarapan kita ke rumah sahabat mas ya." Ajak Doni pada Amel saa mereka sedang menikmati sarapan bersama.
Sesuai janjinya tempo hari, rencananya hari ini Doni akan mengajak Amel untuk mengunjungi rumah Reza. Rasanya sudah lama sekali Doni tidak ke sana.
"Iya, mas. Tapi kita belum beli buah tangan. Masak bertamu gak bawa apa-apa, kan gak enak mas."
"Iya sayang, nanti sekalian kita mampir beli buah ya. Tapi sayang gak papa kan jalan jauh?"
"Insya Allah gak papa mas. Dedeknya kuat kok.'
"Alhamdulillah. Ya udah, ayo makan lagi sayang. Makan yang banyak, biar sayang tambah kuat."
"Kuat apa mas? Kuat menghadapi kenyataan maksudnya?" Canda Amel.
__ADS_1
"Bisa aja kamu, sayang." Doni mengusap gemas kepala Amel.
πΈπΈπΈπΈ
Memasuki akhir pekan, keluarga Martin biasa mengisinya dengan berkumpul bersama keluarga di halaman belakang sambil menikmati cemilan yang dibuat oleh Lira. Namun, weekend kali ini terasa berbeda karena kehadiran balita menggemaskan di tengah-tengah mereka.
Lira duduk di sebelah Reza bersama Inas dipangkuannya yang sedang mengunyah cemilan khusus balita yang juga dibuat oleh ibunya.
Saat mereka sedang asik bercanda, tak lama kemudian datanglah Doni bersama istrinya. Kedatangan Doni disambut hangat oleh keluarga Reza.
"Assalamu'alaykum, semua." Sapa Doni saat bergabung bersama keluarga Reza. "Mama sama papa apa kabar?" Tanya Doni sambil menyium punggung tangan kedua orang tua Reza yang sudah Doni anggap seperti orang tuanya sendiri.
"Wa'alaykumussalam Warahmatullah." Jawab mereka serentak.
"Alhamdulillah, kabar mama sama papa baik." Jawab Irma. "Masya Allah. Lama gak keliatan, tahu-tahu langsung bawa bini yang udah bunting aja kamu." Lanjut Irma menggoda Doni yang sudah duduk di sebelah istrinya sambil bergandengan mesra.
"Alhamdulillah, ma. Doni juga gak mau kalah dari Reza yang udah ketemu jodohnya. Meski di awal dia sok-sokan nolak, tapi ujung-ujungnya bucin juga." Balas Doni dengan seringai mengejek.
"Udah deh, gak usah ungkit masa lalu." Kesal Reza saat Doni mulai mengingatkan pada masa lalunya.
Semua yang ada di situ hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua sahabat itu yang tak pernah berubah.
"Salam kenal, saya Amel istri mas Doni." Amel memperkenalkan diri di depan keluarga Reza dengan sopan.
"Pinter juga kamu pilih istri, Don. Gak jauh beda sama Lira, sama-sama sopan dan Solehah." Timpal Martin sambil melirik ke arah Lira.
Lira dan Amel langsung tersenyum malu saat mendapat pujian dari Martin. Usai berkenalan, mereka kembali berbincang-bincang hangat mengenang masa kecil Reza dan Doni yang begitu konyol. Lira dan Amel pun hanya menanggapinya dengan ikut tertawa.
Baru bertemu beberapa jam saja, namun Lira dan Amel langsung akrab. Mereka bahkan tak segan untuk bertukar cerita mengenai kehamilan, tanpa mempedulikan tatapan dari suami-suami mereka.
"Asik banget, lagi bahas apa sih sayang?" Tanya Reza lembut.
Namun, sayangnya Lira tak mendengar pertanyaan yang Reza lontarkan padanya karena saking serius dan asiknya obrolan kedua wanita itu.
"Lira, istriku sayang?" Panggil Reza dengan sengaja menekan kata ISTRIKU untuk menarik perhatian Lira.
"Eh, iya mas. Ada apa? Dedek rewel, ya?" Akhirnya Lira menoleh setelah mendengar panggilan dari suaminya.
__ADS_1
Doni dan yang lainnya hanya tertawa melihat tingkah Reza yang kelewat bucin pada istrinya.
"Sayang lagi ngomongin apa sih? Serius banget, sampe mas panggil-panggil gak denger!" Gerutu Reza dengan wajah cemberut.
"Maaf mas, tadi Mbak Amel nanyain soal kehamilan." Jawab Lira.
"Ya udah, dilanjutin lagi ngobrolnya." Ucap Reza masih dengan wajah cemberut.
Reza masih merasa kesal karena Lira terlambat menanggapinya dan lebih memilih sibuk mengobrol ceria dengan Amel, istri dari sahabatnya yang sekarang juga sudah menjadi sahabat baru untuk Lira.
Karena keasikan bercerita, tak terasa telah masuk waktu sholat dhuhur. Para suami bersiap-siap untuk melaksanakan sholat berjamaah di masjid, sedangkan para istri memilih sholat berjamaah di rumah dan Indah sebagai imamnya.
Usai sholat, Irma meminta Doni untuk ikut makan siang bersama. Tentu Doni tak menolak karena memang sudah lama ia tidak makan bersama dengan keluarga sahabatnya itu.
Para istri mulai melayani para suami mereka masing-masing. Kecualia Lira, setelah melayani suaminya, Lira melanjutkan untuk melayani ibunya yang duduk tepat di sebelah kirinya. Posisi duduk Lira berada di tengah-tengah antara suaminya dan ibunya, jadi memudahkannya untuk melayani keduanya secara bersamaan.
πΈπΈπΈπΈ
"Anak lo cantik ya, bro? Gak nyangka gue, ternyata lo bisa juga menghasilkan bibit premium." Canda Doni usai mereka menikati makan siang dan duduk berkumpul bersama di ruang keluarga.
Sedangkan Martin, Irma dan Indah sudah beristirahat di kamar mereka masing-masing, meninggalkan dua pasang suami istri untuk saling mengobrol.
"Ya jelas dong. Seorang Reza udah pasti menghasilkan bibit premium. Apalagi didukung sama lahannya yang subur, baru tanem aja udah langsung tokcer, jadilah hasilnya seperti ini. Iya gak, sayang?" Balas Reza dengan bangga sambil menggoda istrinya yang sudah melotot kesal ke arahnya.
Reza justru merasa lucu saat melihat wajah kesal Lira yang menurutnya sangat lucu dan menggemaskan. Reza tertawa terbahak-bahak diikuti Inas yang juga ikut tertawa bersamanya. Reza menghiraukan pelototan istrinya, ia memilih menanggapi anaknya dengan menyium gemas pipi gembul anaknya yang sedang duduk dipangkuannya yang sudah memasang wajah mengantuk.
Lira merasa malu bercampur kesal. Meski berasal dari kampung, namun Lira tak begitu polos. Ia masih paham dengan maksud ucapan Reza barusan.
Merasa cukup puas melepas rindu, Doni dan Amel pamit memutuskan pulang untuk beristirahat di rumah. Seperti biasa kedua sahabat itu saling berpelukan ala pria dewasa pada umumnya. Lira dan Amel juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan suami mereka yaitu saling berpelukan dan cipika cipiki. Sebelum berpamitan, Amel meminta Lira untuk datang saat ia bersalin nanti dan dibalas anggukan setuju dari Lira.
πΈπΈπΈπΈ
Bersambung.......π
Dukung juga karya author yang berjudul:
"CAHAYA DAN BARA"
__ADS_1
PELANGI UNTUK SENJA"
Terima kasih....π