Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 46


__ADS_3

Selamat membaca........🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


"Tapi gue curiga deh sama lo, bro. Lo bener-bener bantuin mereka ikhlas atau karena memang ada niat terselubung di dalamnya?" Reza kembali memicingkan matanya melihat Doni.


"Lo tahu aja, bro." Balas Doni sambil menaik turunkan alisnya untuk menggoda Reza. "Gue beneran ikhlas kok. Cuma gak tahu kenapa, jantung gue seperti mau copot pas liat senyum dari gadis itu." Lanjut Doni sambil memegang dadanya untuk merasakan detak jantungnya.


"Itu namanya, lo sedang jatuh cinta pada pandangan pertama bro. Masak gitu aja gak paham! Cibir Reza.


"Masak sih gue jatuh cinta? Terus cewek gue mau dikemanain, bro?"


"Au ah, males gue."


Percakapan di antara kedua sahabat itu tak sengaja ditangkap oleh telinga Lira yang secara sedang lewat samping rumah untuk berangkat bekerja. Waktu telah menunjukkan pukul 9 kurang 10 menit, artinya, tak lama lagi waktu bekerja Lira akan segera dimulai. Saat Lira hendak pergi, ia mendengat namanya disebut-sebut. Lira menghentikan langkahnya untuk mendengar apa yang sedang mereka ceritakan tentangnya.


"Bro, emangnya lo gak bisa buka sedikit hati lo buat Lira? Lo gak ada niat gitu buat membangun rumah tangga yang bahagia dan harmonis layaknya rumah tangga pada umumnya, dengan anak-anak yang lucu?"


"Gak, gue gak mau punya anak dari dia. Yang bener aja gue punya anak yang lahir dari wanita miskin dan kampungan seperti dia. Bisa-bisa rusak keturunan gue nanti dan yang ada nanti malah bikin aib dalam keluarga gue." Jawabnya tegas dan terdengar menyakitkan.


deg...


Lira seperti tertusuk ribuan panah yang menghujam tepat langsung ke hatinya. Rasanya sangat sakit. Lira memegang dadanya yang terasa nyeri. Ia tak menyangka jika suaminya sanggup mengucapkan kata-kata yang sangat menyakitkan tentang anaknya nanti. Tak ingin berlama-lama di situ, Lira langsung pergi dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti. Ia tak ingin mendengar lebih jauh lagi ucapan Reza yang nantinya akan membuatnya semakin sakit hati. Ia merasa menyesal telah menguping pembicaraan Reza dan Doni.


"Wah, parah bener mulut lo. Nanti nyesel, nangis darah, baru tahu rasa. Kalo sampe itu terjadi, gue bakal jadi orang pertama yang ketawa liat lo nangis karena minta diakuin sama anak lo sendiri."


"Gak bakal." Jawab Reza yakin.


🌸🌸🌸🌸


Lira berjalan menuju warteg Bu Yati tempatnya bekerja. Namun, sepanjang jalan ia menjadi bahan tontonan orang-orang yang berada di jalan karena air matanya tak berhenti mengalir.


Lira menghapus air matanya ketika ia telah tiba di depan warteg Bu Yati. Ia mencoba memaksakan senyumnya agar terlihat tegar dan tak pernah terjadi apa-apa. Ia tersenyum untuk menutupi luka hatinya yang semakin menganga lebar dan perih seperti tersiram air garam.


Lira masuk ke dalam warteg lalu menyapa Yati yang baru saja selesai menyusun piring berisi makanan di dalam etalase kaca yang ditutupi gorden polos berwarna hijau tua.


"Assalamu'alaykum, ibu lagi ngapain?" Sapa Lira pada Yati.


"Wa'alaykumussalam. Ibu lagi nyusun menu andalan warteg kita." Balas Yati dengan senyum ramah.

__ADS_1


"Masya Allah, keliatannya enak banget. Semoga hari ini warteg ibu laris, ya."


"Aamiin. Eh! Gimana, kamu udah cek kandungan ke dokter?" Tanya Yati antusias.


"Belum, bu. Tapi kemarin Lira udah beli tespek dan hasilnya kek gini, bu. Ini maksudnya apa ya? Lira hamil atau enggak, bu?" Lira memperlihatkan hasil tespeknya pada Yati dengan raut wajah cemas.


Yati memperhatikan hasil tespek Lira dengan seksama. "Sepertinya sih, ini hasilnya positif. Tapi coba kamu cek aja langsung ke dokter kandungan."


Raut wajah Lira yang tadinya terlihat cemas, kini berubah menjadi senyum bahagia. Ia mengelus lembut perutnya. Rasa bahagia tak dapat ia sembunyikan dari rona wajahnya.


"Jika benar kamu telah hadir di perut bunda, maka bunda akan sangat bahagia. Walaupun ayah kamu gak mengharapkanmu hadir di dunia dan menganggapmu sebagai aib dalam hidupnya, bunda akan selalu ada dan jagain dede meski nyawa taruhannya." Batin Lira sambil mengelus perut datarnya dengan penuh kasih sayang.


"Iya, bu. Insya Allah pulang dari kerja nanti, Lira langsung ke klinik. Tapi bu, kira-kira biaya cek ke dokter kandungan berapa, ya?"


Melihat wajah Lira yang berubah sendu, Yati menjadi tidak tega. Ia tahu jika Lira pasti tidak memiliki uang untuk memeriksakan kandungannya ke dokter.


"Udah, kamu tenang aja. Nanti ibu bantuin kamu kok." Balas Yati dan hal itu membuat Lira menjadi terharu.


"Terima kasih banyak, bu. Lira janji bakal ganti uang ibu."


"Udah, kamu gak usah sungkan sama ibu." Yati memeluk Lira dengan hangat.


🌸🌸🌸🌸


Saat tiba di depan klinik, Lira ragu untuk masuk ke dalam, karena hampir semua yang datang ke klinik menggunakan pakaian yang layak dan mereka juga ditemani oleh pasangan mereka masing-masing. Sementara, Lira hanya menggunakan pakaian yang terlihat sudah sangat usang.


Lira memberanikan diri, dengan mengucapkan basmalah, Lira melangkah masuk ke dalam klinik. Semua pengunjung klinik melihat Lira dengan tatapan jijik sambil mengibas-kibaskan tangannya di depan hidung, seolah tubuh Lira sangat bau. Ada juga yang melihatnya dengan wajah datar, tak menghiraukan kehadiran Lira di sana.


Lira memilih dlberdiri di pojok ruangan sambil menunggu antrian namanya dipanggil. Lira memerhatikan seluruh isi ruangan yang dipenuhi gambar ibu hamil dan ada juga gambar bayi yang digendong oleh ibu dan ayahnya dengan senyum bahagia.


Setelah menunggu cukup lama, kini tiba giliran nama Lira yang dipanggil. Lira masuk ke dalam ruangan dan langsung disambut dengan hangat oleh dokter wanita yang sangat cantik yang menggunakan hijab pasmina berwana hitam. Lira membalas senyum dokter cantik itu, lalu melihat nametag nya yang bertuliskan Ambar Dwi Septi. Nama yang sangat cantik seperti orangnya, pikir Lira.


Dokter Ambar mempersilakan Lira duduk, kemudian menanyakan keluhan-keluhan yang dialami oleh Lira.


"Selamat sore ibu, keluhanya apa?" Tanya dokter Ambar dengan sangat ramah.


"Selamat sore. Ini dok, akhir-akhir ini kepala saya sering pusing dan saya juga sering merasakan mual. Kalo makan, mulut saya terasa sangat pahit, dok." Jelas Lira.


Dokter Ambar tersenyum mendengar keluhan Lira.

__ADS_1


"Kapan ibu terakhir datang bulan?"


"Kalo gak salah, sudah lebih sebulan saya gak haid, dok."


"Apa sebelumnya, ibu sudah cek menggunakan tespek?"


"Sudah, dok. Tapi saya bingung sama hasilnya karena ada dua garis yang muncul tapi samar-samar, dok."


"Baik! Sekarang ibu silakan baring dulu di situ ya. Sus, tolong dibantu ibunya." Ucapnya sambil meminta pada salah satu suster yang berdiri tepat di belakang Lira.


Suster itu langsung menuntun Lira untuk baring di ranjang, lalu menyingkap sebagian baju Lira hingga ke dada. Diolesnya perut Lira menggunakan gel Doppler. Dokter Ambar langsung mengarahkan ultrasonografi di atas perut Lira yang sudah diberi gel, lalu alat itu diputar.


"Baik, ibu. Sekarang ibu bisa lihat ada titik hitam pada monitor, itu adalah anak janin ibu. Usianya sekarang baru empat Minggu dan masih menyerupai titik kecil dengan ukuran sekitar 0,2 cm." Dokter Ambar menjelaskan sambil menunjuk monitor.


Perasaan haru langsung meyelubung ke sanubari Lira. Sudut matanya mengeluarkan air mata bahagia. Kehadiran anaknya akan menjadi penyemangat hidupnya agar lebih bekerja keras dan pantang menyerah dalam menjalani hidup.


Suster membersihkan perut Lira dari sisa-sisa gel lalu membantu Lira untuk bangun. Dokter Ambar menjelaskan kondisi kandungan Lira yang masih sangat rentan. Dokter Ambar juga meminta Lira untuk lebih banyak istirahat dan tidak melakukan aktifitas berat yang akan membuat janinnya menjadi terganggu.


"Boleh saya tahu, saat ini suami ibu sedang berada di mana?"


"Suami saya sedang bekerja jadi TKI di luar negeri, dok. Memangnya ada apa ya, dok? Apa ada masalah dengan janin saya?" Tanya Lira khawatir.


Dokter Ambar menggelengkan kepala sambil tersenyum.


"Kandungan ibu, insya Allah baik-baik saja. Hanya, kondisi ibu yang sekarang sangat memerlukan perhatian dari suami."Jawabnya untuk menghilangkan rasa khawatir pada Lira.


"Tapi tidak apa-apa, saya akan beri resep vitamin penguat kandungan dan juga obat untuk mengurangi mual. Ingat ya bu, hindari melakukan aktifitas yang berat karena hal itu bisa membahayakan kondisi janin ibu. Dan ibu juga tidak boleh stres. Perbanyak mengonsumsi makanan bergizi dan minum susu untuk ibu hamil."


"Insya Allah, saya akan menjaga anak saya dengan baik dokter." Ucap Lira diiringi senyum tulusnya.


"Itu memang harus, ibu. Oh ya, saya sudah mencetak hasil usg, ibu." Dokter Ambar menyerahkan hasil usg pada Lira dan Lira langsung menerimanya dengan bahagia. Ia kembali mengelus perut datarnya sambil memandang foto hasil usg yang menampakkan janinnya yang masih menyerupai titik hitam.


"Terima kasih banyak, dok. Kalau begitu saya permisi, Assalamu'alaykum." Pamit Lira.


"Wa'alaykumussalam." Jawab Dokter Ambar.


Lira keluar dari ruangan Dokter Ambar dengan perasaan bahagia. Senyum manisnya gak pernah luntur dari wajah cantiknya. Ketika Lira hendak menebus obat dan membayarnya, suster yang melayani Lira menolak uang darinya. Ternyata tanpa sepengetahuan Lira, Dokter Ambar telah menghubungi susternya agar menggratiskan biaya pemeriksaan kandungan Lira. Dokter Ambar merasa iba melihat kondisi Lira yang terlihat begitu menyedihkan.


🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


Bersambung..........


__ADS_2