Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 86


__ADS_3

Sebelum lanjut, aku mau curhat dikit ya..


Aku agak kaget sekaligus sedih pas baca salah satu komentar yang mengatakan "AKU GAK PUNYA HATI KARENA DIANGGAP TELAH MERENDAHKAN MARTABAT PEREMPUAN LEWAT KARYA INI." Di sini aku mau tekankan, kalo cerita ini aku buat karena terinspirasi dari kisah nyata dan aku kemas dalam versi aku sendiri. Justru kisah nyatanya jauuuuuuuhhhhhh lebih sedih dan menyakitkan dari cerita yg aku buat ini. Jadi para readers tersayang, mohon maaf jika cerita ini dianggap telah merendahkan martabat perempuan.


Dan untuk yang udah mendukung dan selalu memberikan komentar positif, terima kasih buuanyak, ya.😊β™₯️


Lanjut.....


🌸🌸🌸🌸


Para tetangga telah datang dan sudah memenuhi ruangan yang telah disediakan oleh sang pemilik rumah. Mereka datang sesuai jawdal yang telah ditentukan. Hampir semua tetangga Lira datang memenuhi undangan itu. Termasuk orang-orang yang dulu pernah mencela dan memfitnah Lira juga turut hadir. Sebagian dari tamu yang datang, memilih duduk di tenda yang telah disediakan di halaman rumah karena ruang tamu dan ruang keluarga telah dipenuhi oleh tamu yang telah datang lebih dahulu.


Sebelum menyantap hidangan lezat yang telah tersaji dengan rapi di hadapan mereka, Reza lebih dahulu membuka sambutan dengan mengucapakan terima kasih kepada para tamu yang telah bersedia hadir. Reza berharap, semoga hubungan antarsesama tetangga akan selalu terjaga dengan baik tanpa ada pertikaian.


Usai memberikan sambutan singkat, Reza langsung mempersilakan tamunya untuk menikmati hidangan. Hal itu langsung disambut cepat oleh mereka yang sudah tidak sabar untuk mencicipi kelezatan hidangan yang ada. Para tamu memuji kelezatan makanan yang disajikan.


Hal itu tak lepas dari peran Reza yang tak tanggung-tanggung menyewa chef bintang lima yang ada di kota untuk menyiapkan makanan lezat dan berkelas untuk memanjakan lidah tamunya.


Reza beserta keluarganya telah duduk bersila bersama para tamu di ruang keluarga. Jika dulu Reza sangat membenci kegiatan seperti ini, tapi sekarang ia justru menikmatinya. Reza bahkan tak malu untuk menunjukan keromantisannya dengan menyuapi Lira di depan para tamu. Tadinya Lira ingin protes dengan tindakan suaminya yang menurutnya itu sangat memalukan. Namun, saat melihat tatapan memohon Reza akhirnya Lira menerima suapan tangan yang sudah menggantung selama beberapa detik di depan mulutnya.


Inas juga tak mau kalah, ia membuka mulut kecilnya dan berharap akan mendapat suapan sama seperti ibunya. Namun, Reza dengan sengaja mengabaikan keinginan Inas. Si balita menggemaskan itu terus saja membuka mulutnya saat melihat tangan ayahnya mengarah padanya dan ternyata Reza justru mengarahkan tanganya yang berisi makanan ke mulut Lira. Alhasil Inas menjerit histeris dengan air mata yang telah membasahi pipi gembulnya. Hal itu justru membuat semua yang ada di ruangan itu tertawa melihat wajah menggemaskan Inas.


"Mas, udah dong. Kasian si adek, mas godain terus sampe nangis menjerit kayak gini." Protes Lira.


Reza hanya menyengir kuda mendengar omelan istrinya. "Hehe. Iya sayang, maaf. Habisnya,.mas gemes banget liat muka si adek. Mulutnya mangap-mangap terus pas liat makanan." Jawab Reza. "Sini sayang, sama papa." Reza mencoba mengambil Inas dari pangkuan Lira, tapi sayangnya balita itu menolak dengan memeluk erat leher Lira.


"Tuh kan, jadi ngambek." Ucap Lira sambil mengusap pelan punggung putrinya.


"Papa minta maaf ya, dek. Ayo, sini papa suapin." Bujuk Reza. "Adek mau makan apa, sayang?" Lanjutnya sambil terus membujuk Imas yang sudah melekat erat pada Lira.


Tapi lagi-lagi usaha Reza gagal karena Inas menggeleng dan tetap tak mau melepas pelukankannya hingga membuat Reza mendesah pelan. Sementara Lira hanya tersenyum mengejek melihat usaha Reza membujuk putrinya.


"Sayang, bantuin dong. Seneng banget sih, liat adek nyuekin mas."


"Makanya, Za. Jangan digodain anaknya, jadi dicuekin kan. Emang enak?" Timpal Irma dengan seringai mengejek.


Sementara tamu yang ada di situ hanya tersenyum melihat keharmonisan keluarga kecil Reza.


🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


Pukul 10 malam, para tamu telah pulang ke rumahnya masing-masing dalam keadaan perut kenyang. Sepanjang jalan, mereka terus menceritakan tentang keberuntungan Lira mendapat suami kaya raya seperti Reza. Tak sedikit juga dari mereka yang memuji kebaikan Reza dan kedua orang tuanya.


Saat semua udangan telah meninggalkan rumah, Lira menuju ruang tamu untuk menutup pintu. Namun, mata Lira seolah menangkap bayangan seseorang yang sedang berdiri tak jauh dari rumahnya. Lira hendak menemui orang itu, tapi langkahnya terhenti saat mendengar teriakan Reza yang memanggilnya.


"Sayang, ngapain di situ? Ini dingin lho. Ayo, masuk."


"Iya, mas." Lira menghampiri Reza yang sudah berdiri di depan pintu.


"Ada apa sih, sayang?" Tanya Reza.


"Mas, kayaknya ada orang deh di situ." Jawab Lira sambil menunjuk depan rumahnya.


"Mana, sayang? Gak ada siapa-siapa, kok. Ayo, masuk."


"Ih, bentar mas. Ayo kita liat ke depan. Lira penasaran, mas." Ajak Lira sambil menarik tangan Reza. Dengan terpaksa Reza mengikuti Lira yang sudah mendahuluinya.


"Sayang, tungguin mas dong. Cepet banget sih jalannya." Omel Reza.


"Hehe, maaf mas." Lira menggandeng lengan Reza menuju depan rumahnya untuk menghilangkan rasa penasarannya.


"Mana sayang? Gak ada siapa-siapa kan?"


"Tapi tadi Lira bener liat orang berdiri di sini, mas."


"Gak mas, Lira gak salah liat. Lira yakin banget tadi ada yang berdiri di sini menghadap rumah." Jelas Lira sambil terus celingak-celinguk mencari keberadaan orang tadi.


Tak lama terdengar suara ranting di balik pohon rambutan yang belum berbuah yang tak sengaja terinjak tepat di sebelah Lira dan Reza berdiri. Kedua suami istri itu langsung saling memandang. Lira segera memeluk erat lengan Reza dengan perasaan takut.


"Siapa di situ?" Reza berjalan pelan mendekati pohon. "Keluar atau saya teriak maling." Ancam Reza dengan suara tegas.


Nampaklah seorang wanita paruh baya dengan pakaian usang. Wajah wanita itu belum terlihat jelas karena posisinya membelakangi cahaya lampu.


"Maaf, ibu siapa? Dan kenapa ibu berdiri di depan rumah kami?" Tanya Reza penuh selidik.


"Ma-maaf. Sa-saya cuma mau minta makanan sisa hajatan. Anak-anak saya kelaparan di rumah." Jawab wanita itu dengan suara bergetar ketakutan.


Mendengar hal itu, hati Lira menjadi nyeri. Ia pernah ada di posisi sama seperti ibu itu, kelaparan.


Lira mendekatinya lalu mengajaknya masuk ke dalam rumahnya. Lira meminta ibu itu untuk duduk di sofa ruang tamu.

__ADS_1


"Silakan diminum, bu." Lira menyuguhkan teh hangat dan beberapa cemilan. " Maaf, nama ibu siapa?"


"Nama saya, Nur." Jawabnya sambil menyeruput teh hangat.


"Kenapa tadi ibu sembunyi pas saya samperin?" Tanya Lira lembut.


"Maaf non, saya takut." Jawabnya sambil tertunduk.


"Kenapa harus takut, bu? Saya gak makan orang kok, bu."


Lira mencoba mencairkan suasana karena melihat Nur terus tertunduk takut sambil terus meremas kedua tangannya.


Kemudian munculah Martin dan Irma dan langsung duduk bergabung bersama mereka.


"Ada apa ini, Za? Tanya Irma dengan wajah bingung.


"Gak ada papa kok, ma." Jawab Lira


"Kalo gak ada apa-apa, kenapa ibu itu seperti ketakutan?" Timpal Martin.


"Maaf saya sudah mengganggu waktu istirahat tuan dan nyonya." Ucap Nur.


"Eh, gak kok. Kita gak merasa terganggu." Jawab Irma cepat.


Saat orang tuanya sedang sibuk bertanya pada Nur, Lira memilih pergi ke dapur menyiapkan makanan untuk Nur. Lira seolah paham jika Nur sedang kelaparan karena terlihat jelas saat Nur menyeruput teh hangat dan cemilan dengan cepat. Reza menyusul istrinya di dapur dan tersenyum saat melihat istrinya sedang sibuk menyiapkan makanan di atas meja.


"Sayang." Panggil Reza lembut.


"Iya, mas." Jawab Lira tanpa menoleh ke arah Reza yang sudah berdiri di sampingnya.


"Sayang baik banget, sih." Puji Reza.


Lira tersenyum lalu menghadap Reza yang membalas senyumnya. "Mas, Lira pernah ada posisi Ibu Nur. Bedanya, saat itu gak ada yang bantuin Lira. Sekalipun posisi Lira gak sama seperti Ibu Nur, Insya Allah Lira akan tetap bantu." Jawab Lira lembut.


Bukan maksud Lira menyinggung kisahnya yang dulu. Ia hanya mengungkapkan isi hatinya yang justru membuat Reza seperti tertampar mendengar penjelasan Lira. Ia kembali teringat kejadian satu tahun silam dan itu membuat hati Reza menjadi perih.


"Lira ke depan dulu ya, mas. Mau ajak Bu Nur makan."


"Iya, sayang."

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


Bersambung.......


__ADS_2