Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 97


__ADS_3

Selamat membaca.......๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Reza benar-benar menepati janjinya. Satu minggu setelah Lira sembuh dari sakitnya, hari ini Reza sengaja pulang dari kantor lebih awal agar bisa mengajak Lira dan Inas jalan-jalan sore untuk menikmati bakso di salah satu restoran langganannya. Meski pekerjaannya di kantor belum selesai, tapi ia sebisa mungkin meluangkan waktunya sebentar bersama anak dan istrinya. Tentu Lira menyambutnya dengan senang hati karena ia sudah menunggu berhari-hari hanya untuk bisa menikmati momen ini.


Reza lebih dahulu mengirim pesan pada Lira untuk bersiap-siap lebih awal agar nanti ketika Reza tiba di rumah, mereka langsung berangkat.


To : Bidadarikuโ™ฅ๏ธ


Sayang, sekarang mas udah di jalan pulang ke rumah. Sayang siap-siap, ya!


Mendengar ponselnya berbunyi pertanda pesan masuk, Lira segera meraih ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur. Tapi sayangnya, Lira tak bisa membalas pesan dari suaminya karena ia harus mendandani Inas yang sejak tadi sangat aktif dan tak bisa diam di tempat.


Reza pun paham alasan istrinya tak membalas pesan darinya. Reza menikmati perjalanan pulangnya sambil membuka video kebersamaannya bersama keluarga kecilnya di berbagai kesempatan yang ia abadikan dalam ponselnya. Senyum Reza terukir saat melihat foto istrinya yang tertawa lepas tanpa beban sambil menggendong Inas yang juga tertawa bersamanya.


Reza tak bisa membayangkan jika saat itu ia melepaskan Lira dan lebih memilih Anita. Apakah masih ia bisa melihat senyum dan tawa dari Lira dan Inas? Masih teringat jelas di benaknya saat Lira meminta izin padanya untuk pulang kampung, dengan mudahnya ia merelakan kepergian Lira tanpa ada upaya untuk menahannya agar tetap berada di sisinya.


Saat itu Reza fikir, melepaskan Lira adalah cara yang terbaik untuk mereka agar sama-sama bisa meraih kebahagiaan dengan pilihan mereka masing-masing. Tapi ternyata Reza salah, kepergian Lira adalah awal dari kehancuran hidupnya.


Reza mengusap foto Lira yang tersenyum bahagia di layar ponselnya. Wajah yang dulu nyaris tak pernah menebarkan senyum. Hanya tangis pilu dan tekanan batin yang selalu Reza lihat di wajah Lira karena saat itu, mata Reza masih ditutupi kabut kebencian terhadap istrinya.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Tin...tin...tin..


Bunyi klakson mobil Reza terdengar nyaring saat memasuki halaman rumahnya. Senyumnya langsung terukir di wajahnya saat melihat istri dan anaknya telah siap dan menunggunya di depan rumah.


Reza keluar dari mobil untuk mengambil alih Inas dari gendongan Lira. Tanpa menunggu lama, Reza langsung membukakan pintu bagian depan untuk Lira.


"Pak Jono silakan istirahat, ya. Biar saya nyetir mobil sendiri."


Reza mempersilakan Jono untuk istirahat karena memang Reza ingin menikmati momen kebersamaanya bersama keluarga kecilnya tanpa ada orang lain. Reza selalu melakukan hal itu jika ingin jalan-jalan bersama anak dan istrinya.


"Baik, den."


Reza langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sore yang cerah seperti ini, memang sangat pas untuk dinikmati bersama orang-orang tersayang. Sepanjang jalan, terdengar suara Inas yang berceloteh riang hingga membuat kedua orang tuanya tertawa melihat tingkahnya.


"Mas, tadi mandi di mana? Terus, itu baju siapa yang mas pake?" Tanya Lira penuh selidik.


Sejak tadi Lira dibuat penasaran melihat wajah suaminya yang segar serta pakaiannya berbeda dari yang dikenakan tadi pagi saat pergi ke kantor. Bukan keinginan Lira untuk curiga pada suaminya. Hanya saja, bayang-bayanh dahulu ia pernah menjadi korban perselingkuhan suaminya yang secara terang-terangan membawa wanita lain ke rumahnya. Di tambah lagi, jaman sekarang bibit-bibit pelakor tumbuh subur dan bahkan semakin menjamur di tanah air membuat Lira merasa khawatir. Apalagi di usia suaminya yang semakin matang, ia justru terlihat semakin menggoda di mata para wanita yang suka pada lelaki yang sudah beristri.


Reza tersenyum lebar saat melirik wajah istrinya yang terlihat menggemaskan dengan wajah curiganya.

__ADS_1


"Tadi mas mandi di kantor, sayang. Biar hemat waktu."


"Bener, mas?" Gak bohong kan?"


"Enggak, sayang. Mas gak akan mengulangi kesalahan yang sama dan membuat sayang pergi lagi dari kehidupan mas."


Lira merasa lega. Setidaknya, Reza selalu jujur dan tak pernah bohong padanya. Kalau pun Reza pulang terlambat, ia akan mengirim kabar disertai bukti foto aktifitasnya agar Lira tak merasa khawatir padanya.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, mereka tiba di salah satu restoran mewah yang juga menyediakan menu sederhana seperti bakso, soto, gado-gado dan lainnya dengan standar kebersihan yang cukup tinggi.


Reza keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk istrinya. Reza menggendong Inas sambil menggandeng mesra tangan Lira menuju ruangan yang telah ia pesan.


Seorang pelayan dengan ramah memberikan buku menu pada Reza dan Lira. Lira melihat banyak menu yang tersedia dengan tampilan yang menggugah selera. Tapi tujuan Lira hanya ingin menikmati bakso saja. Mata Lira langsung membulat sempurna saat melihat harga seporsi bakso yang jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan harga bakso yang dijual dipinggir jalan.


"Sayang yakin cuma pesen bakso aja? Gak mau nyobain yang lain?" Tanya Reza sambil memilih menu untuknya.


"Gak mas, Lira cuma pengen makan bakso aja."


"Ya udah. Mbak, saya pesan baksonya satu sama soto satu. Minumnya jus jeruk sama jus melon ya."


Reza sengaja tak memesan makanan untuk Inas karena Lira sudah membawa sendiri makanan dari rumah untuk putri mereka. Bubur yang dicampur sayur-sayuran serta telur, menjadi menu pilihan Lira untuk putrinya. Dari awal memang Reza sudah mengingatkan Lira agar memberikan makanan yang bergizi untuk putrinya. Reza tak ingin memberi makanan sembarang yang nantinya akan mempengaruhi tumbuh kembang putrinya.


Reza dan Lira hanya tersenyum. Saat pelayan itu pergi, Lira langsung menodong Reza dengan pertanyaan polosnya.


"Mas, harga baksonya kok mahal banget ya? Padahal Lira sering makan dipinggir jalan, harganya cuma 7 ribu aja."


Reza langsung tertawa kencang hingga air matanya pun ikut keluar dari sudut matanya. Bagaimana bisa Lira menyamakan harga bakso di restoran dengan harga bakso yang ada di pinggir jalan, yang jika dilihat dari segi kebersihannya saja sudah sangat jauh berbeda.


"Hahahahaha...Sayang, kok ada-ada aja sih. Ya jelas beda lah, sayang." Reza terus saja tertawa hingga tak sanggup lagi menjelaskan pada istrinya di mana letak perbedaanya.


Inas pun ikut tertawa nyaring. Lira langsung cemberut melihat anak dan suaminya tertawa bersama. Hingga pelayan datang mengantarkan pesanan mereka, Reza masih tak berhenti tertawa.


"Ayo, di makan sayang."


"Lira udah gak napsu."


Lira melipat tangannya ke dada karena kesal pada suaminya yang berhenti menertawakannya.


Tawa Reza langsung terhenti seketika. Ia merasa panik melihat wajah tekuk istrinya.


"Mas minta maaf ya, sayang."

__ADS_1


Reza menggenggam tangan Lira dengan wajah memohon. Ia merasa takut jika Lira akan tersingung karenanya. Namun, Lira tetap diam tak menanggapi permintaan Reza.


"Sayang, plis. Jangan marah ya.


"Tapi bo'ong." Tawa Lira seketika langsung pecah karena telah berhasil mengerjai suaminya.


"Ya Allah, sayang ngerjain mas?"


"Hahahaha..Abisnya, mas yang duluan. Emang enak dikerjain?" Ucapnya di sela-sela tawanya.


"Awas ya, bakal mas bales. Tunggu aja waktu mainnya." Reza tersenyum penuh makna.


Lira langsung diam. Ia sudah paham maksud dari senyum itu. Jika sudah begini, bisa dipastikan nanti malam ia tidak bisa tidur dengan tenang. Reza akan meminta haknya sampai puas.


"Maaf, mas." Cicitnya dengan wajah memelas.


Namun sayang, Reza tak terpengaruh dengan wajah memelas Lira. Nanti malam ia akan membuat Lira meminta ampun karena telah berhasil mengerjainya.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Malam pun tiba. Usai makan malam, Lira sudah gelisah di dalam kamar mandi. Sebelumnya, Reza dengan sengaja menitipkan Inas pada orang tuanya dan dengan senang hati mereka menyambut Inas tidur di kamarnya.


"Sayang, ngapain lama-lama di kamar mandi?" Tanya Reza dari balik pintu.


Tak lama Lira keluar dengan wajah tenang, tapi jantungnya berdetak kencang.


"Mas, ngapain berdiri di depan pintu? Mau ngantri kamar mandi?" Tanya Lira sok polos.


"Gak usah pura-pura gitu, sayang. Yuk, kita bikin adik buat Inas."


Wajah Lira langsung berubah merah merona. Ia merasa malu jika suaminya meminta haknya dengan kata-kata seperti itu. Lira mengangguk malu menerima tawaran suaminya. Reza merasa lucu melihat tingkah istrinya yang terlihat malu-malu tapi mau.


Dan mulailah proses pembuatan adik untuk Inas. Lira melakukannya dengan penuh keikhlasan. Benar saja, Reza melakukannya hingga menjelang tengah malam sampai Lira meminta ampun karena kelelahan. Reza mengakhirinya dengan mendaratkan kecupan mesra di kening istrinya sambil mengusap perut istrinya yang terbungkus selimut. Berharap, akan segera hadir benih di rahim istrinya.


"Cepat hadir di perut bunda ya. Papa janji akan menjaga kalian dengan baik."


"Terima kasih sayang, udah melayani mas dengan baik. Mimpi indah ya."


Reza memeluk tubuh mungil Lira dengan penuh kasih sayang. Kemudian ia menyusul istrinya yang sudah tertidur, kelelahan karena ulahnya.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Bersambung......๐Ÿ˜Š

__ADS_1


__ADS_2