
Selamat membaca.....🌹🌹🌹🌹
🌸🌸🌸🌸
Sepulangnya dari masjid hingga menjelang tidur, Reza masih saja mendiamkan Lira. Dada Lira terasa sesak melihat Reza yang terus mengacuhkannya. Lira memberanikan diri berbicara pada Reza untuk menanyakan apa kesalahannya, karena Lira memang belum sadar jika Reza sedang dalam mode cemburu.
Lira mendekati Reza yang pura-pura tidur membelakanginya sambil memeluk Inas. Jantung Lira berdetak kencang saat akan membuka suara.
"Ma-mas, Lira salah apa sampe mas cuekin Lira? Kalo Lira punya salah, tolong maafin. Jangan diem kayak gini." Ucap Lira dengan suara bergetar menahan tangis dan sedikit ketakutan.
Mendengar suara Lira yang gemetar, Reza langsung membalikan badannya menghadap Lira. Reza melihat tubuh Lira seperti sedang ketakutan saat pandangan mereka bertemu. Reza langsung bangun kemudian memeluk erat tubuh Lira. Ia menjadi merasa bersalah karena telah membuat istrinya menjadi kembali takut padanya.
Tangis Lira langsung pecah dipelukan Reza. "Maafin Lira, mas." Ucap Lira di sela-sela tangisnya.
"Ssstttttt, harusnya mas yang minta maaf ke sayang. Maaf udah nyuekin dan bersikap dingin pada sayang." Lira hanya mengangguk.
"Maaf juga karena mas udah bikin sayang ketakutan. Mas hanya gak suka liat sayang deket sama laki-laki lain. Apalagi lelaki itu punya perasaan lebih ke sayang, itu yang mas gak terima."
Lira mendongakan kepalanya dengan wajah bingung. "Maksud mas apa?"
"Sayang bener gak sadar kalo laki-laki tadi itu ada perasaan ke sayang?"
Lira kembali menggeleng tak paham. Aldi punya perasaan padanya? mana mungkin. Pikir Lira. "Mas tahu dari mana?" Tanya Lira.
Reza lupa jika istri kecilnya itu sangat polos. Reza kembali memeluk erat tubuh mungil istrinya sambil mengecup ubun-ubunnya berkali-kali karena merasa gemas melihat kepolosan istrinya. Mata sembab dan hidung merah membuat Lira terlihat lucu.
"Mas bisa liat dari tatapannya yang bahagia waktu ketemu sama sayang. Terus juga, mas liat dia terluka banget pas tahu kalo sayang udah nikah." Jelas Reza.
"Tapi Lira gak ada perasaan ke dia, mas. Lira hanya anggep dia temen, gak lebih. Lagian juga, dulu kita gak deket. Lira kenal juga karena dulu dia sering banget beli jualan Lira di kantin sekolah. Tapi Lira gak tahu kalo dia suka sama Lira, mas."
Mendengar penjelasan istrinya langsung merasa lega. Ternyata istrinya tak pernah dekat dengan Aldi.
"Sekali lagi maafin mas ya, sayang." Ucap Reza penuh sesal.
"Iya, mas. Maafin Lira karena gak peka dengan perasaan mas. Tapi makasih ya, karena mas udah cemburu sama Lira." Ucap Lira dengan senyum mengembang di wajah sembabnya.
Reza terkekeh lalu menarik hidung Lira dengan gemas. "Itu karena mas cinta banget ke sayang."
Lira memeluk erat tubuh kekar Reza lalu menyusupkan kepalanya ke dada bidang milik Reza. Pelukan Reza begitu hangat hingga membuat Lira langsung tertidur.
Reza melihat Lira sudah tertidur dalam pelukannya hanya tersenyum. Reza mengecup kening Lira dengan sangat dalam seolah sedang menyalurkan rasa sayangnya pada wanita sabar yang ada dalam pelukannya itu.
"Selamat tidur istri kecilku. Mimpi indah ya. Semoga kedepannya, kita menghadapi badai yang ingin mencoba menghancurkan rumah tangga kita. Terima kasih karena udah sabar banget menghadapi segala sikap mas. Tetaplah seperti ini." Ucap Reza tulus sambil kembali mengecup kening istri kecilnya sangat lama, kemudian menyusul istrinya tidur.
🌸🌸🌸🌸
Subuh menjelang, Reza bangun lebih dulu dari Lira. Reza menyelimuti tubuh mungil putrinya yang sudah melorot hingga ke kaki. Reza tersenyum geli melihat wajah putrinya yang tertidur dengan mulut terbuka. Reza menjadi gemas lalu menyium wajah Inas berkali-kali hingga membuat si balita menggeliat. Bukannya bangun, Inas malah tertidur kembali dengan wajah tersenyum kecil.
"Lah, tidur lagi." Ucap Reza sambil terkekeh melihat tingkah lucu putrinya.
Puas memandang wajah putrinya, Reza mengalihkan padanganya ke arah istrinya yang masih tertidur nyenyak dengan wajah polos. Reza mengusap lembut wajah Lira menggunakan ibu jarinya lalu mengecup lembut kening Lira.
Reza bergegas membersihkan diri lalu berwudhu untuk segera ke masjid. Reza yakin pasti ayahnya sudah menunggu di bawah.
__ADS_1
Baru beberapa menit Reza keluar dari kamar mandi, adzan subuh langsung berkumdang dengan merdu. Reza segera mengenakan baju kokonya yang berlengan pendek berwarna putih polos dan sarung. Tak lupa peci putih sebagai pelangkap atribut sholatnya. Sebelum berangkat ke masjid, Reza lebih dulu membangun istrinya untuk sholat subuh.
"Sayang, udah adzan. Bangun sholat subuh dulu, yuk." Ucap Reza sambil mengusap kepala Lira dengan lembut.
Karena melihat tak ada tanda-tanda dari istrinya untuk bangun, Reza langsung mengecup pipi Lira berkali-kali hingga si pemilik tubuh menggeliat.
"Mas, udah bangun?" Tanya Lira dengan suara serak khas bangun tidur.
"Udah, sayang. Ayo bangun, udah adzan lho."
Lira mengangguk kemudian bangun sambil merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Tak lupa lira membaca doa bangun tidur. Reza mengusap lembut rambut Lira yang sedikit berantakan.
"Mas ke masjid dulu ya, sayang. Assalamu'alaykum" Pamit Reza sambil mengecup kening Lira.
"Iya, mas. Wa'alaykumussalam."
Lira mengecup kening dan kedua pipi putrinya. Setelah itu, ia bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi serta berwudhu.
🌸🌸🌸🌸
Lima hari sudah Lira, Reza serta kedua orang tua Reza menginap di rumah Indah. Kini tiba saatnya bagi mereka untuk kembali ke Jakarta. Tiga hari yang lalu, Reza sudah memenuhi janjinya pada Nur untuk membawa suaminya ke rumah sakit di kota. Reza yang menanggung semua biaya pengobatan Adi selama berada di rumah sakit. Sedangkan Martin sudah menemukan rumah sementara untuk keluarga Nur yang berada di dekat rumah sakit tempat Adi dirawat.
Reza telah berunding dengan kedua orang tua serta istrinya tentang keluarga Nur. Mereka mendukung rencananya Reza yang mengajak Adi beserta keluarga kecilnya ke Jakarta untuk bekerja di tempatnya. Tapi Reza harus menunggu sampai Adi pulih dan bisa berjalan normal kembali. Reza juga telah meminta persetujuan dari Adi dan Adi pun setuju untuk menyusul keluarga Reza ke Jakarta.
Setelah selesai mengurus pengobatan Adi, Reza mengajak keluarganya menuju puncak untuk menikmati alam. Mereka akan menginap semalam di vila cukup mewah yang telah Reza sewa.
Selama berada di puncak, Reza beserta keluarganya sangat menikmati pemandangan alam yang sangat memanjakan mata. Udara sejuk dan segar begitu terasa. Sudah jelas hal ini tak bisa mereka nikmati di Jakarta.
Lira memeluk erat ibunya seakan tak rela untuk berpisah. Hati Lira sangat berat meninggalkan ibunya, meski ada kedua adik angkatnya yang menemani, tapi tetap saja Lira merasa berat. Lira menangis dalam pelukan ibunya dan dibalas usapan lembut di punggungnya oleh ibunya.
Bukannya tenang, Lira malah semakin menangis kencang. "Tapi Lira gak bisa ninggalin ibu di sini." Jawab Lira
"Ibu gak sendiri, neng. Ada adik-adik kamu yang nemenin ibu."
"Sayang, udah dong nangisnya. Malu sama dedek." Bujuk Reza. "Insya Allah, sebulan sekali kita pulang ke sini." Lanjutnya sambil mengusap lembut kepala Lira yang terbungkus jilbab.
"Ibu jaga kesehatan, ya. Kalo ada apa-apa, langsung hubungi neng."
"Iya, neng."
"Terus kalo ibu butuh sesuatu, langsung hubungi neng."
"Iya, neng. Ada lagi? Bawel banget sih, anak ibu." Ucap Indah sambil tersenyum geli. "Lagian juga kebutuhan ibu udah dicukupi sama suami neng. Jadi ibu gak butuh apa-apa lagi sekarang." Lanjutnya.
Lira langsung cemberut sambil mengerucutkan bibirnya. "Ibuuuu." Rengek Lira manja lalu kembali memeluk ibunya.
Melihat ibunya memeluk Indah, Inas pun langsung menangis kencang karena merasa cemburu hingga membuat semua yang ada di situ menjadi tertawa.
"Huwaaaaaa....huwaaaaaaa....." Tangis Inas semakin pecah saat ia ditertawakan.
Lira melepas pelukannya lalu mengambil Inas dari gendongan Reza. "Cup...cup, sayangnya bunda kenapa nangis? hmmm?"
Inas tak menjawab, memilih menyusupkan kepalanya di leher ibunya. Tak lama terdengar Inas berceloteh yang cukup kencang seolah sedang mengadu pada ibunya.
__ADS_1
"Papa-papa-papa."
"Papa nakal ya, dek?" Tanya Lira sambil tersenyum.
Reza membulatkan matanya mendengar aduan putrinya. "Kok papa sih yang dedek salahin? Papa salah apa dek?" Protes Reza pada putrinya.
Reza mencoba mengambil alih Inas, tapi balita itu semakin mengeratkan pelukannya sambil menggeleng. Reza mendesah pelan sambil menceberut. Tapi ia tak hilang akal, Reza terus berusaha membujuk putrinya dengan cara menggodanya.
"Dek, kalo masih nangis, nanti bunda gak ikut kita pulang lho. Dedek mau ya, bunda tinggal di sini sama nenek?" Ucap Reza.
Inas langsung melepaskan pelukannya lalu merentangkan kedua tanganya meminta digendong oleh ayahnya. Reza segera meraih tubuh Inas dengan senang hati lalu mengecup pipi gembulnya dengan gemas hingga membuat Inas menggeliat karena geli.
Suasana yang tadinya terasa haru, kini berubah menjadi canda tawa karena ulas Inas, si balita menggemaskan yang selalu pandai mencairkan suasana karena tingkahnya yang lucu.
🌸🌸🌸🌸
Mobil Reza telah memasuki halaman rumahnya. Perjalanan panjang yang memakan waktu hingga berjam-jam dan melelahkan terasa hilang karena celotehan Inas. Balita itu seolah tak pernah lelah bercoteh sepanjang jalan. Bangun dari dari tidur, ia kembali berceloteh lucu hingga membuat semua yang ada di dalam mobil menjadi terhibur.
Saat memasuki rumah, mereka langsung menuju kamar masing-masing untuk membersihkan diri kemudian beristirahat. Untung saja mereka telah melaksanakan sholat dhuhur lebih dulu di masjid saat di tengah perjalanan, jadi saat tiba di rumah mereka tinggal istirahat saja.
Lira meletakan tubuh Inas lalu menggantikan pakaiannya dengan baju santai agar putrinya merasa lebih nyaman. Sementara Reza mengangkat koper, meletakannya di walk in closet. Reza ikut merebahkan tubuh lelahnya di samping putrinya yang sudah tertidur nyenyak.
Reza melihat sepatu rajut yang tergeletak di atas tempat tidur. Reza lupa jika ia pernah ingin menanyakan tentang sepatu rajut itu, hanya saja ia selalu lupa.
"Sayang, sepatu rajut ini beli di mana? Kok, mas merasa kayak gak asing ya sama sepatu ini?" Tanya Reza sambil memandangi sepatu rajut itu dengan seksama.
"Lira gak beli, mas. Mama yang ngasih." Jawab Lira sambil membuka jilbabnya dan menaruhnya di keranjang.
"Masa sih?"
"Iya, mas. Emang mas gak inget sama sepatu itu?"
"Enggak. Mas gak inget. Emang ini sepatu siapa?"
"Ck, milik sendiri lupa."
Reza langsung mengerutkan keningnya. Milik sendiri? Emang itu sepatu siapa? Pikir Reza.
Melihat Reza hanya diam dengan tatapan bingung membuat Lira berdecak. "Mas, coba diinget-inget dulu. Pasti mas kenal sama sepatu itu."
Reza kembali berpikir, mencoba mengingat sepatu itu sebenarnya milik siapa? Beberapa menit kemudian Reza langsung teringat. Ia menepuk jidatnya dengan pelan sambil menggelengkan kepala.
"Udah inget, mas? Tanya Lira dengan senyum mengejek.
Reza langsung menyengir mendengar ejekan dai istrinya. "Hehe, udah sayang. Mas baru inget, itu sepatu milik mas waktu umur satu tahun yang mama rajut khusus untuk mas." Jelas Reza.
Reza tak menyangka jika sepatu rajutnya masih terjaga dengan baik hingga saat ini. Bahkan kini sepatunya ia wariskan langsung ke putrinya.
🌸🌸🌸🌸
Bersambung.....
jangan lupa dukungannya ya,....
__ADS_1
terima kasih😊