
"Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah isteri yang shalihah.โ (HR Muslim)
Lanjut....... ๐น๐น๐น
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Ustadz Firman mendengarkan cerita Reza dengan baik. Ustadz Firman menepuk pelan Reza sebagai tanda dukungan padanya. Meski Ustadz Firman belum pernah merasakan beban penyesalan seperti yang Reza rasakan, tapi sebagai sesama manusia, tentu Ustadz Firman bisa sedikit tahu.
Tak mudah memang menjalani hidup yang dihantui rasa bersalah atas kesalahan yang pernah dilakukan di masa lalu. Apalagi orang yang disakiti, tak pernah membalasnya dengan hal yang serupa. Maka penyeselan itulah yang akan menjadi hukuman terberat bagi yang melakukan kesalahan.
Seperti yang sedang dirasakan oleh Reza saat ini. Meski kata maaf dari istrinya telah ia dapatkan, tapi tetap saja beban penyesalan itu terus saja meneror hidupnya.
"Saya paham bagaimana perasaan aa...?"
"Reza Mahardika. Panggil saja Reza, ustadz."
"Baik, Aa Reza. Sebagai manusia, tentu kita sering melakukan kesalahan dan tak jarang pula kita sering khilaf. Tapi ingat, bahwa Allah itu Maha Pengampun bagi segala dosa-dosa hambanya yang mau bertaubat, kecuali dosa syirik atau menyekutukan Allah. Setiap manusia yang bertobat dengan sungguh-sungguh dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, maka percayalah pasti Allah mengampuninya. Jika anda sudah bertaubat dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama serta sudah mendapatkan maaf dari istri anda, tapi rasa bersalah itu masih terus menghantui hidup anda, maka perbanyaklah beristighfar. Jangan pernah meremehkan kekuatan istighfar (memohon ampunan Allah). Karena itu adalah senjata yang akan membawamu kembali kepada Allah dan dapat meringankan kesulitan yang anda hadapi."
"Berdamailah dengan masa lalu dengan cara memaafkan diri sendiri. Teruslah membahagiakan istri dan anak anda karena mereka adalah tiket anda untuk menuju surga. Anda harus bersyukur karena Allah telah menganugerahkan kepada anda seorang istri solehah yang selalu menjaga ibadahnya, mampu menjaga kehormatan dirinya selama jauh dari anda dan mampu menjaga kehormatan suaminya. Wanita Solehah seperti inilah yang membuat iri para bidadari di surga." Jelas Ustadz Firman dengan tenang hingga mampu menembus hati Reza.
Memang benar apa yang Ustadz Firman katakan, Lira termasuk istri Solehah yang selalu patuh pada setiap ucapan Reza. Tak pernah sekali pun Lira meninggikan suaranya di depan suaminya. Lira juga selalu menghormati Reza seperti misalnya setiap akan keluar rumah, Lira meminta izin pada Reza terlebih dahulu. Jika Reza tak mengizinkan, maka Lira tak akan keluar apalagi sampai melakukan protes. Reza memang sangat beruntung memiliki istri solehah seperti Lira.
"Terima kasih banyak ustadz. Sekarang perasaan saya jadi lebih tenang. Insya Allah, saya akan terus membahagiakan istri dan anak-anak saya." Timpal Reza tulus sambil menjabat tangan Ustadz Firman dengan sangat erat.
Tidak sia-sia Reza menceritakan semua beban di hatinya pada seseorang yang berilmu. karena orang yang berilmu, insya Allah lebih amanah dalam menjaga aib orang lain.
Seperti sabda Rasulullah:
__ADS_1
"Barang siapa menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aib orang tersebut di dunia dan akhirat." ( HR. Ibnu Majah)
Menutupย aib serta cela sesama muslim adalah kebaikan ringan, namum memiliki timbangan kebaikan yang sangat mulia di sisi Allah Ta'ala. Allah Ta'ala telah memperingatkan kita dalam Al-Qur'an:
"Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan aib orang lain; dan janganlah kamu mengumpat sebagian yang lain. Apakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka sudah tentu kamu jijik kepadanya. (Oleh karena itu, jauhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang." (QS Al-Hujurat: Ayat 12).
Sebagai seorang muslim, kita harus belajar menjaga kekurangan orang lain. Renungi aib sendiri tanpa harus memikirkan kelemahan saudara muslim lainnya. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kita menutup rapat aib sesama dan menjaga kehormatannya, karena orang yang menutupi aib saudaranya, maka Allah akan menjaga aibnya.
"Sama-sama. Saya hanya membantu sedikit saja. Selebihnya, itu adalah pertolongan dari Allah. Tapi saya doakan, semoga keluarga anda selalu dalam lindungan Allah dan kalian akan berjodoh hingga ke akhirat nanti."
"Aamiin. Terima kasih, sekali lagi. Oya, apa saya boleh meminta nomor kontak anda, ustadz? Insya Allah, tidak lama lagi saya akan meresmikan rumah sakit yang tak jauh dari sini. Jadi, saya berniat untuk mengundang ustadz berserta keluarga."
"Masya Allah. Saya merasa terhormat, mendapat undangan langsung dari Mas Reza."
Ustadz Firman langsung memberikan nomor kontaknya pada Reza. Tak lama kemudian, seorang muadzin mengumandangkan adzan isya dengan sangat merdu. Reza dan Ustadz Firman pun langsung berdiri untuk bergabung bersama jamaah yang lain. Sementara, Jono menunggu Reza sambil duduk di shaf paling depan.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
"Assalamu'alaikum, sayang." Sapa Reza dengan senyuman manis di wajahnya.
Kali ini, senyum Reza terlihat sangat berbeda dari sebelumnya. Reza menampilkan senyum tanpa beban di hatinya. Benar saja, usai mendapat sedikit pencerahan dari Ustadz Firman serta ditambah dengan doa di akhir sujudnya, kini Reza menjadi lebih tenang. Tentu Lira tak mengetahui akan hal itu, karena Reza sangat pandai menyembunyikan semua kegundahan di hatinya.
"Wa'alaikumussalam Warahmatullah. Mas, udah makan?"
"Belum, sayang. Mas baru aja pulang dari masjid. Liat, baju mas aja belum diganti."
"Kalo gitu, mas makan aja dulu."
__ADS_1
'Nanti aja, sayang. Mas masih kangen."
"Ya ampun, mas. Liat, ini udah jam berapa? Mas mas makan dulu, ya. Habis itu, baru kita lanjut lagi. Lira gak mau, mas jadi sakit. Inget lho, di sini Lira dan kakak nungguin mas pulang."
"Iya sayang, iya. Mas makan. Tapi, sayang juga udah makan kan?"
"Alhamdulillah, udah mas. Tadi Lira sama kakak, makannya banyak banget lho, mas." Jawab Lira dengan riang.
"Alhamdulillah. Mas seneng banget dengernya. Ya udah, kalo gitu mas mau makan dulu."
"Iya, mas. Selamat makan, papa. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam Warahmatullah, sayang."
Reza langsung tersenyum bahagia usai melihat wajah istrinya. Meski hanya sebentar, tapi itu sudah cukup untuk mengobati rasa rindunya.
Reza langsung mengganti pakaian sholatnya dengan pakaian yang lebih santai. Reza langsung keluar kamar menuju restoran yang ada di dalam hotelnya. Tak lupa juga ia menghubungi Jono untuk ikut makan bersamanya. Saat Reza sedang berjalan menuju restoran, ia berpapasan dengan para karyawan hotel dan semua menyapanya dengan sopan. Seluruh karyawan yang ada di hotel itu, mengenal Reza sebagai anak pemilik dari hotel tempat mereka bekerja. Karena dahulu, Reza sering menemani ayahnya jika sedang berkunjung ke beberapa hotel miliknya, termasuk hotel tempanya menginap saat ini.
Reza memasuki pintu restoran yang terlihat cukup ramai. Semua mata pengunjung pun langsung menatapnya dengan tatapan kagum melihat ketampanan seorang Reza. Namun, Reza bersikap tak peduli. Reza langsung menuju meja bundar yang berada di bagian pojok ruangan. Sambil menunggu Jono datang, Reza kembali membuka ponselnya untuk melihat kumpulan videonya bersama anak dan istrinya.
Rasa bahagia menyelimuti hatinya. Senyum manis terus menghiasi wajah tampannya hingga membuat orang yang melihatnya akan merasa terpanah. Namun, tak lama senyum itu tiba-tiba saja pudar dari wajah tampannya. Reza baru menyadari, jika ia dan Lira tak punya foto pernikahan dan foto keluarga. Reza menepuk jidatnya pelan. Ia langsung menghubungi salah satu studio foto yang terkenal di Jakarta serta menghunungi butik yang menyediakan gaun pengantin muslimah syar'i. Reza ingin memberikan kejutan manis untuk istrinya dengan membelikan gaun pengantin syar'i yang nantinya akan dikenakan pada saat mereka melakukan pemotretan. Tak hanya itu saja, Reza sudah berencana untuk memberikan kejutan spesial untuk Lira, tepat di hari peresmian rumah sakitnya nanti.
Saat Jono datang, mereka langsung memesan makanan. Reza tak ingin membuang waktu lebih lama lagi karena ia sudah tak sabar untuk segera kembali ke Jakarta. Tapi sebelumnya, Reza ingin mengunjungi seseorang terlebih dahulu.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Bersambung..........๐
__ADS_1