
"Janganlah engkau membenci anak perempuan. Karena sesungguhnya mereka adalah sumber bahagia yang mahal harganya.” (Imam Ahmad bin Hambal)
Selamat membaca...........🌹🌹🌹🌹
🌸🌸🌸🌸
Reza kembali ke hotel dengan perasaan lega karena permasalahan dengan beberapa para pendemo, akhirnya terselesaikan dengan baik dan cepat serta tanpa adanya kekerasan. Kurang dari satu jam, Reza sudah berhasil menyelesaikan masalah yang ada. Reza langsung meraih ponselnya lalu menghubungi istrinya melalui video call.
Tut....Tut....Tut....
Pada sambungan ketiga, langsung terpampang jelas wajah wanita yang sangat ia rindukan. Lira tersenyum manis di layar sambil menyuapi putrinya dengan brownies coklat kesukaan bocah kecil yang menggemaskan itu.
"Assalamu'alaikum, mas." Sapa Lira di seberang sana.
"Wa'alaikumussalam. Sayang lagi ngapain?"
"Lagi nyuapin kakak makan brownies."
Lira langsung mengalihkan layar ponselnya ke wajah imut Inas yang sedang mengunyah brownies hingga pipinya mengembung, tapi wajahnya tetap terlihat menggemaskan.
Melihat wajah lucu putrinya, Reza langsung tertawa geli hingga membuat Inas menampilkan sendiri wajahnya ke kamera untuk bisa melihat ayahnya.
"Papa gi apa?" Tanya Inas dengan suara gemas.
"Papa lagi video call sama kakak dan bunda." Canda Reza menggoda putrinya.
Lira membisikan sesuatu ke telinga Inas hingga membuat Inas terkikik geli.
"Papa beyum mandi, ya?"
"Belum, sayang. Kok, kakak bisa tahu sih? Bau, ya?"
"Iya, papa bau." Timpal Lira sambil mengibas-kibaskan tangannya di depan hidung seoalah sedang menyium bau busuk, lalu ia tertawa nyaring.
"Biar pun papa bau, tapi bunda tetep sayang kan!?"
"Ih, papa bisa aja deh gombalnya."
Tak lama kemudian, Inas kembali bergabung di layar bersama ibunya sambil memamerkan mainan barunya, berupa boneka barbie yang mengenakan hijab dan baru saja dibelikan oleh kakek dan neneknya. Inas terlihat begitu antusias ketika menceritakan hadiah barunya.
Reza dan Lira hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkah lucu Inas. Ketika Reza bertanya padanya tentang mainan mana yang menjadi kesayangannya, Inas pun langsung bingung. Dengan tingkah gemasnya, Inas mengetuk-ketuk dagunya seolah sedang berfikir keras. Tingkah lucu Inas langsung mengundang tawa dari kedua orang tuanya.
__ADS_1
Mereka bertiga bercanda ria bersama hingga dua jam lamanya. Meski hanya lewat video call, tapi Reza sudah merasa bahagia karena hanya dengan melihat wajah anak dan istrinya, rasa lelah Reza langsung musnah seketika.
Reza pun mengakhiri video call karena tak lama lagi akan masuk waktu sholat Maghrib. Reza harus segera bersiap-siap untuk mandi lalu menuju masjid yang berada tak jauh dari hotel tempatnya menginap. Perlu di garis bawahi, saat ini Reza sedang menginap di salah satu hotel mewah milik ayahnya.
"Sayang, udah dulu ya. Papa mau mandi, terus ke masjid."
"Iya, papa. Kakak sayang papa." Ucap Inas sambil memajukan bibirnya ke layar ponsel seolah sedang menyium ayahnya.
Reza menjadi terharu mendengar ungkapan sayang dari putrinya. Rasanya, hati Reza sedang dipenuhi oleh ribuan bunga-bunga indah. Putri kecilnya itu selalu membawa keceriaan yang penuh warna dalam hidup seorang Reza.
Reza berharap, semoga dosa-dosanya di masa lalu yang pernah tak menginginkan kehadiran putrinya di rahim istrinya dapat diampuni.
Inas bukan hanya sebagai belahan jiwa dan permata bagi seorang Reza, tapi juga sebagai tiketnya untuk menuju surga.
"Sama. Papa juga sayang banget sama kakak, sama bunda juga." Balas Reza dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Assalamu'alaikum, papa." Timpal Lira mengakhiri video call karena waktu sholat Maghrib telah tiba.
"Wa'alaikumussalam Warahmatullah wabarakatu, sayang."
Reza segera membersihkan diri lalu bersiap-siap menuju masjid. Reza memang sudah terbiasa untuk melaksanakan sholat secara berjamaah di masjid daripada harus sholat seorang diri di rumah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan keutamaan shalat berjama’ah, sebagaimana hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkan bagi laki-laki untuk mengerjakan shalat dengan berjama’ah di masjid dan menganjurkan wanita untuk shalat di rumahnya karena bagi wanita, rumah itu lebih baik. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengerjakan shalat ber-jama’ah di masjid, bahkan ketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang sakit, hingga Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dipapah ke masjid untuk mengerjakan shalat berjama’ah.
Hukum shalat berjama’ah bagi laki-laki adalah wajib, berdasarkan firman Allâh Azza wa Jalla dalam surah Al-Baqarah ayat 43 yang berbunyi:
"Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku."
Setelah mengetahui alasan dibalik wajibnya bagi seorang laki-laki untuk melaksanakan sholat berjamaah di masjid, Reza menjadi semakin rajin dan semangat untuk melakukannya. Terkadang, ia merasa menyesal karena dahulu ia pernah tak sholat berjamaah di masjid. Bahkan yang lebih parahnya lagi, ia pernah sampai mengabaikan perintah-Nya untuk menjalan kewajibannya menyambah sang pencipta. Maka tak heran, mengapa dahulu ia bisa bersikap begitu keji pada istrinya sendiri.
Padahal, Rasulullah sudah mengingatkan kepada kaum laki-laki agar memuliakan wanita.
"Paling baiknya kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya. Dan aku paling baik untuk keluargaku. Tidak memuliakan perempuan kecuali laki-laki yang mulia. Tidak menghinakan perempuan kecuali laki-laki hina.” (HR. Imam Hakim).
🌸🌸🌸🌸
Usai melaksanakan sholat Maghrib berjamaah, Reza memilih untuk menunggu waktu sholat isya di masjid sambil berdzikir kemudian dilanjutkan dengan membaca Al-Qur'an.
Reza begitu khusyuk ketika sedang melantunkan ayat suci Al-Qur'an. Saking khsuyuknya, ia tak sadar jika saat ini ada seseorang yang duduk di sebelahnya dan sudah memerhatikannya sejak tadi.
__ADS_1
Cukup lama Reza mengaji dan sudah beberapa lembar surah ia baca hampir selesai. Reza memutuskan untuk menghentikan bacaannya setelah ia menyadari kehadiran seseorang di sebelahnya. Reza meletakan Al-Qur'an itu kembali ke tempat semula. Kemudian Reza menghampiri orang tersebut.
"Maaf pak, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Reza sopan pada seorang pria yang memakai gamis putih, dilengkapi dengan sorban itu. Jika dilihat, usia pria itu sepataran dengan ayahnya, Martin.
Orang itu hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum ramah padanya. Hal itu tentu membuat Reza bingung hingga mengerutkan dahinya.
"Perkenalkan, nama saya Firman. Jamaah di sini, biasa memanggil saya Ustadz Firman. Saya salah satu imam di masjid ini." Ucapnya ramah mengenalkan diri.
"Maaf kalau saya lancang. Tapi kalau anda punya masalah, anda boleh bercerita pada saya. Insya Allah, dengan ilmu saya yang tidak seberapa ini, bisa sedikit membantu. Karena sejak tadi saya perhatikan, anda seperti sedang menyimpan beban berat di hati anda." Lanjut Firman.
Reza semakin mengerutkan dahinya. Bagaimana orang ini bisa tahu, jika ia sedang terbebani oleh penyesalannya di masa lalu.
"Jangan tersinggung. Saya hanya merasa tidak tega melihat guratan beban di wajah anda." Lanjtnya sambil tersenyum.
"Bagaimana bapak bisa tahu?" Tanya Reza bingung.
Pasalnya, Reza selalu berusaha menyembunyikan beban di hatinya dengan memasang wajah dingin jika sedang bersama orang lain dan akan memasang wajah bahagia jika sedang bersama keluarganya.
"Tanpa perlu saya bertanya pun, semua sudah terlihat jelas di wajah anda." Jawabnya sambil tersenyum.
Reza menghela nafasnya dengan berat. Memang benar, selama ini ia hidup dengan beban penyesalan di hidupnya. Kejadian dua tahun lalu, membuat Reza harus hidup dalam penyesalan yang dalam. Tak jarang ia menangis seorang diri, di dalam sujud malamnya. Dihadapan sang pencipta, Reza menangis sejadi-jadinya. Mencurahkan segala beban di hatinya.
Reza sudah berusaha keras untuk menyembunyikan beban di hatinya dari semua orang. Namun, entah bagaimana caranya Firman bisa mengetahui hal itu?
"Jika anda tidak bersedia untuk bercerita, tidak apa-apa. Tidak usah dipaksakan."
Reza kembali menghela nafasnya, kali ini lebih dalam lagi dari sebelumnya. Reza mulai berfikir, siapa tahu jika ia membagi semua bebannya kepada orang lain, maka hatinya akan sedikit lebih tenang.
"Benar apa yang ustadz katakan. Saya sedang menanggung beban yang sangat berat. Kejadian di masa lalu terus saja menghantui saya setiap saat." Ucap Reza dengan wajah sendu.
"Maaf sebelumnya. Kalau boleh tahu, apa yang sudah anda lakukan di masa lalu hingga membuat anda terus dihantui rasa bersalah seperti ini?" Tanya pria itu hati-hati.
"Saya pernah menyiksa istri saya dengan keji dan saya juga pernah menelantarkannya. Yang lebih parahnya lagi, saya pernah menolak anak yang hadir di rahimnya. Rasa benci yang begitu besar, membuat saya tega melakukan hal keji itu."
"Bisa diceritakan, apa alasan anda membencinya?"
Reza mulai menceritakan apa yang sudah mengganjal di hatinya selama ini. Dimulai dari awal perjodohan hingga Lira pergi dari rumah atas izin darinya. Semua Reza ceritakan tanpa ada yang terlewati sedikit pun.
"Saya sangat menyesal. Benar-benar sangat menyesal, ustadz. Tapi kadang saya merasa bingung dengan sikap istri saya karena sampai saat ini, dia tidak pernah sedikit pun membenci saya. Apalagi sampai mengeluarkan kata-kata kasar. Dia selalu membalas saya dengan senyuman dan memperlakukan saya dengan baik serta selalu menghargai saya sebagai suaminya. Itulah yang membuat saya semakin merasa bersalah, setiap melihat wajahnya." Lanjut Reza sambil terisak dengan tubuh yang bergetar hebat.
Beban hati yang selama mengganjal di hatinya, perlahan mulai berkurang. Meski apa yang dilakukannya salah karena telah menceritakan aibnya sendiri pada orang lain, tapi Reza tak punya pilihan. Ia hanya ingin mencari solusi dari apa yang sedang ia hadapi.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸
Bersambung.........😊