
Selamat membaca.........πΉπΉπΉπΉ
πΈπΈπΈπΈ
Liburan keluarga yang membahagiakan itu akhirnya selesai. Hari ini, seluruh Reza dan Lira beserta Doni, Amel dan orang tua mereka akan kembali ke Jakarta karena pekerjaan dari dua ayah muda itu yang sudah menumpuk untuk segera diselesaikan.
Selain itu, Reza juga sudah tak sabar untuk melihat hasil dari kolam ikannya dan gudang tempat penyimpanan barang yang sudah dihancurkan lalu dipindah ke tempat yang cukup jauh dari jangkauan mata. Usai mendengar pengakuan istrinya, hari itu juga Reza langsung menghubungi anak buahnya untuk membongkar kolam ikan dan gudang, diganti menjadi sebuah tempat bermain yang dilengkapi dengan berbagai macam wahana bermain anak.
Namun, semua itu Reza lakukan setelah meminta izin pada kedua orang tuanya. Kedua orang tua Reza sudah mengetahui alasan Reza memindahkan itu semua, jadi mereka mendukung keputusan Reza agar Lira tak lagi mengingat kenangan buruknya di tempat itu.
Sebelum kembali ke Jakarta, tentu mereka tak lupa untuk berburu banyak oleh-oleh yang nantinya akan dibagikan untuk saudara-saudara terdekat serta para asisten rumah yang sudah banyak membantu mereka. Indah juga membelikan oleh-oleh untuk dua anak angkatnya di kampung dan karyawan di toko kelontongnya.
Jet pribadi milik Martin telah mendarat sempurna di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada pukul tiga sore. Rombongan Reza memilih untuk melaksanakan sholat ashar terlebih dahulu, setelah itu mereka pulang ke rumah dengan dijemput oleh sopir pribadi masing-masing.
Inas sempat menangis karena tak ingin berpisah dari Riri. Inas sangat menyayangi Riri hingga tak rela berpisah dari balita menggemaskan itu. Bahkan, Inas merengek ingin ikut pulang bersama keluarga Doni. Namun, Reza langsung membujuknya dengan lembut dan berjanji suatu saat mereka akan berkunjung ke rumah Riri. Akhirnya Inas berhenti menangis dan membiarkan Riri pulang bersama orang tuanya.
"Sayang, kalo capek istirahat aja." Ucap Reza mengusap lembut kepala Lira dan dibalas anggukan oleh Lira karena ia memang sangat mengantuk.
Tanpa menunggu lama, Lira langsung memejamkan matanya yang sudah terasa berat sejak tadi. Reza menjadi menjadi gemas melihat wajah polos Lira yang sudah tertidur dengan bersandar pada dada bidangnya.
"Papa, mau cokat boyeh?" Tanya Inas dengan wajah menggemaskan.
"Boleh, sayang. Tapi, nanti kalo udah sampe rumah dan gak boleh banyak-banyak, ya makannya."
"Iya. Makacih, papa." Ucapnya girang.
"Sama-sama, sayang." Sahut Reza sambil mengelus kepala Inas dengan lembut.
πΈπΈπΈπΈ
Mobil yang yang menjemput keluarga Martin, telah tiba di halaman rumah. Irma menggendong Inas masuk ke dalam rumah karena Reza harus menggendong Lira yang masih terlelap dan tak merasa terusik sama sekali saat tubuhnya sudah digendong masuk ke dalam kamar.
Reza meletakan tubuh Lira di atas tempat tidur lalu membuka jilbab dan kaos kaki Lira, dilanjutkan dengan menutup tubuhnya dengan selimut. Reza menatap lekat wajah Lira dan mengelus pipi Lira yang semakin chubby. Cukup lama ia memandangi wajah cantik milik istrinya, kemudian ia mendaratkan ciuman hangat di seluruh wajah Lira.
"Gemesin banget sih." Reza menusuk kecil pipi Lira sambil tersenyum. "Sehat-sehat terus ya, sayang. Mas janji, akan selalu menjaga sayang dan anak-anak kita."
Setelah itu, ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Kali ini, Reza membutuhkan waktu lebih lama di kamar mandi. Sekitar 20 menit Reza menyelesaikan aktifitasnya di kamar mandi. Ia pun turun ke ruang keluarga untuk mengecek putrinya yang ternyata masih tertidur di kamar eyangnya.
Reza pun menuju ruang tengah untuk mengambil oleh-oleh yang sengaja ia belikan untuk para asisten rumahnya, termasuk Nur serta suami dan ketiga anaknya. Kemudian, Reza menuju dapur untuk menyerahkan oleh-oleh itu pada Mirna dan asisten lainnya.
"Bi, ini ada sedikit oleh-oleh untuk semua asisten rumah. Tolong dibagikan, ya. Sekalian titip punya Bu Nur dan anak-anaknya."
"Masya Allah. Terima kasih banyak Den Reza." Ucap Mirna penuh haru.
__ADS_1
Selama bekerja di kediaman Martin, Mirna dan teman-temannya memang selalu mendapat banyak oleh-oleh, setiap Reza atau kedua orang tuanya sedang keluar kota atau keluar negeri. Martin dan Irma selalu memperlakukan para asistennya layaknya keluarga sendiri yang harus dihargai.
"Sama-sama, bi. Tapi itu istri saya yang beli." Jawab Reza dengan senyum khasnya.
Mirna kembali terharu. Lira memang selalu bersikap baik pada seluruh asisten di rumah mertuanya. Meski telah berstatus nyonya muda di rumah itu, tapi Lira tak pernah bersikap sombong apalagi sampai memerintah para asistennya dengan sesuka hati.
"Semoga Non Lira selalu sehat sampai lahiran nanti, den."
"Aamiin. Terima kasih doanya, bi." Mirna mengangguk haru lalu menemui teman-temanya yang sedang berada di halaman belakang rumah untuk membagikan oleh-oleh dari Reza.
Semua asisten rumah merasa bahagia mendapat perlakuan baik dari menantu dan keluarga Martin. Tak terkecuali Nur yang juga merasa senang karena untuk kesekian kalinya, Lira selalu memberinya banyak barang untuknya dan anak-anaknya.
πΈπΈπΈπΈ
Kehamilan Lira semakin besar dan telah memasuki usia sembilan bulan. Reza menjadi semakin posesif dan memilih untuk menghabiskan waktunya untuk menemani Lira di rumah. Meski sempat mendapat penolakan dari Lira karena sebagian besar pekerjaan Reza dibebankan kepada kedua asistennya, Ferdi dan Arman. Namun, Reza tetaplah lelaki yang tak suka dibantah. Alhasil, Ferdi dan Arman menjadi lebih sering pulang terlambat dari biasanya karena beban pekerjaan mereka menjadi bertambah semakin banyak.
Sebagai istri yang selalu ditinggal kerja hingga larut malam di tengah kondinya yang sedang membutuhkan perhatian dan kasih sayang suaminya, Bela tak pernah mempermasalahkan semua itu. Menurut Bela, hal yang wajar jika Reza ingin menemani Lira yang sedang hamil besar. Bela mengerti bagaimana perasaan Reza yang merasa sangat khawatir dan gugup menunggu waktu untuk Lira melahirkan.
Sejak usia kandungan Lira memasuki bulan ke sembilan, Reza menjadi lebih sering mengajak Lira berjalan-jalan di sekitaran kompleks perumahan agar mempermudah Lira ketika bersalin nanti. Seperti pagi di akhir pekan seperti ini, Reza menggandeng tangan Lira sambil mengelilingi taman kecil yang berada tak jauh dari rumahnya.
Mereka sengaja tak mengajak Inas karena bocah menggemaskan itu masih tertidur di kamar neneknya. Inas memang sangat manja pada kedua eyang dan neneknya. Selama Indah berada di Jakarta, Inas akan selalu melengket padanya hingga tak menghiraukan kedua orang tuanya yang selalu berpergian tanpanya.
Reza lebih memilih mengajak Lira berkeliling taman daripada harus berkeliling mall untuk membeli kebutuhan bayi, karena segala perlengkapan untuk calon anak mereka juga telah lengkap sejak kandungan Lira memasuki usia delapan bulan. Siapa lagi kalau bukan Irma yang membelinya. Sebagai mertua yang akan kembali mendapat cucu kedua, tentu Irma sangat antusias untuk membeli segala macam kebutuhan bayi. Irma bahkan mengajak serta besannya, Indah untuk ikut memilih kebutuhan cucu kedua mereka di tempat perlengkapan bayi yang berkualitas terbaik dan mahal tentunya. Padahal, jenis kelamin calon anak Reza dan Lira masih belum diketahui hingga saat ini. Namun, Irma tak peduli. Ia tetap membeli sepasang pakaian untuk bayi laki-laki dan perempuan.
"Mas, pulang dari sini kita langsung ke rumah Bela ya."
"Iya, sayang."
Sudah beberapa hari ini, Bela tak datang ke menemui Lira karena ia juga sedang dalam masa hamil muda yang mengharuskannya untuk lebih banyak beristirahat di rumah.
"Mas, Lira pengen makan bubur ayam yang sana." Tunjuknya pada gerobak yang berada di ujung jalan perumahan.
"Boleh, sayang. Mau berapa?"
"Lira mau beli buat Bela dan Mas Arman. Soalnya, Bela suka banget makan bubur ayam."
"Oke, sayang. Yuk, kita ke sana. Sayang masih kuat jalan, kan?"
Reza tak bermaksud apa-apa. Hanya saja, sejak perut Lira semakin betambah besar ia menjadi semakin kesulitan bergerak. Ditambah lagi kakinya yang sudah membengkak dan nafasnya yang sering tersengal-sengal saat berjalan cukup jauh, membuat Reza menjadi semakin waspada.
"Insya Allah, masih mas. Kalo Lira capek, paling nanti Lira minta gendong."
"Dengan senang hati, tuan putri."
__ADS_1
Mereka tertawa bersama. Kemudian, mereka menuju tempat gerobak yang menjual bubur ayam itu dan memesan empat bungkus bubur ayam. Setelah itu, Reza membayarnya menggunakan satu lembar uang berwarna merah.
"Aduh mas, saya gak punya kembalian." Ucap si penjual bubur ayam itu.
"Gak papa, pak. Kembaliannya ambil aja." Jawab Reza.
"Wah, terima kasih banyak mas. Semoga istri mas, selalu sehat hingga melahirkan nanti."
"Aamiin. Sama-sama, pak. Kami permisi ya, pak."
"Oh, iya. Silakan mas, mbak."
πΈπΈπΈπΈ
Lira dan Reza langsung menuju rumah Bela untuk sarapan bubur ayam bersama. Kebetulan hari ini, Arman dan Bela sedang berada di rumah. Lira selalu saja antusias jika sudah bertemu Bela karena bagi Lira, Bela bukan hanya sebagai sahabat, tetapi juga saudara.
Tiba di depan rumah Bela, pintu rumah Bela sudah terbuka lebar dan terlihat beberapa asisten rumah yang sedang sibuk mengerjakan tugas mereka masing-masing. Mereka langsung menyapa saat melihat Lira dan Reza masuk ke dalam rumah dengan mengucapkan salam.
Bela yang sedang bermanja-manja pada Arman di ruang televisi itu langsung dikejutkan dengan kedatangan sepasang suami istri yang sangat mendadak itu.
Jika Lira yang berada di posisi Bela, sudah pasti ia akan merasa malu karena sudah kedapatan bermanja-manja pada suaminya. Namun, hal itu tak berlaku pada Bela yang tetap terlihat acuh saat melihat Lira dan Reza telah duduk manis di sofa yang berada di depannya.
"Iihh, manja banget sih bumil." Goda Lira pada Bela yang sedang memeluk manja Arman.
"Biarin. Emang kamu doang yang bisa manja sama suami." Sahut Bela acuh.
Sejak dinyatakan positif hamil oleh dokter, Bela menjadi lebih sensitif dan judes dari sifat aslinya. Namun, Lira tak pernah merasa tersinggung dengan sikap baru Bela karena Lira sangat mengenal baik sahabatnya itu.
"Kamu bawa apa, Ra?" Tanya Bela saat melihat kantung plastik putih yang berisi styrofoam berbentuk persegi panjang.
"Ini aku bawain kamu bubur ayam. Kita sarapan bareng, ya."
"Wah! Pas banget, aku emang lagi pengen makan bubur ayam. Makasih ya, Ra." Sahut Bela girang.
"Sama-sama. Yuk, kita sarapan."
Mereka langsung sarapan bersama di ruang keluarga karena Bela yang enggan pindah dari sana. Arman pun meminta tolong pada salah satu asistennya untuk menyiapkan air minum untuk mereka.
Usai sarapan, Lira dan Reza berpamitan pulang karena Bela sudah terlihat mengantuk. di kehamilan Bela kali ini, sangat mirip dengan Lira saat hamil dulu yang sangat mudah mengantuk. Jadi, karena tak ingin menganggu waktu istirahat Bela, mereka pun memutuskan untuk pulang agar Lira juga bisa istirahat.
πΈπΈπΈπΈ
Bersambung.........π
__ADS_1