
Selamat membaca............πΉπΉπΉπΉ
πΈπΈπΈπΈ
Satu Minggu setelah pulang dari kampung Lira, Reza kembali ke aktifitasnya yang padat. Reza harus kembali berkutat dengan pekerjaannya, bertemu klien dan menangani berbagai proyek besar. Reza harus rela waktunya bersama keluarga harus berkurang. Tak jarang ia pergi pagi dan akan pulang pada tengah malam, di saat anak dan istrinya sudah tertidur.
Terkadang, Reza merasa lelah menjalani aktifitasnya. Jika bisa memilih, Reza lebih suka menjadi dokter karena waktu luangnya lebih banyak daripada harus menjadi CEO. Namun, ia tak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja. Tanggung jawab yang sudah Martin berikan padanya, harus bisa ia jalani dengan baik. Jika ia lalai sedikit saja, maka musuh mereka akan menemukan celah untuk bisa menjatuhkan perusahaan yang telah ayahnya bangun dengan susah payah. Reza tak ingin mengecewakan kepercayaan yang telah ayahnya berikan padanya.
Deru suara mobil Reza terdengar memasuki halaman. Reza keluar dari mobil dengan langkah gontai. Tubuh dan otaknya terasa lelah usai membaca tumpukan proposal kerja sama serta laporan keuangan yang diberikan oleh sekretarisnya.
Reza melihat jam tangannya, waktu telah menunjukan pukul setengah dua belas malam. Biasanya istrinya akan menunggunya pulang sambil menonton televisi. Meski pada akhirnya ia akan ketiduran. Namun, kali ini Reza tak ingin membiarkan istrinya tersiska hanya karena menunggunya pulang. Dari awal Reza sudah mengabari bahwa ia akan pulang terlambat, jadi Reza menyuruh istrinya untuk tidur lebih dulu tanpa perlu menunggunya.
Saat memasuki rumah, Reza berpapasan dengan Mirna yang memang sengaja menunggunya pulang.
"Tuan, baru pulang?" Tanya Mirna.
"Iya, bi." Jawab Reza dengan senyum tipis. "Bibi ngapain, jam segini belum tidur?" Tanya Reza.
"Itu den, saya sengaja nungguin Den Reza pulang." Jawab Mirna dengan wajah serius.
"Sengaja nungguin saya? Memangnya ada apa, bi?"
"Begini den, sebenarnya masalah ini udah lama. Saya mau ngasih tahu tuan dan nyonya, tapi saya gak enak. Jadi saya putuskan untuk ngasih tahu aden dulu. Tapi karena seminggu ini aden sibuk dan selalu pulangnya malam terus, jadi saya tunda lagi. Alhamdulillah, sekarang bisa ketemu sama aden."
"Sebenarnya bibi mau ngomong apa? Langsung aja ke intinya. Saya mau istirahat, bi. Saya capek." Ucap Reza sedikit kesal karena memang benar ia sangat lelah.
"Ma-maaf den. Itu, em, apa. Sebenarnya di rumah ini ada maling den." Jawab Mirna gugup.
"Maling? Bibi jangan aneh-aneh, deh. Mana ada maling di sini." Ucap Reza tak percaya.
"Saya gak bohong, den. Soalnya, makanan kaleng dan roti tawar yang sudah mendekati kadaluarsa, biasa saya simpan di lemari tapi semuanya tiba-tiba hilang, den. Padahal kan, biasanya sebulan sekali dikumpulin terus dibuang. Tapi semua pada gak ada." Jelas Mirna meyakinkan.
"Kejadiannya kapan, bi?" Tanya Reza penasaran.
"Kayaknya udah lama, den. Sekitar satu tahun yang lalu, waktu tuan dan nyonya menyuruh kami kembali ke sini. Saat itu saya periksa semua makanan kaleng, seperti ikan sarden dan roti tawar yang sudah kadalursa pada hilang. Saat itu Den Reza sedang di luar negeri bersama tuan dan nyonya."
Reza kembali berpikir, siapa sebenarnya maling yang sudah mencuri makanan yang sudah mendekati kadaluarsa dari dalam lemari?
"Ya udah, bi. Biar nanti saya cek cctv. Bibi bisa istirahat sekarang. Terima kasih banyak ya, bi." Ucap Reza.
"Iya den, sama-sama."
Mirna langsung menuju kamarnya. Sedangkan Reza, ia menuju ruang kerjanya untuk membuktikan ucapan Mirna. Rencananya, ia ingin istirahat untuk menghilangkan rasa lelahnya. Tapi sepertinya ia harus rela tubuhnya kembali bekerja untuk menuntaskan satu masalah yang cukup serius. Reza membuang nafasnya dengan kasar. Reza sedikit kesal karena Mirna seperti menambah pekerjaannya. Buat apa orang mencuri makanan yang sudah kadaluarsa? Pikir Reza.
__ADS_1
Tiba di ruang kerjanya, Reza langsung menyalakan laptop yang sudah terhubung dengan cctv yang ada di seluruh ruangan rumahnya. Dengan teliti Reza menyaksikan setiap rekaman kejadian satu tahun yang lalu satu persatu.
Tiba-tiba tubuh Reza menegang saat menyaksikan rekaman di mana ia menyiksa Lira dengan sangat keji. Rekaman itu menunjukan semua aktifitas Lira pada saat orang tua Reza berangkat ke Jerman. Dimulai saat Reza menyeret Lira karena diantar pulang oleh Doni di malam ia meninggalkan Lira di pesta. Berlanjut ketika ia menyiram Lira menggunakan air kolam ikan saat Lira sedang beristirahat karena kelelahan dan lapar. Setelah itu, rekaman di mana Lira keluar dari kamarnya sambil berjalan tertatih-tatih dengan wajah penuh darah.
Air mata Reza langsung mengalir deras begitu saja saat menyaksikan rekaman itu. Dadanya terasa sesak. Ia tak ingin melanjutkan lagi, tapi ia masih penasaran. Dengan tangan gemetar, Reza melanjutkan memutar rekaman cctv itu dan menontonnya sambil terisak.
Tak lama kemudian, muncul adegan di mana Lira berjalan mengendap-endap menuju dapur dan langsung membuka lemari tempat penyimpanan makanan yang sudah kadaluarsa. Lira membuka lemari itu, mengambil satu kaleng sarden dan roti tawar yang sudah mulai berjamur. Setelah itu, Lira berjalan menuju halaman belakang untuk membuka kaleng itu. Tangan Lira terlihat sangat gemetar saat memakan sarden dan roti yang sudah berjamur itu. Entah karena takut ketahuan atau karena ia kelaparan. Selesai makan, Lira membuang sampah sisa makannya di tempat sampah yang jauh dari jangkauan penglihatan Reza. Kemudian ia kembali lagi ke dapur sambil memegang botol bekas berukuran besar. Lira mengisi botolnya dengan air keran hingga penuh, lalu ia meminum air itu untuk menghilangkan rasa hausnya.
Reza kembali menangis meraung melihat rekaman yang sangat menyayat hatinya itu. Reza baru tahu jika selama ia tak memberi Lira makan, ternyata Lira hidup dengan memakan makanan yang sudah tak layak. Tak heran jika tubuh Lira terlihat sangat kurus saat itu.
Reza mengusap wajahnya dengan kasar. Bagaimana bisa ia sekeji itu? Menyiksa istrinya tanpa ada rasa kasihan dan membiarkannya kelaparan. Reza bukan hanya menyiksa fisik Lira, tapi juga batinnya. Reza membenci dirinya sendiri karena sikapnya yang begitu menyerupai iblis saat melihat adegan demi adegan penyiksaan yang ia berikan pada Lira.
πΈπΈπΈπΈ
Langkah Reza terasa berat saat akan memasuki kamarnya. Usai melihat rekaman cctv tadi, Reza memutuskan untuk pergi ke kamarnya. Rasa lelahnya seolah musnah entah kemana.
Saat memasuki kamarnya, Reza melihat pemandangan yang menurutnya sangat menyesakan dadanya. Ia melihat Lira sedang tertidur nyenyak sambil memeluk putri mereka. Air mata Reza kembali mengalir jika mengingat kejadian dulu, saat ia menyuruh Lira tidur di lantai dengan beralaskan tikar tipis. Bahkan malam itu, ia dengan sengaja menaikan suhu AC kamarnya agar Lira merasa kedinginan.
Reza berjalan pelan menuju tempat tidur lalu ia duduk tepat di sebelah Lira. Diusapnya dengan lembut wajah polos dari wanita yang sudah ia siksa fisik dan batinnya itu. Air mata Reza tak berhenti mengalir melihat wajah polos istrinya. Usapan Reza berpindah ke dahi Lira yang terdapat bekas luka yang cukup besar di sana. Reza mengecup dahi Lira sambil terisak. Tak lama Lira menggeliat karena merasakan setetes air mengalir di pipinya.
"Mas, udah pulang?" Tanya Lira dengan suara serak.
Lira memicingkan matanya menyesuaikan dengan lampu yang menyala terang. Tadi Lira lupa mematikan lampu kamarnya karena Inas merengek minta ASI lalu tertidur, jadi Lira juga ikut tertidur bersama putrinya.
Reza tak menjawab. Ia terus saja menangis hingga tubuhnya ikut bergetar. Lira ikut duduk di hadapan Reza.
Lagi-lagi Reza tak menjawab. Reza meraih tubuh Lira dan memeluknya dengan erat. Lira mengusap lembut punggung Reza, berusaha menyalurkan kekuatannya.
"Huhuhuhu. Maaf, tolong maafkan mas. Huhuhu." Ucap Reza dengan suara serak.
"Mas, gak salah apa-apa sama Lira. Jadi kenapa harus minta maaf?"
"Maafkan mas, karena pernah nyiksa sayang. Mas gak tahu kenapa dulu mas bisa jahat banget ke sayang."
Lira melepaskan pelukannya lalu tersenyum dengan lembut. Lira mengusap air mata yang sudah membasahi wajah Reza. Kini terlihat jelas wajah Reza sembab dan hidung yang sudah memerah.
"Mas, Lira udah pernah bilang kan, yang belalu biarlah berlalu. Gak perlu diingat lagi. Kita jadikan itu semua sebagai pelajaran ke depannya. Lira udah maafin mas jauh sebelum mas minta maaf. Jadi udah ya, jangan diingat lagi."
Mendengar ucapan Lira, bukannya membuat hati Reza menjadi tenang, justru membuatnya semakin merasa bersalah. Reza meraih kedua tangan Lira untuk memukul wajahnya dengan keras.
"Pukul mas, ayo pukul. Sayang boleh balas semua perbuatan mas yang dulu. Tapi tolong jangan tinggalin mas, sayang. Mas gak akan sanggup."
Lira menangkupkan kedua tangannya ke wajah Reza lalu mengecup keningnya dengan penuh perasaan.
__ADS_1
"Lira gak akan tinggalin, mas. Insya Allah, Lira janji akan selalu bersama mas sampe kapanpun." Ucapnya dengan air mata yang mengalir di wajahnya.
"Terima kasih, sayang. Terima kasih." Ucap Reza sambil kembali memeluk Lira.
"Mas, udah makan?" Tanya Lira saat melihat suaminya sudah lebih tenang. Namun, tangannya tak berhenti terus mengusap kepala suaminya dengan lembut.
Reza hanya menggeleng dalam pelukannya. "Mas mau makan dulu atau mandi dulu?" Tanya Lira lagi.
"Mas mau mandi dulu tapi sayang temenin, ya." Pintanya dengan manja.
"Ya udah, ayo Lira temenin."
Mereka langsung menuju kamar mandi. Lira menyiapkan air hangat yang ditambahkan dengan aroma terapi sebagai penenang.
πΈπΈπΈπΈ
Usai mandi bersama yang diselingi canda tawa, kini saatnya Lira menyiapkan makanan untuk mengisi perut Reza yang terasa lapar. Lira terlihat begitu lincah berkutat dengan alat dapur. Sedangkan Reza duduk di meja makan sambil memperhatikan istri kecilnya yang sedang memasak.
Tak butuh waktu lama, sepiring nasi goreng dan telor ceplok sudah tersaji di atas meja. Aromanya begitu menggoda hingga membuat Reza tak sabar untuk segera menyicipi nasi goreng yang masih terlihat mengepul itu.
Reza menyantap nasi goreng itu dengan sangat lahap. Ia bahkan tak peduli dengan keringat yang sudah bercucuran di dahi karena nasi goreng yang ia santap masih berasap.
"Mas, pelan-pelan makannya."
Lira mengambil tisu dari atas meja lalu mengusap keringat yang terus meluncur di dahi Reza. Senyum Lira melebar saat melihat nasi goreng buatannya habis dalam sekejap. Lira menyodorkan gelas berisi air putih pada Reza dan langsung diminum hingga tandas.
"Mas, laper banget ya? Sampe cepet gitu makannya" Tanya Lira sambil mengusap bekas air di bibir Reza menggunakan tangannya.
"Mas laper banget, sayang. Tadi gak sempet makan malam." Jawab
"Kenapa mas gak sempet makan? Banyak banget ya pekerjaannya sampe gak bisa luangin waktu sebentar buat makan?"
"Iya, sayang. Mas harus membaca banyak proposal kerjasama. Belum lagi tumpukan laporan keuangan yang harus segera mas periksa, jadi mas gak inget makan. Maaf ya."
"Iya mas, gak papa. Tapi lain kali jangan gitu lagi ya. Lira gak mau mas jatuh sakit."
"Iya, sayang. Makasih ya." Lira mengangguk sambil tersenyum.
Usai makan, mereka kembali ke kamar untuk beristirahat. Menyusul putri kecil mereka yang tertidur pulas. Reza memeluk Lira dengan sangat posesif seolah takut Lira akan pergi jauh darinya.
πΈπΈπΈπΈ
Bersambung.......π
__ADS_1
jangan lupa dukungannya ya...
terima kasihππππ