Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 52


__ADS_3

Selamat membaca.......🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Semakin hari, hubungan Reza dan Anita menjadi semakin dekat. Anita bahkan tak malu untuk mengunjungi Reza di Rumah Sakit sambil membawakan makan siang. Orang-orang di Rumah Sakit juga sudah mengenal Anita dengan baik, karena hampir setiap hari mereka melihat Anita datang berkunjung.


Kedekatan mereka akhirnya terdengar sampai ke telinga Doni, hingga membuatnya menjadi marah besar. Doni segera menghubungi Reza, namun sayangnya Reza dengan sengaja mengabaikan panggilan telfon dari Doni. Reza tahu, pasti Doni sudah mendengar tentang hubungannya bersama Anita, saat ini pasti sahabatnya itu sedang mengumpatnya untuk menumpahkan kekesalannya.


Namun, Reza tak ingin ambil pusing memikirkan kemarahan Doni padanya. Yang ia pikirkan saat ini hanyalah, bagaimana caranya agar ia bisa mendapatkan restu dari orang tuanya untuk bisa segera menikahi Anita secepatnya. Orang tuanya pasti akan marah, terutama ayahnya. Sudah pasti kata-kata kasar dan umpatan akan ia terima dari ayahnya yang dikenalnya sebagai pribadi yang tegas. Namun, Reza tak akan menyerah.


Sebenarnya Reza tahu, jika seharusnya ia meminta restu bukan pada orang tuanya, melainkan pada Lira selaku istri pertamanya. Hanya saja, saat ini ia bersikap masa bodoh. Toh menurutnya, dengan atau tanpa izin dari Lira, Reza akan tetap menikahi Anita meski itu dengan cara menikah sirih sekali pun, ia tak peduli.


Saat ini Reza sudah tak lagi memikirkan nasib perasaan Lira yang sudah pasti terluka dengan keinginannya untuk kembali menikah. Reza hanya ingin meraih kebahagiaannya yang sempat tertunda bersama orang yang ia cintai.


🌸🌸🌸🌸


Satu Minggu berlalu. Hari ini adalah hari terakhir bagi untuk bekerja di toko bunga. Sebelumnya, Lira telah bertemu Cempaka untuk berpamitan dan mengucapkan terima kasih karena telah bersedia menerimanya bekerja. Lira memberanikan diri untuk meraih tangan Cempaka lalu menyium punggung tangannya. Terbesit rasa haru di jati Cempaka saat Lira menyium tangannya. Ia masih belum rela jika Lira harus berhenti bekerja.


"Nyonya, saya mau mengucapkan terima kasih banyak karena nyonya sudah bersedia menerima saya bekerja di sini. Saya juga mau meminta maaf, jika selama bekerja di sini sikap saya kurang berkenan di hati nyonya. Maaf juga jika saya pernah berbuat salah pada nyonya." Ucap Lira dengan deraian air mata yang mengalir deras di pipinya.


Cempaka yang sejak tadi berusaha terlihat tegar dan kuat, akhirnya ikut menangis. Ia memeluk erat tubuh mungil Lira.


"Kamu jangan lupakan ibu, ya Lira. Jika suatu saat kamu kembali lagi ke sini, ibu harap kamu tidak sungkan untuk menemui ibu. Tempat ini selalu terbuka untukmu." Ucap Cempaka sambil mengusap lembut air mata Lira.


"Insya Allah, nyonya. Nyonya juga harus jaga kesehatan dan jangan lupa minum vitamin."


"Siap sayang. Kamu hati-hati ya. Maaf, ibu gak bisa anter kamu sampe depan. Tapi ibu harap, kamu jangan menolak pemberian ibu kali ini. Gunakan uang ini untuk kebutuhanmu dan calon anakmu." Cempaka memberikan amplop coklat yang cukup tebal, berisi uang lima juta rupiah pada Lira.


Lira merasa terharu sekaligus bersyukur, telah dipertemukan dengan orang baik seperti Cempaka. Wanita paruh baya dengan harta berlimpah, namun tak segan untuk berbaur dengan karyawannya yang berasal dari kalangan bawah.


Lira kembali memeluk Cempaka sebelum akhirnya ia berpamitan pada teman-temannya yang sudah menunggunya di luar. Saat keluar dari ruangan Cempaka, Lira langsung disambut tangis haru dari teman-temannya. Meski Lira belum lama bekerja bersama mereka, namun kebaikan serta sikap ramah Lira membuat mereka menyukainya. Mereka merasa sangat kehilangan Lira yang begitu baik dan ramah pada siapa saja.


"Lira mau ngucapin terima kasih banyak buat kalian semua. Terima kasih karena kalian udah mau jadi teman Lira, mau mengajari Lira banyak hal selama di sini. Maaf jika Lira punya salah dan tanpa sengaja sudah menyakiti hati kalian semua." Ucap Lira dengan tenang, meski air matanya terus saja mengalir. Ia harus tetap kuat dan tegar.


🌸🌸🌸🌸


Usai berpamitan pada Cempaka dan teman-teman kerjanya, kini Lira menemui Ambar di kliniknya. Lira ingin berpamitan kepada dokter cantik yang telah banyak menolongnya itu. Lira membawakan sebuket bunga yang ia rangkai sendiri khusus untuk Ambar. Lira memasuki klinik itu dengan senyum manis di wajahnya. Senyum yang menutupi ribuan luka di hatinya.

__ADS_1


Kedatangan Lira langsung disambut ramah oleh suster jaga yang memang sudah mengenalnya dengan baik.


"Permisi sus, saya bisa bertemu dengan Dokter Ambar?" Tanya Lira pada salah satu suster jaga.


"Boleh mbak. Karena Dokter Ambar sudah pesan ke saya, jika Mbak Lira datang ke sini, mbakq bisa langsung saja ke ruangan beliau. Jelas suster itu.


"Baiklah. Terima kasih banyak suster."


"Iya, sama-sama mbak."


Lira langsung berjalan menuju ruangan Ambar. Saat tiba di depan pintu ruang kerja Ambar, Lira mengatur nafasnya dan mengontrol perasaanya agar tak bersedih lagi seperti saat ia berpamitan pada Cempaka.


tok...tok....tok...


"Assalamu'alaykum! Dokter ini saya, Lira. Boleh saya masuk, dok?" Ucap Lira dari balik pintu.


"Wa'alaykumussalam, iya Lira masuk aja, gak dikunci kok." Sahut Ambar setengah berteriak.


Setelah mendapat sahutan dari Ambar, Lira segera masuk ke dalam. Ia melihat Ambar sedang sibuk melihat ke arah laptopnya.


"Ayo, silakan duduk Ra. Ada yang bisa aku bantu?" Tanya Ambar lembut.


"Maaf, Lira cuma bisa ngasih bunga ini ke dokter."


"Eh, gak papa. Aku malah seneng, kamu bawain bunga kesukaan aku." Ambar mengusap lembut tangan Lira yang berada di atas meja. "Tapi, kamu kok bisa tahu sih bunga kesukaan aku?" Lanjut Ambar sambil terus menyium wangi bunga yang berada di tanganya.


" Lira tahu dari Nyonya Cempaka, dok." Jawab Lira tersenyum malu.


Setelah cukup lama mereka berbincang-bingang, akhirnya Lira mengucapkan terima kasih dan maaf, sama seperti yang ia ucapkan saat berpamitan pada teman-temannya. Awalnya Ambar tak setuju, karena ia ingin terus memantau perkembangan janin Lira. Namun, setelah Lira menceritakan keinginannnya pulang kampung karena ingin merawat ibunya yang hanya tinggal seorang diri, terpaksa Ambar menyetujuinya.


Sebelum Lira pergi, Ambar memberinya vitamin penguat kandungan. Karena perjalanan yang ditempuh Lira nanti sangat jauh dan pastinya melelahkan serta akan memakan waktu yang cukup lama. Maka dari itu, Ambar memberinya vitamin, agar kandungan Lira tetap kuat.


🌸🌸🌸🌸


Setelah melewati drama perpisahan yang cukup menyedihkan, pukul 4 sore Lira tiba di rumah dan langsung masuk ke dalam kamar untuk merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Namun belum sempat Lira merebahkan tubuhnya, ia dikejutkan dengan bunyi bel yang berulang-ulang.


Lira keluar kamar menuju ruang tamu lalu membuka pintu. Alangkah terkejutnya Lira melihat wanita cantik yang pernah berjalan bersama Reza kini telah berdiri di depan pintu sambil tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


"Permisi mbak, Rezanya ada?" Tanya Anita dengan sopan.


"Ah, iya mbak. Tuan Reza ada di dalam, mari silakan masuk." Ajak Lira sopan dan tetap bersikap tenang di hadapan Anita.


Anita berjalan mengikuti Lira dari belakang, kemudian duduk di sofa dengan elegan.


"Tunggu sebentar ya mbak, saya panggilkan Tuan Reza nya." Ucap Lira lalu pergi menuju kamar Reza.


Perasaan Lira campur aduk antara sedih, kecewa dan marah. Dengan beraninya wanita itu datang ke rumah di saat mertuanya sedang tak ada. Namun, Lira hanya bisa pasrah tanpa berbuat apa-apa.


Saat hendak berjalan menuju tangga, Lira melihat Reza sudah lebih dulu turun ke bawah. Lira menundukkan wajahnya agar Reza tak dapat melihat kesedihan di yang terlihat jelas di matanya.


"Mau ke mana kamu?" Tanya Reza dingin saat ia sudah berada di depan Lira.


"Sa-saya mau ke panggil tuan di kamar, karena ada wanita yang mencari tuan." Jawab Lira dengan suara tercekat.


Reza mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan wanita yang tiba-tiba datang ke rumahnya. Untuk menghilangkan penasarannya, Reza langsung menuju ruang tamu. Reza terkejut melihat Anita sudah duduk santai di sofa sambil mengarahkan padangannya ke seluruh ruangan. Anita langsung tersenyum begitu melihat Reza mendekat padanya.


"Hay, sayang. Maaf aku gak bilang dulu ke kamu kalo aku mau ke sini." Ucap Anita lembut.


"Hay. Iya gak papa. Tapi nanti lain kali kamu kabarin aku dulu ya? Takutnya nanti mama sama papa tiba-tiba dateng, kan gawat."


"Iya, maaf. Eh, tadi yang bukain pintu itu pembantu baru kamu?" Tanya Anita.


"Iya, dia pembantu baru di sini." Jawab Reza santai tanpa merasa bersalah.


Tanpa mereka sadari, sejak tadi Lira sudah menyaksikan percakapan mereka. Hatinya hancur berkeping-keping setelah mendengar wanita lain memanggil suaminya dengan sebutan sayang. Ia juga tak menyangka jika suaminya akan mengenalkannya sebagai pembantu di depan wanita lain. Karena tak sanggup mendengar lebih jauh percakapan Reza dan Anita, Lira memilih masuk ke dalam kamarnya.


Hatinya begitu sakit dan terasa nyeri jika mengingat ucapan Reza. Lira mengelus perutnya dengan lembut.


"Dek, gak papa kan kalo bunda pergi tinggalin ayah di sini? Bunda udah gak kuat lagi hadapin sikap ayah. Dedek yang kuat ya, biar bunda juga bisa kuat. Insya Allah, bunda masih mampu hidupin dedek nanti. Selama bunda masih bernyawa, Insya Allah bunda akan terus berjuang. Dedek baik-baik ya, di perut bunda. Karena dedek sumber kekuatan bunda."


Lira mengusap perutnya sambil terus menangis. Tekadnya untuk pergi dari kehidupan Reza sudah bulat. Lira membersihkan dirinya, sebelum masuk waktu sholat Maghrib.


Usai sholat Isya, Lira mulai memasukan pakaiannya ke dalam tas lusuh miliknya. Agar esok pagi ia tinggal berpamitan pada Reza. Meski merasa sakit hati, ia tak lupa dengan kodratnya sebagai istri. Ia harus tetap berpamitan pada suaminya agar Allah tak melaknatnya karena telah keluar rumah tanpa izin suami.


🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2