Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 41


__ADS_3

Selamat membaca.........🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Tepat pukul sebelas malam, semua teman-teman Reza berpamitan untuk pulang, karena esok pagi mereka harus kembali ke rutinitas padat mereka masing-masing. Entah kapan momen berkumpul seperti ini akan kembali mereka rasakan.


Reza membangunkan Lira yang sudah tertidur pulas hanya untuk membereskan piring dan bekas teman-temannya. Lira yang masih sangat mengantuk, ditambah lagi tubuhnya terasa lelah dan kelaparan, terpaksa harus bangun agar Reza tak kembali berteriak marah padanya.


Lira membersihkan gelas, piring dan sampah bekas cemilan dari anak-anak yang ikut datang bersama orang tuanya. Saat sedang sibuk membereskan semuanya, Lira melihat ada satu kantung plastik berisi beberapa roti, susu kotak, dan beberapa cemilan di bawah meja. Lira berpikir mungkin itu milik dari salah satu teman Reza yang disiapkan untuk anaknya kemudian ketinggalan atau bisa juga sengaja di simpan di bawah meja lalu terlupa karena mereka keasikan cerita.


Lira memegang perutnya yang terasa lapar, lalu meraih kantung plastik putih bercampur biru dengan logo milik salah satu mini market terkenal di Indonesia itu sambil melirik, memastikan jika Reza tidak sedang mengawasinya. Lira memberekan semua pekerjaannya lalu mencuci semua gelas dan piring kotor. Setelah dirasa semuanya telah bersih, Lira membawa kantong plastik itu ke dalam kamarnya. Lira mengeluarkan semua makanan ringan itu lalu memakannya. Setidaknya, dengan adanya roti dan beberapa cemilan itu bisa sedikit mengurangi rasa lapar Lira.


Lira memasukan semua sampah bekas cemilan, roti, dan susu kotak ke dalam plastik hitam agar Reza tak melihatnya. Lira duduk bersandar pada dinding kamarnya, sedangkan kakinya di luruskan sambil mengelus perutnya yang sudah terisi makanan.


"Alhamdulillah, walaupun cuma makan roti dan cemilan, yang penting perut sudah terisi daripada gak sama sekali. Terima kasih ya Allah, atas segala nikmat ini." Gumam Lira bersyukur karena masih bisa makan meski itu bukan berupa nasi dan lauk.


Lira menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya kemudian ia merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah.


🌸🌸🌸🌸


Sudah seminggu ini, Lira merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Akhir-akhir ini ia sering merasa mual dan pusing. Terkadang tubuhnya juga jadi sering mudah lelah. Seperti pagi ini misalnya, Lira merasa perutnya sedang diaduk-aduk. Lira yang sedang mengepel lantai di ruang tengah langsung berlari menuju kamar mandi sambil menutup mulutnya.


uuweekkkk....uuuweekkk....


Lira terus saja muntah tapi tak ada satupun makanan yang ia muntahkan. Hanya cairan bening yang keluar hingga membuat wajahnya berkeringat dingin dan memucat serta tubuhnya menjadi lemah tak bertenaga.


Lira membasuh mulut dan wajahnya, kemudian ia menuju kamarnya untuk beristirahat sebelum melanjutkan pekerjaannya. Lira memejamkan matanya yang mulai terasa berat. Perlahan deru nafas Lira mulau tedengar teratur.


Dalam tidurnya, Lira bermimpi menggendong bayi mungil. Lira terus saja tersenyum memandang wajah bayi itu. Namun, Lira tak tahu bayi siapa yang sedang ia gendong. Tiba-tiba bayi mungil itu menangis, Lira langsung mendekap bayi itu dan menimangnya dengan penuh kasih sayang.


Sayangnya, mimpi Lira terpaksa harus terputus karena semburan air yang tiba-tiba saja menghantam wajahnya. Lira bangun dengan terbatuk-batuk, hidungnya terasa perih karena air yang masuk ke dalam hidungnya.


"Bagus banget ya kamu. Pekerjaan belum kelar, kamu udah enak-enak tidur sambil senyum-senyum." Ucap Reza setelah menyiram air bekas pel lantai ke wajah Lira sambil membanting ember yang ada di tangannya di hadapan Lira.


"Maaf tuan, tadi tiba-tiba perut saya mual terus kepala saya juga pusing, jadi saya istirahat dulu baru habis itu saya lanjut kerja lagi." Jelas Lira sambil mengusap wajahnya yang terkena air.


"Gak ada alasan. Sekarang kami bersihkan rumah dan gak boleh istirahat sebelum semuanya beres."


"Baik tuan." Jawabnya lirih.


Lagi-lagi Lira hanya bisa pasrah. Ia memaksakan tubuh lemahnya untuk membersihkan rumah. Setelah dirasa rumah telah bersih dan semua pekerjaannya telah selesai, Lira kembali beristirahat di kamarnya.

__ADS_1


Lira berniat kembali bekerja agar bisa menghasilkan uang untuk bisa membeli kebutuhannya sendiri. Usai sholat, Lira memberanikan diri untuk menemui Reza di kamarnya. Ia ingin meminta izin pada Reza untuk bekerja, apapun itu asalkan bisa menghasilkan uang dan tentunya halal.


🌸🌸🌸🌸


Lira berdiri tepat di depan pintu kamar Reza. Tiba-tiba jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Lira ingin mengetuk pintu berwarna coklat tua itu, namun nyalinya langsung menciut mengingat amarah Reza.


Tetapi, jika tak mencoba maka ia tak akan pernah tahu hasilnya nanti seperti apa. Lira kembali mengumpulkan nyalinya lalu ia mulai mengetuk pintu kamar Reza dengan pelan.


tok....tok....tok.....


"Tuan, apa anda di dalam?" Seru Lira dari balik pintu dengan sedikit kencang.


Reza mendengar suara ketukan pintu lalu disusul dengan suara Lira, langsung bangkit dari pembaringannya.


ceklek (suara pintu terbuka)


"Mau ngapain kamu ke sini, hmm?" Tanya Reza dengan wajah dingin sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku cenalanya.


"Maaf, saya sudah lancang mengganggu waktu istirahat tuan. Saya, emm...saya..mau, emm..mau itu tuan."


"Mau apa? Bicara yang jelas, jangan gagu." Bentak Reza kesal.


Lira terlonjak kaget mendengar suara bentakan Reza. "Sa-saya mau ijin bekerja tuan." Jawab Lira menunduk sambil terus meremas kedua tangannya.


"Apa saja tuan, asal tuan mengizinkan. Saya janji, sebelum pergi bekerja saya akan menyelesaikan pekerjaan saya di rumah." Jawab Lira sambil menahan sakit hatinya mendengar hinaan Reza padanya.


"Terserah." jawabnya malas.


"Terima kasih, tuan." Ucap Lira senang.


Reza menutup pintu kamarnya dengan cukup keras hingga membuat Lira terkejut lalu mengelus dada.


🌸🌸🌸🌸


Lira kembali ke kamarnya dengan tersenyum. Ia merasa sangat senang. Akhirnya, setelah beberapa bulan terkurung di dalam rumah mewah milik mertuanya, ia bisa keluar rumah. Lira mulai berpikir, ia akan mencari pekerjaan apa dan di mana? Ia terus.saja memutar otaknya.


Tak lama Lira tersenyum. Ia baru ingat jika di dekat rumah mertuanya, terdapat warteg kecil yang cukup laris. Lira berencana menawarkan diri di warteg itu untuk menjadi buruh cuci piring.


Lira mulai bersiap-siap untuk menuju warteg yang berada tak jauh dari kediaman mertuanya itu. Beruntung siang ini matahari tak begitu terik, jadi Lira tak terlalu merasa kepanasan. Lira mulai menyusuri jalan menuju warteg kecil itu. Lira berharap, semoga pemilik warteg itu mau menerimanya sebagai buruh cuci piringnya.


Setelah berjalan kaki selama hampir 15 menit, Lira tiba di depan warteg yang masih terlihat cukup ramai. Lira melihat sepasang suami istri yang tak lain adalah pemilik warteg sedang sibuk melayani pelanggannya. Lira duduk di salah satu bangku kayu yang berada di luar warteg untuk menunggu para pelanggan warteg berlenggang pergi.

__ADS_1


Cukup lama Lira menunggu, hingga akhirnya warteg itu benar-benat telah sepi. Kemudian Lira menghampiri pemilik warteg yang sedang mebereskan piring dan gelas bekas makan dari para pelanggannya.


"Permisi, bu." Ucap Lira sopan dan lembut.


"Iya, mau makan apa dek?" Tanya ibu pemilik warteg ramah.


"Maaf bu, saya bukan mau beli makanan. Saya ke sini mau melamar kerja sebagai buruh cuci piring." Jawab Lira masih sambil terus tersenyum.


Ibu itu memperhatikan penampilan Lira dari atas ke bawah dengan intens. Ibu itu merasa heran melihat Lira yang terlihat masih sangat muda tapi tidak malu bekerja sebagai buruh cuci piring di warteg kecil pinggir jalan.


"Kamu gak sekolah, dek?


"Enggak, bu. Saya udah lulus sekolah, jadi sekarang lagi nyari kerja."


"Emang kamu gak malu gitu, harus kerja jadi butuh cuci piring?"


"Insya Allah, gak kok nu. Ngapain mau? yang penting saya gak mencuri atau mengemis." Jawab Lira mantap.


"Ya udah, kebetulan sekali saya memang sedang mencari karyawan sebagai tukang cuci piring." Ibu terlihat senang karena memang ia sedang mencari karyawan untuk membantunya.


"Jadi, saya boleh kerja di sini bu?"


"Iya, boleh sekali dek." Jawab ibu itu tak kalah ramah.


"Terima kasih banyak ya, bu. Jadi, kapan saya mulai bekerja bu?" Tanya Lira antusias.


"Hari ini juga boleh. Nama adek siapa?"


"Nama saya, Lira."


"Kalo ibu, namanya Yati dan itu suami ibu namanya Daryanto, tapi biasa dipanggil Pak Yanto." Ucap Yati memperkenalkan dirinya dan suaminya. "oh ya, dek Lira kerjanya mulai dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore, plus jatah makan siang dan makan malam untuk dibawa pulang. Gajinya 35 ribu perhari dan akan langsung diberikan setiap selesai kerja." Jelas Yati panjang lebar dengan lembut dan senyum khas di wajahnya.


"Terima kasih banyak, bu. Insya Allah, saya akan bekerja dengan rajin."


Yati hanya membalasnya dengan senyuman.


🌸🌸🌸🌸


Bersambung.............


jangan lupa dukungannya ya...

__ADS_1


like, komen, dan vote seikhlasnya


terima kasih....😊


__ADS_2