
Selamat membaca.......🌹🌹🌹🌹
🌸🌸🌸🌸
Seperti sudah menjadi tradisi, usai makan malam bersama, pasti keluarga Martin akan kumpul di ruang keluarga untuk mengobrol hangat. Tapi malam ini terasa berbeda karena mereka tidak berkumpul di rumahnya, melainkan di rumah orang tua Lira. Kehangatan sangat terasa dengan adanya Inas, si balita menggemaskan yang tentu saja selalu membuat ayah serta kakek dan kedua neneknya menjadi gemas karena tingkah lucunya.
Tak hanya itu saja, kehadiran dua asisten rumah yang sudah Indah anggap sebagai anak sendiri juga ikut duduk di tengah-tengak mereka. Meski di awal keduanya merasa canggung dan masih malu-malu, tapi karena kebaikan dan keramahan Lira serta keluarganya, membuat kedua asisten itu langsung menjadi nyaman. Lira tak segan-segan untuk bertanya mengenai sekolah dan cita-cita kedua asisten yang sudah ia angkat menjadi adiknya itu.
Obrolan hangat mereka mendadak berhenti karena Inas tiba-tiba saja menjerit kegirangan saat memainkan boneka kelinci dan panda yang berukuran besar sambil sesekali ia memamerkan kedua benekanya kepada kedua adik angkat ibunya yaitu Ria dan Leni. Tingkah Inas yang lucu itu sontak saja membuat semua yang ada di ruangan itu menjadi tertawa karena ulah si balita menggemaskan itu.
Di saat semua sudah berhenti tertawa dan suasana kembali hening, hanya suara Inas yang terdengar berceloteh, Reza langsung memecah keheningan dengan berdehem cukup kencang hingga semua yang ada di ruangan itu langsung mengarahkan pandangan kepadanya sambil mengerutkan kening mereka.
"Ehem! Besok pagi setelah sarapan, aku mau ajak kalian semua pergi ke suatu tempat. Jadi setelah sarapan, kita udah siap-siap ya." Ucap Reza yang langsung mendapat tatapan bingung dari merua serta istrinya yang duduk tepat di sebelah kirinya.
"Kita mau ke mana, mas?" Tanya Lira.
Belum sempat Reza menjawab, Indah sudah ikut menimpali. "Iya, sebenarnya Nak Reza mau ajak kita kemana?"
Reza hanya tersenyum saat melihat wajah penasaran istri dan mertuanya yang menurutnya itu sangat lucu. "Sayang dan ibu tunggu aja besok, ya." Jawab Reza santai.
Sementara kedua orang tua Reza sudah mengetahui rencana putranya karena sebelumnya, Reza telah meminta saran dari mereka.
🌸🌸🌸🌸
Pagi-pagi sekali sesuai janjinya tadi malam, Reza mengajak keluarganya menuju ke suatu tempat yang akan menjadi kejutan berikutnya untuk Indah dan Lira. Sejak malam hingga subuh, Lira terus merengek pada Reza untuk memberitahukan kemana mereka akan pergi. Namun, Reza tetap saja tak menjawabnya. Ia justru mengerjai istrinya dengan berpura-pura akan mengajak mereka ke suatu tempat yang berbahaya. Mendengar hal itu, Lira menjadi takut dan memilih diam tak lagi bertanya.
Mereka telah bersiap-siap untuk berangkat menuju tempat tujuan dengan sopiri oleh Jono. Sebelumnya usai mengantar Reza beserta keluarganya ke rumah Indah, Jono memilih bermalam di rumah salah satu kerabatnya yang bersebelahan dengan kampung Lira. Kemudian ia kembali lagi ketika selesai sholat subuh, karena sesuai keinginan Reza yang memintanya untuk mengantarnya ke suatu tempat.
Reza beserta keluarganya telah duduk manis di dalam mobil. Sedangkan kedua adik angkat Lira, diminta untuk menjaga rumah karena hari itu kebetulan bertepatan dengan hari Minggu.
__ADS_1
Sekitar lima menit mereka telah tiba di sebuah pemakaman umum yang letaknya tak jauh dari rumah Lira, dan Lira belum menyadari hal itu karena ia sedang sibuk menenangkan Inas yang tiba-tiba rewel.
Sebenarnya mereka bisa saja pergi dengan berjalan kaki, tapi Reza sengaja memilih naik mobil dengan alasan tak ingin anaknya merasa kepanasan saat pulang nanti. Apalagi pagi itu cuaca sangat cerah, jadi bisa saja matahari akan terik menjelang siang nanti. Berlebihan memang, tapi itulah Reza. Rasa sayangnya pada putri kecilnya melebihi apapun.
"Kita udah sampe. Ayo, sayang." Reza mengambil alih Inas dari pangkuan Lira lalu menggendongnya keluar dari mobil.
Saat turun dari mobil, Lira dan Indah saling menatap dengan perasaan yang sulit diartikan. Kemudian Lira menatap suamiya seolah meminta penjelasan. Namun, Reza masih enggan untuk menjawab.
Sambil menggendong Inas di tangan kanannya, sedangkan di tangan kirinya, Reza menuntun tangan istrinya untuk berjalan dan disusul oleh orang tua mereka di belakang, menuju ke sebuah makam yang berada di bawah pohon kamboja. Langkah Lira menjadi berat saat tahu makan siapa yang akan mereka kunjungi.
Mata Lira langsung berkaca-kaca ketika berjongkok di sebelah makam ayahnya dan membaca nama yang tertulis di batu nisan yang terukir indah di sana. Batu nisan yang dulu terbuat dari kayu dan mulai lapuk terkena hujan panas, kini telah berganti menjadi batu nisan yang terukir indah di sebuah keramik berwarna hitam dengan tulisan putih di atasnya.
Ahmad Yusuf, itulah nama ayah Lira. Lelaki yang menjadi cinta pertama Lira di kala kecil hingga remaja. Lelaki yang selalu berusaha keras untuk membahagiakan keluarga kecilnya, meski hingga di akhir hayatnya apa yang menjadi cita-cita tidak tercapai karena ajal telah lebih dulu menjemputnya. Meninggalkan istri dan anaknya yang masih sangat membutuhkan kehadirannya sebagai pelindungnya. Tapi satu yang pasti, ayah Lira berhasil mendidik Lira menjadi wanita tangguh dan penyabar. Terbukti dari banyaknya ujian hidup yang Lira jalani, semua sanggup ia hadapi.
Kini di saat Lira telah mencapai kebahagiaan yang telah lama diimpikan, ayahnya tak berada di dekatnya untuk ikut menyaksikan dan merasakan kebahagiaan yang tengah Lira rasakan. Hanya doa yang bisa Lira sedekahkan untuk ayahnya.
Reza ikut berjongkok di sebelah istrinya dengan memangku Inas sambil merangkul bahu Lira untuk memberikannya kekuatan. Reza merasakan bahu Lira bergetar, Reza langsung mendekap Lira ke dalam pelukannya. Reza ikut merasakan kesedihan seperti apa yang sedang Lira rasakan karena Reza juga pernah berada di posisi Lira. Meski saat itu usia Reza masih sangat kecil dan belum paham tentang arti kehilangan, tapi Reza merasakan kehilangan yang sangat besar dalam hidupnya. Beruntung Irma hadir dalam hidup Reza untuk memberikan kasih sayang padanya tanpa harus menggeser posisi dari ibu kandung Reza.
"Iya, mas. Terima kasih."
Tepat di depan Lira, ada Indah yang juga ikut berjongkok bersama kedua besannya, Irma dan Martin. Indah mengusap lembut nisan suaminya yang telah lama meninggalkannya bersama sejuta kenangan mereka. Air mata Indah sudah kering. Ia sudah tak bisa lagi menangisi kekasih hatinya yang telah lebih dulu pergi menghadap sang pencipta.
Mereka semua duduk di samping makam ayah Lira yang nampak terawat dan mendoakannya. Reza mendoakan mertua lelakinya agar tenang dan mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.
🌸🌸🌸🌸
Matahari perlahan mulai memancarkan kehangatannya. Reza mengajak istri serta orang tuanya untuk kembali ke rumahnya karena sore nanti mereka akan menyambut tetangganya yang telah ia undang untuk makan bersama usai sholat Isya nanti. Reza sengaja memundurkan waktu acara yang tadinya akan dimulai setelah sholat ashar, bergeser menjadi setelah sholat isya, agar mereka bisa sekalian makan malam bersama.
Setibanya di rumah, mereka semua kembali berkumpul di ruang keluarga. Lira mendekati Reza lalu tanpa malu ia memeluk erat tubuh suaminya di depan ibu serta kedua mertuanya.
__ADS_1
"Mas, terima kasihuntuk semuanya." Ucap Lira dengan suara serak.
Reza membalas pelukan istrinya sambil mengusap pelan punggungnya. "Terima kasih untuk apa sayang? Harusnya mas yang berterima kasih pada sayang juga ibu."
"Gak mau, pokoknya Lira tetap berterima kasih karena mas udah gantiin nisan ayah." Balas Lira dengan manja.
"Iya sayang, sama-sama. Udah dong, jangan nangis lagi. Malu sama dedek." Goda Reza sambil melirik ke arah putrinya yang sedang duduk di pangkuan kakeknya.
"Iihh, mas. Orang lagi serius juga." Ucap Lira cemberut lalu melepas pelukannya. "Tapi, kok mas bisa tahu makam ayah? Terus, mas kok bisa tahu kalo kuburan gak boleh lebih dari sejengkal?" Tanya Lira dengan wajah penasaran.
Reza hanya terkekeh geli mendengar pertanyaan istrinya. Reza sudah menduga, pasti istrinya akan menanyakan hal ini.
"Soal makam ayah, itu mas tanya ke Pak RT waktu mas merenovasi rumah ibu. Sebelum mas ganti nisan ayah, mas juga udah lebih dulu tanya ke ustadz soal itu. Alhamdulillah, mas udah paham kalo ternyata kuburan gak boleh di semen atau di keramik. Dalilnya seperti ini.
Dari Abul Hayyaj Al Asadi, ia berkata, “‘Ali bin Abi Tholib berkata kepadaku, “Sungguh aku mengutusmu dengan sesuatu yang Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah mengutusku dengan perintah tersebut. Yaitu jangan engkau biarkan patung (gambar) melainkan engkau musnahkan dan jangan biarkan kubur tinggi dari tanah melainkan engkau ratakan.” (HR. Muslim no. 969).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memberi semen pada kubur, duduk di atas kubur dan memberi bangunan di atas kubur.” (HR. Muslim no. 970).
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Yang sesuai ajaran Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– kubur itu tidak ditinggikan dari atas tanah, yang dibolehkan hanyalah meninggikan satu jengkal dan hampir dilihat rata dengan tanah. Inilah pendapat dalam madzbab Syafi’i dan yang sepahaman dengannya.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 35).
Imam Nawawi di tempat lain mengatakan, “Terlarang memberikan semen pada kubur, dilarang mendirikan bangunan di atasnya dan haram duduk di atas kubur. Inilah pendapat ulama Syafi’i dan mayoritas ulama.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 37).
"Seperti itu, sayang." Jawab Reza.
Lira langsung memandang wajah Reza dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tak menyangka, ternyata suaminya sudah belajar sampai ke tahap itu.
"Masya Allah. Terima kasih atas kebaikanmu ya Allah." Batin Lira.
Indah, Martin serta Irma juga merasa terharu melihat perubahan besar yang terjadi pada diri Reza. Tentu perubahan itu tak lain adalah kehendak Allah. Sedangkan sebagai istri, Lira hanya membantunya lewat doa.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸
Bersambung......😊