Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 89


__ADS_3

Selamat membaca......🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Baru beberapa langkah Reza dan Lira pergi meninggalkan tenda milik Ita yang sudah berhasil memporak-porandakan hati Reza karena telah membuka kisah pilu kehidupan Lira. Kini langkah mereka harus terhenti karena nama Lira kembali dipanggil oleh seorang pria.


"Lira." Panggilnya dengan suara lembut.


Lelaki itu tak menyangka bisa bertemu kembali dengan wanita yang sudah berhasil mencuri hatinya selama beberapa tahun ini.


"Aa Aldi." Lira sedikit terkejut saat melihat kakak kelasnya ketika SMA dulu.


"Lira, apa kabar?" Tanya Aldi dengan senyum manis yang terukir di wajahnya.


"Alhamdulillah, Lira baik." Jawab Lira sopan. "Aa, ngapain di sini? Terus sejak kapan Aa balik kampung? Kuliahnya aa gimana?"


Ya, lelaki itu adalah Aldi. Mahasiswa teknik sipil tingkat akhir di salah satu kampus swasta di Jakarta. Dulu Aldi pernah berjanji jika lulus kuliah nanti, ia akan melamar Lira untuk menjadikannya sebagai istri. Aldi sudah menyusun berbagai impiannya bersama Lira. Jika nanti ia menikahi Lira, Aldi akan membawa Lira ikut bersamanya ke Jakarta.


Aldi juga merupakan anak dari salah satu orang terpandang di kampung Lira karena orang tua Aldi memiliki usaha perkebunan teh. Jadi tidak heran jika hidup Aldi begitu terjamin.


Awal pertemuan mereka ketika Lira duduk di bangku kelas satu SMA dan Aldi kelas 2. Aldi merupakan siswa baru pindahan dari Jakarta yang sengaja dipindahkan oleh orang tuanya untuk menemani kakek dan neneknya tinggal di kampung yang sama dengan Lira.


Sejak melihat Lira menjajakan jualannya di kantin sekolah tanpa ada rasa malu atau gengsi sedikit pun, Aldi langsung jatuh hati padanya. Pembawaan Lira yang kalem dan sopan membuat Aldi menjadi terkesima. Aldi bahkan selalu rutin membeli kue basah Lira dalam jumlah banyak. Tak jarang juga Aldi sering memborong jualan Lira yang masih tersisa banyak lalu dibagikan kepada teman-teman jelasnya. Itu pun ia lakukan tanpa sepengatahuan Lira karena Aldi sengaja meminta pada salah satu teman kelasnya untuk membeli kue Lira.


Selalu bertemu Aldi di kantin yang rutin membeli jualannya, membuat Lira menjadi cukup mengenalnya. Namun, Lira tetap menjaga jarak tak ingin terlalu dekat dengan Aldi yang bukan mahramnya.


Lira akan tersenyum bahagia saat melihat kue basah miliknya telah laku terjual, dan di situlah Aldi ikut merasa bahagia karena bisa melihat senyum manis milik Lira. Aldi juga sangat merasa bahagia karena bisa membantu wanita yang ia cintai dalam diam itu bisa tersenyum.


Namun, Aldi tak berani mengungkapkan perasaanya pada Lira hingga ia lulus SMA. Ia memilih memendam perasaanya karena ia tahu, Lira bukanlah wanita yang mau dekat dengan lelaki yang bukan mahramnya. Aldi hanya bisa berdoa, semoga kelak Tuhan akan menyatukannya bersama Lira dalam ikatan yang suci.


"Kamu kok sekarang jadi bawel sih." Aldi terkekeh mendengar deretan pertanyaan Lira padanya. "Aku nemenin mama belanja." Jawabnya sambil menunjuk ke arah ibunya yang sedang berbelanja sembako. "Karena aku lagi libur kuliah, jadi aku main deh ke sini pagi tadi bareng orang tuaku. Rencananya aku mau main ke rumah kamu sore nanti, boleh? Tanya Aldi penuh harap.


Reza yang berdiri tak jauh dari Lira langsung mengeraskan rahang saat melihat lelaki muda dan tampan mendekati istrinya. Reza bisa melihat jelas ada rasa rindu di mata Aldi.


"Ehem, sayang. Masih lama gak?" Tanya Reza yang sedang menggendong Inas lalu merangkul bahu Lira tepat di depan Aldi.


"Eh, iya mas." Jawab Lira. "A' kenalin, ini suami dan anak Lira." Ucap Lira sambil tersenyum.


Seperti tersambar petir, Aldi diam membisu. Tubuhnya menjadi tegang dan kaku. Ia berharap ini hanyalah mimpi buruk di siang hari. Wanita pujaannya tak mungkin sudah menikah dan sudah menjadi milik orang lain. Ini pasti cuma mimpikan? Batin Aldi.

__ADS_1


Dengan bangga Reza mengulurkan tangannya dan Aldi menerima uluran tangan Reza dengan perasaan terluka. Reza dapat melihat tatapan itu, tapi tak ambil pusing. Toh, sudah jelas ia lah pemenangnya.


"Reza, SU-A-MI Lira." Reza sengaja menekan kata suami, seolah ingin mengingatkan pada lelaki muda dan tampan di hadapannya itu jika Lira adalah miliknya.


Aldi hanya tersenyum kecut mendengar Reza mengucapkan kata suami. "Aldi, senior Lira waktu SMA."


"Ya udah, kalo gitu kami duluan ya a'. Masih ada urusan. Kalo a' Aldi mau main ke rumah, boleh kok. Iya kan, mas?"


"Boleh, sayang. Boleh banget." Jawab Reza dengan senyum paksa.


"Kami permisi ya. Assalamu'alaykum." Ucap Lira kemudian pergi meninggalkan Aldi yang masih mematung dengan wajah terluka.


"I-iya, wa'alaykumussalam." Jawab Aldi sambil meremas dadanya yang terasa nyeri.


Pupus sudah harapan Aldi untuk bisa bersanding dengan wanita yang sudah beberapa tahun ini singgah di hatinya. Lira yang dulunya selalu menjadi penyemangat Aldi ketika menjalani kuliah, kini telah menjadi milik orang lain. Kesalahan terbesar Aldi adalah ia tak pernah mengungkapkan perasaannya pada Lira. Ia hanya selalu meminta pada Tuhan untuk selalu menjaga hatinya yang sudah terpaut pada satu nama yaitu Lira. Kini Aldi hanya bisa mencoba mengikhlaskan apa yang telah lepas darinya.


"Insya Allah, aku akan ikhlas Ra. Jika kamu bahagia, aku juga akan bahagia." Gumam Aldi sambil terus memandang punggung Lira yang semakin menjauh dari pandangannya.


🌸🌸🌸🌸


Sejak pertemuannya dengan Aldi, Reza langsung berubah menjadi pendiam. Biasanya Reza akan menanggapi ocehan lucu putrinya, kini ia hanya diam dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Mas, ada apa?" Tanya Lira saat mereka sudah berada di dalam mobil menuju rumah Nur.


"Gak papa." Jawab Reza ketus.


"Mas capek, ya? Maaf ya, karena Lira, mas jadi kecapean kayak gini." Ucap Lira penuh sesal.


"Hmmm." Reza hanya berdehem tanpa menoleh ke arah Lira.


Melihat Reza yang berubah menjadi dingin, membuat Lira menjadi takut. Ia mulai cemas jika Reza akan kembali seperti dulu.


Tiba di rumah Nur, mereka langsung disambut baik oleh Nur beserta suami dan anak-anaknya. Terlihat jelas wajah bahagia anak-anak Nur saat melihat mobil pick up yang berisi banyak bahan makanan berada di depan rumah mereka.


Lira dan Reza masuk ke dalam rumah Nur lalu memberikan kantung plastik yang berisi pakaian untuk ketiga anak Nur. Saking bahagianya, anak-anak Nur sampai bertepuk tangan. Bahkan mereka sudah tak sabar untuk mencoba baju baru yang dibelikan Lira.


"Terima kasih banyak ya Non Lira, Den Reza." Ucap Nur dengan tulus saat beberapa orang selesai membawa masuk bahan makan ke rumahnya.


"Iya bu, sama-sama." Jawab Lira lembut. "Oh iya, rencananya nanti kami akan membawa bapak untuk berobat ke rumah sakit, supaya bapak bisa langsung ditangani oleh dokter." Lanjut Lira tanpa memberitahukan niat mertuanya yang berencana mencarikan rumah baru untuk keluarga Nur tinggal. Biarlah itu menjadi kejutan untuk mereka nanti.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Nur dan suaminya langsung sujud syukur. Betapa beruntungnya mereka bisa bertemu dengan orang sebaik Lira dan Reza.


Kemudian Lira dan Reza berpamitan pulang karena tak lama lagi waktu sholat dhuhur akan tiba dan Inas juga sudah mulai rewel karena mengantuk. Tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada Reza dan Lira.


🌸🌸🌸🌸


Saat tiba di rumah, Reza lebih dulu masuk sambil menggendong Inas yang sudah tertidur usai diberi ASI. Reza masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan Lira sudah tertinggal jauh di belakangnya.


"Reza, kamu kok sendirian? Lira ke mana?" Tanya Irma yang sedang duduk di ruang keluarga bersama Martin dan Indah.


"Masih di belakang, ma. Reza duluan karena dedek udah ngantuk." Jawab Reza beralasan karena ia tak ingin ketiga orang tuanya merasa curiga melihat perubahan sikapnya. "Reza ke kamar dulu ya." Pamitnya.


"Za, nanti papa tunggu kamu di ruang tamu ya. Kita pergi ke masjid sama-sama." Ucap Martin.


"Iya, pa."


Tiba di kamar, Reza langsung meletakan Inas di atas tempat tidur kemudian mengambil handuk dan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa gerah dan lengket.


Lira masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan takut. Ia melihat putrinya sudah tertidur pulas di atas tempat tidur sambil memeluk bonekanya. Lira tak mendapati Reza di dalam kamar. Tak lama ia mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi.


"Ternyata Mas Reza sedang mandi." Gumam Lira


Lira membuka jilbabnya lalu mengutip pakaian Reza yang berceceran di atas lantai dan menaruhnya ke dalam keranjang pakaian. Setelah 15 menit berada di kamar mandi, Reza keluar dengan rambut yang masih basah. Lira mengambil handuk kecil di lemari lalu mendekati Reza.


"Mas, sini Lira bantu keringin rambutnya." Tawar Lira.


"Gak usah." Jawab Reza dingin.


Lira menjadi gemetar ketakutan. Ia memilih ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena tinggal beberapa menit lagi akan masuk waktu sholat dhuhur.


🌸🌸🌸🌸


Bersambung.....


plis jangan hujat Mas Reza, ya. Di punya alasan kok kenapa dia bersikap dingin ke Lira.


Tetap tunggu kelanjutannya ya...


Lupa juga untuk selalu mendukung author dengan memberikan like, komen positif dan vote seikhlasnya.

__ADS_1


TERIMA KASIH😊


__ADS_2