Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 139


__ADS_3

Selamat membaca.........🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


"Tidaklah seorang muslim terkena musibah, kemudian mengucapkan kalimat yang telah di perintahkan oleh Allah Ta’ala dalam (kitabNya) yaitu mengucapkan “inaa lillahi wa inaa ilahi roji’un”, Ya Allah berilah pahala pada musibah yang menimpaku, dan berilah ganti darinya yang lebih baik, melainkan Allah pasti akan menggantinya yang lebih baik darinya”.


(HR. Muslim).


🌸🌸🌸🌸


Saat ini, Reza sedang baring bersama Lira di ranjang pasien dengan posisi Lira yang berada dalam pelukan hangat sang suami. Reza mengusap lembut kepala Lira dengan penuh kasih sayang dan penyesalan. Lagi-lagi ia telah melanggar janjinya untuk tak lagi menyakiti sang istri. Reza menyesali perbuatannya yang lepas kendali dalam bersikap dan bertutur kata. Namun, setelah semua yang telah ia lakukan, Lira masih saja memaafkannya.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan oleh sang putri tercinta, Reza pun berniat menceritakan semua beban pikirannya agar ia lebih tenang. Namun sebelum Reza bercerita, Lira telah lebih dulu bertanya.


"Mas, Lira boleh nanya gak?" Tanya Lira ragu-ragu.


Reza tersenyum menatap sang istri yang terlihat jelas keraguan di wajah pucatnya saat bertanya. Tak ingin membuat istrinya kembali takut padanya, Reza pun menjawabnya dengan lembut diserta usapan di kepala istrinya sebagai tanda agar jangan ragu untuk bertanya apapun padanya.


"Boleh, sayang mau nanya apa."


"Hmmm, mas kok akhir-akhir ini keliatan kayak lagi mikirin sesuatu. Mas lagi ada masalah?"


"Iya, sayang. Sebenarnya mas lagi ada masalah. Tapi mas gak tahu gimana caranya buat nyeritain semuanya ke sayang."


"Cerita aja, mas. Siapa tahu Lira bisa bantu. Atau paling gak, dengan mas cerita ke Lira, beban yang ada di hati mas bisa sedikit berkurang."


"Oke! Mas bakal cerita, tapi sayang janji gak boleh marah apalagi sampe ninggalin mas." Ucap Reza serius.


"Insya Allah, Lira janji gak akan marah." Sahut Lira sambil tersenyum teduh.


Jawaban Lira tak bisa membuat Reza bernafas lega, sebelum ia melihat reaksi sang istri. Namun, Reza tetap harus menceritakan semuanya agar tak ada lagi hal ia sembunyikan dan membuat rumah tangganya terancam.


"Sebenarnya mas punya masalah sama salah satu klien. Bukan lebih ke masalah sih, cuma permintaannya itu yang bikin mas jadi kepikiran terus."


"Permintaan apa, mas?"


"Permintaan yang...."


Flashback on


Reza memasuki sebuah restoran, diikuti Arman dari belakang lalu menuju sebuah ruangan pribadi yang sudah dipesan lebih dulu oleh Arman, sebagai tempat mereka bertemu. Reza melihat dua orang pria kira-kira seusianya yang merupakan pemilik perusahaan yang akan bekerja sama dengannya telah duduk dengan tenang ditemani oleh sekretaris pribadinya masih terlihat sangat muda.


"Selamat malam, Pak Edi Priyanto." Sapa Reza sopan sambil mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Edi.


"Selamat malam Pak Reza Mahardika." Edi menyambut Reza dengan senyum ramah.

__ADS_1


Usai berbasa-basi, mereka langsung membahas kerja sama yang akan disepakati bersama dalam bidang pengadaan alat-alat medis yang lebih canggih dan sudah teruji aman tentunya. Sebagai sekretaris, Arman bertugas menyatat poin-poin penting.


Pembahasan proyek pun selesai dengan hasil mencapai kesepatakan yang cukup memuasakan, kemudian ditutup dengan makan malan bersama sambil sesekali diselingi tawa canda. Tak ada lagi kecanggungan di antara mereka, karena Edi sendiri yang meminta pada Reza untuk lebih bersikap santai agar mereka menjadi terkesan lebih akrab.


Di sela-sela makan, mereka banyak membahas tentang pengalaman hidup mereka masing-masing. Sedangkan Arman dan asisten Edi, hanya menikmati makanannya sambil menjadi pendengar yang baik tanpa mau ikut bergabung di antara kedua pria yang terlihat begitu menikmati kedekatan yang baru saja terjalin itu.


Usai makan bersama, Edi meminta Reza untuk berbicara pribadi, tanpa diminta pun Arman dan skeretaris Edi langsung mengerti dan memilih meninggalkan kedua bos besar itu.


"Apa yang ingin anda bicarakan? Keliatannya penting sekali." Tanya Reza dengan wajah bingung, namun tetap terlihat ramah.


"Santai lah. Jangan tegang begitu." Gurau Edi mencairkan suasana. "Sebenarnya ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada Mas Reza dan mungkin ini lebih terkesan meminta tolong."


Wajah Edi terlihat muram disertai helaan nafas berat, menandakan beratnya beban yang sedang ia pikirkan.


"Meminta tolong apa? Kalau saya bisa bantu, insya Allah pasti akan saya bantu."


Edi berlafas lega. Setidaknya, ia masih punya sedikit harapan. Meski ia belum tahu pasti, seperti apa reaksi Reza setelah mendengar permintaannya.


"Apa Mas Reza masih ingat dengan wanita yang bernama Anita, yang memiliki satu anak laki-laki bernama Farel?" Tanya Edi ragu-ragu.


Reza tentu terkejut mendengar nama wanita yang selama beberapa tahun pernah singgah di hatinya dan bahkan secara tak sadar, hampir saja menjadi wanita penyebab rumah tangga Reza dan Lira hancur. Meski akhirnya, Anita mengetahui fakta yang sebenarnya tentang status Reza dan berhasil menyadarkan kebodohan Reza yang telah menelantarkan istrinya. Namun, tetap saja perbuatan mereka tak dapat dibenarkan.


Reza terkejut, namun beberapa saat kemudian ia bisa mengendalikan ekspresi di wajahnya, menjadi normal kembali. Bukan karena Reza masih menyimpan rasa cinta pada Anita, hanya saja ia penasaran hubungan di antara Edi dan Anita.


"Dia istri saya."


Lagi-lagi Reza dibuat terkejut atas pernyataan Edi. Namun, Reza masih menerka-nerka tentang apa yang ingin Edi sampaikan padanya.


"Maaf sebelumnya, bukan maksud saya untuk bersikap lancang. Sebelumnya, saya sudah mencari tahu tentang masa lalu istri saya dan saya mendapat informasi, bahwa Mas Reza adalah salah satu orang yang pernah menjalani hubungan serius dengan istri saya."


"Iya! Tapi itu dulu, sebelum saya menikah." Sangkal Reza.


"Benarkah? Setahu saya, setelah Mas Reza menikah pun, kalian masih menjalin hubungan serius dan bahkan hampir saja menikah. Bukan begitu?" Senyum yang penuh arti pun terbit di bibir Edi saat melihat wajah tegang Reza.


"Saya akui kesalahan fatal yang pernah kami lakukan. Tapi setelah kejadian malam di mana Anita menyadarkan saya betapa berartinya istri saya. Sejak saat itu juga, hubungan kami pun berakhir."


"Maka dari itu, saya tak ragu untuk meminta tolong pada Mas Reza untuk menjaga istri saya."


"Maksud Mas Edi apa?" Tanya Reza bingung.


"Saya ingin, Mas Reza menjaga istri saya di saat saya telah tiada. Karena hanya Mas Reza yang saya percayai sekarang.


"Maaf, saya tidak bisa." Jawab Reza tegas dengan wajah menahan amarah.


Reza langsung berdiri begitu saja meninggalkan Edi. Namun sebelum ia meraih gagang pintu, langkahnya terhenti saat mendengar peryataan Edi yang begitu mengejutkan.

__ADS_1


"Saya divonis kanker hati stadium akhir dan kata dokter, waktu saya tidak lama lagi."


Reza pun menoleh. Ia tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. Mengidap kanker hati? mana mungkin? Tubuhnya terlihat bugar dan tak terlihat seperti orang sakit. Batin Reza.


"Saya mohon pada Mas Reza untuk mewujudkan keinginan terakhir saya. Anak-anak saya masih kecil-kecil. Mereka masih membutuhka kasih sayang dari seorang ayah." Ucap Edi lirih.


"Tapi tidak dengan mengorbankan rumah tangga saya." Jawab Reza tegas.


"Saya tahu. Tapi saya tidak punya pilihan lain. Karena setahu saya, Farel pernah dekat dengan anda dan pernah menganggap Mas Reza sebagai papinya."


"Itu dulu. Sebelum saya menyadari kesalahan fatal yang pernah saya lakukan. Sekarang saya sudah bahagia dengan keluarga kecil saya. Jadi saya mohon, anda jangan mencoba untuk merusak semua yang sudah saya bangun dengan susah payah."


Kilatan marah di mata Reza terlihat sangat jelas dan begitu menakutkan. Hal sempat membuat nyali Edi sedikir menciut. Namun, tak juga mengurunkan niatnya untuk berbicara pada Reza. Sudah lama ia ingin bertemu dengan Reza, jadi saat perusahannya mengajukan kerja sama dan disetujui oleh pihak Reza, dari situlah Edi memanfaatkan kesempatan emas itu.


Cukup lama mereka saling diam dengan pikiran masing-masing. Reza tetap pada pendiriannya yang tak ingin mengambil resiko dengan menerima Anita kembali masuk dalam kehidupannya dan beresiko besar pada rumah tangganya. Sementara Edi, tetap pada tekadnya yang ingin istri dan anak-anaknya tetap dalam perlindungan orang yang tepat. Egois memang, namun menurut Edi, inilah pilihan yang tepat, meski harus mengorbankan perasaan orang lain.


"Saya mohon. Penuhi permintaan terakhir saya. Memang permintaan saya terdengar egois, tapi saya tidak punya pilihan lain. Saya percaya pada Mas Reza. Saya yakin, Mas Reza bisa menjaga istri dan anak-anak saya dengan baik."


"Kenapa anda tidak mencoba untuk berobat? Sekarang sudah banyak cara untuk sembuh. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, selama kita mau berusaha."


"Saya sudah berobat sejak beberapa tahun yang lalu.Tapi hasilnya tetap mengecewakan."


Edi menunduk pasrah. Tak ada lagi senyum yang sejak tadi ia ulaskan di depan Reza. Kini yang tersisa, hanyalah keputusasaan dan ketakutan. Ya, Edi sangat takut meninggalkan keluarga kecilnya sebelum ada yang menjaga mereka. Jika Edi tak berhasil meyakinkan Reza, maka tak ada pilihan lain, selain menghubungi mantan suami Anita.


Sebelumnya, Edi juga telah mencari tahu tentang mantan suami Anita. Hanya saja, Edi tak begitu yakin padanya. Mengingat rekam jejak yang ditorehkan pada Anita dan Farel, cukup menyakitkan.


"Saya tidak tahu harus berkata apa lagi. Tapi, saya tetap pada pendirian saya untuk tidak menerima permintaan anda. Maaf, saya harus pergi. Saya doakan, semoga anda segera sembuh. Perbanyaklah memohon kesembuhan dan ampunan pada Allah. Karena sakit yang anda derita saat ini, bisa menjadi penggugur atas dosa-dosa yang anda lakukan selama ini."


"Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya”. (HR. Bukhari)


 “Dan sesungguhnya kami telah mengutus (para Rasul) kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.” (QS Al-An'am:42)


Usai mengatakan hal itu, Reza benar-benar pergi meninggalkan Edi yang masih mematung, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Saat Reza keluar ruangan, tak lama kemudian terdengar suara pecahan gelas yang begitu kencang. Sekretaris Edi dengan segera masuk ke dalam ruangan dan benar saja, ia mendapati Edi telah tergeletak tak sadarkan diri di lantai. Dengan sigap ia langsung berlari keluar sambil berteriak meminta pertolongan. Reza dan Arman yang masih berada di dalam restoran pun menghentikan langkah mereka saat mendengar suara teriakan minta tolong yang begitu kencang.


Reza menoleh ke sumber suara, seketika itu juga tubuh Reza langsung menegang. Reza segera berlari dan disusul Arman, menuju ruangan di mana Edi berada. Reza melihat Edi telah pingsan. Ia pun meminta Arman untuk membantunya mengangkat Edi menuju mobil dan membawanya ke rumah sakit milik keluarganya yang berada tak jauh dari restoran.


Setibanya di rumah sakit, dokter langsung membawa Edi ke ruang IGD untuk ditangani lebih lanjut. Reza, Arman dan seorang pemuda yang tak lain adalah sekretaris pribadi Edi, duduk menunggu di luar dengan perasaan cemas. Terutama Reza, ia sangat merasa bersalah pada Edi.


Selang beberapa menit kemudian, seorang dokter pria yang masih berusia muda, keluar dari ruang IGD lalu menemui Reza. Dokter itu langsung menunduk sopan pada Reza yang tak lain merupakan pewaris tunggal tempatnya bekerja. Dokter itu menjelaskan kondisi Edi yang harus ditangani serius oleh dokter spesial kanker karena penyakitnya sudah sangat parah.


Reza pun meminta pada dokter untuk mencarikan dokter kanker terbaik yang dimiliki oleh rumah sakitnya. Sang dokter pun setuju dan bersedia untuk membantu. Kebetulan, rumah sakit milik keluarga Reza baru saja menerima seorang dokter kanker terbaik yang datang langsung dari Singapura. Reza menyerahkan semua pada dokter itu untuk mengurus Edi. Reza juga meminta untuk memasukan Edi, ke ruang perawatan VVIP dan menyiapkan semua kebutuhannya selama menjalani perawatan.


Setelah itu, Reza menuju ruang perawatan VVIP tempat Edi dirawat. Reza ingin melihat Edi, sebelum ia kembali ke rumah. Mengingat waktu telah sangat larut. Reza khawatir, Lira sedang menunggunya di rumah karena ia tak sempat memberi kabar pada istrinya.


Flashback Off

__ADS_1


__ADS_2