
Assalamu'alaikum, teman-teman pembaca setia KHSI. Selamat lebaran.
Taqabballahu Minna wa minkum..
Semoga Allah mengampuni semua dosa-doa kita dan menerima semua amal ibadah kita selama bulan Ramadhan kemarin. Semoga Allah memberikan kita kesehatan, supaya kita bisa berjumpa kembali dengan Ramadhan tahun depan. Aamiin.
Maaf, othor baru nongol lagi๐ othor selaku juru masak di rumah, memang super sibuk setiap lebaran, jadi suka kecapean. Tolong dimaafkan ya, kan tadi udah maaf"an ๐wkwkwk
Lanjut......
Selamat membaca.......๐น๐น๐น๐น
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
"Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu kepadamu." (QS. Fushshilat [41]: 22)."
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
"Kakak, ayo ngaji dulu sayang." Ajak Reza lembut.
"Nda mau, papa. Mau main."
"Tadi pagi kakak udah janji lho sama papa. Kalo kakak gak mau ngaji, nanti kakak gak boleh ikut papa kerja lagi, deh."
Inas langsung menggeleng cepat tanda tak setuju. Wajahnya terlihat semakin menggemaskan hingga membuat Reza tertawa.
"Mau ngadi papa." Inas merentangkan tangannya untuk digendong.
Nenek dan kedua eyangnya langsung menggelengkan kepala melihat tingkah lucu cucu mereka yang semakin hari semakin menggemaskan.
"Giliran diancem aja, langsung mau." Celetuk Irma gemas melihat tingkah cucu kesayangannya.
"Reza ke atas dulu ya." Pamit Reza pada ketiga orang tuanya.
"Iya, nanti mama juga mau ke atas. Mau main sama cucu ganteng mama."
"Sekalian diajak tidur ke kamar kita aja, ma." Timpal Martin.
"Ntar nangis tengah malem kayak dulu, papa mau tanggung jawab?"
Martin hanya menyengir melihat tatapan kesal dari istrinya. Pernah sekali, mereka memaksa membawa Baby Haidar tidur di kamar mereka. Pada waktu tengah malam, tiba-tiba Baby Haidar menangis kencang dan tak mau berhenti meski Irma telah menyodorkan botol susu berisi ASI yang sudah dihangatkan ke mulut mungilnya. Namun, tetap saja hal itu tak berhasil membuat Baby Haidar berhenti menangis. Terpaksa Irma membawa Baby Haidar kembali kepada ibunya. Mulai saat itu, Irma tak lagi membawa Baby Haidar tidur di kamarnya, meski Martin memintanya.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Di dalam kamar dengan disaksikan oleh Lira yang sedang menyusui Baby Haidar, Reza mulai mengajari Inas mengaji dengan sangat sabar. Jika Inas keliru membedakan antara huruf sa dan huruf tsa, maka Reza akan meluruskannya dengan lembut. Lira merasa bahagia melihat perubahan besar pada diri suaminya yang semakin religius dan mampu membimbing keluarga kecilnya menuju ke arah yang lebih baik.
Tok....tok.....tok....
__ADS_1
Terdengar suara pintu diketuk, bertepatan dengan selesainya Inas mengaji. Irma dan Indah masuk usai meminta izin lebih dahulu pada sang pemilik kamar. Kedua wanita paruh baya itu langsung duduk di dekat Lira yang sedang menyusui Baby Haidar.
"Uluh...uluhhh. Lucu banget sih, dek. Pipinya juga tambah tembem." Ucap Irma gemas sambil mengusap lembut pipi chubby Baby Haidar.
"Iya, ma. Alhamdulillah, dedek nyusunya kuat banget. Tiap malem dedek bisa nyusu dua jam sekali lho." Sahut Lira.
"Pantesan tambah tembem. Jadi tambah gemes, deh. Pengen diuyel-uyel." Timpal Indah tak kalah gemas dari besannya.
"Mama pengen gendong cucu ganteng mama, dong. Gemes banget, tahu gak." Pinta Irma saat melihat cucunya telah melepaskan mulutnya dari dada sang ibu.
Dengan senang hati Lira memberikan putranya dipangkuan Irma dan Irma pun menerimanya dengan tersenyum senang. Ia terus mengelus pipi cucunya dengan penuh kasih sayang. Terbesit di hati Irma, betapa bahagia hidupnya jika ada anak yang lahir dari rahimnya. Namun sayang, Allah tak menakdirkan ia untuk menjadi seorang ibu. Tapi Irma tetap bersyukur karena sang suami menerima segala kekurangannya dan tak pernah sekali pun menyinggung soal anak padanya. Padahal, dahulu usia Martin masih mudah dan Irma juga sudah menawarkan padanya untuk menikah lagi, tapi Martin menolaknya dengan tegas. Martin lebih memilih setia untuk selalu berada di samping Irma sampai kapan pun itu.
Melihat ketiga wanita yang ia sayangi sedang asik mengobrol, Reza pamit ke ruang kerja untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tadi sudah dikirim oleh Arman lewat email. Namun sebelum itu, Reza menitipkan putri kesayangannya pada mertuanya. Inas juga tak menolak karena sang nenek menjanjikannya dengan sebuah cerita dari kisah salah satu para nabi.
"Papa kerja dulu ya, sayang." Ucap Reza sambil menyium kedua pipi putrinya lalu beralih pada putranya yang sudah terlelap karena kekenyangan.
Saat Reza baru mendaratkan bibirnya di pipi kanan Baby Haidar, Inas langsung berteriak kencang karena tak terima jika ayahnya menyium adiknya.
"Papaaaaaaa. Nda boyeh tium ade. Nda boyeh, nda boyeh. Papa Puna Inat butan puna ade." Ucap Inas dengan wajah menggemaskan.
Semua yang ada di situ pun hanya menggelengkan kepala melihat sikap posesif Inas yang tak suka berbagi pada adiknya. Inas menganggap jika kasih sayang ayahnya mutlak hanya miliknya seorang.
Reza merasa gemas melihat wajah lucu Inas, semakin menggodanya dengan mengecup kedua pipi Baby Haidar dengan cepat. Alhasil, Inas langsung menjerit kencang.
"Huuuwaaa..huuuwaaaa....Bunda, papa dahat. Papa tium ade." Adu Inas pada Lira.
"Hehe, habisnya mas gemes banget liat kakak yang posesif sama mas." Jawab Reza dengan menyengir. "Cup..cup..Sayangnya papa jangan nangis, ya. Kan mau dibacain cerita nabi sama nenek." Rayunya dengan lembut.
Ajaibnya, Inas langsung berhenti menangis. Inas memang sangat suka mendengar kisah dari para nabi, kisah para sahabat nabi, maupun kisah dari para wanita mulia yang Allah janjikan masuk surga. Bahkan, salah satu dari keempat wanita itu akan menjadi ketua dari para bidadari di surga.
Setelah Inas tenang, Reza langsung keluar kamar menuju ruang kerjanya karena pekerjaanya sudah menunggu untuk segera diselesaikan.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Reza membuka laptopnya lalu membaca email yang masuk dari Arman, dengan sangat teliti. Reza terlihat semakin tampan dengan wajah serius ketika sedang bekerja. Wajahnya tidak terlihat seperti pria yang sudah memiliki dua anak karena Reza sangat rajin berolahraga.
Hingga tak terasa waktu telah menunjukan pukul 10 malam dan Reza masih duduk berhadapan dengan laptopnya. Merasa tubuhnya telah kaku, Reza pun beristirahat untuk merenggangkan otot-ototnya. Ia menyandarkan tubuh lelahnya pada kursi kerjanya sambil memandangi foto keluarga kecilnya yang berada dalam pigura berukuran besar, digantung tepat menghadap meja kerjanya. Senyum bahagia pun tercetak di bibirnya melihat senyum bahagia dari wajah istri dan anaknya.
Saat Reza hendak berdiri untuk melihat lebih dekat foto keluarga kecilnya, tangannya tak sengaja menyenggol berkas yang berada di atas meja. Matanya langsung menangkap map berwarna biru yang tak asing diingatannya. Reza langsung merapikan berkasnya kembali ke atas meja lalu membuka map biru itu. Senyum sendu terlihat di wajahnya saat melihat wajah polos istrinya yang tercetak dengan ukuran kecil di dalam map biru itu. Map itu merupakan map ijazah milik istrinya yang memang dahulu sengaja ia simpan di ruang kerjanya. Reza merasa bangga melihat semua nilai Lira nyaris sempurna. Namun sayang, keadaanya yang membuat Lira tak bisa menggapai cita-citanya hingga takdir mempertemukan mereka.
Reza kembali teringat pada kalimat ejekan yang dahulu pernah ia lontarkan pada Lira. meski begitu, Lira tetap sabar menghadapinya.
Emang kamu mau kerja apa? Kalo cuma bermodalkan ijazah SMA, palingan juga kamu cuma jadi babu."
Reza ingat betul bagaimana terlukanya Lira saat dengan mudahnya kata-kata menghina itu keluar dari mulutnya. Reza tak pernah menyangka mengapa duhulu, lisannya ia begitu mudah mengucapkan kata-kata yang menyakiti orang lain, terlebih untuk istrinya sendiri. Padahal ia tahu, di akhirat nanti ia akan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya dihadapan Allah.
Seluruh anggota badan akan lurus dan istiqomah dengan lurusnya lisan, sebagaimana anggota badan akan menyimpang karena penyimpangan lisan.
__ADS_1
Rasul shallallahu โalaihi wa sallam bersabda :
"Jika manusia berada di waktu pagi, maka semua anggota badannya menyalahkan lisan. Mereka berkata, โ Wahai lisan, bertakwalah kepada Allah dalam urusan kami karena sesungguhnya kami tergantung pada dirimu, Jika kamu bersikap lurus, maka kami pun akan lurus. Namun jika engkau menyimpang, maka kamipun akan menyimpang.โ (H.R Tirmidzi, shahih).
"Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan." (HR. al-Bukhari).
Hingga lamunan Reza terhenti saat mendengar suara lembut memanggilnya. Lira telah mengetuk pintu, tapi Reza tak mendengarnya karena ia masih sibuk dengan lamunannya. Lira pun memutuskan untuk masuk ke dalam ruang kerja Reza dan melihat suaminya itu sedang terdiam sambil memegang map yang ia kenali itu sebagai miliknya. Namun, Lira tetap bersikap biasa, seolah tak melihat map yang berisi ijazah SMA miliknya karena Lira tak ingin membahas hal-hal yang menyangkut masa lalu mereka.
"Mas, kenapa melamun?" Tanya Lira lembut sambil mengusap lengan Reza.
"Eh, sayang dari tadi di sini?" Reza menjawab pertanyaan istrinya dengan pertanyaan lain.
"Iya, tadi Lira ketok pintu tapi mas gak jawab. Ya udah, Lira langsung masuk aja, deh. Lira juga manggil-manggil, tapi mas gak jawab. Ada apa, mas?"
"Gak ada papa, sayang. Mas cuma lagi liatin nilai sayang, ternyata bagus-bagus semua."
"Oh, itu. Kirain ada apa."
Lira bersikap santai, namun tidak dengan Reza yang sudah merasa bersalah melihat wajah istrinya. Reza langsung memeluk tubuh Lira dengan tiba-tiba hingga membuat Lira terkejut. Rasa bersalah Reza begitu besar hingga ia sudah tak mampu lagi berkata-kata. Bahkan, air matanya juga enggan untuk keluar dari pelupuk matanya.
Merasa suaminya sedang tidak baik-baik saja, dengan beban rasa bersalahnya yang kembali merasuki hatinya. Lira langsung mengusap lembut punggung Reza, seolah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Maaf."
Lira tak menjawab. Ia lebih memilih untuk terus mengusap lembut punggung Reza sebagai dan Reza pun semakin mengeratkan pelukannya. Setelah dirasa Reza mulai tenang, Lira melepaskan pelukannya dan menangkupkan kedua tangannya ke wajah tampan milik suaminya. Lira menatap dengan sangat dalam mata Reza yang menyimpan rasa bersalah yang sangat besar di sana. Lira menggandeng tangan Reza menuju sofa.
"Coba mas cerita sama Lira, kenapa mas minta maaf lagi sama Lira?"
Reza masih diam sambil terus menatap wajah teduh istrinya. Reza tak bisa mengungkapkan isi hatinya pada Lira karena ia sudah tahu jawabannya. Sudah pasti Lira tak ingin membahas masa lalu yang begitu menyakitkan untuk mereka berdua.
Reza mengusap wajah Lira lalu mengecup keningnya dengan lembut. Hanya itu yang bisa Reza lakukan saat ini. Memeluk tubuh mungil itu untuk menyalurkan kasih sayangnya yang teramat besar pada istrinya yang berhati mulia.
"Terima kasih untuk semuanya, sayang. Terima kasih karena sayang masih setia untuk selalu ada di sisi mas dan gak ninggalin mas."
"Mas, Lira kan udah pernah bilang, jangan inget-inget itu lagi. Mari kita lupain semuanya dan menata keluarga kecil kita menjadi lebih baik lagi. Mas adalah suami dan papa yang baik untuk kami. Jadi, jangan pernah menganggap diri mas buruk hanya karena masa lalu. Itu akan membuat mas menjadi semakin terpuruk."
Benar apa yang Lira katakan. Reza akan terpuruk jika sudah mengingat masa lalunya. Hanya saja, untuk melupakan itu semua tak semudah apa yang diucapkan. Meski Reza telah berdamai dengan masa lalunya, namun tetap saja rasa bersalah itu selalu muncul begitu saja.
"Bukan gitu, sayang. Mas hanya merasa ber-"
"Mas, udah ya. jangan dibahas lagi." Potong Lira cepat karena ia tak ingin mendengar ucapan bersalah dari mulut suaminya. "Mending sekarang kita tidur. Dari tadi Lira nungguin mas buat peluk Lira." Lanjutnya dengan manja disertai wajah merona karena malu.
Reza langsung tersenyum melihat sikap istrinya yang masih malu-malu padanya. Reza kembali memeluk tubuh mungil Lira dan mendaratkan ciuman gemas ke seluruh wajahnya. Setelah itu, mereka ke kamar untuk beristirahat dan melupan masa lalu yang menyakitkan.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Bersambung.......๐
__ADS_1
Segitu dulu ya, epribadeh...๐