Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 121


__ADS_3

"Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang muโ€™min sejati. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya.โ€ [HR. Muslim no.7692].


Selamat membaca.......๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Reza dan Lira telah tiba di rumah sakit dengan mengendarai mobil tanpa di sopiri oleh Jono. Reza sengaja meminta Jono mengantar Arman menggunakan mobilnya yang lain. Karena tak mungkin Reza meminta Arman ke kantor dengan mengendarai mobil seorang diri, sedangkan Arman masih sangat baru di Jakarta. Selain itu, Reza juga ingin memanfaatkan momen bahagianya bersama istrinya tanpa ada orang lain yang mengganggu. Sebenarnya Jono tidaklah mengganggu, hanya saja Lira akan merasa malu jika Reza bersikap mesra di depan orang lain. Maka dari itu, Reza memilih mengendarai mobilnya sendiri.


Reza menggandeng tangan Lira langsung menuju ruangan yang bertuliskan nama dokter Ambar di depan pintu. Kali ini, Inas tidak ikut bersama mereka dan dititipkan bersama Bela dan kedua eyangnya di rumah. Beruntung kali ini, bocah menggemaskan itu tidak menolak dan lebih memilih bermain bersama Farel.


Sebelum masuk ke dalam ruangan dokter Ambar, Reza memegang dadanya. Jantungnya terus saja berdetak kencang, disertai keringat dingin yang bercucuran. Sementara Lira, bersikap lebih tenang dan santai karena ini bukanlah kehamilannya yang pertama.


"Sayang, mas tegang banget. Jantung mas juga berdetak kencang banget."


Reza mengambil tangan Lira dan meletakkan di dadanya agar Lira bisa merasakan bagaimana jantungnya memompa dengan sangat cepat, seperti ia baru saja selesai berlari maraton.


Lira hanya tersenyum lalu menenangkan suaminya dengan kata-kata yang lembut. Lira mengerti apa yang sedang dirasakan suaminya saat ini. Meski telah menerima apapun jenis kelamin anak mereka, tapi tetap saja rasa gugup itu datang mendera.


"Santai aja, mas. Lira cuma periksa kandungan aja, kok. Bukan mau lahiran." Ucapnya lembut.


"Iya sayang, mas tahu. Tapi tetep aja, mas ngerasa gugup banget."


Lira langsung menenangkan suaminya yang masih merasa gugup. Setelah sudah merasa tenang, Reza pun kembali menggeman tangan Lira dan masuk ke dalam ruang dokter Ambar.


"Assalamu'alaikum." Ucap Lira dan Reza mengucap salam saat memasuki ruangan Ambar.


"Wa'alaikumussalam Warahmatullah. Aduh-aduh, pasangan romantis udah dateng nih. Pasti udah gak sabar ya, pengen liat jenis kelaminnya si dedek." Ucap Ambar sambil menarik turunkan alisnya, menggoda kedua pasangan yang terpaut usia cukup jauh itu.


Reza yang digoda oleh sepupunya, hanya memutar bola matanya jengah. Ia sudah terbiasa dengan sikap Ambar yang blak-blakan kepadanya.


"Udah deh. Mending sekarang tolong periksa bibi gue."


"Iya deh, iya. Gak sabaran banget sih, Papa Reza." Cibir Ambar kesal.


Lira hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua saudara sepupu yang sangat jarang akut itu. Kemudian seorang suster membantu Lira untuk baring di atas bangkar dan menyingkap separuh gamis yang kenakan Lira hingga ke atas dada. Setelah itu ditutupi menggunakan selimut dari bagian kaki hingga ke bawah perut.


"Baik, kita lihat dedeknya sekarang ya."


Ambar memutar alatnya di atas perut Lira yang sudah diberi gel. Mata Lira dan Reza, tak lepas dari layar yang sedang menampilkan anak mereka yang bergerak sangat aktif di dalam sana. Reza menggegam tangan Lira dengan penuh rasa haru yang menyusup masuk dan menusuk hatinya. Begitu pun dengan Lira yang ikut merasakan haru. Ini kali pertama baginya bisa melihat langsung anaknya tumbuh dan bergerak aktif di rahimnya. Ketika mengandung Inas, Lira tak pernah merasakan hal sebahagia ini karena dahulu ia hanya bisa melihat Inas yang masih dalam bentuk embrio saja.


Ambar mulai menjelaskan tumbuh kembang dari si bayi yang terlihat cukup baik. Organ-organ pada janin mulai berkembang dan berfungsi dengan baik. Salah satunya adalah paru-paru. Selain itu, di usia kandungan yang ke 6 bulan ini, akan terjadi beberapa perkembangan seperti pembentukan tulang, lemak, dan kulit. Perkembangan tubuh dan otaknya pun mulai berkembang dengan pesat, sehingga dibutuhkan asupan nutrisi yang cukup agar stimulasinya tetap terjaga dengan baik.


"Aduh, kayaknya si dedek sengaja gak liatin kelaminnya nih. Biar papa sama bundanya penasaran."


Lira dan Reza saling pandang sembari tersenyum. Anaknya seolah tahu jika ayahnya sudah sangat ingin melihat kelaminnya. Namun, Lira dan Reza tak mempermasalahkan hal itu. Toh, juga nanti mereka akan tahu jika waktunya telah tiba.


"Gak papa, dok. Mungkin dia emang mau kasih kejutan ke kita." Timpal Lira dengan senyum merekah di wajahnya.


Reza mengangguk setuju lalu mendaratkan kecupan di pelipis Lira sebagai tanda terima kasihnya karena telah mengandung anaknya kembali.


Ambar meminta pada susternya untuk membersihkan sisa gel di perut Lira. Sedangkan Reza, membantu Lira untuk bangun dari pembaringannya dan duduk di kursi di dekatnya.


Ambar mencetak hasil USG dan diserahkan kepada Lira. Lira pun menyambutnya dengan rasa haru. Raut wajah dari kedua orang tua itu, terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


Sebelum Lira dan Reza berpamitan pulang, Ambar mengingatkan kembali kepada Lira untuk selalu mengonsumsi makanan bernutrisi seperti sayuran hijau, ikan salmon dan ubi jalar. Ketiga makanan itu memiliki nutrisi yang sangat baik bagi pertumbuhan janin. Ambar tak ingin kejadian ketika Lira mengandung Inas, terulang kembali. Meski Ambar tahu, Reza tak mungkin melakukan kesalahan fatal yang sama. Tapi Ambar rasa, tidak ada salahnya untuk ia mengingatkan.


Lira tak lupa mengucapkan terima kasih karena Ambar sangat peduli padanya. Reza pun tak merasa tersinggung atas ucapan Ambar karena ia tahu, Ambar menyayangi Lira seperti adiknya sendiri.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


"Sayang, pengen makan sesuatu gak sebelum mas ke kantor?" Tanya Reza saat mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah.


Sesekali, tangan Reza mengelus lembut perut buncit Lira dan langsung mendapat respon dari anaknya di dalam perut. Hal itu sontak membuat Reza kegirangan karena selama ini, setiap mengelus perut istrinya, Reza tak pernah merasakan hal sebahagia ini.


"Anak papa udah pinter ngerespon ya, nak." Ucapnya sambil mengecup perut Lira dan sekali lagi ia mendapat respon tendangan kecil dari anaknya.


"Mas, hari-hati. Ini lagi di jalan, lho."


"Gak papa, sayang. Lagian juga, kita lagi di lampu merah kok." Sahutnya berkilah.


"Eh, sayang belum jawab pertanyaan mas yang tadi, lho." Lanjutnya dengan melirik istrinya.


"Oh iya. Lira masih kenyang, mas. Tapi nanti, kalo Lira pengen makan sesuatu Lira telpon mas, ya."


"Iya, sayang. Kebetulan, hari ini kerjaan gak terlalu banyak karena udah di handle sama Ferdi dan Arman. Jadi, mas bisa pulang cepet.


"Bener ya, mas. Awas kalo bo'ong."


Lira mengepalkan tangan mungilnya ke arah Reza seolah sedang mengancam. Bukannya takut, Reza justru tertawa karena merasa lucu melihat wajah Lira yang menggemaskan dengan pipi chubby serta mata bulatnya. Reza menyubit gemas pipi Lira hingga membuat si pemilik pipi meringis kesakitan.


"Sakit, mas. Kok dicubit sih pipi Lira."


"Habisnya, sayang gemesin banget sih. Pipi sayang kayak lagi minta digigit." Sahut Reza gemas.


"Emang bakpau, sayang. Pengen diuyel-uyel."


"Maasss."


"Apa, sayang."


"Ih, nyebelin."


Reza tertawa renyah melihat istrinya yang cemberut dengan melipat tangannya ke dada, sambil membuang muka ke arah jendela. Mulut Lira boleh saja berkata kesal, tapi hatinya sangat berbunga-bunga karena bisa bercanda bersama suaminya tanpa ada yang menggangu.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Tiba di depan rumah, Reza langsung membukakan pintu mobil untuk Lira. Setelah mengantar Lira sampai ke depan pintu, baru lah Reza berpamitan dengan mengecup seluruh wajah lalu dilanjutkan ke perut buncit milik Lira.


Lira masuk ke dalam rumah dengan mengucapkan salam dan langsung disambut oleh kedua mertua serta sahabatnya yang sedang duduk bersama di ruang keluarga.


Melihat ibunya datang, Inas langsung menyambutnya dengan berlari kecil. Bocah menggemaskan itu langsung memeluk kaki ibunya dengan wajah lucu.


"Bunda dayi mana?"


"Bunda habis liat dedek di perut, sayang."


"Dedek? Di cini?" Tunjuknya pada perut buncit ibunya.

__ADS_1


"Iya, sayang."


"Hole, hole." Inas langsung berloncat-loncat riang, tanpa tahu maksud ucapan ibunya.


"Jadi gimana hasilnya, Ra? Cewek apa cowok?" Tanya Irma tak sabaran


"Belum tahu, ma. Dedeknya masih ngumpetin. Tapi, ini hasil USG nya, ma. Alhamdulillah, dedek bayi nya tumbuh sehat."


"Alhamdulillah." Mereka semua mengucap syukur.


Meski belum mengetahui jenis kelamin dari cucu keduanya, Martin dan Irma tetap merasa bersyukur karena tak lama lagi rumah mereka akan kembali diramaikan oleh tangisan bayi.


"Ya udah. Kalo gitu, sekarang kamu istirahat aja dulu. Kalo kamu pengen makan sesuatu, bilang aja ke mama."


"Iya, ma. Terima kasih, ya."


"Iya, sama-sama sayang."


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Menjelang sore, Reza memutuskan untuk pulang ke rumah. Ia juga mengajak kedua sekretarisnya untuk ikut pulang bersamanya karena pekerjaan mereka telah selesai dan waktu pulang kantor pun telah tiba.


Saat sudah berada di dalam mobil bersama Arman, Reza mengambil ponselnya dari dalam jasnya, ingin menelfon istrnyanya untuk menanyakan makanan apa yang ingin dipesan Namun, tak lama ponselnya berdering tertulis nama bidadarikuโค๏ธ tertera di layar ponselnya. Tanpa menunggu lama, Reza langsung menerima telfon dari istrinya tercinta.


"Assalamu'alaikum, sayang. Baru aja mas mau telpon. Eh, udah keduluan. Ada apa, sayang?"


Wa'alaikumussalam, mas. Hehe., itu karena kita sehati dan sejiwa mas."


"Bisa aja sih sayang, ngomongnya."


"Mas, Lira pesen nasi Padang ya."


"Iya, sayang. Ada lagi?"


"*Sama coklat untuk si kakak. Tadi dia bilang ke Lira buat pesen itu ke mas."


"Iya, sayang. Nanti mas beliin, ya."


"Makasih suamiku. I love you. Assalamu'alaikum*." Ucap Lira malu-malu.


"I love you more, sayang. Wa'alaikumussalam Warahmatullah." Jawab Reza sambil tersenyum bahagia usai mendengar pernyataan cinta dari istrinya yang sangat jarang ia dengar karena Lira sangat malu mengucapkan tiga kata itu.


"Man, kita mampir ke restoran Padang sama mini market dulu ya."


"Iya, mas. Silakan."


Saat ini, Reza pulang bersama Arman menggunakan mobil yang ia kendarai tadi. Sedangkan mobil yang dipakai untuk mengantar Arman ke kantor, sudah dibawa pulang oleh Jono ke rumah.


Kedua pria tampan itu telah tiba di restoran yang menjual makana khas Padang. Setelah memesan makanan kesukaan istrinya, Reza langsung menuju mini market untuk membelikan beberapa batang coklat dan sereal untuk putri kesayangannya. Tak hanya untuk Inas saja, Reza juga membelikan coklat untuk Farel. Tentu hal itu ia lakukan tanpa sepengetahuan Arman. Selain coklat dan sereal, Reza juga membeli susu ibu hamil untuk istrinya karena seingatnya, stok susu hamil untuk istrinya sudah hampir habis.


Tiba di kasir, Reza melihat Arman akan membayar belanjaannya. Saat tiba di mini market, Arman jadi teringat pada anak dan istrinya yang sangat suka makan camilan. Arman pun mengambil beberapa camilan yang berbahan dasar coklat karena putranya sangat suka makan coklat. Sedangkan untuk istrinya, Aman mengambil beberapa bungkus camilan yang berbahan dasar kentang dan singkong sesuai kesukaan istrinya. Namun, bemul sempat Arman membayar, dengan cepat Reza menyerahkan black card nya pada kasir untuk sekalian membayar belanjaannya serta belanjaan milik Arman. Awalnya Arman menolak, tapi melihat wajah dingin Reza, akhirnya ia pasrah. Arman lupa bahwa selain baik hati, Reza juga tipikal orang yang tak suka dibantah. Usai berbelanja, Reza kembali mengendarai mobil mewahnya pulang ke rumah dengan membawa pesanan istrinya.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ

__ADS_1


Bersambung.......๐Ÿ˜Š


__ADS_2