
Waktu telah menunjukkan tepat pukul 5 sore. Lira telah selesai dengan kegiatan memasaknya. Lira sengaja memasak lebih awal sebelum sahabatnya datang, karena waktunya bisa digunakan untuk berbincang hangat dengan sahabatnya itu.
Menu yang Lira masak hari ini sangat sederhana, menyesuaikan keuangannya. Hanya ada kangkung tumis, tempe, tahu goreng dan sabal terasi. Lira telah menata makanannya di piring, lalu piring-piring itu Lira bawa ke kamar. Bukannya Lira tidak ingin berbagi dengan teman-teman kostnya, tapi kebanyakan dari penghuni kost bersikap acuh padanya. Bahkan ia sering dianggap tak ada atau lebih tepatnya seperti bayangan. Padahal jika dilihat status mereka semua sama, dari kalangan bawah.
Hidup di Ibu Kota memang membawa pengaruh besar pada pergaulan.
Usai memasak, Lira memutuskan untuk mandi karena tidak lama lagi akan masuk waktu sholat mahgrib. Sahabatnya juga akan segera tiba di kostnya.
🌸🌸🌸
Tepat pukul 6.30 malam, sahabat Lira telah tiba.
tok...tok...tok
"Assalamu'alaykum, Lira?" Seru Abel, sahabat Lira dari kampung.
"Wa'alaykumussalam!" Jawab Lira dari dalam kamar sambil membuka pintu.
kreeek...
Bela....
Lira....
Seru keduanya, lalu saling berpelukan melepas rindu.
__ADS_1
Ini adalah kali kedua Bela datang mengunjungi Lira di Jakarta, setelah sebelumnya Bela datang bersama ayahnya untuk urusan pekerjaan.
Bela Amanda, adalah sahabat Lira sejak kecil. Bela merupakan anak dari Kepala Desa dan seorang Perawat di tempat tinggal mereka. Jadi bisa dibilang kehidupan Bela serba bercukupan, jika dibandingkan dengan kehidupan Lira yang hanya anak dari seorang buruh tani.
Bela sering membantu keluarga Lira secara diam-diam. Pernah sekali ketika ibunya Lira tiba-tiba jatuh sakit, Bela meminta bantuan kepada ayahnya yang tidak lain merupakan Kepala Desa, untuk membantu melunasi biaya Rumah Sakit dan menebus obat Ibunya Lira. Beruntung ayah Bela setuju, karena memang pada dasarnya keluarga Bela sangat baik dan tidak sombong.
Walaupun Bela dan keluarganya sangat baik, namun Lira tak ingin memanfaatkan kebaikan itu. Lira tetap berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan dia dan ibunya yang sakit-sakitan.
"Kamu apa kabar, Ra?" Tanya Bela setelah keduanya melepas pelukan, kemudian duduk di atas kasur tipis milik Lira.
"Alhamdulillah, aku baik Bel." Jawab Lira.
"Eh, kabar ibu aku gimana? baik-baik aja kan?" Lanjutnya.
"Ya Allah, aku jadi kangen sama ibu. Aku pengen pulang tengokin ibu, tapi aku masih harus bekerja buat ngirim ibu uang." Ucap Lira sendu.
Bela paham akan perasaan sahabatnya itu.
"Udah, kamu gak usah sedih gitu. Ada bibi kamu kok yang jagain ibu. Lagian juga, aku udah minta ke ayah buat pantau kesehatan ibu." Bela menggenggam tangan Lira, mencoba memberi semangat.
Lira sangat beruntung mendapat sahabat yang sangat baik, serta memiliki hati yang lembut seperti Bela. Wajah Bela memang sangat cantik seperti hatinya. Ditambah dengan hijab Syar'i yang membungkus tubuh mungilnya, semakin menambah kecantikan alaminya.
"Kamu tumben ke Jakarta, Bel." Lira mengalihkan pembahasan agar tidak terlalu sedih.
"Oh iya, aku hampir lupa. Tujuan aku ke sini sebenarnya mau ngasih tahu kamu, kalo bulan depan aku nikah." Ucap Lira dengan senyum bahagianya.
__ADS_1
"Maa sha Allah. Selamat ya, sayangku!" Ucap Lira sambil memeluk Bela, tak kalah bahagia. "Kenapa gak telpon aku aja, biar kamu gak usah repot-repot ke Jakarta." Lanjut Lira.
"Gak papa, biar sekalian bisa lepas rindu sama kamu. Soalnya nanti habis nikah, aku mau ikut suami aku ke Kairo. Suami aku ngajar di sana, jadi aku harus ikut pindah ke sana."
"Yaa...berati nanti kita LDR-an dong." Ujar Lira sedih.
Bela kembali memeluk Lira sambil menepuk punggung sahabatnya dengan lembut.
"Gak papa, kan masih bisa telponan. Insya Allah nanti aku bakal ngabarin kamu terus." Hibur Bela.
Lira sangat berat jika harus berpisah dengan sahabatnya itu. Lira tidak yakin bisa hadir ke pernikahan Bela, selain karena ia harus bekerja, Lira juga tak memiliki ongkos untuk pulang. Gajinya sangat pas-pasan dan bahkan sering kali kurang, karena harus dibagi dua dengan ibunya di kampung.
Bela paham dengan keuangan sahabatnya, makanya Bela sengaja datang ke Jakarta. Rencananya Bela mau mengajak Lira jalan-jalan keliling Kota Jakarta, sebelum ia kembali ke kampung untuk mengurus pernikahannya.
🌸🌸🌸
Jangan lupa tinggalkan jejak ya....
*like
komen
vote
terima kasih😊*
__ADS_1