Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 4


__ADS_3

Pagi ini Lira telah bersiap-siap untuk ke Rumah Sakit. Seperti hari-hari biasa, penampilan Lira selalu sederhana. Tanpa polesan bedak maupun lipstik. Lira memang sangat suka tampil natural, karena prinsipnya, cantik itu bukan dari wajah melainkan dari hati.


Lira mulai menyusuri jalan raya yang sejak pagi sudah dipadati kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.


Lira berhenti sejenak di depan toko buah yang nampak ramai. Lira berencana membeli buah untuk Pak Martin, namun niatnya terhenti ketika melihat harga buah yang menurutnya cukup mahal. Lira memutuskan untuk keluar dari toko itu dan melanjutkan langkahnya.


🌸🌸🌸


Saat ini Lira tengah berdiri di depan gedung Rumah Sakit yang cukup mewah itu. Lira melangkah dengan pelan menyusuri lorong Rumah Sakit. Kini Lira telah tiba di dekat ruang ICU tempat di mana Pak Martin dirawat. Dari kejauhan Lira melihat sosok lelaki tampan ditemani wanita setengah baya yang tengah duduk sambil bersandar pada punggung kursi. Jika dilihat dari penampilannya, mereka bukanlah orang sembarangan.


Lira mengurungkan niatnya untuk menjenguk Pak Martin. Akhirnya, Lira memutuskan kembali ke kosannya.


Reza melirik sekilas ke arah Lira. Reza mengerutkan keningnya heran melihat seorang wanita yang tiba-tiba pergi. Reza pun acuh, karena saat ini yang ada dipikirannya hanya kondisi sang ayah. Namun, ia tak mengetahui jika wanita yang diacuhkan itu adalah orang yang menyelamatkan ayahnya.


🌸🌸🌸


Tangan Pak Martin tiba-tiba bergerak, perlahan ia membuka matanya. Pak Martin merasa sakit dan pusing di kepalanya. Matanya menyusuri setiap sudut ruangan yang bernuansa putih itu.


Ceklek

__ADS_1


Terdengar suara pintu terbuka, Pak Martin melirik ke arah pintu, Reza terkejut melihat ayahnya telah siuman. Reza berjalan cepat ke arah ayahnya. Senang tentu saja itu yang Reza rasakan saat ini.


"Papa udah sadar? Apa yang Papa rasakan sekarang? Apa yang sakit, Pa? Bilang sama Reza!" Pertanyaan beruntun Reza hanya dijawab gelengan kepala dari Pak Martin.


Seorang dokter pria masuk keruangan itu lalu memeriksa kembali kondisi Pak Martin. Ia merasa lega melihat kondisi Pak Martin yang sudah berangsur-angsur membaik.


"Kondisi pasien saat ini cukup baik. Tapi kami harus terus memantau pasien secara berkala. Sekarang pasien sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan." Jelas dokter itu.


Reza sangat senang dan terharu melihat ayahnya telah sadar. "Terima kasih banyak, Dok!"


Dokter itu mengangguk dan tersenyum kemudian pamit.


Pak Martin langsung dipindahkan ke ruang perawatan VVIP. Reza ingin perawatan yang terbaik untuk ayahnya.


"Pah, gimana kondisi papa sekarang?" Lagi-lagi Pak Martin dibuat menggeleng mendengar pertanyaan yang Reza ucapkan sama dari istrinya.


Pak Martin membuka selang oksigen yang menempel di hidungnya. Perlahan ia mulai berbicara, walaupun tak begitu jelas.


"A..a..air." Ucap Pak Martin pelan dan bahkan nyaris tak terdengar.

__ADS_1


Reza paham dengan ucapan ayahnya, lalu ia menyambar botol mineral. Reza membantu ayahnya minum menggunakan sedotan. Pak Martin minum sampai setengah dari botol air mineral itu.


"Papa istirahatlah, jangan dulu banyak gerak. Papa belum pulih." Ucap Reza sambil mengatur posisi ranjang agar ayahnya merasa nyaman. "Mama pulang aja, biar Reza yang jagain Papa. Dari kemarin mama belum istirahat." Sambungnya.


" Emang kamu gak kerja, Za?"


" Reza udah izin, Ma. Lagian juga Reza gak ada jadwal operasi untuk beberapa hari ke depan." Jelas Reza.


" Ya udah, kalo gitu mama pulang dulu. Kalo butuh apa-apa, kamu hubungi mama, yah?"


"Iya, Mah."


Nyonya Irma melihat suamianya telah tertidur pulas, ia membelai tangan suaminya dengan lembut. Karena tak ingin mengganggu sang suami, Nyonya Irma langsung pulang diantar oleh sopir pribadinya.


🌸🌸🌸


*Like


komen

__ADS_1


vote


Terima kasih😊*


__ADS_2