Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 141


__ADS_3

Hati-hati, typo betebaran🤭


Selamat membaca......🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


“Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah menjadi orang baik maka ditimpakan musibah (ujian) kepadanya.” (HR. Bukhari)


🌸🌸🌸🌸


Kehamilan Lira kali terasa sangat berat untuk dijalani. Tak seperti kehamilan sebelumnya, yang tak begitu banyak menguras tenaga. Kali ini, Lira harus lebih banyak beristirahat dari semua aktifitas yang biasa ia lakukan, termasuk mengurus keperluan suami dan kedua anaknya.


Reza juga menjadi semakin cerewet dan lebih posesif. Seperti pagi ini, saat hendak berangkat ke kantor, Reza dibuat panik oleh Lira yang tiba-tiba saja memuntahkan semua makanan yang belum lama masuk ke dalam perutnya. Padahal sebelumnya, Lira sangat antusias untuk menyantap menu sarapan yang sudah ia pesan pada mertuanya. Ya, semalam Lira meminta pada Irma untuk dibuatkan bubur sumsum sebagai menu sarapannya. Tentu dengan senang hati Irma membuatnya, karena ini adalah momen yang Irma nantikan, ikut dilibatkan dalam ngidam cucu ketiganya. Namun, sayangnya bubur sumsum itu tak bertahan lama berada di perut Lira. Bubur sumsum itu berhasil Lira muntahkan semuanya tanpa sisa.


Irma tak berkecil hati atau pun tersinggung. Meski tak pernah merasakan ngidam, tapi sebagai perempuan, Irma juga tahu efeknya. Jadi ia tak pedulikan soal bubur sumsum itu. Ia hanya peduli dengan kesehatan menantu dan calon cucu ketiganya.


Saat ini, Lira sedang terbaring lemah di atas tempat tidur empuk miliknya. Sejak memuntahkan semua isi perutnya, tubuh Lira menjadi lemah. Mulut Lira juga menjadi pahit dan enggan menerima makanan apapun yang masuk ke dalam mulutnya. Lira bahkan menutup rapat mulutnya saat Reza menyuapi bubur hangat agar perutnya sedikit terisi dan tak lemas lagi.


"Sayang, ayo dimakan buburnya." Bujuk Reza selembut mungkin agar Lira mau membuka mulutnya.


"Gak mau, mas. Nanti Lira muntah lagi." Tolak Lira sambil membekap mulutnya menggunakan tangan.


"Tapi perut sayang dari tadi udah kosong. Makan ya, plissss!!" Dikit juga gak papa kok. Yang penting perut sayang terisi."


"Gak mau mas, gak mau."


Lira langsung menangis cukup kencang dan langsung membuat Reza gelagapan. Dengan cepat Reza memeluk Lira untuk menenangkannya. Namun, Lira terus meronta dalam pelukan Reza.


"Mas jahat. Lira benci sama mas. Benci!!"


"Iya, mas jahat. Maaf ya."


Reza terus memeluk dan mengelus kepala Lira dengan lembut. Ia harus lebih banyak bersabar dalam menghadapi sikap sensitif Lira. Kehamilan Lira kali ini sangat menguras kesabaran seorang Reza. Sejak dinyatakan positif hamil, Lira menjadi sangat sensitif dan lebih gampang menangis. Alhasil, Reza menjadi lebih sering mengalah. Ia tak ingin membuat kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya dan membuat Lira menjadi kecewa kembali karena kebodohannya.


Melihat Lira yang sudah lebih tenang, Reza pun melepas pelukannya lalu mengusap jejak air mata yang mengalir di pipi mulus Lira. Reza juga mengecup kedua mata Lira dengan lembut.


"Udah ya nangisnya. Nanti dedek bayinya juga ikut nangis kalo denger bundanya nangis."


"Li-Lira gak na-nangis. Li-Lira cuma sedih ajah." Kilahnya sambil sesegukan.


"Iya, sayang gak nangis kok." Reza menjadi gemas melihat wajah lucu Lira.


"Mas gak ngantor? Katanya mau ketemuan sama orang. Kenapa belum berangkat?" Tanya Lira saat perasaannya sudah kembali tenang seperti sedia kala.


"Iya sayang. Tapi mas gak bisa ninggalin kamu kayak gini. Apalagi dalam kondisi kamu yang belum makan." Sahut Reza lembut sambil mengusap kepala Lira.


"Kamu? Barusan mas bilang 'kamu' ke Lira? Mas jahaaaattttt!!!! Mas udah gak sayang lagi sama Lira! Hiks...hiks...!!!"


Mulut Reza menganga lebar dengan ekspresi tak terduga saat melihat tangis Lira kembali pecah hanya karena persoalan sepeleh. Selama ini, Reza memang selalu memanggilnya dengan mesra yaitu 'sayang'. Terlepas dari masa lalu mereka yang kelam, Reza sudah tak lagi memanggil Lira dengan sebutan "kamu". Sekarang Lira yang sedang dalam keadaan sensitif pun menjadikan hal itu suatu masalah yang besar.

__ADS_1


Reza mendesah frustasi melihat tingkah Lira. Namun, ia juga tak ingin gegabah dengan bersikap tak sabaran. Reza memilih mendekap Lira kembali sembari mengucapkan permohonan maaf.


"Maaf sayang. Mas gak sengaja." Ucap Reza sambil terus mengecup pucuk kepala Lira.


Saat Reza sedang menenangkan Lira yang masih terus menangis, tiba-tiba pintu kamar mereka dibuka paksa oleh kedua bocah menggemaskan yang langsung berlari ke arah mereka. Tak lama kemudian, Irma dan Indah pun ikut menyusul keduanya.


Tadinya, Inas dan Haidar masih duduk tenang di meja makan. Namun, telinga kecil mereka mendengar suara tangis Lira yang cukup kencang. Akhirnya kedua bocah itu memutuskan untuk menghentikan aktifitas mereka di meja makan, lalu menyusul ke kamar untuk melihat langsung apa yang terjadi pada ibu mereka.


Di sinilah kedua bocah itu. Berdiri tepat di depan ranjang dengan posisi terdiam sambil memandangi kedua orang tuanya dengan tatapan bingung. Mereka sungguh tak mengerti apa yang membuat ibu mereka menangis. Satu yang mereka pahami, saat ini ibu mereka sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Hingga akhirnya, Inas mulai mendekat pada sisi ranjang agar bisa menanyakan langsung tentang kondisi ibunya.


"Bunda, bunda masih sakit? Bunda mau kakak ambilin bubul?" Tanya Inas dengan raut wajah khawatir, namun tetap terlihat menggemaskan.


Lira langsung tersenyum lembut melihat sikap peduli putrinya yang sudah semakin besar. Lira tak pernah menyangka, anak yang pernah menemaninya hidup dalam kekurangan, kini telah tumbuh menjadi anak yang begitu pandai memahami situasi dan pengertian pada hal-hal yang ada di sekitarnya.


Diulurkan tangannya untuk menyentuh pipi bulat nan menggemaskan milik Inas. "Gak usah sayang. Bunda udah sehat kok. Sekarang kakak siap-siap ke sekolah gih, biar gak telat."


"Boleh gak bunda, kakak gak usah ke sekolah? Kakak mau temenin bunda aja di lumah." Pinta Inas dengan wajah polosnya.


"Eh, gak boleh sayang. Kakak harus tetap ke sekolah. Kan kakak gak lama lagi udah mau wisuda, jadi kakak harus rajin belajar. Di rumah juga kan ada eyang sama nenek yang jagain bunda." Sambar Reza cepat.


Reza sangat tak setuju jika anaknya kembali membolos sekolah hanya untuk menjaga Lira. Sementara di rumah sudah banyak yang menjaga Lira dengan baik. Termasuk Indah, ibu Lira yang datang dari kampung tepat satu hari setelah mendengar kabar tentang kehamilan Lira.


"Bener apa kata papa, sayang. Kakak harus ke sekolah supaya kakak bisa banggain bunda sama papa. Nanti biar eyang sama nenek yang jagain bunda." Timpal Irma lembut sambil membelai kepala Inas.


"Belalti kalo kakak ke sekolah, nanti bunda bisa sembuh?" Tanya Inas lagi dengan wajah antusias hingga membuatnya menjadi semakin menggemaskan.


"Ade duga mau dagain unda. Ade mau doain unda bial tepat tembuh." Ucap Haidar girang.


Sontak saja semua yang ada di situ langsung tertawa melihat tingkah lucu dan menggemaskan kedua bocah itu. Inas dan Haidar selalu membawa keceriaan di rumah Martin.


Setelah mendapat bujukan dari ayah dan eyangnya, Inas pun bersiap-siap berangkat sekolah. Seperti biasa, Inas diantar langsung oleh sang ayah yang posesif. Reza rela terlambat ke kantor hanya untuk mengantar putri kesayangannya ke sekolah lebih dulu.


Namun sebelum berangkat ke kantor, Reza lebih dulu meminta bantuan pada kedua ibunya untuk menjada Lira dan segera mengabarinya jika Lira butuh sesuatu pada Lira. Irma dan Indah pun mengangguk tanda mengerti akan permintaan Reza. Meski begitu, Reza tetap terlihat tak rela saat meninggalkan istrinya yang terbaring lemah di tempat tidur.


🌸🌸🌸🌸


Usai mengantarkan putri kesayangannya ke sekolah, Reza langsung bergegas ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya serta menyelesaikan akar permasalahannya bersama pria yang sudah membuatnya tega bersikap kasar pada istrinya sendiri.


Sesuai jadwal yang sudah ditentukan, rencananya hari ini Reza akan bertemu Edi untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Kali ini, Reza harus bisa mengambil keputusan dengan tegas, jika tak ingin rumahnya berakhir di meja hijau. Membayangkannya saja sudah membuat Reza merinding dan frustasi, apalagi jika sampai itu terjadi. Reza tak ingin mengambil resiko dengan kehilangan istri dan anak-anak yang paling ia cintai hanya demi seseorang yang sudah menjadi masa lalunya. Meski itu bukan Anita sendiri yang memintanya, melainkan suaminya. Namun, Reza tak ingin gegabah.


Sambil menunggu waktu pertemuannya dengan Edi tiba, Reza memilih menyelesaikan pekerjaanya yang sempat tertunda selama beberapa hari saat ia menemani Lira istirahat di rumah. Beruntung ia memiliki dua orang asisten yang cekatan dan dapat diandalkan di saat situasi sedang genting atau tak terkendali.


Waktu terus bergulir hingga tak terasa jam istirahat pun tiba. Usai melaksanakan sholat dhuhur, Reza menunggu pesanan makan siang di ruangannya yang sudah dipesan oleh Arman. Setelah itu, ia tinggal menunggu waktu pertemuannya dengan Edi tiba.


Tak lama kemudian, orang yang ditunggu-tunggu pun tiba. Edi datang bersama sekretaris pribadinya yang selalu setia menemaninya kemana pun ia pergi. Wajah Edi terlihat sedikit pucat, persis seperti pertama kali mereka bertemu.


"Selamat siang, Mas Reza." Sapa Edi sopan sambil mengulurkan tangannya menjabat tangan Reza.


"Selamat siang, Mas Edi. Silakan duduk." Sahut Reza, menyambut tangan Edi tak kalah sopan.

__ADS_1


"Bagaimana proyek kita? Apakah berjalan dengan lancar atau ada kendala?" Tanya Edi basa-basi.


Edi belum bisa menebak bagaimana keputusan Reza mengenai tawarannya. Namun, jika dilihat dari undangan Reza yang memintanya langsung datang ke kantornya, bisa dipastikan jika Reza menerima tawarannya. Rasa percaya diri Edi menjadi tinggi, mengingat bagaimana masa lalu Reza bersama Anita yang memiliki kisah cinta yang cukup indah. Bahkan kepergian Anita sempat membuat Reza frustasi karena sulit melupakan wanita yang dicintainya.


"Alhamdulillah, proyek kita berjalan lancar dan sejauh ini tidak ada kendala sedikit pun." Jawab Reza santai namun terkesan tegas.


"Syukurlah. Saya senang mendengarnya." Edi mengangguk sambil tersenyum. "Jadi, bagaimana keputusan Mas Reza mengenai tawaran saya tempo hari?" Lanjut Edi dengan wajah serius.


"Itulah alasan saya mengundang anda kemari. Saya ingin membahasa hal ini lebih serius dengan Anda." Reza tak kalah serius. Ia bahkan mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman.


"Baiklah. Saya harap keputusan yang anda ambil adalah yang terbaik untuk kita semua."


"Ya, saya harap juga begitu. Saya juga berharap, keputusan saya nanti tidak akan berpengaruh pada kerjasama kita. Semoga anda bisa bersikap profesional."


"Oh, tentu. Anda tidak perlu khawatir soal itu. Bisa dipastikan, saya orang yang sangat profesional dalam bekerja." Jawab Edi bangga.


"Baiklah. Saya pegang kata-kata anda. Jadi, keputusan saya mengenai tawaran anda tempo hari adalah TIDAK! Saya menolak keras dengan apa yang anda tawarkan. Saya memiliki istri dan anak-anak yang sangat saya cintai. Saya tidak ingin mengorbankan pernikahan saya hanya untuk tawaran anda yang bisa merusak kebahagiaan keluarga saya. Jadi maaf, saya menolak. Silakan anda mencari orang lain untuk menjadi pengganti anda." Ucap Reza tegas.


Wajah Edi seketika itu juga langsung berubah lesu. Rasa percaya dirinya yang setinggi langit, kini jatuh dan hancur berkeping-keping. Ia tak menyangka jika Reza menolak tawarannya. Ia fikir, masa lalu Reza dan Anita bisa dijadikan senjata ampuh. Namun, ternyata ia salah besar. Sekarang Edi tak tahu harus bagaimana lagi. Saat ini fikirannya sangat buntu. Ia sangat butuh jalan keluar untuk menyelesaikan semuanya.


Edi juga tak bisa memaksa Reza untuk menerima tawarannya. Reza benar, ia tak boleh mengorbankan rumah tangganya hanya demi masa lalu yang telah terkubur dalam. Edi telah salah dalam bersikap. Ia terlalu egois.


"Saya paham sekarang. Maaf karena saya sudah salah melibatkan anda dalam masalah yang sedang saya hadapi." Jawab Edi lesu.


"Tidak papa. Tapi sepertinya ini bukanlah masalah, melainkan cobaan. Anda diberikan cobaan berupa penyakit oleh Allah untuk melihat sejauh mana anda bersabar dalam menjalaninya. Saran saya, perbanyaklah istighfar, sabar dan sholat agar hidup anda lebih tenang. Banyak-banyak berdoa dan berusaha untuk kesembuhan penyakit anda. Insya Allah, semua akan jauh lebih baik jika anda sudah berhubungan dekat dengan Allah. Ingat lah hadist ini.


"Tidaklah seorang muslim tertimpa kecelakaan, kemiskinan, kegundahan, kesedihan, kesakitan maupun keduka-citaan bahkan tertusuk duri sekalipun, niscaya Allah akan menghapus dosa-dosanya dengan apa yang menimpanya itu.” (HR. Bukhari)


"Sekarang anda sedang diuji oleh Allah bukan berarti Allah benci, melainkan itu merupakan sebuah bukti kasih sayang Allah kepada anda. Ingat, setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan dosa, baik sadar maupun tanpa disadari. Namun tanpa kita sadari, hakikatnya sebuah masalah dihadirkan oleh Allah kepada kita sebagai jalan menghapus dosa-dosa bukan sebagai hukuman. Sekecil apapun masalah yang diturunkan, pastilah hal itu berbuah kebaikan bagi diri kita sendiri. Maka dari itu, perbanyaklah sabar dan ikhlas karena pahala yang disediakan bagi orang-orang yang bisa sabar dan ikhlas tidaklah main-main, melainkan surga sebagai jaminannya."


Dari Nabi SAW., beliau bersabda: Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman: "Hai anak Adam, jika kamu bersabar dan ikhlas saat tertimpa musibah, maka Aku tidak akan meridhai bagimu sebuah pahala kecuali surga." (HR. Ibnu Majah)


Edi merasa tertampar mendengar nasihat Reza yang begitu menyentuh hatinya. Selama ini, Edi terlalu sibuk mengejar dunia sampai ia lupa pada kewajibannya sebagai seorang hamba yang selalu sujud pada sang maha pemilik kehidupan. Edi baru sadar, sakit yang ia derita bisa jadi sebagai teguran dari Allah yang begitu sayang padanya, agar ia kembali pada-Nya. Allah tak ingin Edi lalai terlalu jauh hingga lupa, apa tujuannya ia diciptakan dunia ini.


"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyaat: 56).


Untuk pertama kalinya Edi mulai menangis tersedu-sedu di depan orang lain, meningingat semua dosa-dosanya selama ini. Ia terlalu terbuai oleh kenikmatan yang disuguhkan dunia sampai ia lupa jika dirinya hanyalah seorang hamba yang mendapat pinjaman nyawa oleh sang pencipta yang sewaktu-waktu nyawa itu bisa diambil kapan saja.


"Terima kasih sudah mengingatkan saya. Anda benar, saya terlalu serakah sampai lupa bahwa saya punya Allah yang Maha Besar. Saya lupa bahwa Allah yang menyembuhkan segala penyakit." Ucap Edi di sela tangisnya.


Reza menghampiri Edi untuk memberikan kekuatan. Bukankah sebagai manusia, tugaskan kita adalah saling mengingatkan? Reza bersyukur bisa melakukan itu. Setidaknya, ia bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Pertemuannya dengan Lira sungguh membawa pengaruh besar dalam hidupnya. Terima kasih ya Allah dan terima kasih istriku. Batin Reza mengucap syukur.


🌸🌸🌸🌸


Bersambung........😊


Maaf baru up.


jangan lupa dukungannya ya...

__ADS_1


__ADS_2