Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB


__ADS_3

Lira masih terus berperang dengan pikirannya yang terasa buntu. Sedangkan Martin sudah tak sabar untuk mendengar jawaban Lira. Hingga Martin kembali bertanya.


"Bagaimana, Nak Lira? Saya harap Nak Lira mau menerima tawaran saya."


Dengan percaya dirinya Martin berkata begitu, tanpa memikirkan perasaan Lira saat ini.


Sebenarnya tujuan Martin bukan hanya ingin menikahkan Reza dengan Lira, tetapi Martin ingin melindungi gadis yang telah menyelamatkan nyawanya itu dengan cara menjadikannya bagian dari keluarganya. Dengan begitu, Martin akan lebih mudah melindungi Lira.


"Jika Nak Lira setuju, maka saat ini juga Om akan mentransfer uang yang Nak Lira butuhkan."


Akhirnya dengan berat hati Lira menerima tawaran Martin. Lira tidak punya pilihan selain menerimanya. Nyawa ibunya lebih penting daripada masa depannya.


"Baik, Om. Lira terima syarat dari Om. Ucap Lira mantap.


"Bagus! Om akan transfer uangnya sekarang. Satu lagi, semua kebutuhan ibumu di kampung biar Om yang tanggung." Ucap Martin senang. "Tidak ada ponolakan" Sergah Martin cepat karena melihat wajah Lira yang hendak melayangkan protes.


"Baik. Terima kasih Om." Lira hanya bisa pasrah. Mau protes juga tidak berguna, karena Martin tidak suka dibantah.


Setidaknya untuk saat ini Lira bisa bernapas lega. Sekarang Lira tinggal menunggu kabar baik dari kampung mengenai hasil operasi ibunya.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata sedang mendengarkan percakapan mereka. Namun sayangnya tak semua percakapan itu didengarnya. Dengan bangganya ia melaporkannya kepada Reza.


Reza mendengar laporan anak buahnya itu langsung membanting hp nya ke tempat tidur.


"Sial! Bahkan Papa sudah membayar wanita murahan untuk menjadi istriku. Heh! Baik, aku ikuti permainan papa." Gumam Reza dengan seringai blis nya.


🌸🌸🌸🌸


Lira telah kembali ke kosannya lalu bergegas berwudhu untuk melaksanakan sholat dhuhur. Usai sholat, Lira memutuskan untuk istirahat sejenak.


Sama halnya dengan Lira, Martin juga langsung pulang ke rumahnya. Kali ini perasaan Martin benar-benar senang. Ia telah berhasil membuat Lira menerima persyaratannya.


Setibanya di rumah, Martin langsung ditodong pertanyaan dari istrinya yang sudah menunggunya untuk makan siang bersama.


"Katanya papa gak lama, tapi kok udah lewat jam makan siang papa baru pulang?" Sindir Irma sambil melipat tangannya di dada.

__ADS_1


Martin hanya menanggapinya dengan tersenyum lembut lalu memeluk Irma dengan penuh kasih sayang.


"Papa baru selesai ketemu calon mantu, ma!" Ucap Martin senang.


Irma mengernyitkan dahinya. "Calon mantu siapa maksud papa?" Tanya Irma bingung. Setahunya Reza belum punyai calon istri, bahkan Reza tidak sedang dekat dengan wanita mana pun. Bagaimana bisa suaminya mengatakan calon mantu.


Martin masih tersenyum. "Ya, calon mantu kita sayang. Dia calon istri Reza."


"Papa serius?" tanya Irma masih tak percaya.


"Iya ma, papa serius."


"Tapi, apa Reza udah tahu? Jangan sampai Reza kecewa karena papa udah milihin calon istri yang Reza gak suka, pa!"


"Papa sangat yakin kalo Reza pasti akan suka dengan wanita pilihan papa. Karena selain baik dan cantik, wanita itu juga sangat sopan dan lemah lembut seperti mama." Goda Matin membuat pipi Irma merona.


"Papa bisa aja gombalnya." Irma memukul pelan dada Martin.


Martin terkekeh melihat wajah istrinya yang merah merona. Meskipun usia mereka tidak muda lagi, namun mereka tak segan-segan untuk saling memuji satu sama lain. Hal itu justru membuat hubungan mereka semakin erat.


"Papa dan mama keliatannya bahagia banget." Tanya Reza sambil duduk di sofa singel. Reza sudah tahu rencana ayahnya, namun ia berusaha tetap tenang seolah belum mengetahui rencana itu.


"Eh, Za. Kamu tumben gak istirahat?" Tanya Irma.


"Tadi Reza sempet istirahat, ma. Tapi Reza tiba-tiba haus dan air minum di kamar Reza udah habis, jadi Reza turun deh!" Jelas Reza.


"Papa belum jawab pertanyaan Reza tadi." Sambungnya lagi.


"Oh iya, Za. Mumpung kamu di sini, jadi papa mau ngomong penting sama kamu. Papa harap kamu gak menolak permintaan papa kali ini." Ujar Martin serius.


"emangnya ada apa sih, pa?" Tanya Reza dengan memasang wajah sok polos tanpa dosa.


"Kamu udah papa jodohkan dengan wanita pilihan papa. Dia wanita yang sangat baik sopa dan yang lebih penting lagi dia solehah. Wanita itu juga yang telah menolong papa waktu kecelakaan dulu. Bahkan bukan hanya menolong papa dan Pak Jono, tapi dia juga sudah mendonorkan darahnya untuk papa"Jelas Matin.


"Apa???" Teriak Reza dan Irma serentak.

__ADS_1


"Papa serius?" Tanya Irma masih dengan wajah terkejutnya.


"Iya, ma. Papa serius. Makanya papa mau Reza menikahi gadis itu."


"Wanita kurang ajar. Beraninya kau memanfaatkan situasi. Ternyata ini tujuanmu menyelamatkan ayahku? Cih, bahkan kau rela menjual dirimu demi uang. Baik, kita liat sampai di mana permainanmu." Gumam Reza sinis.


"Gimana, Za? Kamu setuju kan sama permintaan papa?" Tanya Martin.


"Iya, pa. Reza setuju menikah dengan gadis itu, asal papa bahagia" Ucap Reza sambil tersenyum licik.


Martin dan Irma sangat bahagia mendengar keputusan Reza. Martin langsung memeluk Reza.


"Kalau begitu, papa akan atur pertemuan kalian secepatnya."


Martin benar-benar bahagia. Ia tak menyangka Reza akan setuju dengan permintaannya. Dengan segera Martin langsung menghubungi Lira.


Hp Lira bergetar, namun Lira sama sekali tak merasa terganggu. Semenjak mendapat kabar tentang kondisi ibunya di kampung, Lira jadi tidak tenang, bahkan susah tidur. Jadi mulai hari ini Lira bisa sedikit tidur dengan nyenyak tanpa beban.


Karena tak mendapat jawaban dari Lira, Martin memutuskan untuk menghubunginya lagi nanti.


"Gimana, Pa? Dijawab gak telponnya?" Tanya Irma.


"Gak dijawab, Ma. Mungkin dia lagi tidur. Nanti sebentar Papa akan coba lagi." Jawab Martin sambil merangkul Irma lalu berjalan menuju kamar.


Reza kembali ke kamarnya untuk membuat rencana sebelum bertemu calon istrinya nanti. Seringai jahat menghiasi wajah tampannya.


🌸🌸🌸🌸


Lira terbangun setelah mendengar kumandang adzan Ashar di masjid. Lira segera bangkit untuk membersihkan diri.


Usai melaksanakan sholat, Lira merasakan perutnya sangat lapar. Saat bersama Martin di restoran tadi, Lira tidak memesan makanan berat, ia hanya memesan makanan ringan untuk mengganjal perutnya. Lira takut jika memesan makan mahal, nanti Martin akan bangkrut. Lira memang sangat polos.


Lira kemudian berjalan menuju dapur untuk merebus mie instan, namun sayang stok mie instannya sudah habis, terpaksa Lira harus membeli mie instan di warung dekat kosannya.


Saat Lira hendak keluar kos, Lira bertemu dengan Neta yang tidak lain adalah teman kosnya yang bekerja sebagai SPG rokok. Neta memang sangat membenci Lira, entah karena apa, Lira pun tak tahu. Neta sering dengan sengaja menyindir Lira untuk memancing emosinya. Namun sayang, Lira tidak pernah merasa terpancing dengan segala sindiran dan hinaan dari Neta.

__ADS_1


bersambung......


__ADS_2