Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 128


__ADS_3

"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan."ย (QS. al-Ahqaf: 15)


Lanjut...


Selamat membaca......๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Tak butuh waktu lama, mobil Reza telah tiba dan terparkir sempurna di depan rumah sakit milik keluarganya. Reza kembali menggendong Lira dan membawanya menuju UGD.


"Tolong, istri saya mau melahirkan." Teriaknya pada para dokter dan perawat jaga.


"Baik, Pak Reza."


Dokter jaga mulai memeriksa kondisi Lira yang ternyata sudah memasuki pembukaan tiga. Dokter segera membawa Lira menuju ruang bersalin. Reza tak pernah sedetik pun melepaskan genggaman tangannya. Rasa takut semakin menggerogoti hatinya, mendengar rintihan yang keluar dari mulut istrinya.


Tiba di ruang bersalin, tangan Lira langsung dipasangi infus. Ambar selaku dokter yang menangani Lira pun langsung menuju rumah sakit saat mendapat kabar, Lira akan melahirkan.


Ambar tiba di rumah sakit dan langsung masuk ke dalam ruang bersalin tempat Lira berada. Ambar kembali mengecek kondisi Lira dan ya, pembukaannya masih seperti apa yang dokter jaga tadi katakan, yaitu pembukaan tiga.


"Ra, yang kuat ya. Insya Allah, tinggal beberapa jam lagi, anak kalian akan lahir." Ucap Ambar lembut sambil mengusap kepala Lira.


Ambar sangat menyayangi Lira seperti adiknya sendiri. Jadi tak heran, jika ia begitu peduli dan perhatian pada Lira.


"Jadi kapan Lira bisa lahiran, Mbar?" Tanya Reza dengan raut wajah khawatir.


"Kita tunggu sampe pembukaannya sempurna, Za. Sekarang ini, anak kalian lagi nyari jalan keluar. Jadi wajar kalo Lira merasa kesakitan." Jawab Ambar seolah tahu apa yang sedang Reza fikirkan.


Reza kembali mengusap bulir keringat yang sejak tadi terus saja membasahi dahi Lira. Reza merasa terpukul melihat istrinya menahan sakit untuk melahirkan anaknya. Di luar ruangan, telah berkumpul orang tua mereka, menitipkan Inas pada Nur untuk dijaga. Mereka tak tega membawa serta Inas yang sedang tertidur lelap, ke rumah sakit. Rencananya, pagi nanti baru Inas akan diantar ke rumah sakit oleh Jono.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Memasuki sholat subuh, mereka semua masih terjaga. Reza menitipkan Lira pada orang tuanya karena ia dan ayahnya akan pergi ke musholah untuk melaksanakan sholat subuh.


Setelah sholat, Reza maaih enggan bangkit dari duduknya. Ia memilih berdoa agar istrinya diberikan kelancaran dan keselamatan saat melahirkan anak mereka nanti.


Setelah berdoa, barulah Reza berdiri dan mengajak ayahnya untuk kembali ke ruang bersalin. Saat Reza memasuki ruang bersalin istrinya, ia langsung disuguhkan oleh pemandangan yang menyejukkan hati. Lira sedang melaksanakan sholat subuh dengan posisi duduk di atas ranjang bersama kedua ibunya. Di saat ia sedang berjuang menahan sakit karena akan menghadapi proses persalinan yang tak lama lagi berlangsung, tapi Lira masih menyempatkan diri untuk melaksanakan kewajibannya sebagi seorang hamba.


Reza langsung menghampiri Lira ketika melihat ketiga wanita hebatnya itu selesai melaksanakan sholat. Reza duduk di tepi ranjang lalu mengusap lembut perut Lira yang semakin terasa kencang.


"Perutnya sakit banget ya, sayang?"


"Iya, mas." Jawab Lira sambil mencengkram tangan Reza dengan sangat kuat ketika rasa sakit itu kembali menyerang.


Reza hanya meringis tanpa suara saat tangannya dicengkram kuat. Karena ia tahu, rasa sakitnya tak sebanding dengan apa yang sedang istrinya rasakan sekarang. Reza hanya bisa membantu dengan mengusap pelan pinggul Lira, berharap itu bisa sedikit mengurangi rasa sakitnya.


Reza tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya Lira saat melahirkan putri pertama mereka tanpa ada suami di sampingnya. Apalagi saat itu, Lira hanya dibantu oleh seorang dukun beranak. Hati Reza terasa perih mengingat perjuangan Lira seorang diri.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ

__ADS_1


Tepat pukul tujuh pagi, gelombang nikmat itu kembali menyerang disertai pecahnya ketuban, pertanda sebentar lagi bayi yang menumpang hidup selama sembilan bulan di rahim ibunya itu akan segera lahir ke dunia.


Ambar kembali mengecek jalan keluarnya sang bayi yang ternyata sudah terbuka sempurna. Dengan sigap, Ambar yang dibantu dua orang asistennya itu langsung memberi aba-aba pada Lira untuk mengejan.


"Sekarang kamu tarik napas, terus mengejan." Ucap Ambar memberi aba-aba.


Lira pun mengikuti apa yang Ambat perintahkan. Lira mulai menarik nafas dalam-dalam, lalu mengejan dengan cukup kuat. Lira melakukannya hingga beberapa kali, namun bayinya belum juga keluar. Lira sudah tidak sanggup menahan sakit hingga ia mengangkat sedikit pinggulnya.


"Jangan diangkat pinggulnya, Ra. Nanti robek itunya." Ucap Ambar dengan suara yang cukup kencang seperti sedang marah.


"Tapi saya gak kuat dok, sakit banget ini. Bayinya juga mau keluar, dok." Jawab Lira dengan suara yang tercekat menahan sakit.


Benar saja, jalan keluar bayinya langsung robek beberapa senti dan Lira pun merasakan itu karena ia merasa perih pada bagian intinya. Ditambah lagi, kepala bayi yang sudah terlihat akan keluar. Tinggal menunggu beberapa kali dorongan saja, bayi itu akan segera keluar.


"Iya, tahu. Tapi kamu harus tetap tahan." Ucap Ambar sambil terus membantu Lira mendorong bayinya agar keluar. "Tolong pinggulnya ditahan, jangan sampai diangkat ya, nanti robekannya tambah lebar."


Reza yang sejak tadi menyaksikan perjuangan istrinya dalam melahirkan anaknya hanya bisa berdoa. Reza terus mengusap peluh di sekitar dahi Lira sambil sesekali mengecup keningnya untuk memberikan kekuatan. Tanpa Reza sadari, bulir bening mengalir dari sudut matanya.


"Yang kuat ya, sayang. Dikit lagi kita ketemu dia." Reza berusaha menyemangati istrinya.


Lira kembali mengejan, hingga pada tarikan nafas dalam yang terakhir bayinya keluar dengan tangisan yang cukup kencang.


Oooeekkk....ooooeeeekkkkk....ooooeeeekkkk.


"Alhamdulillah, bayinya laki-laki." Ucap Ambar penuh haru.


Reza langsung mengecup seluruh wajah Lira dengan rasa haru dan bahagia. Reza tak dapat mengungkapkan perasaanya bahagianya saat ini. Kemudian ia sujud syukur karena telah berikan anugerah terindah dalam hidupnya. Sementara Lira hanya tersenyum samar sambil mengatur nafasnya yang masih tersenggal-senggal.


Kemudian asisten Ambar mengambil bayi itu diberikan kepada Reza untuk diazani dan mengiqomahkan putranya. Seperti apa yang ditulis oleh Syekh Mansur Al-Bahuti dari mazhab Hanbali juga menuliskan hal yang sama, yaitu : โ€œDan disunnahkan dikumandangkan adzan pada telinga bayi sebelah kanan, baik laki-laki atau perempuan, ketika dilahirkan, dan mengiqamatinya pada telinga sebelah kiri, karena hadits riwayat Abi Rafiโ€™ bahwa ia berkata: Saya melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengadzani telinga Hasan bin Ali saat dilahirkan oleh Fatimah. Hadis ini diriwayatkan dan dianggap shahih oleh Abu Dawud dan Tirmidzi.โ€ (Mansyur bin Yunus Al-Bahuti, Kassyaful Qinaโ€™ an Matnil Iqnaโ€™, juz 7, h. 469).


Setelah itu, salah satu asisten Ambar, menimbangnya lalu dibersihkan. Bayi tampan dengan berat empat kilo dan rambut hitam tebal, serta pipi chubby itu telah selesai dibedong.


Tiba giliran Lira yang akan dijahit dibagian intinya yang robek lalu dibersihkan. Tapi sebelum itu, Ambar meminta Reza untuk keluar dari ruangan. Reza pun mengangguk patuh.


"Sayang, mas keluar dulu ya."


"Iya, mas."


Reza mengecup kening Lira lalu keluar dari ruang bersalin untuk menemui orang tua serta mertuanya yang sejak subuh sudah menunggu di luar ruangan dengan perasaan cemas.


"Gimana, Za? Bayinya laki-laki apa perempuan?' Tanya Martin tak sabaran.


"Alhamdulillah, bayinya laki-laki pa." Jawab Reza dengan rona wajah bahagia.


Begitu juga orang tua serta mertuanya yang ikut merasa bahagia. Martin terlihat jauh lebih bahagia dari yang lainnya. Cucu laki-laki yang telah lama ia nantikan kehadirannya, yang kelak akan menjadi penyambung garis keturunan serta akan menjadi pemimpin di salah satu perusahannya, kini telah lahir.


Kemudian Reza mengambil Inas dari pangkuan Irma lalu memeluknya dengan erat. Rasa bersalah yang teramat besar, Reza rasakan karena tak bisa menemani Lira saat berjuang melahirkan Inas. Reza juga tak mengazani dan mengiqomahkan Inas ketika lahir.


"Maafin papa ya, sayang. Maafin papa." Ucap Reza sambil terisak memeluk putri kecilnya.

__ADS_1


"Papa napa nanit?"


"Papa cuma lagi seneng aja, karena sekarang kakak udah punya adik." Inas hanya tersenyum gemas.


Indah, Irma dan Martin ikut terharu melihat penyesalan di mata Reza. Mereka sangat paham bagaimana perasaan Reza yang sangat terlihat bersalah pada putri kecilnya itu.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Saat ini, Lira telah dipindahkan ke ruang rawat VVIP dengan fasilitas yang lengkap dan mewah. Bayi mereka yang tadinya berada di ruang bayi, kini telah berada di tengah-tengah mereka.


Sejak bayi tampan itu dibawa masuk ke dalam ruang inap, Martin dan Irma saling rebutan untuk bisa menggendong bayi tampan dan lucu itu. Sementara Indah yang duduk sambil memangku Inas, hanga menggelengkan kepala melihat tingkah kedua besannya.


Reza dengan setia mendampingi Lira yang masih terlihat lemas pasca melahirkan. Apalagi Lira mendapat jahitan pada bagian intinya, membuatnya menjadi kesulitan untuk bergerak. Ia harus dibantu Reza ketika ingin duduk atau ke kamar mandi.


"Eyang, kakak duga mau endong adek." Ucap Inas merasa gemas melihat adiknya tampannya sedang digendong oleh Irma.


"Boleh, sayang." Sahut Irma lembut.


Indah membantu Inas duduk dengan posisi nyaman di sofa, lalu Irma meletakan cucu tampannya tepat di atas paha Inas. Tawa Inas langsung terdengar saat adiknya itu menguap lebar. Tangan mungil Inas mengusap pipi adiknya dengan lembut.


Reza dan Lira tersenyum bahagia melihat putri kecil mereka begitu menyayangi adiknya. Meski Inas masih terlalu kecil memahami kehadiran adiknya, tapi setidaknya Inas sudah menunjukan sikap dewasanya dengan menerima kehadiran adiknya.


"Si kakak keliatan seneng banget, gendong adiknya." Ucap Irma gemas melihat tingkah lucu Inas. "Oya, mau dikasih nama apa nih cucu ganteng eyang?" Lanjut Irma sambil terus memandangi wajah tampan cucunya.


"Namanya Haidar Zhafran Mahardika yang artinya anak laki-laki tampan yang beruntung memiliki keberanian untuk mencari kemenangan sejati." Jawab Reza dengan cukup lantang.


"Masya Allah, nama yang bagus." Sahut Irma. "Eh, jeng Indah mau gendong Haidar juga ya?" Tawar Irma.


"Mau banget mbak. Dari tadi saya nunggu giliran, hehe."


"Owala, kok gak ngomong? Maaf ya, jeng. Terlalu asik gendong si tampan, jadi lupa sama jeng Indah." Ucap Irma sambil memberikan baby Haider pada neneknya.


"Gak papa kok, mbak." Indah menerima cucu keduanya itu dengan senyum bahagia.


"Sayang, kayaknya si dedek udah jadi idola baru nih?"


"Iya, mas. Sampe-sampe, kita aja dicuekin. Padahal kan, Lira juga pengen gendong baby Haidar."


"Sabar, sayang. Nanti juga kita bisa gendong sepuasnya." Reza mengecup puncak kepala Lira dengan penuh kasih sayang.


Pandangan mata Lira tak lepas bayi bungilnya yang masih berada di dekapan sang nenek. Lira masih tak percaya, di usianya yang baru berusia 20 tahun, ia telah memiliki dua orang anak yang sangat lucu dan menggemaskan.


"Oya sayang, rencananya mas mau nambah nama si kakak deh."


"Nambah gimana, mas? Terus nanti akta lahirnya juga gimana?"


"Mau cuma mau nambahin nama mas di belakangnya, seperti nama baby Haidar. Soal pengurusan akta, sayang gak usah khawatir. Nanti mas yang urus semuanya."


"Ya udah, terserah mas aja."

__ADS_1


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Bersambung........๐Ÿ˜Š


__ADS_2