Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 147


__ADS_3

Lanjut......🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


"Demi Yang Mengutusku dengan hak, Allah tidak akan menyiksa pada hari kiamat nanti orang yang menyayangi anak yatim, lemah lembut pembicaraan dengannya, menyayangi keyatiman dan kelemahannya." (HR. Thabrani dari Abu Hurairah).


🌸🌸🌸🌸


Hari yang ditunggu-tunggu Inas pun tiba. Pagi ini, seluruh keluarga Reza akan menyimbangi sebuah panti asuhan yang masih berada di daerah Jakarta. Sejak jauh-jauh hari, Inas sudah sibuk mengumpulkan hampir separuh mainannya dan mengepaknya ke dalam kardus besar. Inas melakukannya sendiri dengan senang hati dan menolak untuk dibantu. Inas hanya meminta bantuan hanya saat kardus itu dipindahkan ke dalam mobil.


Melihat apa yang dilakukan sang kakak, Haidar pun langsung mengikutinya. Bocah tampan dan menggemaskan itu langsung berlari ke kamar orang tuanya untuk meminta kardus besar seperti yang gunakan Inas. Awalnya Lira tak mengerti untuk apa Haidar meminta kardus besar. Tapi setelah Haidar menjelaskan maksdunya, barulah Lira mengerti.


Lira hanya tersenyum melihat tingkah kedua anaknya yang begitu antusias untuk berbagi mainan pada anak-anak yang kurang beruntung.


Pun Irma demikian. Ia melakukan hal yang sama seperti kedua cucunya lakukan. Irma mengepak sebagian pakaiannya juga pakaian suaminya yang masih layak dan bahkan masih baru, belum pernah dipakai sebelumnya untuk dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan.


Irma juga menjual sebagian koleksi perhiasan, sepatu dan tas mahalnya. Hasil dari penjualan itu akan ia bagikan kepada anak yatim yang ada di panti asuhan serta orang-orang yang kurang mampu lainnya.


Tok....tok....tok


"Assalamu'alaikum, papa, bunda," panggil Inas di depan pintu kamar orang tuanya.


Usai melaksanakan sholat subuh dan mengaji bersama, Inas langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Inas sudah tak sabar untuk segera berangkat menuju panti asuhan untuk membagikan mainannya di sana.


"Papa, bunda. Kakak udah siap," ucapnya lagi dengan tak sabaran.


"Wa'alaikumussalam. Ya Allah, ini masih pagi kak. Kita juga belum sarapan," ucap Reza heran dan merasa gemas dengan tingkah putri kesayangannya.


"Iya pa, kakak tahu. Makanya kita salapan sekalang aja ya. Kakak udah gak sabal nih," ucapnya lagi dengan memasang wajah menggemaskan.


"Astaga! Untung sayang, kalo gak udah papa uyel-uyel pipi kakak."


Mendengar ocehan ayahnya, Inas hanya menyengir memamerkan deretan gigi kecilnya yang rapi.


"Hehe, kakak mau salapan nasi goleng buatan bunda, boleh ya pa."


Inas mengedip-kedipkan matanya dengan gaya centil hingga membuat Reza tertawa nyaring. Reza langsung menggendong tubuh mungil itu lalu membawanya ke dalam kamar.


"Hahahaha....kakak belajar dari mana cara ngedipin mata kayak gitu?" Tanya Reza di sela tawanya.


"Hehe, kakak liat di tivi, pa."


"Astaga, papa kira dari mana."


Reza menggelengkan kepalanya. Sepertinya, mulai besok ia harus berhati-hati dan meminta pada istri dan kedua orang tuanya untuk lebih selektif dalam memilihkan anak-anaknya acara di televisi. Reza tak ingin anak-anaknya salah menonton acara yang bukan ditujukan untuk usia mereka. Apalagi sekarang kebanyakan acara yang disiarkan di televisi, tidak mendidik dan memberikan contoh yang baik untuk anak-anak.


"Ada apa ini? Kok mas ketawa sampe ngakak gitu?" Tanya Lira saat keluar dari kamar mandi.


"Gak ada papa, sayang. Ini si kakak, katanya pengen makan nasi goreng buatan bunda."


"Oh, gitu. Bentar ya sayang, bunda buatin dulu nasi goreng spesial untuk putri cantiknya bunda." Lira menyubit kecil pipi Inas yang sedang duduk manis di pangkuan Reza. "Tapi tunggu, kakak kok udah rapi? Siapa yang mandiin kakak? Terus bajunya kakak siapa yang siapin?" Lira memberondong Inas dengan pertanyaan karena merasa heran melihat putri kecilnya sudah rapi memakai pakiannya di saat mereka belum melakukan aktifitas apapun.


"Bunda tanyanya banyak benget. Kakak jadi bingung mau jawab yang mana dulu," keluh Inas sambil cemberut lucu.


"Hehe, maaf sayang," sahut Lira dengan cengiran.


"Tadi tuh kakak mandi sendili telus ambil baju sendili, telus habis itu kakak ke sini deh," jawab Inas dengan bangga.

__ADS_1


"Kakak ambil bajunya pake apa? Kan, lemari kakak tinggi? Terus adek kemana?" Tanya Reza khawatir.


"Kakak ambil pake kulsi belajal, pa. Kalo adek masih bobo di kamal," Inas menunduk takut.


"Lain kali, kakak gak boleh kayak gitu lagi ya. Bahaya sayang. Kalo kakak jatuh gimana? Untung aja kakak gak kenapa-napa." Ucap Reza lembut sambil mengusap kepala Inas.


"Iya, pa. Kakak janji gak gitu lagi."


"Pinter anak papa."


"Udah yuk, kita ke bawa. Tadi katanya kakak mau makan nasi goreng buatan bunda?" Ajak Lira.


"Tapi bunda belum pake keludung. Nanti kalo Mang Ono atau Mang Adi liatin aulat bunda, gimana?"


"Oh iya, bunda lupa. Makasih ya kak."


Lira menuju lemari untuk mengambil jilbab instannya yang berukuran besar. Setelah itu ia kembali bergabung bersama suami dan anaknya. Mereka bertiga menuju lantai satu lalu Lira menuju dapur sedangkan Reza mengajak Inas menuju halaman belakang rumah untuk memberi makan ikan di kolam, sambil menunggu sarapan siap.


🌸🌸🌸🌸


Selesai sarapan bersama, Reza beserta istri dan kedua anaknya serta orang tuanya langsung menuju tempat tujuan mereka yaitu panti asuhan. Sepanjang perjalanan, Inas dan Haidar begitu antusias. Meski sebelumnya Inas terlihat cemberut karena kedua sahabatnya, Riri dan Farel tak bisa ikut bersama karena sudah memiliki acara sendiri bersama keluarga mereka, tapi Inas sudah kembali ceria setelah Reza mengajaknya bernyanyi tentang lagu khas anak-anak.


Setelah menempuh perjalanan sekitar hampir satu jam karena macet, mereka akhirnya tiba di depan panti asuhan yang terlihat sangat sederhana. Terlihat seorang wanita paruh bayah bersama suaminya, diikuti anak-anak panti keluar untuk menyambut detangan Reza beserta keluarganya.


"Assalamu'alaikum. Selamat pagi P Rusdi dan Bu Diana. Selamat pagi anak-anak," sapa Reza sopan.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi juga Pak Reza dan keluarga. Selamat datang di rumah kami yang sederhana ini," sahut Diana, si pemilik panti asuhan dengan senyum ramah.


"Terima kasih bu," timpal Lira lembut.


Reza dibantu Jono langsung mengeluarkan kardus dari mobil pick up yang memuat mainan dan beberapa bahan pokok makanan serta pakaian ke dalam panti asuhan. Anak-anak pun bertepuk tangan dengan perasaan senang dan tak sabaran untuk segera melihat isi dari beberapa kardus yang dibawa.


Meski tak memiliki nasib yang sama, tapi Lira pernah merasakan berat hidup dalam kekurangan.


Diana dan suaminya pun mempersilakan keluarga Reza untuk masuk ke dalam rumah sederhana yang telah disulap menjadi panti asuhan itu.


Di ruang tengah panti asuhan itu, keluarga Reza disambut hangat oleh sebagian dari anak-anak yang sudah menunggu kedatangan mereka dengan antusias. Duduk dengan beralaskan karpet membuat suasana kesederhanaan begitu kental terasa.


Reza yang sebelumnya telah menghubungi Diana, telah menyampaikan maksud dan tujuan mereka ke panti asuhan. Diana dan suaminya tentu menyambutnya dengan hati yang senang. Pasalnya, panti asuhannya sangat jarang mendapat bantuan donasi karena bentuknya dari panti asuhan yang terlihat tidak meyakinkan bagi para donatur untuk menyumbang di sana.


"Bun, kakak udah boleh bagiin mainannya belum?"


"Boleh sayang. Baginya harus adil ya. Adek juga boleh bantu, sayang," jawab Lira lembut.


Para anak-anak panti mulai berbaris rapi. Inas dan Haidar dengan semangat mulai membagikan mainan kepada teman-teman baru mereka. Semua mendapat mainan dengan adil sesuai umur dan jenis mainan. Setelah itu, Inas dan Haidar ikut bermain bersama dengan gembira.


Saat anak-anak sedang asik bermain, para orang tua sibuk membahas tentang awal mula dibangunnya panti asuhan. Diana pun menceritakan semuanya dengan jelas.


Panti asuhan yang dulunya hanya merupakan rumah dari sepasang suami istri yang hidup dalam kesederhanaan bersama suami dan satu anaknya, kini berubah menjadi tempat untuk menampung puluhan anak-anak yang kurang beruntung dalam mendapat kasih sayang dari orang tua mereka.


Diana dan suaminya mengubah rumah mereka menjadi panti asuhan karena berawal dari keinginan putri semata wayang mereka yang ingin mengangkat adik angkat dari panti asuhan. Ditambah lagi, rasa kepedulian Diana terhadap anak-anak yang terlantar begitu besar, membuat ia dan suaminya mengambil keputusan besar dengan merubah tempat tinggal mereka menjadi panti asuhan.


Bukan perkara mudah memang. Pekerjaan Rusdi, suami Diana sebagai pegawai negeri di salah satu kantor instansi di ibu kota, tentu tidak cukup untuk menghidupi puluhan anak-anak asuhan mereka. Berbagai cara sudah mereka lakukan untuk mencari tambahan biaya dengan cara berjualan kue kering dan gorengan. Namun, tetap saja tak bisa menutupi kekurangan yang ada.


"Masya Allah. Saya tidak menyangka, ternyata di ibu kota yang terkenal kejam seperti Jakarta ini, masih ada orang yang berhati mulia seperti kalian," puji Martin salut pada sikap sepasang suami istri yang berhati mulia itu.


"Alhamdulillah pak. Kalau bukan kita yang peduli sama mereka, maka siapa lagi?" timpal Rusdi sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


Mereka berbincang-bincang hangat sambil menikmati hidangan sederhana yang disiapkan oleh Diana bersama putri semata wayangnya yang telah remaja.


"Oh ya, kami sudah menyiapkan pakaian untuk anak-anak di panti ini. Dan kami juga bersedia menjadi donatur tetap yang akan membiayai sekolah anak-anak di panti asuhan ini sampai selesai," ucap Martin.


Diana dan Rusdi langsung mengucap syukur. Kesabaran mereka membuahkan hasil. Hadirnya keluarga Reza yang bersedia menjadi donatur tetap di panti asuhan mereka, seolah menemukan mata air di gurun pasir. Diana dan Rusdi merasa sangat terharu.


"Alhamdulillah. Terima kasih banyak Pak Martin, Bu Irma, Mas Reza dan Mbak Lira. Terima kasih banyak," ucap Rusdi dan Diana dengan penuh haru.


"Sama-sama pak. Semua ini rejeki dari Allah lewat kami, untuk anak-anak di sini," sahut Martin penuh wibawa.


Lira pun ikut mengucap syukur karena memiliki mertua yang begitu baik dan selalu siap membantu orang yang kesusahan, seperti dirinya dulu.


🌸🌸🌸🌸


Keluarga Reza pulang dari panti asuhan setelah sholat ashar berjamaah. Mereka pulang dengan diantar hingga ke mobil oleh Diana dan Rusdi serta anak-anak panti yang terus saja mengucapkan terima kasih dengan tulus dan terus melambaikan tangan hingga mobil Reza menghilang dari pandangan.


Inas dan Haidar merasa sangat bahagia bisa bermain bersama teman-teman baru.


"Pa, nanti kita ke sini lagi ya," ucap Inas senang.


"Boleh sayang. Insya Allah kita ke sini lagi kalo kakak udah libur sekolah," jawab Reza sambil mengusap lembut kepala Inas.


"Kakak seneng ya ke sini?" tanya Irma.


"Iya eyang. Kakak seneng banget kalna bisa punya banyak temen,"


"Oh ya? Tadi kakak sama adek main apa aja? keliatannya seru banget. Timpal Martin.


"Tadi kakak main ulal tangga, telus main masak-masak sama main doktel-doktel. Kakak yang jadi doktelnya, eyang. Kalo adek tadi main mobil-mobil sama lobot-lobot."


Inas begitu antusias menceritakan pengalaman barunya bersama teman-teman di panti. Bahkan tadi Inas sempat menolak pulang karena terlalu asik bermain.


"Makasi ya mas, mama sama papa. Udah buat Lira selalu merasa bersyukur hadir di tengah-tengah kalian," ucap Lira terharu.


"Harusnya kami yang bilang terima kasih karena kamu telah memberikan banyak pelajaran berharga dalam hidup kami," jawab Martin sambil mengusap kepala Lira.


"Iya sayang. Apa yang papa bilang itu benar. Terima kasih untuk ketulusan dan kesabaran sayang selama ini. Terima kasih juga karena sayang telah melahirkan anak-anak yang begitu hebat untuk mas."


Reza menyium kening Lira tanpa rasa malu di depan kedua orang tuanya. Rasa cinta Reza pada wanita berparas cantik nan teduh itu tak bisa dibandingkan dengan apapun yang ada di dunia ini.


"Kakak juga mau dicium," ucap Inas dengan wajah menggemaskan.


Reza dan Lira langsung menghujani wajah mungil Inas dengan ciuman bertubi-tubi. Reza merasa bersyukur, anak yang dulu pernah ia tolak kehadirannya, kini tumbuh menjadi anak yang cerdas serta memiliki jiwa peduli yang tinggi.


Sementara Haidar telah tertidur pulas dipangkuan sang eyang. Bocah tampan itu kelelahan usia bermain di panti.


"Udah yuk, sekarang kakak mandi ya. Bau acem ih, kakak," goda Lira sambil mengibaskan tangannya di depan hidung.


Inas langsung menyium badannya sendiri untuk memastikan ucapan ibunya. Namun, hal itu semakin membuat Reza menjadi gemas karena ulah polos putri kesayangannya.


🌸🌸🌸🌸


Bersambung.....😊


Note: Berbuat baiklah pada siapa pun karena kita tak akan pernah tahu, kapan Allah akan membalasnya. Dihina dan dicibir karena membantu orang tak akan membuatmu rendah, tapi justru membuatmu menjadi mulia di mata Allah.


jangan lupa dukungannya ya...

__ADS_1


terima kasih❤️


__ADS_2