
Lira bangun dengan kondisi badannya yang sudah terasa segar. Kali ini waktu istirahat Lira, cukup berkualitas daripada sebelumnya. Lira melihat jam dindingnya sudah menunjukkan pukul 15.00 wib, lalu Lira beranjak dari tempat tidur menuju dapur untuk mengambil air minum. Tenggorokannya terasa sangat kering. Setelah itu Lira kembali ke kamarnya. Lira mengecek ponselnya, siapa tahu sudah ada kabar baru tentang kondisi ibunya sekarang.
Mata Lira membulat sempurna ketika melihat 3 panggilan tak terjawab dari Martin. Merasa tidak enak karena tidak menjawab panggilan itu, Lira balik menghubungi Martin. Namun sialnya, pulsa Lira tidak cukup untuk melakukan panggilan. Ternyata Lira lupa untuk mengisi pulsa pada ponselnya. Akhirnya Lira hanya bisa mengirim pesan pada Martin, berisikan permintaan maaf tidak mengangkat telponnya karena ketiduran.
Entah hanya kebetulan atau memang Martin sedang menunggu balasan telpon dari Lira, karena baru beberapa menit saja pesan Lira terkirim, Hp Lira langsung bergetar. Martin langsung menelpon Lira. Tanpa menunggu lama, Lira langsung menjawabnya.
"Halo, Assalamu'alaykum?" Sapa Lira sopan.
"......"
"Kapan ya, Om?"
"......."
"Baik. Insya Allah Lira akan datang."
"......."
"Sama-sama, Om. Wa'alaykumussalam."
Setelah menutup telponnya, jantung Lira langsung berdetak kencang. Minggu depan Lira harus bertemu keluarga Martin di restoran mewah yang berada tidak jauh dari kosannya.
Lira sudah tak bisa lagi mundur dari keadaan ini. Pasrah, cuma itu yang bisa Lira lakukan sekarang.
🌸🌸🌸🌸
Usai menelpon Lira, Martin langsung memberitahukan berita baik itu kepada Irma, dan disambut bahagia oleh istrinya itu.
Berbeda dengan Reza yang langsung memasang tampang sinis. Martin menyadari perubahan wajah Reza langsung bertanya.
"Kamu kenapa jadi sinis gitu, Za?" Tanya Martin.
"Sinis gimana sih, Pa? Wajah Reza kan emang kayak gini" Reza memasang wajah tak berdosa, seolah tak mengerti maksud pertanyaan ayahnya.
"Gak usah sok gak tahu maksud Papa, Za!" Geram Martin dengan tingkah Reza.
__ADS_1
"Reza memang gak ngerti kok."
"Awas aja kalo kamu mau coba-coba ingkar janji sama Papa" Ancam Martin.
"Iya, Pa iya. Reza gak akan ingkar janji" Jawab Reza.
"Papa pegang janji kamu. Papa udah atur pertemuan dengan gadis itu Minggu depan di restoran xxx dekat kosanya. Jadi kamu harus kosongkan jadwal saat itu. Kita berangkat sama-sama kesana saat jam makan siang" Jelas Martin dengan wajah serius.
Martin sengaja memilih bertemu pada saat makan siang, karena malam hari Lira harus bekerja.
"Hufftt....Iya Pa, Reza usahain buat kosongin jadwal di Rumah Sakit" Jawab Reza pasrah.
Sedangkan Irma hanya bisa diam tanpa berani menyela percakapan di antara ayah dan anak itu.
🌸🌸🌸🌸
Waktu pertemuan pun tiba. Hari ini Lira memilih memakai gamis, tas selempang, dan sendal pemberian Bela. Gamis itu terlihat pas dan elegan ditubuh mungil Lira. Ditambah jilbab pasmina dengan warna senada menutupi dadanya, membuat Lira terlihat lebih anggun.
Lira menaburkan bedak bayi pada wajah cantiknya dan lip balm di bibir mungilnya. Penampilan Lira terlihat sangat sempurna walau hanya dengan polesan sederhana.
Sekali lagi, Lira melihat pantulan dirinya di cermin. Setelah yakin penampilannya telah sempurna, Lira segera keluar kamar.
Kemudian mobil mewah itu melaju keluar dari area kumuh tempat tinggal Lira.
🌸🌸🌸🌸
Keluarga Martin telah tiba lebih dulu. Mereka langsung masuk ke dalam private room yang telah diboking sebelumnya.
20 menit kemudian, Lira tiba di depan restoran mewah itu. Dengan ragu Lira melangkah masuk ke dalam. Namun sebelumnya Lira berpamitan dan mengucapkan terima kasih pada sang supir yang telah bersedia menjemputnya.
Lira masuk ke dalam restoran dan langsung disambut oleh pelayan yang telah ditugaskan untuk menunggunya di depan pintu masuk restoran.
Lira tersenyum ramah pada pelayan wanita yang usianya jika dilihat lebih tua darinya. Pelayan itu membalas senyum Lira tak kalah ramah. Lalu pelayan itu mengantar Lira menuju private room tempat di mana keluarga Martin berada.
Lira tercengang melihat interior mewah yang ada di restoran itu. Bahkan restoran itu tak kalah mewah dari restoran yang pernah Lira datanangi waktu itu bersama Martin.
__ADS_1
Lira masuk ke dalam private room dengan jantung yang berdetak lebih kencang dari biasanya.
Ketika melihat pintu terbuka, Marin dan Irma langsung mengarahkan pandangannya ke arah Lira yang sudah memasang wajah manisnya. Irma tercengang melihat gadis cantik dengan penampilan yang sederhana dibalut gamis dan jilbab itu.
Lira melihat Martin dan Irma, lalu tersenyum ramah. Pandangan Lira beralih ke arah pria yang mengenakan kemeja biru muda polos, yang duduk membelakangi pintu. Jantung Lira kembali berdetak sangat kencang. Lira meremas tangannya yang sudah keringat dingin.
Untuk menghilangkan rasa canggungnya, Lira menyapa Martin dan Irma kemudian membungkukkan badannya untuk mencium punggung tangan mereka.
Irma merasa tersentuh dengan sikap sopan Lira. Di jaman sekarang, sangat susah menemukan gadis sederhana dan sopan seperti ini, pikir Irma.
Martin menyuruh Lira untuk duduk di kursi dekat Reza. Lira melirik ke arah Reza yang hanya diam sejak tadi tanpa melihat atau menyapanya sedikit pun.
"Ehem." Martin berdehem untuk mencairkan suasana. "Lebih baik kita makan saja dulu, baru nanti kita bisa mulai percakapan" alnjut Martin memberi usulan dan dibalas anggukan oleh Irma dan Lira.
🌸🌸🌸🌸
Makan siang kali ini benar-benar terasa sangat berbeda. suasana canggung begitu terasa mendominasi . Bahkan tak ada percakapan di antara mereka. Yang terdengar hanyalah dentingan sendok dan piring yang saling bersenggolan.
Cukup lama Lira larut dalam kecanggungan berada di antara keluarga kaya itu.
Di sela-sela makan, Reza sesekali melirik ke arah Lira dengan tatapan sinis, sedangkan Lira tak menyadari itu. Lira mencoba bersikap tenang dengan cara menikmati makan mewah yang ada di hadapannya.
Setelah makan siang yang penuh kecanggungan itu selesai, Martin memulai percakapannya dengan tenang.
"Kalian pasti sudah tahu maksud dari pertemuan hari ini?" Tanya Martin pada Reza dan Lira.
Reza hanya menjawab pertanyaan Martin dengan deheman sambil terus memasang wajah datar. Sedangkan Lira mengangguk pelan sambil memasang senyum manisnya.
"Papa sengaja mengajak kalian ke sini untuk membahas pernikahan kalian yang akan dilaksanakan bulan depan.
Lira langsung terkejut.
"Kenapa bisa secepat ini? Bahkan aku belum ngasih tahu ke ibu. Batin Lira resah.
Martin yang sadar dengan perubahan wajah Lira, kemudian tersenyum. Martin paham dengan reaksi Lira saat ini.
__ADS_1
Seperti biasa, Reza hanya memasang wajah datar. Reza lebih memilih diam tanpa membantah ucapan ayahnya. Karena ia tak punya hak untuk itu.
Bersambung.