
Selamat membaca......🌹🌹🌹🌹
🌸🌸🌸🌸
Satu bulan kemudian.....
Ketegangan tengah menyelimuti hati Doni. Pasalnya, sejak subuh tadi Amel sudah mulai merasakan kontraksi yang menyerang dengan durasi lima menit sekali. Hal itu membuat Doni menjadi panik. Untungnya Doni mengajak Amel untuk tinggal kembali di rumah orang tuanya saat Amel mulai merasakan kontraksi palsu mendekati HPL, jadi masih ada ibu dan ayahnya yang ikut membantu menenangkannya di saat panik seperti ini.
Doni beserta kedua orang tuanya langsung membawa Amel ke rumah sakit terdekat sambil membawa tas berisi perlengkapan bayi yang sudah mereka siapkan dari jauh-jauh hari. Supir dengan sigap mengendarai mobil menuju rumah sakit. Beruntung pagi itu jalanan masih terlihat sepi, hanya ada beberapa kendaraan saja yang melintas sehingga memudahkan mereka untuk tiba di rumah sakit lebih cepat.
Saat tiba di rumah sakit, Amel langsung ditangani oleh dokter, setelah itu ia dibawa ke ruang perawatan untuk dipasangkan infus sebelum nantinya dipindahkan ke ruang bersalin karena saat ini, Amel baru memasuki pembukaan tujuh.
Doni dengan setia menemani istrinya berjalan-jalan di sekitar ruangan agar mempercepat proses persalinan. Saat kontraksi itu kembali datang, Amel mencekram kuat bahu Doni sambil terus menahan sakit. Doni harus rela menahan sakit saat tubuhnya menjadi sasaran empuk Amel yang menggigitnya untuk mengalihkan rasa sakitnya.
"Sayang, kamu harus kuat ya." Doni terus mengusap lembut punggung hingga ke pinggang istrinya yang saat ini sedang memeluknya.
"Allahu Akbar, mas ini sakit banget. Amel udah gak kuat, mas." Balas Amel sambil menahan sakit.
"Kita balik lagi ke kamar ya."
Amel hanya mampu mengangguk tanpa bersuara. Kemudian Doni membantu Amel untuk baring di ranjang yang ada di kamar bersalin sambil terus menggenggam tangan istrinya dan mengusap lembut kening istrinya yang sudah dipenuhi keringat.
"Sayang, ini minum dulu."
Amel meminum air itu hingga tandas lalu memberikan botolnya pada suaminya. Untuk beberapa saat, Amel masih bisa istirahat tenang karena rasa sakitnya perlahan menghilang. Belum lama Amel istirahat, ia kembali merasakan sakit di bagian pinggang dan perutnya juga terasa mulas. Tak lama kemudian, air ketuban Amel pecah.
Amel mulai menjerit kesakitan disertai tangisnya. Doni menjadi semakin panik saat melihat istrinya menangis kesakitan. Kemudian datang dokter berserta bidan untuk mengecek kondisi Amel.
"Kamu jangan panik, nak. Itu istri kamu lagi kesakitan, harusnya kamu kasih dia semangat bukannya panik kayak gitu." Omel Marta gemas melihat tingkah putranya.
"Ma, Doni gak tega liat Amel kesakitan kayak gini." Ucap Doni sambil menangis.
"Kamu harus kuat. Cepet masuk, temenin istri kamu di dalam." Titah Marta tegas.
Doni masuk ke dalam ruang bersalin dengan perasaan kalut antara sedih dan takut. Namun, Doni mengingat pesan ibunya agar tetap kuat dan tak boleh panik. Ia harus terlihat kuat di depan istrinya yang sedang berjuang melahirkan anaknya.
Doni terus memberi semangat pada Amel sambil mengecup kening istrinya yang sudah dipenuhi keringat. Amel terus mengejan, menahan sakit untuk mengeluarkan anaknya dari dalam perutnya.
Tepat pukul 12 siang bertepatan dengan masuknya waktu sholat dhuhur, terdengar suara tangisan dari bayi perempuan yang memenuhi ruangan. Bayi itu lahir dengan sempurna. Doni melakukan sujud syukur lalu mengecup kening Amel berkali-kali.
"Alhamdulillah. Terima kasih sayang, sudah berjuang melahirkan anak kita."
Amel hanya mengangguk lemah sambil tersenyum samar. Nafasnya tersengal-sengal, tubuhnya juga terasa lemas karena kehabisan tenaga.
Bayi mungil itu diletakan di atas dada Amel untuk diberi ASI pertama. Amel menangis haru saat melihat wajah putri kecilnya yang selama sembilan bulan berada dalam perutnya.
Usai menyusui, bidan mengambil bayi itu untuk dibersihkan lalu dibedong. Dokter memberikan bayi mungil itu pada Reza untuk di adzankan.
"Dari Husein, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang dilahirkan untuknya seorang bayi, lalu dia mengazani telinganya sebelah kanan, dan mengiqamati telinganya sebelah kiri, maka ia tidak akan celaka oleh Ummu Shibyan (jin pengganggu anak kecil)" (HR. Abu Ya’la Al-Mushili).
Mata Doni berkaca-kaca saat pertama kali menggendong anaknya. Doni tak menyangka, ia diberikan anugerah yang sangat indah seperti ini.
Setelah itu, Doni keluar dari ruangan karena Amel akan dibersihkan oleh dokter. Doni menghampiri kedua orang tuanya yang masih menunggu di luar ruangan bersalin. Doni memeluk ibunya dengan disertai tangisnya.
"Ma, maafin Doni karena belum bisa jadi anak yang baik untuk mama sama papa. Doni baru sadar, ternyata mama bertarung nyawa waktu lahirin Doni. Terima kasih udah berjuang melahirkan Doni, ma." Ucap Doni sambil menangis.
"Iya, sayang. Kamu anak mama yang baik dan penurut. Kamu belum pernah ngecewain mama sama papa." Jawab Marta sambil tersenyum haru. "Sekarang kamu udah jadi seorang papa, jadi kamu harus bisa jadi orang tua yang baik untuk anak kamu. Didik dia agar menjadi anak solehah dan membanggakan keluarga." Lanjut Marta.
__ADS_1
"Insya Allah, ma."
"Selamat ya, son. Akhirnya kamu jadi seorang papa." Sigit memeluk putra dengan perasaan bahagia dan bangga.
🌸🌸🌸🌸
Saat mendapat kabar tentang kelahiran putri sahabatnya, Reza langsung mengajak Lira menuju rumah sakit, sedangkan Inas dititipkan pada orang tua mereka. Sebelum ke rumah sakit, Reza dan Lira mampir membeli hadiah untuk putri Doni.
*tok....tok...tok...
ceklek*
"Assalamu'alaykum." Reza dan Lira mengucapkan salam bersamaan saat memasuki ruang perawatan Amel.
Semua yang ada di ruangan itu langsung menoleh ke sumber suara lalu sama-sama menjawab salam.
"Wa'alaykumussalam Warahmatullah."
"Ya ampun, Reza? Kamu kok gak pernah lagi main ke rumah mama, sih?" Heboh Marta saat melihat Reza.
Reza hanya menyengir kuda sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hehe, maaf ma. Reza sibuk." Jawab Reza dengan senyum kaku. "Selamat bro, akhirnya lo bisa ngikutin jejak gue." Lanjut Reza sambil memeluk sahabatnya.
"Iya, bro. Gue gak nyangka, ternyata rasa sebahagia ini." Jawab Doni dengan wajah bahagia.
Reza menyuruh Lira memberikan hadiah yang telah mereka beli, berisis beberapa perlengkapan bayi kepada Doni.
"Itu siapa, Za?" Tanya Marta Lagi.
"Oh iya, kenalin ini istri Reza. Sayang, ini orang tua Doni, yang berarti orang tua mas juga."
"Aduh, cantik banget sih istri kamu. Sama cantiknya dengan menantu mama. Udah gitu, solehah dan sopan lagi. Pinter banget sih kalian nyari istri." Marta mengusap lembut wajah Lira. "Mama jadi malu sama istri kalian, pada menutup aurat. Mama pengen deh, berhijab seperti kedua mantu mama ini." Lanjut Marta.
Selama ini Marta selalu berpenampilan bak ibu-ibu sosialita pada umumnya dengan berpakaian serba bermerek dan perhiasan mahal menghiasi tubuhnya. Namun, sejak hadirnya Amel di kehidupan mereka, perlahan membuka mata hati Marta yang selama ini selalu lalai dalam beribadah.
"Ya udah, kalo gitu hari ini papa anter mama beli baju muslim sama kerudung." Ucap Sigit semangat karena sudah lama ia ingin melihat istrinya berhijab. Namun, ia tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya ke istrinya tanpa harus menyakiti perasaannya. Selain itu juga, Sigit merasa belum memiliki ilmu agama yang cukup untuk menjelaskan ke istri dan anak perempuannya tentang kewajiban wanita muslimah untuk berhijab.
Marta mengangguk setuju dan semua yang berada di ruangan itu ikut bahagia mendengar keinginan Marta untuk berhijab. Mereka tak lupa mengucap syukur atas hidayah yang telah Allah berikan kepada keluarga Doni.
"Oh iya, nama dedek bayinya siapa?" Tanya Lira saat ia sudah menggendong bayi menggemaskan itu.
"Namanya Abidah Khairiyah, panggilannya Riri yang artinya wanita yang tekun beribadah dan bersifat baik. " Jawab Doni dengan senyum bahagia.
"Masya Allah, nama yang cantik. Semoga kelak dia jadi wanita yang tekun beribadah seperti namanya serta menjadi penyejuk hati kedua orang tuanya. Aamiin." Ucap Lira
Semua yang ada di ruangan itu juga ikut mengaminkan doa Lira.
Cukup lama Reza dan Lira berbincang-bincang dengan keluarga Doni, kemudian mereka berpamitan pulang karena Irma telah menghubungi mereka mengatakan bahwa Inas mulai menangis mencari orang tuanya.
🌸🌸🌸🌸
Saat berada di mobil, Reza terus menggenggam tangan mungil Lira sambil terus mengecupnya. Hal itu sudah menjadi kebiasaan Reza saat sedang berdua dengan istrinya.
"Sayang?" Panggil Reza lembut.
Lira menoleh ke arah Reza "Hmmm, ada apa mas?"
__ADS_1
"Dulu waktu sayang lahirin si dedek, di mana?"
Pertanyaan itu yang selalu terlintas difikiran Reza. Ia selalu ingin bertanya pada Lira, namun ia merasa tak enak hati. Ia takut jika hal itu akan membuat Lira kembali mengingat masa lalunya yang begitu menyakitkan.
"Dulu Lira lahiran di rumah, mas. Dibantu sama dukun beranak karena jarak puskesmas cukup jauh dari rumah." Jawab Lira dengan senyum lembut.
Deg
Hari Reza mendadak sakit mendengar jawaban menyesakkan dari mulut Lira. Meski Lira menjawabnya sambil.tersenyum, namun tetap terlihat jelas kesedihan di matanya.
Bagaimana bisa anakku lahir dengan bantuan dukun beranak? Apa itu gak berbahaya? Ya Allah, terima kasih karena engkau telah menyelematkan anak dan istri hamba. Batin Reza.
"Sayang, kayaknya si dedek udah waktunya punya temen main deh, di rumah." Ucap Reza mengalihkan pembicaraan agar tak melebar semakin jauh dan akan membuat dada mereka menjadi sesak.
"Maksud mas apa? Bukannya dedek udah punya mama, papa, sama ibu yang jadi temen mainnya?" Tanya Lira polos.
Reza menghela nafas pelan. Ia lupa jika umur istrinya masih sangat muda, jadi belum paham dengan bahasa kode seperti yang barusan Reza ucapkan.
"Maksud mas, gimana kalo kita buatin adik untuk Inas biar dia gak kesepian." Balas Reza dengan bahasa yang mudah dipahami.
Mata Lira langsung melotot dengan mulut yang menganga terbuka lebar.
"Mas, gak salah? Si dedek kan masih kecil, masak udah buat lagi?" Protes Lira.
Sebenarnya Lira merasa malu saat Reza mengucapkan ingin membuat anak lagi. Namun, ia sengaja menutupinya dengan pura-pura memasang wajah cemberut.
"Sayang, umur Inas kan udah satu tahun. Jadi, udah bisa punya adik." Reza masih tak ingin mengalah karena sudah lama ia menahan hasratnya.
"Tapi kalo Inas udah punya adik, Lira takut nanti kasih sayang kita bakal terbagi dan kita akan mengabaikan dia." Jawab Lira dengan wajah sendu.
"Gak akan sayang. Kita akan tetap menyayangi Inas seperti sebelumnya. Gak akan ada yang berubah." Reza mencoba menghilangkan kekhawatiran di hati Lira.
"Ya udah, deh. Lira mau." Jawabnya dengan wajah merona karena malu.
"Serius, sayang?"
Lira mengangguk sambil menundukkan wajahnya yang sudah berubah merah.
"Yesssss!!!!! Alhamdulillah, akhirnya aku bisa me....,"
"Mas!" Lira dengan cepat memotong ucapan Reza sebelum lelaki itu mengucapkan kata-kata mesum yang membuat Lira menjadi semakin malu.
"Hehe, maaf sayang. Mas terlalu senang jadi keceplosan."
Reza tak dapat menyembunyikan wajah bahagianya. Setelah cukup lama ia berpuasa, akhirnya Lira bersedia untuk membuka puasa Reza.
🌸🌸🌸🌸
Bersambung .....
jangan lupa dukungannya ya
LIKE, KOMEN, VOTE, VOTE, DAN VOTE SEIKHLASNYA.
jangan lupa juga baca karya author yang berjudul
"CAHAYA DAN BARA"
__ADS_1
"PELANGI UNTUK SENJA"
TERIMA KASIH...😊♥️