Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 108


__ADS_3

"Tidaklah sedekah itu mengurangi harta dan tidaklah pemberian maaf itu kecuali ditambah kemuliaan oleh Allah dan tidaklah seseorang tawadhu karena Allah, kecuali Dia akan mengangkat derajatnya.” (HR Muslim).


Selamat membaca........🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Selama proyek pengerjaan rumah sakit belum sepenuhnya rampung, Reza terpaksa bolak-balik dari Jakarta ke Bandung. Tak jarang ia akan pulang hingga larut malam dan pergi lagi usai melaksanakan sholat subuh. Terkadang Lira merasa khawatir dengan kondisi kesehatan suaminya. Tapi, Lira tak bisa berbuat apa-apa karena semua sudah menjadi keputusan Reza yang memilih untuk tidak menginap di Bandung. Lira hanya bisa berdoa, semoga suaminya selalu dilindungi dalam segala musibah.


Pagi ini, Lira sedang disibukkan dengan tanggung jawabnya untuk menyiapkan keperluan suaminya yang terpaksa harus menginap selama beberapa hari di Bandung karena pembangunan rumah sakit yang hampir rampung itu tiba-tiba mendapat demo dari beberapa warga sekitar. Padahal sebelum proyek itu berjalan, Reza telah lebih dahulu mengurus perizinannya dan sudah membayar lunas sebagian tanah milik warga yang berada dilingkungan proyeknya.


Sebagai pemilik pemilik rumah sakit, Reza harus turun tangan sendiri untuk menangani masalah yang tiba-tiba datang menghambat proyeknya.


"Mas, perlengkapan mandi sama parfum, Lira simpen di sini ya." Ucap Lira sambil memasukan perlengkapan milik Reza ke dalam tas kecil berwarna hitam yang dikhususkan untuk menyimpan barang-barang pribadi milik suaminya.


"Iya, sayang." Jawab Reza tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.


Saat ini, Reza sedang menghubungi Ferdi untuk menggantikan dirinya menangani perusahaan, selama Reza berada di Bandung.


Lira terus mondar-mandir memasukan pakaian Reza ke dalam koper. Tak lupa juga jaket tebal untuk jaga-jaga dari hawa dingin. Beberapa kali Lira mengecek, takut masih ada barang penting yang tertinggal atau terlupakan. Setelah dirasa semua telah lengkap, Lira berjalan ke sofa tempat Reza duduk.


"Semua udah siap, mas." Ucap Lira saat ia menjatuhkan bokongnya di sofa telat di sebelah Reza yang masih sibuk dengan ponselnya.


"Makasih, sayang."


"Sama-sama. Oya, mas udah bilang ke kakak kalo mas mau ke luar kota?"


"Belum, sayang. Sebenarnya mas gak tega ninggalin kalian, tapi masalah di sana memang cukup serius dan harus mas yang tangani langsung."


"Gak papa, mas. Yang penting, selama di sana mas gak boleh telat makan, jangan lupa sholat dan mas harus jaga kesehatan."


"Iya, sayang. Istri mas perhatian banget sih.


Jadi tambah cinta, deh."


Reza memeluk tubuh mungil Lira disertai kecupan di pucuk kepalanya. Rasanya sangat berat meninggalkan istri dan anaknya. Meski hanya tiga hari, tapi Reza merasa tak sanggup untuk berjauhan dari kedua belahan jiwanya.


"Udah ya, mas. Nanti telat berangkatnya."


Lira mendongakkan wajahnya melihat suaminya yang merasa enggan untuk melepaskan pelukannya yang terasa nyaman.


"Mas, udah ya."


"Lima menit lagi, sayang."


Lira pasrah saat Reza memeluknya erat lalu mengecup seluruh wajahnya tanpa satu pun yang terlewati. Awalnya Lira merasa geli, tapi ia paham bagaimana perasaan suaminya saat ini.


"Sayang juga harus jaga kesehatan, ya. Kalo sayang butuh sesuatu atau lagi pengen makan sesuatu, sayang minta aja ke asisten rumah. Dan satu lagi, sayang gak boleh capek-capek." Ucap Reza usai mengecup gemas seluruh wajah Lira.


"Iya, mas. Yuk, kita ke bawah." Ajak Lira sambil menggandeng tangan Reza menuju ruang tamu. Sementara Reza hanya mengangguk lemah mengikuti langkah kecil Lira.


🌸🌸🌸🌸


"Papa pergi kerja dulu ya, sayang. Kakak gak boleh nyusahin bunda, oke!"


"Oke, papa."


Reza memeluk tubuh mungil Inas dan menggendongnya menuju mobil. Tak lupa Reza menyium gemas pipi gembul Inas yang terlihat semakin lucu dan langsung disambut tawa kencang oleh Inas.


Reza berpamitan pada kedua orang tuanya dengan menyium punggung tangan kedua orang tuanya. Setelah itu, Reza beralih ke istrinya yang berdiri di depannya. Ia bersimpuh di depan perut buncit Lira lalu mengusap perutnya dan mengecupnya berkali-kali. Setelah itu, Reza menyium kening Lira dengan mesra dan Lira pun membalasnya dengan menyium punggung tangan suaminya.

__ADS_1


"Mas berangkat ya, sayang. Assalamu'alaikum."


"Iya, mas. Wa'alaikumussalam Warahmatullah. Hati-hati di jalan, ya." Ucap Lira disertai senyum lembut di wajahnya.


"Iya, sayang. Insya Allah."


"Pak Jono, tolong hati-hati ya, jangan ngebut." Lanjut Lira.


"Insya Allah, Non Lira." Jawab Jono sopan.


Reza kembali menyium gemas kedua pipi Inas lalu menurunkannya dari gendongan. Setelah itu Reza masuk ke dalam mobil.


Ya, Reza sengaja menggunakan mobil daripada pesawat karena ia merasa lebih leluasa dan bisa langsung ke tempat lokasi proyek. Selain itu, tanpa sepengetahuan Lira, Reza berniat untuk mengunjungi seseorang, setelah urusannya selesai.


Lira terus memerhatikan mobil Reza hingga menghilang dari pandangannya, barulah Ia masuk ke dalam rumah bersama Inas dan kedua mertuanya.


🌸🌸🌸🌸


Reza tiba di Bandung setelah menempuh perjalanan kurang lebih hampir tiga jam lamanya. Ia langsung menuju hotel tempat ia menginap selama beberapa hari di sana untuk beristirahat, sebelum nantinya ia akan ke lokasi proyek untuk bertemu para pekerja proyek yang ingin bertemu dengannya. Reza mengambil ponselnya lalu menghubungi istrinya.


"Assalamu'alaikum, sayang."


"Wa'alaikumussalam Warahmatullah. Mas udah tiba di Bandung?"


"Udah, sayang. Mas baru aja tiba dan langsung ke hotel."


"Mas, udah makan?"


"Udah, sayang. Tadi sebelum ke hotel, mas mampir makan dulu di restoran. Kalo sayang dan kakak udah makan, belum?"


"Kalo si kakak, udah makan. Lira yang belum."


"Tadi Lira habis makan bubur kacang ijo, jadi Lira masih kenyang."


"Ya udah. Tapi kalo sayang laper, langsung makan ya."


"Iya, mas."


"Udah dulu ya, sayang. Mas mau sholat terus ke lokasi proyek. Sayang jaga kesehatan dan jangan lupa, vitaminnya diminum."


"Iya suamiku yang super bawel."


Reza terkekeh mendengar ucapan Lira yang mengatainya bawel. Tapi memang begitu adanya. Reza sangat cerewet soal apapun tentang isyrinya. Tapi, Reza akan lebih cerewet jika sudah menyangkut soal makanan yang ingin Lira makan. Jika Lira ingin makan jajanan di luar, Reza harus melihat dahulu kebersihan dari makanan itu. Tak jarang Lira merasa kesal dengan sikap suaminya yang sangat berlebihan. Tapi itulah bentuk rasa cinta dan sayang Reza pada Lira.


"Semua kan demi kebaikan sayang. Jadi gak boleh protes ya."


"Hmmm. Iya, mas."


"Udah ya, sayang. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam Warahmatullah."


Reza mengakhiri panggilannya lalu tersenyum melihat wajah anak dan istrinya di layar ponselnya. Baru beberapa jam saja mereka berpisah, tapi Reza sudah merasa rindu pada anak dan istrinya.


Reza memilih beristirahat sejenak untuk menghilangkan rasa lelahnya. Ia masih memiliki waktu sekitar setengah jam sebelum masuk waktu sholat dhuhur.


🌸🌸🌸🌸


Reza sudah berada di lokasi proyek dan langsung menemui beberapa orang pekerjanya yang sudah menunggunya sejak beberapa waktu yang lalu.

__ADS_1


Reza turun dari mobilnya sambil memasang wajah dingin tanpa senyum, seperti yang biasa ia lakukan jika sedang berhadapan dengan orang lain, selain keluarganya.


Para pekerja proyeknya langsung berdiri ketika Reza sudah berjalan ke arah mereka. Tanpa basa-basi, Reza langsung duduk di antara mereka


"Langsung saja, apa alasan warga tiba-tiba berdemo?


"Begini, pak. Sebenarnya sebagian dari warga yang tidak memiliki pekerjaan, meminta untuk bekerja di proyek ini sebagai buruh bangunan. Kami menolak karena di sini sudah penuh dan sudah tidak membutuhkan tenaga tambahan. Mereka jadi marah dan mengajak warga lain yang juga tidak memiliki pekerjaan untuk berdemo di sini. Jika keinginan mereka tidak dipenuhi, maka mereka mengancam akan merusak bangunan ini.." Jawab seorang penanggungjawab proyek dengan tenang dan jelas.


"Kalau begitu, atur waktu pertemuan dengan mereka di salah satu restoran yang ada di sekitar sini. Suruh mereka untuk temui saya setelah sholat ashar nanti. " Titah Reza tegas.


Para pekerja itu langsung mengangguk patuh. Penanggungjawab proyek ditugaskan untuk menemui salah satu warga yang berdemo tadi, di rumahnya dan menyampaikan pesan dari Reza, sang pemilik rumah sakit itu.


🌸🌸🌸🌸


Usai sholat ashar, Reza langsung menuju restoran yang berada di dekat proyek untuk menemui beberapa warga. Tak disangka, ternyata mereka telah tiba lebih awal dari waktu yang sudah ditentukan. Mereka merasa tak sabar untuk segera bertemu dengan sang pemilik rumah sakit itu.


Reza datang bersama Jono dan dua orang bodyguard yang berdiri tepat di belakangnya. Bukan karena Reza takut, hanya saja ia memilih berjaga-jaga. Mana tahu salah satu dari mereka ada yang membawa senjata tajam.


Reza duduk di tengah-tengah mereka dengan tenang dan langsung memulai percakapan.


"Saya dengar, kalian berdemo dan meminta proyek rumah sakit ini segera dihentikan. Padahal setahu saya, semua prosedur sudah diikuti. Saya juga sudah mengantongi surat izin mendirikan bangunan dari pemerintah setempat. Lalu apa yang membuat kalian tiba-tiba protes pada proyek yang sudah hampir selesai ini?" Tanya Reza tenang, tapi tatapannya terlihat sangat mengintemidasi.


Para warga itu, tadinya sangat bersemangat kini langsung menciut melihat tatapan mata Reza yang terlihat begitu menakutakan. Mereka langsung saling senggol satu sama lain. Dari mereka, tak ada yang berani membuka suara. Mereka hanya berani menunduk dengan tubuh yang sudah berkeringat dingin.


Akhirnya, salah satu dari mereka ada yang membuka suara dan menceritakan semua alasan mereka berdemo dengan suara terbata-bata karena merasa takut.


Reza tersenyum sinis setelah mendengar alasan mereka. Hanya karena ingin mendapat pekerjaan, mereka sampai harus melakukan tindakan yang tidak terpuji dan meresahkan.


"Jadi, alasan kalian berdemo hanya karena tidak diberi pekerjaan?" Tanya Reza, mengulangi pernyataan mereka.


"I-iya, tuan."


Reza menopang kedua tangannya ke dagu lalu menatap beberapa orang yang ada dihadapannya satu persatu.


"Baiklah. Saya akan memberikan kalian pekerjaan di proyek itu, tapi dengan syarat."


"Apa syaratnya tuan?"


"Kalian tidak boleh melakukan hal yang tidak terpuji seperti ini lagi. Ingat, kalian punya anak dan istri yang harus diberi makan dengan uang yang halal. Bukan dengan cara mengancam seperti ini."


"Baik, tuan. Kami janji, tidak akan mengulangi hal ini lagi."


"Dan satu lagi, jika proyek itu selesai dan telah diresmikan, saya akan mempekerjakan kalian di rumah sakit itu tapi sesuai dengan keahlian yang kalian miliki."


Sebelum bertemu dengan beberapa warga itu, Reza telah lebih dahulu mencari tahu tentang latar belakang mereka. Reza menjadi tak tega saat tahu tenyata para warga itu pernah menjadi korban perbudakan dari salah satu pabrik yang cukup besar yang ada daerah Pulau Maluku . Mereka bekerja setiap hari ,dari pagi sampai malam tanpa diberi upah hingga membuat keluarga mereka yang ada di kampung menjadi sengsara karena sang tulang punggung tak jua mengirimi uang.


Dari situlah, Reza berniat untuk membantu dengan memberikan pekerjaan agar keluarga mereka bisa hidup dengan layak.


"Baik, tuan. Terima kasih banyak atas kebaikan hati tuan."


"Saya anggap pembahasan ini telah selesai. Silakan pesan makanan yang kalian inginkan. Kalian juga boleh memesan makan untuk keluarga kalian di rumah."


Mereka langsung mengangguk senang. Ini kali pertama dalam hidup, mereka bisa menikmati santapan lezat dari restoran mewah.


Reza merasa terenyuh saat melihat telapak tangan mereka yang begitu keras, terkelupas dan kasar. Reza menjadi teringat pada istrinya yang juga memiliki tangan kasar karena keras pekerjaan yang Lira geluti. Ingin rasanya Reza segera pulang dan memeluk tubuh mungil istrinya yang begitu ia rindukan.


🌸🌸🌸🌸


Bersambung.....😊

__ADS_1


__ADS_2