
"Dan bertaqwalah kepada Allah semampu yang kamu bisa." (QS At-Taghabun: 16)
وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
"Dan apa yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakannya semampu yang bisa kamu lakukan." (HR. Bukhari)
Selamat membaca.........🌹🌹🌹🌹
🌸🌸🌸🌸
Di ruang VVIP yang serba mewah inilah, Lira terbaring lemah dengan selang infus yang menancap di lengannya. Wajah Lira masih terlihat pucat, meski tak sepucat sebelumnya. Pakaian Lira juga sudah berganti dengan pakaian khusus pasien rumah sakit pada umumnya.
Sejak Lira dipindahkan dari UGD ke ruang VVIP, Reza tak pernah sedetik pun meninggalkan Lira sendirian. Ia selalu setia menunggu Lira bangun dari tidurnya. Reza terus menggenggam tangan Lira yang tidak dinfus dan meletakan tangan Lira ke pipinya. Rasa takut Reza akan kehilangan Lira jelas terpancar di wajahnya.
Perlahan mata Reza mulai terasa berat. Reza langsung tertidur dengan posisi kepalanya di sebelah lengan Lira. Hingga Reza terlalap pun, ia tak melepaskan genggamanan dari tangan Lira.
Belum lama Reza terbawa mimpi, tidurnya mulai terusik karena mendengar suara Lira yang tiba-tiba menjerit.
"Sakit. Ampun, tuan." Teriak Lira berulang-ulang dengan tubuh gemetar ketakutan dalam tidurnya.
"Sayang, bangun. Hei, sayang."
Reza mencoba mendekap tubuh Lira untuk menenangkan, tapi Lira terus saja meronta. Tubuhnya gemetar dan berkeringat dingin.
"Ssstttttt, sayang tenang ya. Ada mas di sini."
Perlahan Lira mulai tenang dan kembali tertidur. Namun, mulutnya tak berhenti mengucapkan kata 'sakit' dengan pelan.
Melihat Lira menjerit seperti itu, hati menjadi sesak. Ia menjadi semakin bersalah karena telah membuat istrinya menjadi trauma. Memang Lira telah memaafkannya, hanya saja penyiksaan yang ia alami satu tahun lalu begitu membekas hingga menyisakan luka dalam dan membuatnya menjerit di bawah alam sadarnya.
Reza menitikan air matanya melihat wajah istrinya yang seperti menyimpan banyak luka. Ia terus saja mendekap tubuh Lira dalam pelukannya sambil menangis. Tak hanya Lira, Reza pun merasa terguncang. Ia harus hidup dalam penyesalan sepanjang hidupnya.
"Maafkan mas, sayang. Maaf sudah bikin sayang trauma kayak gini." Ucap Reza dengan suara parau dan tubuh yang bergetar hebat. Air matanya terus saja mengalir dengan deras.
Saat Lira sudah mulai tenang dalam tidurnya, Reza pun melepaskan pelukannya lalu membenahi selimut yang melorot hingga nyaris menyentuh lantai. Setelah itu, Reza duduk di tepi ranjang sambil terus menggenggam tangan Lira sambil memandang wajahnya.
Rasa kantuk Reza langsung hilang bersamaan dengan jeritan Lira beberapa saat yang lalu. Reza tak bisa membayangkan bagaimana perasaan istrinya saat menerima hinaan, cacian, dan bahkan pukulan di tubuh mungilnya.
"Bahkan dalam mimpi pun, sayang merasa kesakitan." Ucapnya sambil mengusap lembut kening Lira agar tertidur lebih nyenyak.
🌸🌸🌸🌸
Menjelang subuh, Reza masih tetap terjaga dan masih setia di samping istrinya. Tak lama terdengar suara adzan berkumandang, perlahan Lira mulai membuka matanya, menyesuaikan dengan sinar lampu yang begitu terang.
"Alhamdulillah, akhirnya sayang bangun juga." Reza mengucap syukur saat melihat Lira membuka matanya.
"Gimana perasaan sayang, ada yang sakit gak?" Tanya Reza lembut lalu meletakan punggung tangannya di dahi Lira untuk memastikan suhu tubuhnya. "Syukurlah, panasnya udah turun." Lanjut Reza.
Lira menggeleng sambil tersenyum. "Mas, belum tidur dari semalam ya? Mata mas juga sembab, ada apa?" Tanya Lira lembut sambil mengusap wajah Reza dengan tangannya yang tidak diinfus.
"Gak papa, sayang. Mas hanya khawatir aja."
Reza menyentuh punggung tangan Lira yang masih membelai wajahnya. Ia tak boleh terlihat lemah di depan istrinya.
"Maaf ya, Lira udah bikin mas khawatir."
"Jangan ucapkan itu, sayang. Harusnya mas yang minta maaf karena kelalaian mas, sayang jadi sakit kayak gini."
Lira hanya tersenyum. "Mas, si dedek gimana?"
"Dedek di rumah sama mama. Sayang gak usah khawatir."
"Iya, mas. Oh iya, mas udah sholat subuh?"
"Belum, sayang. Mas gak tega ninggalin sayang sendiri di sini."
"Eh, gak boleh gitu mas. Lira gak papa kok. Kebetulan Lira juga mau sholat."
"Ya udah, kalo gitu kita sholat berjamaah aja ya. Tapi sayang gak usah wudhu, tayamum aja."
"Iya, mas."
"Sini mas bantu, sayang kan masih lemes."
"Terima kasih, mas."
"Sama-sama, sayang."
__ADS_1
Lira mulai tayamum, setelah itu ia kembali memakai jilbab instannya yang berukuran cukup lebar sebagai pengganti mukena. Sementara Reza sudah berwudhu di kamar mandi. Reza mengenakan baju koko dan sarung yang tadi sempat dibawakan oleh Jono.
Usai sholat berjamaah, Reza melipat baju Koko dan sarungnya, meletakannya di atas sofa lalu kembali duduk di sebelah istrinya.
"Sayang istirahat lagi, ya."
"Gak mau." Ucap Lira manja.
"Sayang mau apa? hmm?"
"Mas tiduran di sini, di samping Lira. Dari semalam kan, mas belum tidur."
"Bilang aja sayang mau dipeluk." Goda Reza.
Wajah Lira langsung merona. "Gak gitu, mas." Balas Lira sambil memukul manja lengan Reza.
"Iya sayang, mas ngerti. Ya udah, sayang geseran dikit."
Reza mulai naik ke ranjang pesakitan Lira yang berukuran cukup besar. Reza langsung memeluk tubuh mungil istrinya dengan hati-hati agar tak menyentuh selang infus di tangan Lira. Tak lama Reza langsung tertidur karena memang ia sudah sangat mengantuk. Mereka pun tidur dengan posisi saling berpelukan.
🌸🌸🌸🌸
Tok....tok....tok....
Tepat pukul delapan pagi, suara ketukan pintu terdengar nyaring, tapi tak dapat membangunkan dua insan yang sedang terlelap dan masih saling berpelukan itu.
Karena tak mendapat jawaban, dua perawat dan satu dokter wanita yang akan memeriksa kondisi Lira, memutuskan untuk masuk ke dalam ruang inap Lira. Mereka langsung terkejut dan malu saat melihat pemandangan yang ada di depan mereka.
"Kita harus gimana, dok? Saya gak berani bangunin mereka, dok." Ucap salah satu perawat itu sambil berbisik.
"Gak papa, biar saya aja." Jawab si dokter.
Dengan perasaan takut, ia memberanikan diri untuk membangunkan Lira yang tertidur nyenyak dalam pelukan hangat suaminya.
"Permisi Nyonya Lira, maaf kami harus memeriksa kondisi anda." Ucap dokter itu sambil menyentuh lengan Lira.
Merasa ada yang menyentuh lengannya, Lira langsung terbangun tanpa melepas pelukannya. Saat Lira mulai tersadar, ia melihat dua orang perawat dan satu dokter wanita yang sedang berdiri tak jauh dari tempat tidurnya dan sedang tersenyum padanya.
Lira langsung tersentak kaget lalu bangun dari tidurnya dengan wajah yang sudah memerah karena malu sambil membenarkan jilbabnya yang sedikit berantakan. Lira langsung membangun Reza dengan menggoyangkan lengannya.
"Mas, bangun." Reza tak bergeming.
"Dikit lagi sayang. Mas masih ngantuk banget, nih." Balas dengan suara serak.
Kini wajah Lira semakin memerah. Apalagi melihat dua perawat dan dokter itu sudah tertunduk sambil tersenyum malu karena melihat adegan romantis tepat di depan mereka.
Lira membenahi selimut hingga menutupi wajah Reza yang terlihat tampan meski sedang dalam keadaan tertidur. Lira tak rela jika wajah tampan suaminya ketika tertidur ikut dinikmati oleh wanita lain.
"Maaf ya, dok. Kayaknya suami saya masih gantuk banget, soalnya semalaman beliau jagain saya." Jelas Lira malu-malu.
"Gak papa kok, nyonya. Kami paham."Jawab dokter itu. "Baik, saya periksa kondisi nyonya sekarang ya." Izinnya sopan pada Lira.
"Iya dok, silakan."
Dokter wanita itu mulai memeriksa kondisi Lira dengan teliti. Sementara kedua perawatnya sedang mengecek botol infus Lira.
"Baik, kondisi nyonya sekarang sudah membaik. Panasnya juga sudah mulai turun, ya. Dan berdasarkan hasil Lab dari sampel darah nyonya yang kami ambil semalam, nyonya hanya mengalami panas tinggi saja, tidak ada gejala penyakit lain seperti demam berdarah atau yang lainnya. Nyonya hanya perlu banyak istirahat. Jika suhu tubuh nyonya sudah kembali normal, sebentar sore atau besok pagi nyonya sudah boleh pulang." Jelas dokter.
"Terima kasih banyak, dokter."
"Sama-sama. Kami permisi dulu nyonya." Pamit dokter itu dan diikuti kedua perawat di belakangnya.
"Silakan, dok."
Setelah dokter dan dua perawat itu pergi, Reza langsung terbangun sambil tersenyum ke arah Lira. Sedangkan Lira sudah memasang wajah cemberut.
"Sayang kenapa cemberut?" Tanya Reza dan langsung bangun dari tidurnya.
"Mas tahu gak?"
"Gak."
"Ih, mas. Lira belum selesai ngomong." Kesal Lira dengan suara manja.
"Iya sayang, maaf. Ada apa?"
"Tadi tuh ada dokter sama dua orang perawat ke sini, tapi mas masih tidur. Lira udah coba bangunin, tapi bukannya bangun, mas malah meluk Lira di depan mereka. Lira malu banget tahu gak mas, tadi itu." Ucap Lira panjang lebar dengan wajah cemberut.
__ADS_1
"Ya, bagus dong sayang. Biar mereka tahu ko mas itu sayang dan cinta banget ke istri mas ini."
"Tapi Lira malu banget, mas." Rengek Lira manja.
"Iya, maaf. oh iya, tadi dokternya bilang apa?"
"Kata dokter, kalo suhu tubuh Lira udah normal, nanti sore atau besok pagi Lira udah boleh pulang."
"Alhamdulillah." Ucap Reza sambil mengusapkan tangannya wajahnya.
"Tapi Lira pengen pulang hari ini, mas. Lira kangen sama dedek."
Lira mulai menyandarkan tubuhnya ke dada bidang milik suamiya. Reza merangkul bahu istrinya lalu mengusapnya dengan pelan.
"Iya sayang, nanti kalo sayang udah baikan, kita langsung pulang." Lira hanya mengangguk setuju dalam pelukan suaminya.
"Mas, kita telfon mama yuk. Tanyain gimana dedek sekarang, dia nangis gak?"
"Iya, sayang. Bentar ya."
Reza turun dari ranjang dan langsung mengambil ponselnya yang berada di atas meja. Reza mulai menelfon ibunya untuk mengabarkan keadaan putri kecilnya yang mereka tinggalkan semalam.
"Halo, assalamu'alaykum. Gimana keadaan Lira sekarang, Za? Udah baikan, belum?" Tanya Irma saat panggilan terhubung.
"Wa'alaykumussalam. Ya ampun ma, tanyanya satu-satu dong. Reza bingung mau jawab yang mana dulu."
"Iya-iya maaf. Habisnya mama khawatir sama kondisi Lira."
"Lira udah baikan, ma. Kata dokter, kalo suhu tubuhnya udah kembali normal, Lira udah bisa pulang ke rumah nanti sore atau gak besok pagi." Jawab Reza.
"Alhamdulillah, kalo gitu. Mama seneng dengernya. Eh, tapi kan kamu juga dokter, Za. Gimana sih?"
"Iya, ma. Cuma semalam itu Reza panik banget, jadi gak bisa langsung periksa kondisi Lira." Jawab Reza jujur.
"Oh, iya juga ya."
"Si dedek mana, ma?"
"Lagi main sama papa. Tadi dia nangis kenceng banget, nyariin kalian."
"Ya udah, Reza video call ya ma. Reza mau liat si dedek."
Reza langsung mematikan telponnya lalu mengalihkannya ke video call. Baru pada sambungan pertama, Reza langsung melihat wajah putrinya di layar yang terlihat sedang duduk di atas pangkuan kakeknya. Inas belum sadar jika saat ini, ayanhya sedang menatapnya lewat video call dengan tatapan rindu.
"Mas, mana dedeknya? Lira juga mau liat."
"Ini sayang."
Reza mengarahkan layar ponselnya ke wajah Lira dan Lira langsung bisa melihat putrinya yang sedang tertawa bersama kakek dan neneknya. Mata Inas terlihat membengkak karena terlalu lama menangis.
"Halo sayang, ini bunda." Sapa Lira sambil melambaikan tangannya ke layar ponsel.
Mendengar suara ibunya, mata Inas langsung terbuka lebar. Ia menoleh ke sana ke mari mencari keberadaan ibunya, tapi sayang ia tak menemukannya. Inas mulai memasang wajah sedih, lalu ia menangis kencang.
"Huuuwwwaaaaa...huwwwaaaaaa....huwwwaaaaaa..."
"Dek, jangan nangis. Ini bunda, sayang."
"Dek, ini papa. Anak cantik papa kenapa nangis?"
Reza ikut bergabung bersama Lira hingga wajah mereka memenuhi layar. Tapi
bukannya diam, Inas malah semakin menjerit kencang.
"Dedek, jangan nangis sayang." Ucap Lira sambil terisak. Ia merasa tidak tega melihat putri kecilnya menangis kencang hingga wajahnya memerah.
"Pa-pa-pa-pa. Da-da-da-da." Celoteh Inas dalam tangisnya.
"Iya sayang, ini papa dan bunda. Dedek jangan nangis, ya sayang." Timpal Reza.
Perlahan Inas mulai tenang. Sambil sesegukan, ia mengarahkan tangan mungilnya ke layar seolah ingin menyentuk wajah kedua orang tuanya.
"Pa-pa-pa-pa."
"Iya, ini papa. Nanti kalo papa pulang, kita main bareng lagi ya, dek?"
Inas menjawabnya sambil menganggukkan kepala. Reza mengajak Inas bercanda hingga mereka tertawa nyaring bersama. Lira yang menyaksikannya pun ikut tertawa.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸
Bersambung......😊