
Hai semua.....
maaf baru nongol lagi. Othor syibuk di dunia nyata dan lagi gak mood, jadi baru bisa up sekarang.
Terima kasih untuk kalian yang masih tetap setia nungguin kelanjutan dari kisah ini.
Selamat membaca.........🌹🌹🌹🌹
🌸🌸🌸🌸
Waktu telah menunjukan pukul setengah lima sore. Reza mengajak putri kesayangannya pulang ke rumah. Namun sebelum pulang, Reza lebih dulu memandikan Inas menggunakan air hangat agar saat tiba di rumah nanti, Inas telah bersih dan Reza pun bisa bermain bersama jagoan kecilnya tanpa harus khawatir memikirkan Inas yang belum mandi. Dengan telaten dan penuh kasih sayang, Reza mengurus putrinya yang semakin har semakin berisi. Reza pun semakin gemas dibuatnya.
Tak tahan melihat pipi gembul putrinya, Reza langsung menyerang pipi gembul Inas dengan ciuman bertubi-tubi hingga membuat Inas menjerit kegelian.
"Hahhahaha...Geyi papa." Ucap Inas mencoba menghindari ciuman ayahnya yang terus diarah ke pipinya.
"Siapa suruh punya pipi tembem, papa jadi gemes banget deh sama kakak." Sahut Reza lalu kembali menyerang pipi serta perut Inas.
Selesai mandi, Reza memakaikan minyak telon ke tubuh Inas agar tak kedinginan, dilanjutkan dengan menaburkan bedak bayi ke kedua pipi Inas. Baru setelah itu, Reza menyisir rambut hitam dan lebat milik Inas. Kemudian dipakainkannya jilbab instan anak-anak, membuat Inas terlihat menggemaskan.
Reza menggendong tubuh putrinya sambil menenteng tas kerja serta tas keperluan Inas lalu mengajak putrinya pulang karena waktu semakin sore.
"Kita pulang sekarang ya, sayang."
"Iya papa, puyang."
Reza tersenyum melihat wajah menggemaskan putrinya. Reza pun berpamitan pada kedua asistennya yang masih sibuk menyelesaikan pekerjaan mereka masing-masing.
Tiba di lobi kantor, Reza banyak dari karyawan Reza yang merasa gemas melihat wajah cantik Inas. Bahkan dari mereka, ada yang berani menyapa Inas sambil melambaikan tangan. Inas juga membalas lambaian mereka dengan tersenyum senang. Inas sangat terkenal di kalangan karyawan ayahnya. Reza tak keberatan jika putrinya berbaur dengan siapa pun. Namun, ia juga tak membebaskan putrinya untuk digendong oleh orang lain, meski itu karyawannya sekalipun.
🌸🌸🌸🌸
__ADS_1
Sore hari seperti ini, banyak kendaraan dari para pencari rezeki memenuhi jalanan hingga membuat kemacetan. Beruntung Reza dapat menghindari kemacetan itu dan tiba di rumah tepat adzan maghrib berkumandang. Dengan langkah lebar sambil menggendong Inas, Reza memasuki rumah. Melihat neneknya yang sedang duduk di ruang tengah sambil menonton televisi, Inas pun meminta turun dari gendongan ayahnya untuk menghampiri neneknya. Indah sengaja nonton karena ia sedang berhalangan untuk sholat, jadi Indah bisa menemani cucunya bermain saat yang lainnya sedang sholat Maghrib.
Sementara, Reza langsung menuju kamarnya karena ia sudah tak sabar untuk segera bertemu dengan istri serta jagoan kecilnya. Reza melihat pintu kamar yang sedikit terbuka, langsung bisa melihat istri tercintanya sedang menimang putra mereka sambil bersholawat.
"Assalamu'alaikum." Salam Reza hingga berhasil memalingkan perhatian Lira.
"Wa'alaikumussalam Warahmatullah. Mas udah pulang? Kakak di mana, mas?" Lira menyium punggung tangan Reza dengan takzim.
"Iya, sayang. Kakak lagi nonton sama ibu, di bawah." Sahut Reza lembut. "Jagoan papa gak rewel kan?" Lanjut Reza sambil berdiri di dekat Lira tanpa berani menyentuh putranya karena ia belum menyuci tangan.
"Gak, papa. Dedek anteng kok." Jawab Lira dengan suara anak kecil, langsung membuat Reza tertawa.
"Alhamdulillah. Jagoan papa pinter. Ya udah, papa mandi dulu ya sayang."
"Lira siapin air hangat ya, mas."
"Boleh. Tapi, sayang gak capek?"
Lira merasa bahagia karena Reza tak menolak keinginannya. Selama ini, Reza selalu menolak jika Lira menawarkan diri untuk mengurusnya, dengan alasan tak ingin Lira kecapekan. Memang wajar, mengingat Lira begitu sibuk mengurus kedua buah hatinya tanpa bantuan jasa baby sitter. Lira hanya dibantu oleh kedua ibunya yang selalu sedia ikut mengurus Inas dan Baby Haidar.
Reza mengangguk sambil tersenyum. Sebenarnya, Reza merasa tak tega membiarkan Lira menyiapkan keperluannya karena pasti Lira kelelahan mengurus putra mereka. Tapi melihat keinginan Lira yang begitu besar untuk mengurusnya yang selama ini sudah jarang ia lakoni karena sibuk mengurus buah hatinya, membuat Reza menjadi tak tega.
"Air hangatnya udah siap, mas." Ucap Lira saat keluar dari kamar mandi, usai menyiapkan air hangat untuk suami tercinta.
"Terima kasih, sayang." Reza mengecup kening Lira yang sedang tersenyum lembut padanya, sebagai tanya terima kasih, lalu berlenggang masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket.
Bisa saja Reza mandi di kantor untuk mempersingkat waktu. Namun, rasa trauma meninggalkan putrinya seorang diri di ruangannya, masing terngiang-ngiang dengan jelas diingatannya.
🌸🌸🌸🌸
Keluar dari kamar mandi, Reza langsung mengenakan pakaian sholat yang telah Lira siapkan di atas tempat tidur, kemudian ia melaksanakan sholat Maghrib di rumah karena waktu sholat Maghrib berjamaah di masjid telah lewat.
__ADS_1
Lira terus memandangi wajah tampan suaminya yang begitu khusyuk dalam beribadah. Tiada henti Lira bersyukur karena Allah telah membuka hati Reza untuk kembali ke jalan-Nya. Reza yang dahulu selalu bersikap kejam dan tak segan untuk mengeluarkan umpatan yang menyakitkan pada Lira, kini berubah menjadi Reza yang begitu lembut dan penyayang, terutama pada keluarga kecilnya.
Usai sholat dan berdoa agar diberikan kebahagiaan serta keselamatan untuk keluarganya di dunia maupun di akhirat, Reza kemudian menghampiri anak dan istrinya.
"Sayang, kapan mau meriksain dedek ke dokter?"
"Insya Allah, bulan depan mas. Oya, Lira mau ngomong sama mas, boleh?"
"Ini kan, sayang lagi ngomong." Canda Reza sambil menyubit kecil hidung bangir Lira.
"Ih! Maksudnya, Lira mau ngomong serius ke mas." Sahut Lira sambil cemberut.
"Boleh. Sayang mau ngomong apa?"
"Bisa gak, mas jangan terlalu manjain si kakak. Lira gak mau, nanti dia jadi terbiasa manja dengan apa yang mas kasih. Belum lagi, mama sama papa yang selalu manjain dia dengan barang-barang mewah. Lira takut, nanti dia jadi gak bisa mengontrol itu semua dan jadi anak yang gak pandai bersyukur."
Reza tersenyum melihat kekhawatiran istrinya. Hal wajar jika Lira berfikir demikian karena sebagai seorang ibu, ia tak ingin anaknya tumbuh menjadi orang yang tak pandai bersyukur karena terlalu sering disuguhkan dengan kemewahan hingga mereka tak tahu bagaimana caranya berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
"Terima kasih karena sayang udah ngingetin mas, soal ini. Tapi sayang gak usah khawatir, karena insya Allah anak-anak kita gak akan seperti yang sayang takutin. Soal mama sama papa yang terlalu manjain Inas, itu karena mereka sayang banget sama anak-anak kita, meski cara mereka sedikit berlebihan. Insya Allah dan dengan izin Allah, kita bisa didik anak-anak kita seperti Rasulullah mendidik anak-anaknya hingga tumbuh menjadi anak-anak yang soleh dan solehah. Kita memang gak semulia Rasulullah, tapi kita harus bisa dan terus berusaha agar menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita, agar selalu mengenal Allah dan rasulnya."
"Iya mas. Maaf ya."
"Gak papa, sayang. Wajar kalo sayang khawatir karena sebagai ibu, pasti sayang ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Tapi mas minta, sayang gak usah khawatir ya." Lira mengangguk, faham.
Reza mengecup kening Lira dengan sangat dalam. Betapa besar rasa sayang dan cinta Reza pada Lira, hingga ia tak mampu mengungkapkannya dengan kata-kata. Tiada henti Reza bersyukur atas apa yang telah ia dapatkan dalam hidupnya. Ia diberikan istri solehah serta anak-anak yang lucu dan menggemaskan yang selalu menadi obat di kala lelah. Semua kebahagiaan yang Reza dapatkan, tak akan sebanding dengan limpahan seluruh harta yang ada di dunia ini.
🌸🌸🌸🌸
Bersambung.......😊
segini dulu ya, othor ada urusan penting. Insya Allah, besok disambung lagi....
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak Like, komen, dan vote seikhlasnya.
Terima kasih❤️❤️❤️❤️❤️❤️