
Maaf baru up, author ada kegiatan full dari pagi sampe malem. Jadi baru ada waktu buat up
Selamat membaca......
🌸🌸🌸
Reza mengajak istri, mertua serta kedua orang tuanya masuk ke dalam rumah. Dengan mengucapkan salam, mereka masuk ke dalam rumah. Reza pun mengajak mereka untuk berkeliling melihat rumah baru mertuanya yang sudah ia perbaiki menjadi lebih layak.
Mereka berkeliling dari satu ruangan ke ruangan yang lain. Setiap memasuki ruangan, Indah tak henti-hentinya bersyukur. Memang sudah sejak lama Indah memimpikan rumahnya bisa berubah menjadi lebih layak, dan saat ini impian Indah sudah terwujud. Meski bukan dari hasil keringat suami atau anaknya, Indah tetap bersyukur karena menantunya, Reza masih mau mewujudkan impiannya.
Indah dibuat takjub dengan perubahan drastis rumahnya. Ruang tamu yang berukuran cukup luas dengan tambahan sofa berwarna merah maroon semakin menambah kesan mewah di dalamnya. Lagi-lagi Indah dibuat kagum saat memasuki ruang keluarga yang ukurannya tak kalah lebih luas dari ruang tamu. Indah melihat TV berukuran besar di sana. Barang yang selama ini dianggap mewah dan tak mampu terbeli olehnya, kini sudah berada di depan matanya. Dapur yang selama menyatu dengan ruang tamu dan hanya ada meja makan sederhana sebagai pembatas, kini juga sudah disulap menjadi lebih elegan dengan meja makan kayu jati berukuran cukup besar.
"Terima kasih banyak Nak Reza. Ibu gak tahu harus berkata apalagi." Ucap Indah tulus dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ibu gak usah terima kasih. Ini semua adalah wujud bakti Reza sebagai menantu ibu. Dan ini gak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kesempatan yang sudah ibu berikan pada Reza untuk kembali pada Lira." Jawab Reza.
Lira mendengar hal itu, tak bisa menahan tangisnya. Begitu pun dengan kedua orang tua Reza, mereka sangat terharu dan bangga pada putra satu-satu mereka.
Kemudian mereka kembali berkeliling rumah.
Rumah baru Indah memiliki empat kamar tidur dan masing-masing memiliki kamar mandi dalam agar mempermudah ketika mereka melakukan aktifitas pribadi tanpa harus keluar kamar lagi.
Reza bahkan menambahkan toko kelontong yang berada di lantai satu dan menyatu dengan gudang yang cukup luas sebagai tempat untuk menyimpan barang.
__ADS_1
Reza juga mempekerjakan dua orang karyawan yang akan membantu Indah menjaga toko kelontong miliknya serta dua asisten rumah tangga yang sudah memiliki porsi kerjaannya masing-masing.
Awalnya Indah menolak saat Reza mempekerjakan dua orang asisten rumah sekaligus, karena menurutnya itu sangat berlebihan. Namun, dengan lembut Reza menjelaskan jika kedua asisten itu tidak hanya bertugas untuk membersihkan rumah, tapi juga mereka bertugas untuk menemani dan menjaga Indah di saat ia dan Lira berada di Jakarta. Akhirnya Indah setuju untuk menerima kedua asisten rumahnya. Apalagi saat mengetahui jika kedua asistennya itu anak yatim yang masih berstatus pelajar, hati Indah langsung terenyuh.
Reza memang sengaja mencari asisten rumah yang berstatus anak yatim piatu dan masih pelajar untuk menemani mertuanya, karena Reza yakin mereka nantinya bisa membantu mertuanya selayaknya ibu mereka sendiri. Reza bahkan membiayai sekolah kedua asistennya hingga tamat SMA. Saat ini, kedua asistennya masih duduk di bangku kelas 3 SMP, jadi masih ada beberapa tahun lagi bagi mereka untuk bisa menemani Indah di rumahnya dan selama itu pula, Reza yakin jika mertuanya tidak akan kesepian ketika jauh dari anak dan cucunya.
Puas berkeliling rumah, mereka memutuskan untuk berisitirahat di kamar masing-masing. Kamar milik Indah berada di lantai satu berdekatan dengan dua kamar tamu yang ditempati orang tua Reza dan dua asisten rumah. Sedangkan kamar Lira berada di lantai dua. Saat memasuki kamarnya, Lira dibuat terkejut dengan ukuran kamarnya yang sangat luas dari sebelumnya. Bahkan, kamarnya yang sekarang terlihat lebih luas dibandingkan ukuran rumahnya yang dulu. Berbagai ferniture yang elegan namun tetap terkesan mewah tertatap rapi di kamarnya.
"Masya Allah! Mas, ini kamar Lira?" Tanya Lira dengan wajah kagum saat menyusuri kamar luasnya itu.
"Iya, sayang. Sekarang ini udah jadi kamar kita, sayang." Jawab Reza lembut dan bangga saat melihat wajah bahagia istrinya.
"Tapi mas, apa ini gak berlebihan? Kita juga kan nanti bakal jarang ke sini."
"Gak, sayang. Menurut mas, ini normal kok. Insya Allah, nanti mas usahakan kita ke sininya sebulan sekali buat nengokin ibu." Jelas Reza. "Gimana menurut sayang?"
Ya, selama ini Lira tak pernah membayangkan untuk bisa merenovasi rumah ibunya agar menjadi lebih layak. Bagi Lira, asal bisa makan saja ia sudah sangat bersyukur. Yang terpenting, mereka masih punya tempat tinggal untuk berteduh dari hujan dan panas.
Reza memeluk istrinya dengan erat. "Sayang gak usah terima kasih sama mas. Semua ini mas lakukan karena mas ingin melihat sayang dan ibu bahagia."
Reza mengecup kening istrinya dengan sangat dalam. Semua yang Reza lakukan tak sebanding dengan semua kesabaran yang istrinya lakukan.
"Ya udah, sekarang kita istirahat ya. Kita masih punya waktu istirahat satu jam sebelum masuk waktu sholat ashar. Sayang harus banyak istirahat karena besok mas mau ngadain acara syukuran rumah baru ibu dengan mengundang tetangga rumah."
__ADS_1
"Gau usah lah, mas. Nabi kita juga gak pernah ngajarin itu kok. Kita ngadain acara makan-makan aja, supaya kita tetap menjaga tali silaturahim antarsesama umat muslim." Jelas Lira.
"Emang iya gitu, sayang?" Tanya Reza bingung.
"Iya, mas. Ada hadistnya kok."
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718).
"Ada juga penjelasannya dari ulama mengenai hal ini."
"Tidak disyariatkan ketika seseorang pindah ke kediaman baru untuk adzan di empat tiang rumah atau di salah satunya, tidak disyariatkan pula membaca surat-surat tertentu atau membaca dzikir-dzikir tertentu ketika itu, karena tidak ada dalil dalam sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hal tersebut.”
"Gitu mas. Jadi gak perlu ngadain syukuran rumah baru. Kalo ngundang tetangga makan-makan untuk menjaga silaturahim itu diperbolehkan. Wallahu a’lam bish-shawabi (Allah Mahatahu yang benar/yang sebenarnya).
"Masya Allah. Terima kasih sayang untuk penjelasannya. Mas jadi ngerti sekarang."
"Iya mas, sama-sama. Kita saling belajar, ya."
Reza mengangguk setuju. Reza sama sekali tak merasa tersinggung saat mendapat penjelasan dari istrinya. Justru ia merasa beruntung karena Allah telah berbaik hati dengan memberikannya seorang istri yang solehah serta cukup paham tentang syari'at islam. Reza berjanji pada dirinya sendiri, akan belajar tentang syari'at islam lebih dalam lagi, agar ia bisa membimbing istri dan anaknya ke jalan yang lebih baik.
Lira melepas jilbabnya dan menarunya di keranjang khusus pakaian kotor, setelah itu ia menyusul putrinya yang telah lebih dulu tidur di atas tempat tidur karena kelelahan. Lira tersenyum saat melihat wajah cantik putrinya yang begitu mirip dengan Reza. Lira mengusap lembut kepala putrinya disusul kecupan hangat mendarat di kening putrinya.
Usai membersihkan diri, Reza menyusul istrinya dan anaknya. Reza mengerutkan keningnya saat melihat sepasang sepatu rajut berwarna biru yang masih terpasang di kaki mungil putrinya. Reza merasa tidak asing dengan sepatu rajut itu. Reza ingin bertanya pada istrinya, tapi ia mengurungkan niatnya karena tak tega melihat istrinya telah tertidur kelelahan di samping Inas.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸
Bersambung........