
"Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah)
Selamat membaca........🌹🌹🌹🌹
🌸🌸🌸🌸
Akhir pekan pun tiba. Reza memanfaatkan waktu liburnya dengan belajar agama bersama seluruh keluarganya. Reza mengundang seorang ustadz yang sangat terkenal di Jakarta dan seluruh Indonesia untuk memberikan ilmu kepada mereka. Tak hanya keluarganya saja, tetapi keluarga sahabatnya juga ikut hadir mengikuti kajian di rumah Martin.
Inas sangat antusias saat seluruh keluarganya berkumpul dan ditambah lagi dengan keluarga Doni. Saking antusisanya, Inas memilih sendiri pakaian yang akan ia kenakan. Inas memilih memakai gamis berwana peach dengan motif bunga-bunga kecil berwarna lavender. Tak lupa jilbab instan berwana senada, membuat Inas terlihat menggemaskan.
Inas juga meminta Lira mengenakan gamis yang sama dengannya. Lira pun mengikuti keinginan putri kecilnya. Tak tanggung-tanggung, Lira memiliki banyak stok gamis yang satu set dengan putrinya.
Tak hanya Lira yang pakaiannya ditentukan oleh putrinya, Reza pun harus terima saat Inas memilihkan pakaian untuknya. Pilihan Inas jatuh pada baju koko berwarna coklat khaki polos dan celana jeans hitam. Tak lupa juga, peci putih sebagai pelengkap aksesorisnya.
Reza sama sekali tak merasa keberatan dengan pilihan putrinya. Reza justru menjadi semakin gemas melihat tingkah lucu putrinya yang semakin pandai dalam memilih pakaiannya sendiri.
"Eyang, kakak udah lapi." Ucap Inas saat menemui kedua eyangnya sambil memutar kecil tubuhnya di depan Martin dan Irma.
"Aduh...aduh. Cucu eyang kok cantik banget, sih." Puji Irma dengan menyubit gemas pipi gembul Inas.
"Kalna kakak udah mandi." Jawab Inas dengan wajah gemasnya.
Martin dan Irma langsung tertawa melihat tingkah lucu cucu mereka.
Martin dan Irma langsung menggandeng tangan mungil Inas menuju ruang tengah tempat di mana ustadz telah duduk bersama semua keluarganya juga keluarga Doni.
Saat ustadz menyampaikan materinya, semua yang ada di ruangan itu menyaksikannya dengan hikmat dan meresapi apa yang disampaikan. Inas pun duduk tenang dipangkuan ayahnya tanpa banyak bergerak seolah paham apa yang disampaikan oleh ustadz itu.
Reza dan Lira memang sudah menanamkan adab-adab kepada Inas ketika sedang berkumpul bersama orang tua. Mereka juga sudah menanamkan ilmu agama sejak dini pada Inas. Mereka ingin, di usia Inas yang hampir menginjak 2 tahun itu, Inas sudah harus mengenal siapa Tuhannya dan siapa Rasulnya. Dimulai dari hal-hal kecil seperti, membiasakan Inas ikut serta ketik ibunya sedang sholat dan mengaji. Bersedekah kepada orang yang kurang mampu. Serta membiasakan Inas selalu memuji Allah ketika sedang senang dengan mengucap hamdalah.
Selain mengenalkan Tuhannya, mereka juga mengenalkan siapa Rasulnya dengan cara mengikuti sunnah beliau yaitu makan dan minum menggunakan tangan kanan sambil duduk dan tak lupa untuk membaca bismillah sebelum makan atau minum serta mengucap hamdalah usai makan dan minum.
Mendahulukan kaki kiri ketika masuk kamar mandi, dan kaki kanan ketika keluar dari kamar mandi. Serta tak lupa membaca doa ketika hendak masuk dan keluar dari kamar mandi. Semua mereka lakukan pelan-pelan disertai contoh nyata dari mereka berdua agar Inas pun bisa dengan mengikutinya.
Tak hanya itu saja, Lira juga sudah membiasakan Inas untuk mendengarkan murotal, minimal satu surah dalam satu hari dan diulang berkali-kali agar Inas mudah mengingatnya. Dan benar saja, diusianya yang baru menginjak dua tahun itu, Inas sudah mampu menghafalkan ayat kursi serta surah-surah pendek lainnya dengan lancar. Meski masih dengan bahasa cadel nya, tapi setidaknya Inas sudah bisa mengingatnya dengan baik.
Sebagai orang tua, Reza dan Lira tentu merasa bangga dan bahagia melihat kepandaian putri mereka. Tapi yang lebih merasakan bahagia adalah Lira. Sebagai seorang ibu, mengasuh dan mendidik anak tentu bukan pekerjaan yang mudah. Lira harus lebih sabar menghadapi masa-masa di mana Inas merengek main sebelum mengulang hafalan surah pendeknya, serta masih banyak lagi tingkah Inas yang membuat Lira harus banyak-banyak bersabar.
Mendidik putrinya di tengah-tengah kehamilannya membuat Lira harus lebih bersabar. Apalagi saat ini, Inas jadi lebih kritis dan lebih sering bertanya tentang hal apapun itu dan sebisa mungkin Lira menjawabnya dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anak seusia Inas.
Lira tak pernah mengeluh dalam mendidik putrinya. Lira justru sangat menikmati perannya sebagai seorang ibu karena disitulah letak kenimatannya. Ia akan selalu melihat secara langsung perkembangan putrinya dari hari ke hari tanpa ada yang terlewatkan sedikit pun.
Reza mendukung dan memercayakan pada istrinya karena pada dasarnya, ibu adalah Madrasah pertama bagi anak -anaknya. " Al -Ummu Madrasah Al -ula, di mana ibu lah sebagai sosok pertama yang akan menanamkan norma -norma kebaikan sekaligus menjadi teladan dalam bersikap.
Tugas Reza sebagai seorang ayah bukan hanya mendukung istri dalam mendidik anak, tetapi juga memberikan nafkah pada keluarganya. Seperti apa yang sudah dijelaskan dalam surat An-Nisa ayat 34, Allah berfirman:
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allâh telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka."
__ADS_1
Meski ibu adalah sekolah pertama bagi anak, tetapi ayah diibaratkan sebagai kepala sekolah. Ia yang bertanggung jawab atas kualitas anak didiknya. Karena sosok ayah sangat dibutuhkan untuk membentuk karakter dan akhlak yang baik bagi anak. Ayah lah yang sangat berpengaruh dalam hal pembentukan karakter anak.
Maka dari itu, Reza selalu membantu Lira dalam mendidik putrinya. Tak jarang Reza sering meluangkan waktunya untuk bisa bermain bersama putrinya.
🌸🌸🌸🌸
Setelah sholat dhuhur berjamaah bersama di masjid, ustadz itu pun berpamitan pulang karena harus melanjutkan kajiannya di masjid lain.
Seluruh keluarga Reza dan Doni duduk bersantai di gazebo belakang rumah. Mereka terlihat sangat menikmati momen langka itu, mengingat kesibukan mereka sebagai pemimpin perusahaan hingga mereka jarang punya waktu untuk kumpul bersama. Para istri sibuk membahas soal perkembangan anak dan cucu mereka, sedangkan para suami sedang serius membahas bisnis.
"Jadi, gimana perkembangan pembangun proyek rumah sakit yang ada di Bandung, Za?" Tanya Sigit, ayah Doni sambil menyeruput tehnya.
"Alhamdulillah, udah tahap akhir pa. Dan gak lama lagi akan diresmikan." Jawab Reza santai.
"Berati kamu akan bolak-balik Jakarta-Bandung, dong?" Tanya Sigit lagi.
"Ya, mau gimana lagi? Gak mungkin Reza ninggalin Lira yang lagi hamil."
"Kan ada mama sama papa, Za." Timpal Martin sambil mendelik melihat Reza.
"Maaf kalo papa tersinggung. Tapi maksud Reza bukan gitu. Reza hanya gak tega aja, kalo tiba-tiba tengah malam Lira pengen makan sesuatu tapi Reza lagi gak ada di rumah. Kan, papa juga yang repot nanti." Jawab Reza jujur.
Yang lain pun ikut mengangguk setuju. Mereka paham bagaimana perasaan Reza yang tak tega dan bahkan tak sanggup jika harus jauh dari anak dan istrinya.
Perbincangan mereka pun terpaksa berakhir karena Riri yang sedang dilanda mengantuk berat tiba-tiba menangis kencang. Alhasil, Doni beserta istri dan kedua orang tuanya berpamitan pulang.
🌸🌸🌸🌸
Sejak proyek pembangunan rumah sakit yang ada di Bandung hampir selesai, Reza menjadi lebih sibuk dan harus bolak-balik Jakarta-Bandung untuk memantau langsung pengerjaanya. Reza sengaja memilih bolak-balik daripada harus meninggalkan istri dan anaknya.
Lira menggunakan lift untuk ke dapur karena jika ia menggunakan tangga, maka suami dan kedua mertuanya mengomel sepanjang hari.
Lira melihat sisa makanan di meja, tapi ia merasa tak berselera. Lira pun membuka kulkas untuk mengambil dua buah pisang, dan dua buah apel untuk mengganjal perutnya.
Lira sangat menikmati buahnya dengan lahap. Karena merasa kurang, Lira kembali membuka kulkas untuk mengambil buah apel merah segar lalu mengupasnya.
Saat Lira sedang menikmati buah apel yang barusan dikupas dan dipotong kecil-kecil, Reza muncul dengan wajah panik karena tak mendapati istrinya di kamar.
"Sayang, ngapain di sini?" Tanya Reza sambil menggeser kursi lalu duduk tepat di sebelah Lira.
Ketik Lira keluar kamar untuk menuju dapur, Reza menggeliat lalu menggeser tangannya ingin memeluk Lira. Tapi sayangnya, tempat Lira kosong. Reza langsung panik lalu bangun mencari Lira ke seluruh kamar hingga ke kamar mandi, tapi ia tak mendapati Lira. Reza langsung menuruni tangga dan menuju dapur. Ia bernafas lega saat melihat istrinya sedang duduk santai sambil menikmati buahnya.
"Lagi makan buah, mas. Tadi Lira laper, terus ke sini deh." Jawabnya santai dengan mulutnya yang dipenuhi buah.
"Kenapa gak bangunin mas aja, sih? Biar sayang gak usah repot-repot ke dapur sendiri."
"Lira gak tega aja liat mas tidurnya nyenyak banget. Apalagi, akhir-akhir ini mas tambah sibuk sampe harus bolak-balik Jakarta-Bandung. Kenapa mas gak nginep aja, di sana?"
__ADS_1
Reza merasa bersalah pada istrinya. Seharusnya di saat seperti ini, ia bisa selalu ada untuk membantu istrinya. Kesibukan membuatnya menjadi sering pulang terlambat hingga kelelahan. Tapi Reza tak setuju dengan usul Lira yang memintanya untuk menginap di Bandung.
"Maaf kalo akhir-akhir ini mas jadi sering sibuk dan jarang punya waktu untuk sayang dan kakak. Mas lebih memilih capek bolak-balik tapi terbayar dengan lihat wajah sayang dan kakak, daripada harus ninggalin kalian. Mas gak akan sanggup."
"Makasih banyak ya, mas." Ucap Lira dengan mata yang sudah mengembun, merasa terharu dengan pengorbanan suaminya.
"Sama-sama sayang. Dimakan lagi buahnya. Kalo kurang, sayang bilang ya." Ucap Reza sambil mengusap kepala Lira yang terbungkus jilbab instan yang berukuran lebar.
"Iya, mas. Ini udah cukup kok."
Reza terus memerhatikan wajah polos istrinya. Tiba-tiba, Reza kembali teringat dengan kejadian saat ia memergoki Lira yang sedang mengambil buah di kulkas karena lapar. Dengan tega ia menyebut Lira sebagai pencuri lalu mengurungnya di gudang yang gelap dan lembab.
Hati Reza menjadi nyeri jika mengingat hal kejam itu. Tubuh mungil wanita yang ada di sebelahnya itu, dipenuhi dengan pukulan. Air matanya langsung mengalir dari sudut matanya. Namun, dengan cepat ia menghapus air matanya agar tak terlihat oleh istrinya.
Melihat buah yang ada di piring sudah habis, Reza segera mengambilkan air minum lalu diberikan Lira.
"Ini minumnya, sayang."
"Terima kasih, mas." Lira menerima gelas itu dengan tersenyum lalu meminumnya hingga tandas.
"Sama-sama, sayang. Yuk, kita tidur lagi."
"Iya, mas."
Reza mengajak Lira ke kamar menggunakan lift. Tiba di kamar, Reza langsung menyelimuti tubuh mungil Lira sambil mengusap perut buncitnya.
"Karena dedek udah kenyang, jadi sekarang kita tidur lagi ya. Dedek jangan bikin bunda laper lagi, ya." Ucapnya Reza sambil mengusap lembut perut Lira.
Lira hanya tersenyum melihat tingkah lucu suaminya yang hampir setiap hari, selalu mengajak anaknya berbicara.
"Selamat tidur, sayang. I love you." Ucap Reza disertai kecupan hangat di kening dan perut Lira.
"Selamat tidur juga, papa." Jawab Lira dengan menirukan suara khas anak kecil.
Mereka tertawa bersama lalu tidur dengan posisi saling berpelukan satu sama lain.
🌸🌸🌸🌸
Bersambung.....
Maaf baru bisa up. Di rumah otor lagi ada acar keluarga, jadi selama beberapa hari ini, otor disibukan dengan segala macam persiapan.
Otor ucapkan terima kasih banyak pada reader's yang masih setia menunggu kelanjutan dari cerita ini.
Otor berharap, kalian semua tetap mendukung karya otor dengan memberikan LIKE, ***KOMEN, DAN VOTE nya.
terima kasih*****😊❤️**
__ADS_1