Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 124


__ADS_3

Selamat membaca.........🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Mobil yang membawa dua pasangan halal itu telah keluar dari halaman villa dan membela jalan raya Kota Bali yang terlihat cukup ramai di malam hari, namun tetap nyaman untuk dilewati. Sekitar empat puluh lima menit, mobil itu telah sampai tepat di depan hotel yang terlihat mewah dan berkelas tentunya.


Para tamu undangan sudah memenuhi depan hotel untuk mengantri masuk ke dalam. Rombongan Reza datang terlambat karena harus melaksakan sholat isya terlebih dahulu, agar ketika keluar nanti, hati mereka menjadi lebih tenang.


Saat Lira keluar dari mobil, tubuhnya mulai gugup dan berkeringat dingin karena melihat beberapa orang berpakaian rapi dengan jas hitam dan dilengkapi dasi itu, ditugaskan untuk menjaga dan mengawasi para tamu undangan yang masuk.


Reza belum sadar akan kondisi Lira saat ini yang sedang diserang rasa gugup yang luar biasa. Lira benar-benar merasa takut jika kejadian yang dulu terulang kembali. Namun, Lira tetap menyembunyikan rasa gugupnya dengan memasang senyum dan merangkul lengan Reza dengan cukup erat.


Saat mereka telah berada di depan para penjaga itu, Doni dan Amel telah lebih dahulu menyerahkan kartu undangan lalu masuk ke dalam karena mereka sudah dipersilakan masuk ke dalam aula hotel oleh para petugas yang mengenakan jas. Terpaksa mereka meninggalkan Reza dan Lira yang masih mengantri bersama para tamu undangan yang lain. Lira yang berdiri tepat di sebelah kiri Reza langsung menunduk, menyembunyikan wajahnya sambil mencengkram lengan Reza dengan cukup kuat hingga membuat sang pemilik lengan menoleh dengan wajah heran.


"Kenapa, sayang?" Lira hanya menggeleng pelan tanpa mengangkat wajahnya. "Sayang capek? Sabar ya, bentar lagi kita masuk kok."


Reza mengelus tangan Lira dengan lembut. Reza dibuat terkejut saat menyentuh tangan Lira yang terasa dingin disertai keringat. Ia mulai dilanda rasa panik. Beruntung giliran mereka yang maju dan dengan cepat Reza menyerahkan kartu undangannya pada petugas lalu masuk ke dalam menuju sofa yang berada di lobi hotel.


"Ada apa, sayang? Plis, jangan buat mas khawatir kayak gini."


Reza terlihat sangat khawatir karena Lira memilih diam dan enggan untuk membuka suara. Ditambah lagi, melihat wajah Lira yang sudah berkeringat dingin dengan tangan yang sedikit gemetar.


"Ayo ngomong, sayang. Ada apa?" Lira masih tetap diam hingga membuat Reza mengusap wajahnya dengan kasar.


"Li-Lira t-ta-takut, mas." Sahut Lira terbata-bata.


Kilasan tentang kenangan buruk itu tiba-tiba muncul begitu saja saat matanya tak sengaja bertemu dengan mata salah satu petugas itu.


"Takut kenapa, sayang? hmm?" Reza sungguh masih belum paham dengan situasi saat ini.


"Li-Lira ta-takut diusir sa-sama mereka. Li-Lira ju-juga takut nanti mas akan ninggalin Lira sendiri ka-kayak dulu."


Reza seperti ditikam ribuan panah yang menancap tepat di hatinya. Terasa sakit bahkan sangat sakit mendengar pengakuan istrinya yang jelas-jelas merasa sangat ketakutan dengan keringat dingin yang masih bercucuran di pelipisnya hingga membasahi jilbabnya.


Alangkah bodohnya ia sampai tak peka dengan kondisi psikis yang dialami istrinya. Padahal sejak di villa tadi, Lira sudah memberi isyarat, tapi Reza tetap tak bisa menangkapnya isyarat itu. Andai saja Lira mau jujur, tentu Reza tak akan memaksanya untuk ikut. Tapi, semua sudah terjadi. Reza segera memeluk erat tubuh Lira lalu menangis dalam tanpa suara. Reza merasa sangat hancur, mengetahui kenyataan itu. Tak heran, selama ini Lira selalu menolak setiap Reza mengajaknya untuk ikut menghadiri pesta rekan kerjanya, dengan alasan lelah mengurus anak. Ternyata bukan karena lelah, melainkan Lira masih terbayang-bayang oleh rasa takut atas kejadian yang lalu.


Reza terus memeluk tubuh gemetar Lira untuk memberinya ketenangan. Mereka bahkan menjadi pusat perhatian para tamu yang datang dan lewat di depan mereka. Namun, Reza merasa tak peduli tentang tatapan itu. Yang lebih penting baginya saat ini, hanyalah ketenangan istrinya.


Merasa tubuh Lira sudah tak gemetar lagi, Reza pun menghapus air matanya lalu melepas pelukannya. Setelah itu, ia mengusap lembut keringat yang mengalir di pelipis serta mengusap air mata di pipi Lira. Reza menangkupkan kedua tangannya di wajah Lira dan menatap mata Lira yang basah, tapi tetap memperlihatkan rasa takut yang teramat besar di dalamnya.


Tentu bukan hal mudah bagi Lira untuk melupakan kenangan buruk yang pernah dialaminya. Apalagi saat itu, Reza sama sekali tak mengakuinya sebagai istri hingga membuat Lira dihina dan diusir di depan banyak orang. Lira sempat melihat, Reza tersenyum mengejek ke arahnya. Halain yang sulit Lira lupakan juga adalah ketika ia ditinggalkan seorang diri, hingga akhirnya dengan terpaksa ia pulang berjalan kaki seorang diri tengah malam, di jalan yang sepi.


"Maafkan mas, sudah menorehkan luka yang sangat dalam di hati sayang dan sulit untuk dilupakan. Maafkan mas yang gak ngerti tentang perasaan sayang."


Reza menjeda ucapannya lalu mengubah posisinya menjadi bersimpuh di depan Lira dan menggenggam tangan mungil itu dengan lembut. Ia sudah tak peduli jika celananya akan kotor oleh debu.


"Sayang boleh hukum mas dengan cara apapun. Tapi tolong, jangan siksa diri sayang dengan memendam semua luka hati sayang sendirian."

__ADS_1


Lira mengangguk pelan dengan air mata yang masih berlinang di pipinya. Reza mengusap air mata itu dan mengecup kedua mata Lira dengan lembut.


"Kita pulang aja, ya." Ucap Reza lembut. Lira kembali menggeleng. "Terus, sayang mau kemana? Hmm?"


"Mau masuk aja. Gak enak sama temen mas yang udah ngundang."


"Tapi, kondisi sayang lagi gak baik sekarang."


"Lira akan baik-baik aja, selama mas gak ninggalin Lira sendirian."


"Sayang yakin?" Tanya Reza, kembali memastikan jika istrinya sudah baik-baik saja.


"Iya, mas. Lira yakin."


"Ya udah, kalo gitu kita masuk sekarang. Mas janji, gak akan ninggalin sayang sendirian."


Dengan perasaan campur aduk, merasa khawatir jika istrinya tak merasa nyaman berada di keramaian, Reza menggenggam erat tangan Lira untuk masuk ke menuju aula hotel tempat di mana acara pernikahan temannya dilaksanakan.


🌸🌸🌸🌸


Reza dan Lira telah masuk ke dalam aula lalu disambut oleh omelan Doni yang sudah menunggunya cukup lama. Doni sengaja menunggu Reza agar bisa bersama-sama naik ke pelaminan untuk memberi ucapan kepada kedua mempelai pengantin. Tapi yang ditunggu tak kunjung datang, hingga membuat Doni mendumel kesal.


"Kalian kok lama banget, sih?!"


"Sorry bro, tadi kita ada urusan mendadak. Kilah Reza. "Kalian udah ketemu sama pengantinnya?"


"Belum lah. Dari tadi, kita tuh nungguin lo sama Lira biar bisa bareng."


"Oke!" Sahut Doni dan Amel.


Kedua pasangan halal yang terlihat serasi itu, langsung menuju pelaminan yang sudah terlihat sepi, untuk memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai.


"Selamat ya, bro. Semoga pernikahan kalian berkah, dunia dan akhirat." Ucap Reza tulus sambil memeluk temannya itu.


"Aamiin. Terima kasih, kalian udah mau datang jauh-jauh ke nikahan gue."


"Sama-sama."


Kemudian Lira menyalami mempelai wanita, sedangkan Reza hanya menangkupkan kedua tangan ke dada. Disusul Doni dan Amel melakukan hal yang sama. Setelah itu, mereka menuju meja bundar untuk duduk sebentar. Reza dan Doni berinisiatif untuk mengambilkan makanan ringan dan minuman untuk para istri mereka. Dengan cepat Lira menolak, tak ingin ditinggal oleh Reza, meski Reza sudah menjelaskan kalau ia hanya sebentar untuk mengambil air minum. Namun, tetap saja Lira menolak. Reza pun mengikuti keinginan Lira karena memang ia sudah berjanji tak akan meninggalkannya. Akhirnya, Doni dan Amel yang mengambil makanan ringan serta minuman untuk Reza dan Lira.


🌸🌸🌸🌸


Usai menyantap makanan ringan, kedua pasangan itu memutuskan untuk kembali ke villa. Mereka tiba tepat pukul 10 malam di saat para orang tua serta anak-anak merek telah tertidur pulas. Mereka pun langsung menuju kamar masing-masing untuk membersihkan diri sebelum istirahat.


Seperti biasa, Reza membantu Lira membersihkan diri dan mengganti pakaian. Setelah itu, Reza membantu Lira naik ke tempat tidur. Reza menepuk lengannya, agar Lira mendekat dan tidur berbantalkan lengan kekarnya. Dengan senang hati Lira mengikuti keinginan Reza karena memang di situlah tempat ternyaman yang paling Lira sukai selama ini.


"Sayang, mas mau tanya." Ucapnya sambil membelai lembut suarai pajang wanita tercintanya.

__ADS_1


"Mau tanya apa, mas?" Sahut Lira dengan mata yang terpejam, menikmati sentuhan lembut tangan Reza di atas kepalanya.


"Sayang masih punya trauma apalagi, selain kayak di tempat pesta tadi?" Tanya Reza hati-hati.


Lira langsung mendongakan kepalanya menatap wajah Reza dengan kening yang mengerut.


"Kenapa mas nanya kayak gitu?"


"Mas cuma ingin, kita saling terbuka supaya kita bisa sama-sama saling mengobati satu sama lain. Mas gak mau kejadian kayak tadi terulang lagi."


Lira sempat diam beberapa saat untuk berfikir. Benar apa yang Reza katakan. Jika Lira tetap menyimpan semua sendiri, maka pasti ia akan kembali mengalami hal seperti tadi. Kemudian Lira menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.


"Sebenarnya, Lira trauma kalo deket kolam ikan sama gudang belakang rumah. Dulu waktu mas nyiram Lira pake air kolam, itu masuk ke hidung Lira dan rasanya sakit banget. Terus, Lira juga takut liat gudang karena mas pernah ngurung Lira di sana dalam keadaan laper dan ketakutan. Lira takut gelap, mas." Ucap Lira sambil membenamkan wajahnya ke dada bidang Reza dengan air mata yang sudah meluncur deras di pipinya. Bahkan air mata Lira sudah membasahi kaos yang Reza kenakan.


Jawab Lira sukses membungkam mulut Reza. Reza bahkan mengutuk dirinya sendiri karena sudah tega berbuat keji pada wanita semungil Lira yang tak memiliki tenaga apa-apa untuk membalas perlakuan kasarnya.


Reza mengelus kepala Lira dengan tangan yang sudah gemetar, tak sanggup mendengar luahan hati istrinya yang selama ini ia pendam sendiri.


"Maaf."


Entah sudah berapa kali kata itu keluar dari mulut Reza.


"Maaf, sudah menjadi orang paling jahat tak beradab dan tak berakal yang pernah sayang kenal." Ucapnya penuh sesal.


"Tapi Lira udah maafin mas, kok. Lira juga gak dendam sama mas. Lira hanya berharap, mas jangan pernah berubah, ya. Tetap jadi seperti yang Lira kenal sekarang, yang selalu sayang sama Lira dan anak-anak juga."


Lira sadar, selama ini Reza juga sudah sangat menderita dengan menanggung beban rasa bersalah di hatinya. Maka dari itu, Lira tak ingin lagi mengungkit semua yang telah terjadi. Karena Lira melihat, banyak sekali pengorbanan yang sudah Reza lakukan untuk membahagiakannya. Namun dengan adanya kejadian hari ini, membuat Lira terpaksa menceritakan apa yang sudah ia pendam selama ini agar hatinya menjadi tenang.


"Insya Allah. Mas janji akan selalu sayang dan cinta sama bunda dan anak-anak. Terima kasih, sudah memaafkan lelaki brengsek yang gak punya hati seperti mas."


"Istighfar, mas. Gak boleh ngomong gitu. Nanti dedek ya denger."


"Maaf, sayang."


Dengan cepat Reza beristighfar kemudian mengelus perut istrinya dengan lembut sebagai tanda permintaan maafnya pada calon anaknya.


"Udah ya, nangis-nangisnya. Lira udah ngantuk." Ucapnya kembali bermanja-manja.


"Oke, sayang. Sekarang kita tidur." Reza mengecup seluruh wajah Lira tanpa melewatkan satu pun, kemudian mereka tidur dengan posisi saling berpelukan.


🌸🌸🌸🌸


Bersambung.....😊


Sekedar info


Kemungkinan, selama bulan puasa ini, otor akan jarang up. Tapi, sebisa mungkin otor tetap berusaha meluangkan waktu untuk menulis cerita ini.

__ADS_1


Terima kasih.


Selamat berpuasa....πŸ€—β€οΈ


__ADS_2