
Maaf baru sempat up....
lanjut.......🌹🌹🌹🌹
🌸🌸🌸🌸
Benar apa kata dokter, Lira harus menginap selama tiga hari hingga kondisinya dinyatakan benar-benar membaik dalam artian tak lagi merasa mual, muntah atau lemas seperti sebelumnya. Meski dokter tak bisa menjamin bila sewaktu-waktu, rasa mual atau muntah itu akan kembali datang. Wajar saja, hormon setiap wanita saat hamil berbeda-beda. Untuk saat ini, Lira bisa bernafas lega. Namun, Lira tetap harus menyiapkan diri untuk kemungkinan yang akan terjadi nantinya.
Tak lupa juga Ambar selaku dokter yang menangani Lira, memberikan vitamin untuk mengatasi rasa mual dan muntah. Amel juga mengingatkan agar Lira banyak mengonsumsi air putih. Air putih sangat baik dalam membantu membentuk cairan ketuban, membawa nutrisi ke janin, mencegah masalah pencernaan, dan masih banyak lagi manfaat lainnya bagi ibu hamil. Maka dari itu, Amel menganjurkan untuk meminum air putih minimal sepuluh gelas dalam sehari.
"Jangan lupa ya, vitaminnya harus diminum dan perbayak minum air putih." Ucap Ambar lembut.
"Baik, dokter. Terima kasih banyak ya." Sahut Lira tak kalah lembut dan sopan.
"Sama-sama. Udah, gak usah kayak orang lain gitu. Oh ya, sebagai seorang suami perannya sangat dibutuhkan ya. Terutama selalu memberikan semangat pada istri. Ingat Za, jangan cuma mau enaknya aja. Giliran udah jadi, malah ogah-ogahan." Ejeknya pada sang sepupu.
"Paan sih. Gue gak gitu ya." Jawabnya tak terima karena merasa dianggap tak peduli pada sang istri. "Gue tuh suami siaga yang selalu siap sedia kapan aja. Iya gak sayang?" Lanjutnya sambil melirik Lira dengan senyum bangga.
"Hmmm." Jawab Lira berdehem singkat hingga membuat Ambar terkikik geli melihat wajah cemberut Reza.
Meski begitu, Reza tetap menyatat semua yang disampaikan Ambar dengan baik dalam ingatannya, karena ia hafal betul di kehamilan Lira yang ketiga ini, ia sangat jarang minum air putih. Jangan kan untuk meminum, melihat air saja Lira sudah merasa mual. Maka dari itu, Reza harus lebih ketat dalam mengawasi Lira kali ini. Ia tak peduli jika nanti Lira akan marah padanya. Menurutnya yang terpenting sekarang ini adalah kondisi sang istri serta pertumbuhan janin yang ada dalam kandungannya.
Begitu pun dengan Lira. Perlahan ia mulai menyadari kesalahannya yang sangat jarang mengonsumsi air putih dalam jumlah banyak. Namun, semua bukanlah keinginannya. Hormon kehamilan lah yang membuatnya menjadi enggan untuk minum air. Sekarang Lira mulai berfikir, ia tak boleh bersikap egois. Ia harus bisa menahan semua rasa mual itu demi sang buah hati.
🌸🌸🌸🌸
Kepulangan Lira ternyata disambut meriah oleh keluarga serta orang-orang terdekatnya. Termasuk Amel dan Bela yang juga turut hadir untuk menyambut kedatangan Lira. Ketulusan dan kesabaran Lira yang membuat banyak orang begitu sayang padanya. Jadi tak heran, jika mereka begitu bahagia dan antusias saat menyambut kepulangan Lira di rumah megah itu.
Sambutan hangat juga datang dari kedua anaknya. Inas dan Haidar yang selama tiga hari harus rela menahan rindu pada sang bunda yang terbaring lemah di rumah sakit, berlari sambil merentangkan tangan untuk menyambut wanita berparas teduh itu. Rasa haru begitu terasa saat kedua anaknya memeluk dan menyium kedua pipi Lira secara bergantian, lalu beralih menyium kedua pipi Reza dengan penuh kerinduan.
Bukan mudah membujuk keduanya untuk tak merengek meminta ke rumah sakit. Irma dan Indah bahkan harus memanggil Riri dan Farel untuk menginap di rumah, selama Lira masih berada di rumah sakit. Beruntung selaku orang tua, Doni, Amel, Bela dan Arman tak keberatan. Mereka dengan senang hati mengizinkan putra-putri mereka untuk menemani Inas dan Haidar agar tak menangis lagi.
"Unda, ade tanen tama unda. Unda dayi mana?" Tanya Haidar dengan sorot mata yang begitu dalam menahan kerinduan pada sang bunda saat mereka semua telah duduk berkumpul bersama di ruang keluarga.
Haidar duduk di atas paha kiri Reza, sedangkan Inas duduk di atas paha kanannya. Mereka berdua terlihat sangat merindukan kehadiran orang tuanya. Terlihat jelas dari sorot mata mereka yang begitu bahagia saat melihat Reza dan Lira memasuki pintu rumah. Seolah tak sabar untuk segera memeluk kedua orang tuanya.
Selama berada di rumah sakit, Lira dan Reza hanya bisa memantau kedua anak mereka lewat sambungan telepon atau video call. Reza memang sengaja tak mengizinkan anak-anaknya ke rumah sakit karena ia tak ingin mengambil resiko. Sebagai dokter, ia tahu bahayanya membawa anak kecil ke rumah sakit yang menjadi pusat berkumpulnya berbagai macam bakteri dan virus penyakit dan anak kecillah yang paling rentan untuk terkena penyakit.
"Bunda ada urusan sayang. Bunda juga kangen banget sama anak-anak bunda. Adek gak rewel kan? Nurut gak sama eyang sama nenek?"
"Nda, ade nda lewel. Ade duga nulut tama eyang tama nene duga."
"Alhamdulillah, seneng bunda dengernya." Ucap Lira lembut sambil mengusap kepala putranya dengan penuh kasih sayang.
"Jagoan papa ngapain aja sama kakak di rumah?" tak tahan melihat wajah menggemaskan sang putra, Reza pun ikut menimpali.
"Ade matan cotlat tama tata (kakak) banat di tamal." Jawabnya dengan girang.
Mata Reza langsung melotot. Sementara Inas sudah menunduk takut. Padahal satu hari sebelum kepulangan orang tua mereka, Inas sudah mewanti-wanti sang adik dan eyangnya untuk tidak mengadukan hal itu pada ayah mereka. Jika sudah seperti ini, Inas hanya bisa menunduk pasrah dan menunggu mendapat omelan dari sang ayah.
"Bener begitu kak? Kakak sama adek makan coklat banyak di kamar?" Tanya Reza selembut mungkin agar tak menakuti Inas, putri kesayangannya.
"Iya pa, maaf. Kakak ngaku salah kalna udah ngajakin adek makan coklat di kamal. Kakak juga udah ngancem eyang, mogok ngaji kalna eyang gak ngizinin kakak sama adek ke lumah sakit. Kakak minta maaf, pa. Halusnya kakak ngasih contoh yang baik buat adek, bukan ngajalin yang baik," jawab Inas jujur sambil menunduk dengan perasaan bersalah karena tak mendengarkan nasihat ayahnya untuk tak memakan coklat dengan jumlah yang banyak serta mengajari adiknya hal-hal yang tak baik menurutnya.
"Gak papa sayang. Tapi jangan diulangi lagi ya. Nanti gigi kakak sama adek bisa sakit kalo kebanyakan makan coklat. Kakak juga gak boleh ngancem eyang lagi ya. Eyang kan sayang sama kakak sama adek." Ucap Reza lembut.
Inas langsung mengangkat wajahnya lalu menatap ayahnya dengan heran.
"Papa gak malah? Kan kakak udah salah." Tanya Inas polos.
"Gak, papa gak marah. Siapa bilang papa marah? Kan kakak udah berani ngaku salah dan mau jawab jujur."
"Yeeeee...Makasih papa. Kakak sayang papa, sayang bunda juga."
"Ade duga tayang papa tama unda."
__ADS_1
Kedua bocah menggemaskan itu langsung memeluk dan menyium pipi Reza dan Lira secara bergantian.
Pemandangan itu gak luput dari perhatian semua yang ada di ruangan itu. Mereka merasa bangga pada didikan Reza yang lembut namun tetap terkesan tegas pada anak-anaknya. Reza tegas dan dingin pada orang lain, namun tetap bersikap lembut pada anak-anaknya.
Reza memang tak mau menakuti anak-anaknya dengan nada kasar atau membenta hingga membuat mereka menjadi takut dan menjauhinya. Ia ingin tetap menjadi ayah yang lembut dan hangat hingga pada saat anak-anaknya besar nanti, mereka akan tetap menganggap Reza sebagai pahlawan yang selalu bisa diandalkan kapan pun itu.
Selama mendidik anak-anaknya, tak pernah sekalipun Reza menggunakan bahasa kasar. Sebisa mungkin ia dan Lira selalu memberikan contoh yang baik agar diikuti oleh anak-anak mereka. Reza juga tak pernah sebisa mungkin tak menjanjikan sesuatu yang tak bisa ia tepati pada anak-anaknya karena nantinya akan membuat mereka menjadi hilang rasa percaya pada orang tua mereka.
🌸🌸🌸🌸
Acara sambutan kepulangan Lira dilanjutkan dengan makan siang bersama tanpa kehadiran Lira karena ia harus beristirahat di kamar. Selain itu juga, Lira belum bisa menyium bau makanan yang membuatnya mual, seperti nasi dan ikan. Namun meski tanpa kehdairan Lira, kehangatan tetap terasa di meja makan. Apalagi dengan adanya si menggemaskan Riri dan Farel yang selalu berhasil mengundang gelak tawa dengan tingkah lucu mereka.
"Mami, aku mau nambah sayul boleh?" Tanya Riri penuh harap sambil menyodorkan piringnya yang masih berisi nasi dan ayam goreng, sementara sayurnya telah habis tanpa sisa.
Riri termasuk anak yang sangat suka makan semua jenis sayuran. Bahkan Riri bisa menghabiskan satu mangkuk sayur sup dalam sekali makan. Tak heran jika tubuh Riri terlihat begitu gempal dari teman-teman seusianya.
"Boleh, sayang."
Amel mengambil piring Riri lalu menyendokkan sayur sup setelah itu ia menaruhnya di depan Riri. Tak perlu menunggu lama, Riri langsung melahap sayur sup itu.
"Pelan-pelan dong sayang makannya. Nanti keselek." Ucap Doni lembut dan hanya dibalas anggukan oleh putrinya dengan mulut yang dipenuhi makanan hingga membuat kedua pipinya mengembung lucu.
Semua yang ada di meja makan pun hanya tersenyum geli melihat tingkah lucu Riri.
Melihat Riri yang begitu semangat memakan sayurnya, Inas pun tak mau kalah. Ia juga meminta sayur sup pada ayahnya. Padahal jelas-jelas sayurnya masih banyak.
"Papa, Kakak juga mau nambah sayul."
Reza langsung terkejut. Sama seperti Riri, Inas juga sangat menyukai sayuran. Namun, Reza segera tersenyum. Ada-ada saja tingkah putrinya yang tak mau kalah dari sahabatnya dan ingin juga terlihat hebat di depan semua orang.
"Sayur kakak kan masih banyak. Dihabisin dulu ya, baru boleh nambah lagi."
"Tapi kakak mau nambah, pa."
"Gak boleh, sayang. Nanti kakak kekenyangan terus gak habis, jadi mubazir deh makanannya." Jelas Reza. Inas pun langsung menurut.
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan sekali pun. Apabila beliau berselera (suka), beliau memakannya. Apabila beliau tidak suka, beliau pun meninggalkannya (tidak memakannya).” (HR. Bukhari).
🌸🌸🌸🌸
Usai makan siang bersama, Doni mengajak anak dan istri pulang untuk beristirahat. Begitu pun dengan Bela, juga ikut berpamitan karena anak keduanya sudah mulai rewel meminta susu. Tinggallah Reza yang sedang membujuk anak-anaknya tidur siang di kamar mereka. Awalnya, Inas dan Haidar menolak tidur di kamar mereka karena ingin memeluk Lira. Namun, Reza menjelaskan jika bunda mereka sedang butuh istirahat yang cukup supaya kembali sehat, maka mereka langsung menurut. Reza belum memberitahukan perihal kehamilan Lira pada anak-anaknya. Biarlah semua berjalan semestinya sampai perut Lira terlihat membuncit, barulah ia menjelaskan agar anaknya tak merasa heran atau khawatir.
"Kakak sama adek mau dibacain cerita apa?" Tanya Reza sambil merapikan selimut yang menutupi tubuh mungil kedua anaknya.
"Ade mau celita monet dan kula-kula."
"Kakak mau celita nabi, papa."
Reza menjadi bingung harus memilih untuk membacakan cerita yang mana dulu. Kedua anaknya memilih cerita yang berbeda yang membuatnya harus memutar otak agar anak-anaknya tak bertengkar.
"Hmmmm, gimana kalo siang ini kita dengerin kisah monyet dan kura-kura dulu, terus malam nanti kita dengerin cerita nabi yang dibacakan langsung sama bunda?" usul Reza lembut.
"Mau papa, mau. Nanti malem kakak mau dengelin celita nabi baleng bunda." Jawab Inas girang, begitu pun Haidar yang langsung bertepuk tangan tanda setuju.
Reza langsung bernafas lega. Sangat mudah membuat kedua anaknya menurut. Beruntung ia mempunyai anak-anak yang penurut dan mudah diatur.
"Ya udah, sekarang papa bacain dongeng monyet dan kura-kura ya."
Inas dan Haidar mengangguk. Reza pun membacakan dongeng itu sampai anak-anaknya tertidur dengan pulas. Setelah selesai membaca dongeng, Reza memastikan kedua anaknya telah benar-benar tertidur, barulah ia menyium kening Inas dan Haidar. Setelah itu, Reza kembali ke kamarnya untuk menemani sang istri tercinta yang sudah menunggunya.
"Anak-anak udah tidur mas?" Tanya Lira saat Reza memasuki kamarnya dan duduk di ranjang tepat di sebelahnya.
"Uda, sayang. Tadinya mereka ngotot mau tidur siang di sini, tapi mas gak bolehin. Mas bilang aja, bunda lagi istirahat. Nanti malem baru boleh tidur bareng bunda."
"Mereka setuju?"
__ADS_1
"Setuju dong. Kalo udah bawa nama bunda, pasti mereka langsung setuju."
Lira langsung tertawa geli membayangkan wajah menggemaskan Haidar yang merengek meminta tidur bersama bundanya. Lira tahu betul jika Haidar tak bisa tidur sebelum memeluk dirinya.
"Kenapa senyum-senyum gitu sayang? Kangen pengen dipeluk mas?" tanya Reza sambil menarik turunkan alisnya, menggoda istrinya.
Lira langsung cemberut. "Ih, apaan sih mas. Gak gitu. Lira lagi bayangin muka ngambeknya si adek, pasti lucu banget waktu dia merengek minta tidur di sini."
"Iya sayang. Tadi muka si adek lucu banget, jadi pengen nyubit kayak gini."
Dicubitnya dengan gemas kedua pipi Lira hingga membuat si pemilik pipi menjadi meringis menahan sakit.
"Aduh mas, sakit." Keluh Lira sambil mengusap kedua pipinya yang terasa sakit.
"Maaf sayang, soalnya mas gemes banget liat pipi sayang yang udah kembali bulet." Jawab Reza sambil menyengir tanpa merasa bersalah. "Ya udah, sekarang sayang istirahat lagi ya. Mas mau beresin kerjaan dulu." Reza mengecup kening Lira lalu membenarkan selimut Lira hingga menutup dada.
"Tidur siang dulu mas, nanti baru dilanjutin lagi kerjaanya. Dari kemarin mas kurang istirahat karena nemenin Lira."
"Cuma bentar kok sayang, gak lama. Habis itu baru mas istirahat."
"Ya udah deh, terserah." Ucap Lira sambil cemberut.
Lira menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Tak hanya itu, ia juga memasang mode ngambek dan diam, meski Reza telah memanggilnya sejak tadi. Reza mendesah pelan, jika sudah begini alamat ia harus menyiapkan jurus rayuan agar Lira bisa kembali ceria.
Sebenarnya Reza juga merasa lelah karena kurang tidur selama menemani Lira di rumah sakit. Namun, banyaknya pekerjaan yang dikirim Arman dan harus segera ia selesaikan membuatnya mengurungkan niat untuk beristirahat. Ditambahkan lagi sekarang ia harus membujuk istiranya untuk kembali berbicara padanya. Bukan hal yang mudah memang, mengingat sikap Lira yang terkadang mudah marah membuat Reza harus pandai mencari cara agar tak membuat Lira mudah tersinggung.
"Sayang, buka selimutnya dong. Mas mau liat muka cantiknya," bujuk Reza dengan lembut sambil menarik pelan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuh mungil Lira.
Tak ada sahutan, namun Reza tak hilang akal. Ia berusaha mengusap pelan kepala Lira yang terlihat paling menonjol di antara anggota tubuhnya yang lain.
"Sayang, mas minta maaf ya. Mas janji tidur siang asal sayang mau buka selimutnya. Sayang gak pengap apa, nutup badan sama muka pake selimut tebel gitu?"
Pelan-pelan Lira membuka selimutnya hingga terlihat kedua matanya yang melotot kesal. Benar apa kata Reza, ia merasa sangat pengap dan sedikit kesulitan bernafas di balik selimut tebal itu. Namun, rasa kesalnya begitu besar hingga mengalahkan rasa pengap yang ia rasakan.
"Maaf ya, mas udah bikin sayang kesel."
"Habisnya mas gitu, gak mau dengerin Lira ngomong. Padahal itu kan demi kebaikan mas juga," omel Lira sambil cemberut.
"Iya sayang, mas salah. Udah ya, jangan ngambek lagi. Nanti dedek bayinya juga ikutan kesel sama papanya, diambekin terus sampe gede."
"Biarin. Biar mas tahu rasa. Nanti Lira bilangin ke dedek, papanya suka ngeyel, gak mau dengerin kata bundanya."
"Eh, jangan gitu dong. Nanti bisa-bisa mas dikeroyok lagi sama trio bocil karena udah bikin bunda mereka kesel. Gawat tuh, kalo trio bocil bersatu lawan mas, terus mas mesti minta bantuan sama siapa dong?"
"Emang Lira pikirin."
Mereka langsung tertawa bersama membayangkan bagaimana ketiga anak mereka kelak besar nanti akan mengeroyok ayah mereka jika membuat bunda kesayangan mereka sedih. Reza tak bisa membayangkan betapa bahagia hidupnya bisa melihat anak-anaknya tumbuh menjadi anak-anaknya yang penurut dan penuh kasih sayang satu sama lain.
"Mas gak sabar liat dedek lahir terus dia dijagain sama kakak-kakaknya. Diajak main bersama. Kayaknya seru ya, sayang?"
"Iya mas. Lira juga gak sabar pengen cepet-cepet lahiran. Gimana nanti reaksi anak-anak ya, pas tahu mereka bakal punya adik lagi?"
"Nanti kita coba jelasin pelan-pelan, sayang. Semoga mereka mau mengerti."
"Iya, mas."
"Tapi mas belum siap deh, liat anak-anak tumbuh besar terus kuliah jauh, ninggalin kita."
"Iya juga ya mas,"
Mereka kembali menerawang jauh tentang masa depan anak-anaknya kelak. Reza yang nota benenya sangat dekat dengan Inas, merasa belum siap menghadapi kenyataan itu. Mengingat bagaimana manjanya Inas padanya, membuat Reza tersenyum sedih.
🌸🌸🌸🌸
Bersambung......😊
__ADS_1
jangan lupa dukungannya ya.....
terima kasih❤️