
Selamat membaca........🌹🌹🌹🌹
🌸🌸🌸🌸
Pukul tujuh malam, Anita telah tiba lebih dulu di kafe yang telah ia janjikan kepada Reza. Farel ikut serta dalam pertemuan mereka karena bocah tampan itu tak ingin ditinggal bersama pembantunya di rumah. Akhirnya dengan terpaksa, Anita membawa anaknya ikut bersamanya. Sebenarnya Anita merasa takut jika nanti Farel tak ingin jauh dari Reza yang sudah ia anggap sebagai ayahnya. Namun, Anita segera menyadarkan dirinya bahwa ia tak boleh birsikap egois. Hanya karena ingin melihat anaknya bahagia, ia harus mengorbankan perasaan orang lain yang lebih berhak dari pada ia dan anaknya.
Anita sengaja memilih tempat duduk yang berada di pojok ruangan dan cukup jauh dari jangkauan pengunjung kafe yang lain. Agar nanti tak ada orang yang mendengar pertengkarannya bersama Reza. Meski Anita tak berniat untuk bertengkar, tapi tetap saja ia harus berjaga-jaga.
Cukup lama Anita menunggu, tak lama kemudian Reza tiba dengan sedikit tergesa-gesa, dengan wajah bersalah karena datang terlambat dari waktu yang telah ditentukan.
"Hay? Maaf ya aku telat. Tadi aku kena macet di jalan." Jelas Reza merasa bersalah, lalu duduk di depan Anita.
"Iya, gak papa. Aku juga belum lama tiba kok. Ya udah, kamu mau pesen makan apa? Aku udah pesen makan duluan buat Farel."
"Aku makannya nanti aja. Hay, anak papi? Serius banget makannya, sampe papi dicuekin." Sapa Reza pada Farel yang sedang sibuk menyuapakan makanan ke dalam mulutnya yang kecil.
"Falel lapel banget, pi. Papi sih, datengnya lama jadi Falel makan duluan deh." Jawab Farel sambil mengunyah nasi goreng seafood kesukaannya.
"Aduh, maafin papi ya. Tadi papi kena macet di jalan."
"Iya, Falel udah maafin papi kok."
"Wah, terima kasih ya." Reza tersenyum mendengar ucapan dari Farel yang begitu menggemaskan.
Anita hanya tersenyum getir melihat interaksi antara anaknya bersama Reza. Dadanya terasa sesak, karena malam ini akan menjadi momen indah yang terakhir bagi mereka. Keputusan Anita untuk mengakhiri hubungan terlarangnya bersama Reza sudah sangat bulat.
"Ada yang ingin aku omongin sama kamu, penting." Ucap Anita dengan raut wajah serius.
"Oh ya? Kebetulan, aku juga ada yang mau aku omongin sama kamu." Jawab Reza dengan senyum manis yang tak pernah luntur dari wajah tampannya.
"Ya udah, kalo gitu kamu aja duluan ngomong."
"Gak, kamu dulu. Kan kamu yang ngajak aku ketemuan." Tolak Reza halus.
Reza sengaja menahan diri menyampaikan niatnya untuk menikahi Anita setelah ia mendapat restu dari kedua orang tuanya. Makanya, ia meminta Anita yang lebih dulu berbicara, dengan begitu ia bisa menyiapkan mentalnya saat mendengar apa yang Anita sampaikan padanya.
"Oke. Aku akan tanya sesuatu yang penting ke kamu dan kamu harus jawab jujur gak boleh ada yang ditutupin dari aku, apapun itu." Ucap Anita tegas.
"oke, siapa takut." Jawab Reza dengan mantap.
"Apa betul kamu udah menikah?"
Deg
Raut wajah Reza langsung berubah tegang. Tenggorokannya tercekat, bingung harus menjawab apa. Tapi, bagaimana bisa Anita mengetahui tentang statusnya yang sudah menikah? Sedangkan, ia sendiri merasa tak pernah memberitahukan tentang statusnya kepada siapa pun. Pikir Reza.
"Kenapa diam? Bingung mau jawab apa?"
"Tunggu-tunggu. Siapa yang ngasih tahu hal ini ke kamu? Tanya Reza menyelidik.
__ADS_1
"Kamu gak perlu tahu soal itu."
"Gak! Aku berhak tahu, dari mana kamu tahu info status aku. Apa Doni yang ngasih tahu ini ke kamu?" Reza mulai kesal.
"Kamu gak usah bawa-bawa nama Doni dalam masalah kita." Tegas Anita.
"Tapi benerkan, Doni yang udah ngasih tahu ini ke kamu? Karena selain dia dan keluarga aku, gak ada lagi orang lain lagi yang tahu soal status aku. Aku yakin kalo keluargaku gak mungkin ngasih tahu hal ini ke kamu." Ucap Reza dengan kilatan marah di wajahnya.
"Siapa pun dia, aku gak peduli. Intinya, aku udah kecewa dan sakit hati sama kamu yang udah berani bohongin aku dengan menyembunyikan status pernikahan kamu." Balas Anita dengan menahan amarahnya.
"Bukan gitu. Aku cuma bingung aja, gimana caranya aku ngasih tahu ini ke kamu. Tapi jujur, aku gak bermaksud buat nyembunyiin status aku dari kamu. Aku hanya nunggu waktu yang pas aja buat jelasin semuanya ke kamu." Jelas Reza.
"Kamu tahu gak, alasan kenapa aku cerai dari mantan suami aku? Karena dia selingkuh dengan wanita lain dan itu bikin hati aku hancur. Dan sekarang, kamu nempatin aku di posisi yang sama dengan wanita yang udah rebut suami aku dan udah rusak rumah tangga aku. Kamu tahu gak rasanya jadi aku sekarang? Aku merasa sakit hati sama sikap kamu dan kecewa sama diri aku sendiri karena udah rebut kamu dari istri sah kamu. Bahkan dengan bangganya, aku bahagia di atas penderitaan wanita lain yang aku gak tahu, mungkin saat ini dia sedang menangis sambil mengutuk sikap aku yang udah ngancurin kebahagiaan dia." Ucap Anita dengan nafas yang tersengal-sengal serta air mata yang terus mengalir deras di wajahnya.
Reza hanya diam melihat Anita menangis di depan matanya. Ia menjadi merasa bersalah karena tak menceritakan tentang status pernikahannya lebih awal.
"Maaf, aku gak tahu kalo akan jadi seperti ini." Reza menunduk tak sanggu melihat Anita menangis.
"Harusnya kamu minta maaf sama istri kamu. Kamu sadar gak, kalo kamu udah nyakitin dia dengan sangat dalam." Balas Anita sambil menghapus air matanya yang masih terus saja mengalir.
"Tapi aku gak cinta sama dia. Aku terpaksa nikahin dia karena papa. Aku cuma cinta sama kamu."
Anita tersenyum sinis di sela-sela tangisnya. "Kamu yakin sama jawaban kamu itu? Kok aku gak yakin ya! Aku malah yakin kalo kamu cinta sama dia, cuma kamu nya aja yang gak nyadar sama perasaan kamu sendiri. Dan kamu bukan cinta sama aku, tapi kamu cuma penasaran karena dulu aku pernah nyakitin hati kamu." Jelas Anita.
Lagi-lagi Reza hanya diam. Memang benar apa yang dikatakan Anita. Ia pernah ingin bertemu Lira untuk mengutarakan perasaannya pada Lira dan meminta maaf atas semua kesalahannya. Namun, semua hilang begitu saja saat Anita datang padanya dengan meminta satu kesempatan untuk kembali. Saat itu Reza bingung karena hatinya telah diisi oleh nama Lira. Tapi dengan mudahnya ia berubah arah hanya karena wanita masa lalunya.
"Terus aku harus gimana?" Tanya Reza frustasi.
Anita harus melakukan ini demi kebahagiaannya suatu saat nanti. Ia yakin, Tuhan pasti telah menyiapkan sesuatu yang indah untuk dia dan anaknya.
"Tapi dia udah lama pamit untuk pergi dari rumah." Ucap Reza lesu.
"Kamu jangan putus asa gitu dong." Anita mencoba memberi dukungan pada Reza. "Tapi, apa sebelumya.kalian pernah berhubungan suami istri?"
Reza mengangguk cepat.
'Berarti kamu harus segera cari dia. Karena bisa aja sekarang dia sedang mengandung anak kamu." Ucap Anita yakin.
Reza langsung menatap lekat mata Anita, merasa tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.
"Coba ulang, apa yang barusan kamu katakan?" Pinta Reza.
"Aku bilang, bisa aja sekarang istri kamu sedang mengandung anak kamu."
"Aku pamit pulang duluan ya, Nit. Maaf gak bisa anter kamu pulang. Dan maaf juga karena udah nyakitin kamu. Terima kasih karena kamu udah nyadarin aku." Reza langsung bergegas pergi meninggalkan Anita dan Farel.
Anita menatap kepergian Reza dengan tangisnya yang langsung pecah saat itu juga. Ia harus bisa merelakan Reza memilih istrinya. Ia sadar, kehadirannya hanya akan memperburuk rumah tangga Reza bersama istrinya. Anita akan semakin merasa berdosa jika ia tetap egois dengan menahan Reza untuk tetap berada di sisinya.
Namun, Anita merasa lega karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia telah melakukan sesuatu yang benar. Anita tak menyesal merelakan Reza pergi. Anita berharap, ia bisa belajar dari kesalahannya dan berjanji tak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi nanti.
__ADS_1
"Mi, kenapa mami nangis? Telus kenapa papi pelgi sambil lali-lali?" Tanya Farel dengan wajah polosnya.
Anita hanya menggeleng sambil tersenyum. Ia membawa tubuh mungil putranya dalam dekapannya sambil mengelus pelan rambut bocah tampan itu.
"Mulai sekarang, kita harus terbiasa hidup tanpa papi ya, sayang."
"Emangnya kenapa, mi."
"Karena Papi Reza akan bahagia, dan kita juga harus bahagia."Jelas Anita.
"Oke, mami. Falel sayang mami." Farel seolah paham dengan apa yang sedang dialami oleh maminya.
Anita merasa terharu mendengar ungkapan sayang dari putra semata wayangnya. Ia kembali mendekap putranya dengan sangat erat sambil meneteskan air mata bahagia.
🌸🌸🌸🌸
Reza langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumahnya. Reza terus saja mengumpat sambil menekan klakson dan memukul stirnya berkali-kali saat jalanan mulai macet. Rasanya ia sudah tak sabar untuk segera sampai ke rumahnya.
Saat jalanan mulai lengang, Reza langsung tancap gas penuh. Ia tak peduli dengan teriakan dari orang-orang yang mengumpat padanya. Ia hanya ingin segera tiba di rumah dan mencari tahu tentang kebenaran dari kehamilan Lira yang belum ia ketahui.
Reza telah tiba di rumahnya setelah menempuh perjalanan selama 30 menit sambil melawan kemacetan yang diselingi dengan umpatan-umpatan kasar yang keluar dari mulutnya.
Reza segera membuka pintu rumahnya dengan tergesa-gesa. Saat telah memasuki rumahnya, ia tak sengaja berpapasan dengan Ipeh, wanita paruh baya yang ia sewa hanya untuk membersihkan rumah.
"Maaf tuan, tadi saya menemukan ini saat mau membersihkan kamar kosong yang ada di sebelah kamar mandi belakang. Tapi kamarnya belum sempat saya bersihkan kok tuan, Saya sengaja menunggu perintah langsung dari tuan" Ucapnya sambil memberikan foto hasil USG milik Lira.
Tangan Reza langsung gemetar saat menerima foto USG itu. Air matanya langsung mengalir begitu saja. Ipeh merasa bingung melihat majikannya yang tiba-tina saja menangis sesegukkan di hadapannya. Wibawa Reza langsung lenyap seketika di depan pembantunya itu, namun Reza merasa tak peduli.
Reza langsung menuju kamar yang pernah Lira tempati dulu. Hatinya terasa nyeri dan sesak saat melihat kondisi kamar itu. Tak ada kasur empuk, yang ada hanya tikar tipis dan bantal bekas pembantu yang sudah terlihat usang. Meja kecil yang biasa Lira gunakan sebagai pengganti lemari pakaian.
Reza juga melihat ada beberapa bungkusan roti yang sudah penuh jamur. Ia langsung teringat, dulu ia pernah dengan sengaja memberikan roti yang sudah berjamur untuk dimakan oleh Lira. Air mata Reza kembali mengalir dengan sangat deras, mengingat semua kekejaman yang telah ia lakukan dulu pada Lira, gadis polos yang selalu sabar menghadapi kekejamannya.
Reza merebahkan tubuhnya di atas tikar tipis yang biasa Lira gunakan sebagai alas tidur. Di atas tikar tipis itu pula, Reza dengan sangat kasar mengambil haknya pada Lira. Ia bahkan tak peduli dengan teriakan kesakitan yang keluar dari mulut Lira. Reza merasakan tubuhnya terasa kaku saat tibuhnya cukup lama berbaring di atas tikar itu. Lalu bagaimana dengan Lira, yang setiap malam harus tidur dengan hanya beralaskan tikar tipis itu?
Reza memandangi dua foto USG yang terpampang calon anaknya di sana. Rasa sesal menyelubung masuk ke dalam hatinya. Ia teringat saat Lira meminta mangga muda pada tetangga mereka dan dengan kejamnya ia membentak Lira karena merasa telah membuatnya malu. Bayangan ketika Lira berdiri di depan warung sate Padang dan langsung diusir karena merasa telah merusak pemandangan para pelanggan warung juga terlintas jelas di benaknya. Reza tak menyadari ternyata semua itu karena keinginan dari janin di kandungan Lira.
Selama ini ia telah tega membiarkan istrinya menanggung rasa ngidam seorang diri tanpa bisa mewujudkannya. Reza meraung-raung memanggil nama Lira, sambil meminta Lira kembali.
"Lira....maafkan aku. Aku mohon kembalilah." Teriak Reza sambil terus memanggil nama Lira.
🌸🌸🌸🌸
Bersambung.........
Jangan lupa untuk
LIKE
KOMEN
__ADS_1
VOTE VOTE VOTE...
Terima kasih😊