
Selamat membaca........🌹🌹🌹🌹
🌸🌸🌸
"Mas, boleh gak nanti Lira nginap di rumah ibu selama seminggu?" Tanya Lira dengan memasang tampang memohon saat Reza meletakan tubuh mungil anaknya di atas tempat tidur.
"Terus nanti mas gimana, sayang? Sayang kan tahu, kalo mas gak bisa jauh dari sayang sama dedek." Balas Reza lembut.
"Tapi nanti ibu sama siapa, mas? Lira gak tega ninggalin ibu sendirian di rumah."
"Dulu sayang kan pernah ninggalin ibu untuk merantau ke sini."
"Ck, itu karena terpaksa mas. Kalo Lira gak merantau ke sini, kami mau makan apa? Terus kita juga gak akan nikah seperti sekerang. Gimana sih!"
Lira memasang tampang cemberut dan membuat Reza tersenyum lembut. Benar kata Lira, andai saja ia tak merantau ke Jakarta, sudah pasti mereka tidak akan menikah dan memiliki anak yang menggemaskan seperti Inas. Skenario Allah memang terbaik. Pikir Reza.
Reza mengusap lembut kepala Lira. Wanita yang menyandang status sebagai istri serta ibu dari anaknya itu, memang sangat dewasa. Reza merasa salut pada sikap Lira yang rela melewati masa remaja dengan bekerja membantu orang tuanya. Betapa beruntungnya Reza dipertemukan dengan wanita sekuat dan setangguh Lira. Meski diawal pernikahan, mereka harus melewatinya dengan drama kekerasan dan air mata. Namun, sekarang mereka telah memetik hasil dari kesabaran serta keihklasan dari seorang Lira.
"Terima kasih ya, sayang sudah mau hadir di hidup mas. Sayang begitu sabar menghadapi kejamnya sifat mas, sampai sayang harus rela terluka." Reza meraih tangan Lira, lalu mengecupnya dengan lembut.
"Mas, kenapa harus minta maaf terus sih?"
"Karena sayang pantas mendapatkan terima kasih dari mas, dan mas gak akan pernah bosan untuk terus mengucapkan maaf dan terima kasih pada sayang, sampai kapan pun."
Lira hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya karena Lira sudah tak tahu harus berkata apa lagi.
"Jadi gimana, mas? Lira boleh gak nginep di tempat ibu?" Tanya Lira lagi.
"Gimana, ya?" Reza pura-pura berpikir untuk menggoda istrinya yang terus memohon sejak tadi. Lira sudah pasrah jika Reza tak mengizinkannya untuk menginap di rumahnya.
"Boleh, sayang. Asalkan nginepnya bareng mas." Jawab Reza sambil tersenyum senang karena sudah berhasil mengerjai istrinya.
Mata Lira langsung melotot dengan mulut menganga sedikit lebar. "Mas, gak salah mau nginep di rumah ibu? Mas tahu kan, gimana kondisi rumah ibu? Nanti mas gak akan betah di sana." Tanya Lira panjang lebar dengan raut wajah cemas.
Reza hanya tersenyum. Tanpa sepengetahuan Lira dan mertuanya, Reza telah menyiapkan kejutan istimewa untuk mereka.
Reza menyubit kedua pipi Lira dengan gemas. "Sayang, kok bawel banget sih? Sayang tenang aja, mas pasti betah kok di sana." Jawab Reza tenang dan meyakinkan.
"Tapi kerjaan mas, nanti gimana?"
"Udah, sayang tenang aja. Gak usah banyak mikir. Mending sekarang kita istirahat karena besok kita harus menempuh perjalanan jauh. Sayang harus banyak istirahat." Ucap Reza.
__ADS_1
"Mas duluan aja. Lira masih mau nyiapin keperluan kita selama nginep di sana."
Lira mulai menyiapkan segala keperluan ia dan suaminya dengan semangat. Beberapa saat kemudian, Lira dibuat bingung saat akan menyiapkan pakaian suaminya.
Lira menghampiri Reza yang baru saja selesai menelpon di balkon kamar. "Mas, baju sama celananya mau bawa yang mana aja, nih? Lira mau milihin, tapi takut salah." Tanya Lira.
"Terserah sayang aja. Apa yang sayang bawa, pasti mas pasti pake kok." Jawab Reza lembut.
"Oh, ya udah. Kalo gitu, Lira bawa beberapa kaos sama celana santai. Terus baju Koko sama sarung untuk sholat. Terus jaket, topi, sama kaos kaki karena di sana pasti bakal dingin banget."
Lira terus mengoceh, menyiapkan segala keperluan suaminya. Reza hanya menggelengkan kepala melihat tingkah lucu istrinya.
"Mas, pakaiannya digabung aja ya sama punya Lira. Biar kita gak bawa banyak koper." Tanya Lira, menoleh ke arah suaminya yang duduk di tempat tidur sambil memerhatikannya sejak tadi.
"Boleh, sayang."
Dengan cekatan, Lira memasukan pakaiannya juga pakaian suaminya ke dalam koper yang sama, agar mereka tak merasa kerepotan nantinya.
Sementara untuk perlengkapan Inas, Lira memasukannya segala keperluan putrinya, seperti bedak bayi, minyak telon, shampo, dan masih banyak lagi, ke dalam tas berukuran cukup besar yang dikhususkan untuk menaruh segala perlengkapan putrinya ketika ada perjalanan jauh. Tak lupa juga, Lira menyiapkan jaket tebal untuk putrinya, jika sewaktu-waktu diperlukan. Suhu di kampung Lira cukup dingin. Apalagi memasuki musim penghujan, suhunya Lira akan berubah bertambah menjadi semakin dingin.
Usai menyiapkan segala keperluan mereka untuk menginap di kampung, Lira langsung menuju kamar mandi untuk menyikat gigi dan membersihkan muka. Reza melihat Lira masuk ke dalam kamar mandi, segera menyusulnya karena ia juga belum membersihkan mukanya.
Setelah itu, Lira dan Reza menuju tempat tidur untuk beristirahat. Reza membawa Lira dalam pelukan hangatnya. Sementara putri mereka tidur di samping Lira sambil memeluk boneka kelinci kesayangannya.
🌸🌸🌸🌸
Lira keluar dari kamar sambil menggendong Inas, sedangkan Reza mengangkat koper dan tas berisi keperluan mereka juga Inas. Seperti biasa, penampilan Lira selalu saja sederhana. Lira mengenakan gamis hitam dipadukan dengan pasmina lebar menutup dada berwarna abu terang. Sedangkan Inas memakai kaos lengan panjang berwarna putih dengan gambar hati berukuran cukup besar di bagian dada dan celana hitam kaos hitam khas balita. Tak lupa jilbab khusus balita berwana pink soft serta sepatu rajut milik ayahnya ketika kecil dulu. Tampilan balita itu sangat lucu dan menggemaskan.
Lira dan Reza menuju ruang tamu di mana orang tua mereka menunggu. Reza mengerutkan dahinya saat melihat koper yang Reza kenali itu adalah milik orang tuanya.
"Mama sama papa mau kemana, bawa koper segala?" Tanya Reza dengan wajah bingung.
"Mama sama papa juga mau ikut nganter Bu Indah pulang kampung. Dulu kan kita gak sempet liburan di sana, jadi biar sekalian kita liburan bareng. Mumpung papa udah gak kerja lagi. Iya kan, pa?" Jawab Irma antisias sambil melirik ke arah suaminya.
Martin hanya mengangguk sambil tersenyum melihat wajah istrinya yang begitu antusias dan bahagia. Selepas pulang dari Jerman, mereka memang sudah jarang untuk berlibur bersama. Kali ini, Irma dan Martin ingin memanfaatkan kesempatan itu dengan mengantar Indah sekaligus berlibur bersama keluarga mereka.
"Ya udah, kalo gitu kita berangkat sekarang aja, biar gak kelamaan di jalan." Ajak Reza, lalu mendorong kopernya menuju ke arah Jono yang sudah menunggu di dekat mobil Toyota Alphard milik Martin.
🌸🌸🌸🌸
Di pertengahan jalan menuju kampung Lira, Inas mulai rewel karena haus dan lapar. Akhirnya mereka memutuskan untuk mampir sholat dhuhur dan makan siang di restoran terdekat.
__ADS_1
"Sayang, sini biar adek sama mas. Sayang makan aja dulu." Ucap Reza saat melihat istrinya kesulitan menyuapi Inas dipangkuannya sambil makan.
"Gak papa mas. Lira udah mau selesai kok makannya." Tolak Lira halus.
Reza melanjutkan makannya lebih cepat agar bisa menggantikan istrinya menggendong putrinya yang mulai mengantuk karena kekenyangan. Reza menggendong Inas lalu menimangnya dengan menepuk pelan punggung Inas yang terlelap dalam dekapannya. Lira tersenyum bahagia menyaksikan sikap hangat Reza pada putri mereka. Begitu pun orang tua mereka merasakan hal sama, sangat bahagia melihat perubahan Reza yang menghangat pada keluarga kecilnya.
Usai makan siang, mereka pun melanjutkan perjalan yang sempat tertunda menuju kampung halaman Lira.
Beberapa jam kemudian, mereka pun tiba di kampung halaman Lira. Kedatangan mereka langsung disambut hangat oleh beberapa orang tetangga Lira yang memang dekat dengan mereka. Setelah itu menyapa para tetangga, mereka langsung menuju rumah Lira yang berada tepat di belakang masjid.
Reza sengaja membiarkan Lira dan Indah yang sudah tak sabar ingin segera sampai di rumahnya, berjalan lebih dulu. Namun, saat mereka tiba di ujung jalan setapak yang mengarah ke rumahnya, Lira dibuat bingung melihat rumah dua lantai berukuran cukup luas dengan cat berwarna putih bercampur abu-abu berdiri kokoh di depannya. Ditambah lagi, sebuah toko kelontong cukup luas di lantai satu, semakin menambah keheranan Lira dan Indah.
"Bu, ini rumah siapa? Terus rumah kita mana, bu?" Tanya Lira dengan wajah bingung.
"Ibu juga gak tahu, neng. Seingat ibu, waktu kita pergi, rumah kita masih ada di sini." Jawab Indah dengan wajah tak kalah bingung.
Reza dan kedua orang tuanya langsung menghampiri Lira dan Indah yang masih berdiri mematung di depan rumah baru itu. Reza sengaja belum memberitahukan perihal rumah mertuanya yang telah ia hancurkan kemudian dibangun ulang hingga menjadi sebuah rumah yang lebih layak untuk dihuni. Reza juga membeli beberapa meter tanah yang ada di sekitaran rumah mertuanya agar terlihat lebih luas.
"Sayang, ini kok ada rumah baru di sini? Ini rumah siapa, sayang?"
Reza sengaja mengerjai istrinya dengan berpura-pura bertanya hingga membuat istrinya menjadi semakin bingung.
"Lira juga gak tahu, mas. Tadi pas Lira sama ibu tiba di sini, Lira juga kaget liat rumah baru itu." Jelas Lira dengan suara yang sudah bergetar akan menangis.
Pikiran Lira sudah mengarah ke mana-mana. Ia takut jangan sampai ada orang yang sengaja menjual rumah dan tanah peninggalan ayahnya pada orang lain tanpa sepengetahuannya juga ibunya.
"Ini gimana, bu? Rumah kita udah gak ada." Ucap Lira sambil menangis.
Indah tak menjawab. Air matanya juga sudah mengalir melihat rumah peninggalan suaminya telah tiada.
Melihat istri dan mertuanya menangis, membuat Reza menjadi merasa bersalah. Akhirnya Reza memberitahukan jika rumah itu adalah rumah mereka yang telah ia ubah menjadi sebuah rumah layak huni. Lira menjadi semakin menangis kencang. Reza memberikan Inas pada ibunya yang berada di sampingnya, lalu Reza memeluk erat istrinya sambil mengusap kepalanya dengan lembut.
"Sayang maaf, bukan maksud mas mau buat sayang menangis. Mas cuma mau ngerjain sayang aja kok." Ucap Reza sambil terus memeluk istrinya.
Lira mendongak ke atas untuk melihat wajah suaminya. "Mas kok gak bilang-bilang sih. tahu gini, Lira gak perlu nangis kayak gini." Ucap Lira cemberut sambil membalas pelukan suaminya.
Reza tersenyum lalu mengecup kening istri kecilnya itu dengan penuh kasih sayang. "Kalo mas bilang-bilang, berarti bukan kejutan lagi dong sayang."
Lira langsung tersenyum membalas ucapan suaminya. Sementara Indah masih belum percaya jika bangunan mewah yang ada di hadapannya saat ini adalah rumahnya. Irma dan Martin dibuat bangga oleh tindakan Reza. Meski mereka tak tahu seperti apa wujud rumah Lira yang dulu, tapi bisa dipastikan jika rumah Lira sebelumnya memang pantas untuk diganti menjadi yang lebih baik.
🌸🌸🌸🌸
__ADS_1
Bersambung.....