Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 69


__ADS_3

Selamat membaca..........🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸


Reza keluar dari rumah Lira dengan raut wajah sendu. Impiannya untuk bisa memeluk istri dan anaknya harus ia pendam, entah sampai kapan ia harus memendam rasa rindunya. Butiran bening mengalir dari sudut matanya, Reza memegang dadanya yang terasa sakit dan sesak. Perasaanya sangat hancur saat mengingat penolakan dari putri kecilnya yang begitu histeris saat melihatnya.


Jono melihat majikannya terisak hanya bisa diam tanpa berani berkomentar. Jono paham apa yang yang sedang dirasakan oleh majikannya.


"Kita mau langsung ke penginapan sekarang, den?" Akhirnya Jono berani bertanya setelah melihat Reza mulai tenang.


"Jangan pak. Kita pergi beli mainan sama baju untuk anak dan istri saya, setelah itu baru kita pergi cari makan?" Titah Reza.


"Baik, den." Jawab Jono patuh.


Mereka tiba di toserba karena memang di daerah itu tak ada mall atau semacamnya.


Meski begitu, toserba itu terlihat cukup luas dan lengkap, jadi Reza memutuskan untuk berbelanja semua keperluan untuk anak dan istrinya di toserba itu saja.


Reza membeli banyak mainan untuk anak perempuan dan beberapa boneka, mulai dari yang berukuran paling besar sampai yang paling kecil. Reza juga membelikan pakaian, sendal, sepatu, topi, dan beberapa kebutuhan lainnya untuk anaknya. Reza tak lupa membeli susu merek ternama dengan harga yang paling mahal karena saat berada di rumah Lira, ia tak melihat adanya susu kaleng untuk anaknya, jadi Reza berinisiatif sendiri untuk membelinya.


Selain membeli keperluan anaknya, Reza juga membelikan keperluan pribadi istri juga mertuanya, seperti gamis, jilbab, dan sendal. Meski tak sebanyak seperti yang ia belikan untuk anaknya, tapi ia rasa itu sudah cukup menurutnya. Toh, juga nanti ia akan membelikannya lagi, saat Lira telah kembali bersamanya.


Reza sangat puas melihat semua kebutuhan anak dan istrinya telah ia beli. Reza tak mempermasalahkan berapa banyak uang yang telah ia keluarkan, yang terpenting menurutnya adalah kebahagian yang dirasakan oleh orang yang ia sayangi. Reza merasa sudah tak sabar untuk menantikan hari esok, di mana ia melihat wajah bahagia anaknya saat menerima mainan serta baju baru darinya.


Usai lelah berbelanja, Reza mengajak Jono untuk melaksanakan sholat terlebih dahulu. Karena terlalu asik berbelanja, jadi Reza tak menyadari jika waktu sholat dhuhur telah hampir lewat. Reza segera mencari masjid terdekat untuk melaksanakan sholat dhuhur.


Setelah melaksanakan sholat, Reza menuju ke sebuah restoran sederhana yang ada di daerah itu untuk makan siang, baru kemudian mereka kembali ke penginapan.


🌸🌸🌸🌸


Pagi menjelang, Reza benar-benar membuktikan ucapannya kemarin yang akan datang kembali untuk melihat anaknya. Reza sudah tak sabar untuk segera tiba di rumah Lira. Sejak subuh, Reza sudah memberi titah pada Jono agar bersiap-siap lebih awal karena Reza tak ingin ketinggalan. Reza sudah mengetahui jika pagi hari, Lira akan pergi berkeliling kampung untuk menjajakan jualannya, jadi Reza harus lebih cepat.


Reza sengaja membeli lima porsi bubur ayam. Satu porsi Reza berikan pada Jono dan sisanya nanti akan ia santap bersama anak dan istrinya serta mertuanya.


"Ayo, pak. Kita gak boleh lama-lama di sini, nanti Lira keburu pergi." Ajak Reza tak sabar.


"Iya den, siap." Jawab Jono sambil menenteng kantong plastik berisi lima porsi bubur ayam yang ia letakan di jok belakang dekat tempat di mana Reza duduk.


Saat mereka telah tiba dan Jono akan memarkirkan mobil tepat di seberang masjid, Reza melihat Lira melintas sambil menggendong bakul di pinggangnya dan Inas yang berada di dekapannya, dalam balutan kain batik untuk menopang tubuh mungilnya.


Reza segera membuka pintu mobilnya dan berlari menghampiri Lira yang terlihat sedikit kesulitan saat menggendong bakulnya yang lebih berat daripada kemarin karena sayuran yang dijual Lira hari ini lebih banyak.


"Ra, Lira?" Panggil Reza sambil berlari kecil menghampiri Lira.

__ADS_1


Lira menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya ia saat melihat Reza sudah berdiri dengan gagah dan rapi di hadapannya.


"Tuan? Kenapa pagi-pagi begini, tuan ada di sini?" Tanya Lira heran. Ia pikir, Reza akan datang saat siang nanti.


"Aku mau ngajakin kamu sarapan bareng. Tadi aku udah beli bubut ayam buat kita sarapan." Jawab Reza dengan senyum manis di wajah tampannya.


"Maaf tuan, tapi tapi saya harus menjual dan saya juga sudah sarapan. Terima kasih." Tolak Lira halus.


"Ayolah, Ra. Aku udah bela-belain buat beli bubur ayam biar bisa sarapan bareng sama kamu dan dedek. Di sana juga ada Pak Jono, masak kamu tega sih." Ucap Reza sambil menunjuk ke arah Jono dan sengaja memasang tampang memelas, berharap Lira akan luluh padanya.


Benar saja, Lira langsung mengangguk setuju. Namun, bukan karena Reza yang sudah memohon dengan tampang memelas, melainkan karena ia melihat Jono yang sudah berjalan ke arahnya sambil menenteng kantung plastik berisi bubur ayam.


Reza langsung merasa sangat bahagia. Tanpa sadar Reza mengecup kening Lira singkat. Lira langsung terkejut, matanya melotot ke arah Reza. Sedangkan Reza yang mendapat pelototan dari Lira hanya memasang tampang tak bersalah.


Tak lama terdengar suara wanita paruh baya yang sengaja mengejek Lira dari depan rumahnya.


"Wah..wah...wah. Sekarang kamu semakin berani bawa pacar baru ya, Lira. Setelah bapak dari anak kamu yang gak jelas asal usulnya itu, sekarang pria baru lagi yang kamu gaet buat jadi mangsa baru kamu. Pinter banget sih kamu, manfaatin wajah cantik dan sok polos itu ke lelaki." Teriaknya dengan tawa mengejek.


Reza meradang mendengar hinaan yang ditujukan pada istrinya. Sedangkan Lira hanya terdiam sambil menunduk dengan wajah sedih. Meski ia telah terbiasa mendengar barbagai macam hinaan dan cacian dari para tetangganya yang memang tak suka padanya, tapi tetap saja Lira merasa sakit hati.


Reza melihat wajah Lira berubah sedih dan hampir menangis, sontak saja ia langsung berjalan menghampiri ibu itu yang masih terlihat tertawa puas usai menghina Lira.


"Apa maksud ibu bicara seperti itu pada istri saya?" Tanya Reza dengan tatapan membunuh.


"Apa? Suami? Eh! Denger sini ya, kalo memang bener situ suami Lira, terus selama ini situ kemana? Kenapa baru muncul sekarang setelah anak Lira lahir?" Tanya wanita itu masih dengan tawa mengejeknya.


Reza langsung diam. Wanita itu mampu membungkam mulut Reza yang sejak tadi ingin memaki wanita paruh baya yang ada di hadapannya itu.


"Kenapa diam? Gak bisa jawab? Cih, ngaku-ngaku sebagai suami Lira biar bisa deket-deket sama perempuan gak bener itu." Wanita itu masih terus mengeluarkan kata-kata yang membuat Lira semakin sakit hati.


Reza menjadi merasa bersalah. Ternyata begitu berat hidup yang harus Lira lalui. Tak mudah menjadi seorang Lira yang hampir setiap hari hidup berdampingan dengan cacian dan hinaan dari para tetangganya yang sejak awal memang tak suka padanya juga ibunya.


Reza kembali menghampiri Lira, lalu membawanya pergi menuju rumahnya. Bukannya Reza sengaja tak membalas hinaan dari wanita itu, tapi ia lebih memilih menenangkan Lira. Sedang wanita itu, Reza serahkan pada Jono untuk mengurusnya.


Jika sudah Jono yang turun tangan, maka wanita itu berserta keluarganya akan hidup menderita. Jono memang dikenal hanya sebagai supir pribadi Martin, namun ia juga bisa berubah menjadi pedang tajam untuk keluarga Martin dan bersedia melakukan apa saja untuk melindungi majikannya dari orang-orang yang berbuat buruk dan mengancam keselamatan majikannya.


Reza mengambil alih bakul dari gendongan Lira lalu memikul bakul itu ke punggungnya sambil menggenggam erat tangan Lira yang sudah berkeringat dingin.


Sesampainya di rumah, Reza langsung menaruh bakul itu di atas meja. setelah itu, ia akan menghampiri Lira yang sudah menangis di dalam kamarnya.


"Eh, Tuan Reza, ada apa ini? Kenapa Lira menangis?" Tanya Indah heran melihat Reza memikul bakul sambil menggenggam tangan Lira yang sedang menangis.


"Assalamu'alaykum, ibu. Maaf pagi-pagi sekali saya sudah datang mengganggu." Ucap Reza sambil menyium punggung tangan Indah. "Itu bu, tadi ada wanita tua di depan yang menghina Lira, makanya saya langsung bawa Lira pulang ke rumah, biar dia bisa lebih tenang." Lanjut Reza menjawab pertanyaan mertuanya.

__ADS_1


"Wa'alaykumussalam. Oh, wanita tua itu? Dia memang dari dulu sudah biasa menghina kami. Apalagi saat Lira pulang kampung dalam keadaan hamil, dia semakin menjadi-jadi untuk memfitnah Lira. Ibu juga gak habis pikir, sebenarnya apa yang membuat dia menjadi membenci kami? Sedangkan kamu gak pernah mengusik kehidupannya." Jelas Indah dengan senyum sendu.


"Maaf ya, Bu. Gara-gara saya, kalian harus menanggung akibatnya." Ucap Reza.


"Iya, gak papa. semua sudah terjadi." Jawab Indah dengan senyum hangatnya seperti biasa.


"Kalo gitu, boleh gak bu, saya liat Lira di kamarnya?" Tanya Reza ragu-ragu.


"Boleh, kalian kan masih sah suami istri." Indah tersenyum melihat wajah Reza yang sudah memerah karena malu.


"Terima kasih, bu. Saya pamit liat Lira dulu, ya."


Indah mengangguk lalu kembali masuk ke dalam kamarnya. Sementara, Reza masuk ke dalam kamar Lira yang terlihat kumuh dan sudah tak layak untuk dikatakan sebagai kamar.


Reza duduk di atas kasur kapuk yang sudah tipis dan usang. Reza mencoba memegang pundak Lira yang duduk membelakanginya yang sedang menidurkan anaknya sambil menangis.


"Ra, aku minta maaf. Semua terjadi karena kesalahan aku. Harusnya, aku yang mereka caci dan hina, bukan kamu. Aku gak tahu, ternyata selama ini sangat berat hidup yang kamu jalani karena ulah bejatku yang menelantarkan kamu dan membiarkan kamu menghadapinya seorang diri." Ucap Reza dengan tangisan penyesalannya.


Lira langsung menghapus air matanya lalu menghadap Reza yang duduk di sebelahnya.


"Semua sudah terjadi, jadi buat apa disesali? Dan tuan salah jika tuan bilang saya menghadapi semuanya sendiri. Saya tidak pernah sendiri tuan, ada ibu saya yang selalu siap menjadi pelindung saya di saat banyak orang yang menghujat dan menghina saya dan anak saya. Setelah banyaknya ujian yang kami hadapi, akhirnya kami bisa hidup tenang dan bahagia. Namun, saat tuan datang kembali dalam hidup saya, badai itu datang lagi dengan angin yang lebih kencang dan mungkin kali ini saya tidak sanggup lagi untuk menghadapinya." Balas Lira dengan air mata yang terus saja mengalir deras di wajahnya.


Reza langsung bersimpuh di hadapan Lira untuk kembali meminta maaf.


"Maka dari itu, aku minta maaf. Kamu mau ya ikut aku pulang. Biar kamu gak dihina lagi sama mereka."


"Maaf tuan, jawaban saya masih sama seperti kemarin. Saya masih ingin seperti ini sampai saya sudah benar-benar yakin dengan keputusan yang saya ambil nanti." Jawab Lira tegas.


"Tapi, apa kamu gak kasian sama Inas yang juga ikut mendapat hinaan dari mereka."


"Sejak dulu hingga sekarang, saya sudah biasa hidup dengan hinaan dari orang-orang yang tidak suka dengan saya. Jadi, sebisa mungkin saya akan berusaha untuk menjadi pelindung anak saya."


Reza kembali dibuat bungkam. Ia sudah tak tahu harus berkata apalagi untuk meyakinkan Lira agar bersedia ikut dengannya. Kesalahannya yang lalu ternyata membawa dampak negatif yang sangat besar dalam kehidupan Lira dan anaknya.


🌸🌸🌸🌸


Bersambung........😊


jangan lupa dukungannya ya,


LIKE, KOMEN, VOTE, VOTE, DAN VOTE seikhlasnya


TERIMA KASIH😊♥️

__ADS_1


__ADS_2