Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 50


__ADS_3

Selamat membaca.......🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Memasuki usia kandungan tiga bulan, intensitas mual dan muntah Lira masih sama seperti awal kehamilannya. Hanya saja, sekarang ia lebih mudah lelah dari sebelumnya. Tubuh Lira juga terlihat lebih kurus karena kurangnya asupan nutrisi dari makanan yang dikonsumsi, dan itu berimbas pada kandungannya.


Lira sengaja mendatangi klinik Dokter Ambar dengan berjalan kaki cukup jauh, hanya untuk memeriksakan kandungannya. Meski tak memiliki uang sepersen pun, Lira tetap nekad. Ia hanya ingin mengetahui kondisi kandungannya karena sudah beberapa hari ini, ia tak makan dengan cukup baik.


Ambar cukup kaget melihat kondisi fisik Lira yang terlihat lebih kurus dari dari sebelumnya. Ia menjadi semakin merasa iba setelah mengetahui kehidupan Lira, setelah Lira menceritakannya sendiri. Di depan Ambar, Lira tetap menutupi status suaminya. Ia hanya mengaku jika suaminya sedang bekerja sebagai TKI di luar negeri.


Ambar langsung memeriksa kandungan Lira dan menjelaskannya tentang kondisi kandungan Lira yang saat ini kekurangan nutrisi, hingga membuat tumbuh kembang pada janinnya menjadi terhambat.


Lira merasa sedih dan kecewa. Sebagai calon ibu, ia merasa telah gagal karena tak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi untuk calon anaknya yang sedang membutuhkan nutris untuk tumbuh kembangnya.


Karena merasa iba pada Lira, akhirnya Ambar menyuruh Lira pergi ke toko bunga milik tantenya yang berada di seberang klinik. Tentu Lira menerimanya dengan senang hati. Setelah menerima hasil USG kedua janinnya, Lira langsung pergi menuju toko bunga yang di maksud Ambar. Namun, sebelum pergi Lira tak lupa mengucapkan terima kasih atas kebaikan Ambar padanya. Lira juga mendoakan kebaikan untuk Ambar dan dibalas dengan senyum manis dari dokter cantik itu.


🌸🌸🌸🌸


Lira memasuki toko bunga yang diberi nama TOKO BUNGA CEMPAKA. Entah apa alasannya hingga toko itu diberi nama Cempaka, sedangkan bunga-bunga yang dijual di sana lebih banyak bunga mawar merah dan masih banyak lagi bunga-bunga indah lainnya. Tapi dari sekian banyak bunga yang dijual, Lira tak melihat satu pun bunga cempaka. Ah, Lira tak ingin ambil pusing soal bunga cempaka, yang terpenting sekarang hanyalah bekerja.


Saat memasuki toko bunga, Lira langsung disambut olah wangi bunga yang menyeruak, memberi sensasi menenangkan pada otak.Tampilan bunga-bunga itu juga tersusun indah dan rapi, hingga membuat siapa saja yang melihatnya akan menjadi terkesima.


Lira menyapa wanita seorang wanita yang diyakini sebagai salah satu karyawan toko, ditandai dari kaos kuning muda yang dikenakannya bertuliskan nama cempaka yang cukup besar di sana.


"Assalamu'alaykum, permisi mbak?" Lira mengucapkan salam dan tak lupa ia juga memasang senyum manisnya.


"Wa'alaykumussalam, mau beli bunga apa mbak?" Tanya wanita itu ramah.


"Maaf mbak, saya bukan mau beli bunga. Saya disuruh Dokter Ambar ke sini untuk bekerja." Jawab Lira.


"Oh! Mbak Lira, ya?"

__ADS_1


"Iya mbak, betul saya Lira."


"Baik, tadi Ibu Cempaka sudah memberitahu kepada saya bahwa akan ada karyawan baru yang datang ke sini. Tapi saya gak tahu kalo mbaknya masih sangat muda." Wanita itu menyambut Lira dengan sangat baik. "Oh iya, saya dengar juga kalo mbak Lira sekarang sedang hamil ya?"


"Iya mbak, Alhamdulillah." Jawab Lira sambil tersenyum.


"Wah, senengnya. Selamat ya, semoga dedek bayinya selalu sehat."


"Aamiin, terima kasih mbak.


"Sama-sama. Ayo, saya kenalkan sama yang lain." Ajak wanita itu menuju tempat di mana karyawan lainnya berada. "Hai teman-teman, sekarang kita kedatangan karyawan baru." Sapa wanita itu pada teman-temannya sesama karyawan yang sedang sibuk merangkai bunga dan ada juga yang sedang menata bunga sesuai jenisnya.


Semua karyawan itu langsung menoleh ke arah wanita itu dan melihat Lira, kemudian mereka tersenyum menyambut kedatangan Lira lalu mengenalkan diri mereka masing-masing. Awalnya Lira pikir mereka menolak kehadirannya, namun tak disangka ternyata mereka menyambutnya dengan hangat.


"Mbak Lira boleh manggil saya, Wiwit." Kini gilirannya yang memperkenalkan diri.


"Keliatannya kalian yang lebih tua dari saya, jadi panggil saya Lira aja, gak usah pake mbak." Tolak Lira halus.


"Baiklah. Sekarang saya akan menjelaskan apa saja tugas kamu selama bekerja di sini." Lira mengangguk senang, tak sabar untuk bekerja.


"Baik, Saya mengerti mbak. Terima kasih." Ucap Lira senang.


"Satu lagi, jam kerja kamu dimulai pada pukul 10 pagi sampai pukul 4 sore. Dan untuk upah kamu, akan dibayar per hari." Jelas Wiwit, sesuai titah dari Cempaka sang pemilik toko bunga yang tidak lain adalah tante dari Ambar.


Sebelumnya, Ambar telah menghubungi tantenya agar menerima Lira sebagai karyawannya dan upah Lira harus dibayar per hari agar Lira bisa memakai uangnya untuk keperluannya. Ambar juga meminta pada Cempaka agar tak memberikan Lira pekerjaan yang berat, mengingat usia kandungannya masih tergolong sangat muda. Meski sudah memasuki bulan ketiga, tetap saja masih beresiko keguguran. Beruntung Cempaka tak menolak permintaan dari keponakan tersayangnya. Bahkan dengan senang hati Cempaka menuruti permintaan Ambar yang menurutnya sangat sederhana.


"Iya, mbak. Insya Allah, saya akan bekerja dengan baik." Ucap Lira dengan raut bahagia yang terlihat jelas di wajahnya.


"Kalau begitu, kamu bisa mulai bekerja sekarang."


"Tapi sekarang sudah pukul 4 sore mbak." Balas Lira bingung mendengar penuturan Wiwit.

__ADS_1


"Ya, gak papa. Kamu boleh bekerja sampe pukul setengah lima, setelah itu kamu boleh pulang." Wiwit harus tetap terlihat tenang agar Lira tak merasa curiga dengan rencana yang telah disusun Ambar bersama Cempaka.


"Baik, mbak."


Lira mulai bekerja dengan semangat. Pertama-tama Lira mulai menata bunga berdasarkan warna dan jenisnya. Berhubung pekerjaannya masih tergolong gampang, dan tak memerlukan keahlian khusus, Lira dapat melakukannya dengan baik dan juga cepat.


🌸🌸🌸🌸


Tak terasa, waktu telah menunjukkan tepat pukul 5 sore. Waktu bekerja Lira berakhir, saatnya untuk ia pulang ke rumah. Lira diarahkan untuk masuk ke ruangan khusus yang digunakan sebagai ruangan pribadi milik Cempaka. Lira mengetuk pintu lalu masuk ke dalam dengan perasaan gugup.


"Permisi nyonya, saya Lira karyawan baru di sini. Tadi saya diminta untuk ke ruangan anda, nyonya." Ucapa Lira sopan, namun nampak jelas kegugupan di wajahnya.


Cempaka tersenyum hangat melihat wajah polos nan teduh milik Lira. "Kamu gak usah gugup gitu. Kenalkan, saya Cempaka. Pemilik dari toko bunga ini." Cempaka mengulurkan tangannya pada Lira.


Lira merasa ragu membalas uluran tangan dari majikan barunya yang terlihat elegan dan berkelas dengan pakaian serba mahal yang melekat di tubuhnya. Wajah Cempaka masih terlihat cantik meski usianya telah memasuki kepala lima.


"Maaf nyonya, tangan saya kotor." Ucap Lira sambil menunduk sopan.


Lagi-lagi Cempaka hanya tersenyum melihat sikap sopan Lira, yang jarang ditemuinya pada gadis-gadis lain.


"Baiklah, kalo hari ini kamu tidak mau bersalaman dengan saya, maka besok-besok saya tidak terima penolakan." Cempaka berbicara dengan nada lembut, namun terkesan tegas.


"Ma-maaf, nyonya." Lira merasa tak enak hati menolak uluran tangan Cempaka, karena ia merasa dirinya tak pantas bersalaman dengan orang kaya seperti Cempaka. Lira merasa sangat kotor dan bau, seperti apa yang sering Reza katakan padanya.


Cempaka memberikan upah harian Lira dalam amplop putih dan satu lembar uang lima puluh ribu sebagai ongkos. Ia mendengar, Lira berjalan kaki dari tempat tinggalnya menuju klinik dalam kondisi hamil muda. Maka dari itu, Cempaka berniat memberikan ongkos agar ketika pulang dari bekerja, Lira tak perlu lagi berjalan kaki.


Awalnya Lira menolak menerima ongkos yang diberikan Cempaka padanya karena menurutnya, upah yang ia terima sudah lebih dari cukup. Namun, Cempaka memasang wajah garang agar Lira menerima uang pemberiannya, terpaksa Lira menerimanya.


Lira mengucapkan terima kasih lalu bergegas pulang ke rumah, sebelum waktu sholat maghrib tiba. Sebelum pulang ke rumah, Lira mampir untuk membeli nasi bungkus, agar malam nanti ia tak lagi repot-repot keluar rumah untuk membeli makanan.


Lira tiba di rumah langsung membersihkan diri, setelah itu ia berwudhu karena waktu sholat Maghrib telah tiba. Lira berdoa, semoga anak dalam kandungannya selalu sehat sampai ia lahir nanti.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


Bersambung..........


__ADS_2