Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 111


__ADS_3

"Barangsiapa membaca Alquran dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya, maka kedua orangtuanya akan dipakaikan mahkota pada hari kiamat yang cahayanya lebih terang daripada cahaya matahari seandainya berada di rumah-rumah kalian di dunia ini. Maka bagaimana menurut perkiraan kalian mengenai orang yang mengamalkannya?". (HR. Ahmad dan Abu Dawud).


Selamat membaca.......🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Pagi menjelang. Usai sarapan di kamarnya, Reza langsung menuju lokasi proyek. Rencananya usai meninjau lokasi proyek rumah sakitnya, Reza langsung menuju tempat yang sudah ditentukan oleh seseorang yang akan ia temui.


Reza tiba di lokasi proyek dan langsung disambut oleh mandor yang ditugaskan untuk mengawasi para pekerja.


"Selamat pagi, pak." Sapa mandor itu sopan.


"Selamat pagi. Bagaimana dengan para pekerja yang saya rekomendasikan kemarin? Apa mereka bekerja dengan baik?"


"Alhamdulillah, mereka semua bekerja dengan sangat baik dan rajin, pak. Bahkan, mereka juga tidak banyak protes jika diminta untuk menggantikan tugas dari pekerja yang sedang sakit." Jawab mandor itu jujur.


"Bagus. Terus awasi mereka. Jangan lupa, beri mereka upah yang sama dengan pekerja yang lain."


Mulut mandor itu langsung menganga. Ia merasa tak percaya dengan apa yang barusan yang didengarnya. Bagaimana bisa bosnya menggaji pekerja yang baru bekerja satu hari, dengan gaji para pekerja yang sudah bekerja cukup lama, mulai dari awal pembangunan proyek hingga sekarang?


"Maksud saya, beri mereka upah perhari. Karena mereka punya keluarga yang harus diberi makan." Lanjut Reza, merasa paham melihat reaksi sang mandor.


"Baik, pak." Jawabnya dengan menggangguk paham.


"Itu baru masuk akal. Tapi, ternyata Pak Reza baik juga. Berbeda dengan berita yang tersebar di luar sana." Batinnya.


Banyak berita tak sedap yang beredar di kalangan masyarakat, tentang seorang Reza. Banyak yang menganggap jika Reza adalah tipe yang arogan dan kejam. Tapi itu dulu, sebelum Reza sadar akan kesalahan fatal yang pernah ia lakukan pada istrinya dahulu.


Reza berkeliling proyek untuk melihat proses pengerjaan rumah sakit milik keluarganya yang hampir rampung dan diperkirakan akan diresmikan pekan depan. Reza sudah tak sabar menunggu hari itu tiba. Pasalnya, di hari yang sama dengan peresmian rumah sakitnya, Reza juga akan memberikan kejutan manis untuk istri tercintanya.


Sekitar dua jam Reza berada di lokasi proyek. Reza melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, ternyata waktu telah menunjukan pukul sepuluh pagi. Reza langsung berpamitan kepada para pekerjanya untuk menuju ke suatu daerah, di mana ia akan menemui seseorang yang telah ia hubungi sejak tiga hari yang lalu.


🌸🌸🌸🌸


Reza tiba di daerah orang yang ditujunya sekitar pukul dua siang. Sebelumnya, Reza beristirahat untuk melaksanakan sholat dhuhur berjamaah di masjid lalu makan siang. Kemudian, ia melanjutkan kembali perjalanannya yang cukup panjang. Kurang lebih hampir tiga jam perjalan, Reza tiba di depan rumah yang cukup mewah dengan cat berwarna hijau tosca. Rumah tanpa pagar itu, terlihat asri dan terawat.


Reza turun dari mobilnya dan langsung menuju rumah itu. Reza mengetuk pintu rumah dengan cukup kencang sambil mengucapkan salam. Tak lama, terdengar suara wanita menjawab salamnya sambil membuka pintu. Wanita itu terlihat masih muda dan cantik dengan hijab panjang menutupi setengah tubuh mungilnya.


"Silakan masuk, Aa." Ucapnya sopan.


"Terima kasih."


Reza masuk ke dalam rumah itu lalu duduk di ruang tamu yang cukup luas. Di dalam rumah itu, tak hanya ada wanita dengan wajah cantik itu saja. Tetapi seluruh keluarganya juga ikut berkumpul di sana. Di depan seluruh keluarga wanita itu, Reza langsung menyampaikan keinginannya. Wanita itu beserta keluarganya pun mengangguk setuju disertai senyum bahagia di wajah mereka.


"Iya, Aa. Saya terima."


"Terima kasih banyak." Balas Reza dengan helaan nafas lega. Perjuangannya tak sia-sia.


🌸🌸🌸🌸


Di Kediaman Martin.....


Lira sedang menemani putrinya tidur siang di kamarnya, usai mengajarkan putrinya mengaji dan menghafalkan surah-surah pendek. Lira menepuk pelan pantat putrinya sambil melantunkan sholawat nabi. Kebiasaan Lira saat akan menidurkan putrinya adalah dengan melantunkan ayat suci Al-Qur'an atau bersholawat nabi. Dengan begitu, Inas akan tertidur lebih cepat.

__ADS_1


Melihat putrinya sudah tertidur pulas, Lira langsung turun dari tempat tidurnya, menuju balkon untuk menghubungi suaminya yang sejak pagi belum memberi kabar padanya. Hati Lira merasa resah memikirkan suaminya. Tak biasanya Reza seperti ini.


Lira menghubungi Reza hingga panggilan ketiga, tapi tak juga ada jawaban dari seberang sana. Lira menjadi semakin gelisah. Lira ingin menghubungi Jono, tapi sayangnya Lira tak memiliki kontaknya.


"Mas lagi di mana, sih? Kok, belum ngabarin Lira." Gumam Lira khawatir.


Lira sungguh merasa tak tenang, sebelum mendapat kabar dari suaminya. Ia juga tak bisa tertidur dengan tenang. Lira terus menatap layar ponselnya, berharap ada pesan masuk dari suaminya.


Tiba-tiba terdengar suara tangis Inas dari dalam kamar. Lira segera menghampiri putrinya yang menangis kencang di atas tempat tidur.


"Sayang, bunda di sini. Ayo, tidur lagi. Bunda temenin."


Inas mulai tertidur kembali dalam pelukan hangat ibunya. Lira membelai rambut panjang putrinya dengan penuh kasih sayang sambil menatap lekat wajah mungil putrinya. Lira kembali teringat pada Reza yang belum membeli kabar hingga sekarang. Merasa mengantuk, Lira pun menyusul putrinya ke alam mimpi. Ia berharap, ketika bangun dari tidurnya nanti, ia sudah mendapat kabar baik dari suaminya.


🌸🌸🌸🌸


Reza berpamitan pulang pada wanita itu dan seluruh keluarganya. Reza melanjutkan perjalanannya menuju kediaman mertuanya untuk memberikan kejutan. Sekitar sepuluh menit, mereka pun tiba di depan gang yang mengarah ke rumah mertuanya.


Reza melewati beberapa orang tetangga yang sedang berkumpul di depan masjid lalu Reza menyapa para tetangga itu dengan ramah. Kemudian Reza melanjutkan langkahnya menapaki setapak yang mengarah ke rumah mertuanya.


Reza melihat toko kelontong milik mertuanya cukup ramai pembeli. Karyawan pun terlihat kewalahan melayani permintaan mereka. Reza mengucap syukur karena usahanya membangun toko kelontong untuk mertuanya membuahkan hasil.


Reza memencet bel yang terletak di samping pintu, secara berulang-ulang. Indah yang berniat untuk istirahat pun langsung bangkit dari pembaringannya dan menuju ruang tamu untuk membuka pintu. Mata Indah langsung membulat sempurna, melihat menantunya telah berdiri di depannya.


"Assalamu'alaikum, ibu." Sapa Reza menyium punggung tangan Indah dengan sopan lalu memberikan oleh-oleh khas Bandung pada Indah.


"Wa'alaikumussalam Warahmatullah. Wah, terima kasih. Nak Reza, sendiri aja ke sini?"


"Iya, bu. Kebetulan Reza ada kerjaan di Bandung, jadi Reza sekalian aja mampir tengokin ibu di sini."


"Sama-sama. Iya, bu. Alhamdulillah mereka baik-baik aja. Kandungan Lira juga sehat, bu."


"Alhamdulillah, ibu seneng dengernya. Oya, Nak Reza udah makan?"


"Udah, bu. Tadi pas perjalanan ke sini, Reza mampir makan dulu di restoran."


"Oh. Tapi kalo nanti Nak Reza merasa lapar, jangan sungkan minta ke ibu, ya."


Reza mengangguk sambil tersenyum. Kemudian Reza memanggil Jono meminta tolong untuk membawa kopernya ke dalam rumah. Reza juga meminta Jono untuk beristirahat di kamar tamu.


Reza berpamitan pada Indah untuk beristirahat di kamar sambil mengangkat kopernya. Indah juga menuju kamarnya untuk melanjutkan tidur siangnya yang tertunda karena menyambut kedatangan menantunya. Jono pun melakukan hal yang sama. Ia menuju kamar tamu untuk beristirahat.


Reza memasuki kamar istrinya yang terlihat bersih dan rapi. Hampir setiap hari, Indah membersihkan kamar putri semata wayangnya agar Lira merasa nyaman saat pulang kampung nanti. Reza membaringkan tubuh lelahnya di kasur empuk yang ada di kamar istrinya. Badan Reza terasa remuk, akibat menempuh perjalanan yang cukup panjang. Reza meraih ponselnya untuk menghubungi istrinya. Reza mendesah pelan saat melihat ponselnya mati karena kehabisan daya.


"Huuffttt...Pasti sekarang Lira lagi khawatir karena dari pagi, gue gak ngabarin dia. Maaf sayang, mas lupa ngabarin." Gumam Reza pelan lalu mengisi daya pada ponselnya.


Sebelum istirahat, Reza memilih menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


🌸🌸🌸🌸


Menjelang malam, usai melaksanakan sholat isya di masjid, Reza, Indah, Jono, dan kedua adik angkat Lira, tengah menikmati makan malam bersama. Tak ada percakapan di antara mereka. Yang terdengar hanyalah bunyi suara dentingan sendok dan garpu yang saling bersahutan.


Setelah makan malam selesai, Reza dan Indah duduk di ruang keluarga untuk mengobrol sebentar.

__ADS_1


"Nak Reza, gak bilang ke Lira kalo mau ke sini?"


"Gak, bu. Kalo Reza bilang, nanti dia malah ngambek lagi karena gak diajak." Jawab Reza sambil terkekeh geli mengingat wajah menggemaskan istrinya.


"Bener juga, ya. Apalagi sekarang kandungannya udah semakin membesar. Gak baik kalo dia harus jalan jauh."


"Eh, maaf bu. Bentar ya. Lira video call." Ucap Reza sopan lalu menerima panggilan video call dari istrinya.


"Halo. Assalamu'alaikum, sayang." Sapa Reza.


"Wa'alaikumussalam. Mas, kemana aja, sih? Lira telpon-telpon, kok gak diangkat, terus gak aktif? Lira khawatir banget tahu, gak!?" Tanya Lira setengah mengomel.


"Maaf, sayang. Ponsel mas Kehabisan daya, terus juga mas ada urusan penting. jadi, mas lupa deh buat ngabarin ke sayang. Maaf ya." Jelas Reza dengan wajah penuh sesal karena telah membuat istrinya khawatir.


"Iya, mas. Tapi lain kali, jangan gitu lagi ya."


"Iya, sayang. Hmmm, si kakak lagi ngapain? Terus, dedek di perut juga apa kabar? Kangen gak sama papa?" Tanya Reza.


"Alhamdulillah, dedek bayinya sehat. Kalo si kakak, lagi dengerin surah-surah pendek di situ." Tunjuk Lira pada putrinya yang sedang fokus mendengarkan lantunan surah-surah pendek dari para imam yang bersuara merdu melalui televisi.


Reza merasa terharu dan bangga pada putrinya yang semakin hari semakin giat menghafal Al-Qur'an. Padahal, usianya masih sangat kecil tapi Inas sangat semangat untuk belajar mengaji dan menghafal Al-Qur'an. Terkadang jika Lira lupa mengajarkan Inas mengaji, maka Inas yang akan mengingatkannya. Pernah sekali, Inas menangis seharian karena Lira dan Reza lupa mendengarkannya murotal sebelum tidur. Akhirnya, sejak saat itu mereka menjadi lebih sering mendengarkan murotal pada Inas sebagai pengangar tidurnya.


"Masya Allah. Tambah pinter aja anak papa." Puji Reza dengan wajah bangga.


"Mas, lagi di mana? Kok, rasanya Lira gak asing sama sofa yang mas dudukin." Tanya Lira penasaran.


"Ayo, coba sayang tebak, mas lagi di mana sekarang?"


"Mas, Lira serius." Ucap Lira cemberut.


Reza tertawa nyaring melihat wajah gemas istrinya. "Hahahaha..Sayang, mukanya biasa aja dong."


"Habisnya, mas gitu sih ke Lira."


"Kalo gitu, sekarang sayang ngomong aja sama seseorang yang lagi kangen banget ke sayang."


"Siapa, mas?" Tanya Lira dengan wajah bingung.


Reza tak menjawab. Ia justru memberikan ponselnya kepada Indah agar bisa mengobrol dengan bebas. Ia sengaja memberi ruang pada istri serta mertuanya untuk saling melepas rindu. Meski Lira sering menghubungi ibunya, tapi tetap saja ia mereka masih merasakan rindu satu sama lain.


Saat Indah menampilkan wajahnya ke layar, Lira langsung menjerit kegirangan hingga Inas pun ikut menjerit terkejut. Tapi setelah itu, Inas kembali fokus pada kegiatannya semula.


"Ibuuuuu. Neng kangen banget sama ibu." Ucap Lira manja.


Reza dan Indah hanya menggelengkan kepala melihat tingkah manja Lira.


"Ya ampun. Neng istighfar atuh, jangan teriak-teriak. Nanti dedek di perut ikut kaget denger suara neng." Tegus Indah lembut.


Lira hanya cengengesan lalu segera beristighfar, usai mendapat teguran dari ibunya.


"Hehe. Maafin neng ya, bu. Neng khilaf.


Kemudian mereka mulai mengobrol tentang banyak hal, termasuk membahas perkembangan Inas yang semakin membanggakan. Indah ikut senang mendengat cucunya sudah pandai menghafalkan Al-Qur'an. Sementara, Reza hanya menjadi pendengar setia sambil sesekali ikut tertawa saat mendengar istrinya tertawa bahagia.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


Bersambung........😊


__ADS_2