Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 73


__ADS_3

Selamat membaca........🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Sejak kembalinya Lira di tengah-tengah keluarga Martin, rumah mewah itu kini menjadi semakin ramai dengan suara celotehan dan tangisan Inas. Balita menggemaskan itu sungguh membawa kebahagiaan dan keceriaan dalam keluarga Martin yang tadinya terlihat begitu hampa karena kegiatan mereka masing-masing.


Pagi ini usai sarapan bersama, Lira mengantar Reza yang akan pergi bekerja sampai di depan pintu rumah. Lira memegang tas kerja Reza, sedangkan Reza menggendong Inas yang sedang sibuk mengoceh sambil memegang erat boneka kelinci kesayangannya yang sengaja dibawa dari kampung.


"Papa berangkat kerja dulu, ya. Dedek main sama bunda dulu, nanti kalo papa udah pulang kerja baru kita main bareng lagi. Oke!" Ucap Reza sambil terus menyium gemas kedua pipi anaknya. Inas hanya tertawa terbahak-bahak, menahan geli mendapat serangan bertubi-tubi dari ayahnya.


Puas menyium anaknya sampai tertawa, Reza menyerahkan Inas pada Lira yang sudah berdiri di depannya, lalu mengambil tas kerja yang diberikan Lira padanya. Reza mengecup mesra kening Lira kemudian berpamitan.


"Mas berangkat kerja dulu, ya sayang. Ingat, kamu gak boleh capek-capek. Cukup duduk manis aja sama dedek. Paham?" Pamit Reza sekaligus memberi titah.


Pasalnya, Lira sering sekali ikut membantu para asisten rumah untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Reza sudah seringkali melarang dan mengingatkan pada Lira agar tidak usah mengerjakan pekerjaan rumah yang sudah menjadi tugas para asisten mereka. Namun, karena Lira yang memang sudah terbiasa kerja, jadi sering merasa bosan jika hanya duduk diam tanpa mengerjakan apa-apa.


"Iya, mas." Jawab Lira sambil tersenyum manis. "


"Ya udah, mas kerja dulu." Reza kembali mengecup kening Lira lalu menyium kedua pipi Inas bergantian. "Assalamu'alaykum."


"Wa'alaykumussalam Warahmatullah." Lira menyium punggung tangan Reza lalu melambaikan tangannya.


Setelah memastikan mobil yang ditumpangi Reza benar-benar telah menghilang dari pandangannya, Lira mengajak Inas untuk masuk ke dalam rumah.


"Reza udah pergi, Ra?" Tanya Irma saat melihat Lira melewati ruang tengah hendak menuju kamar ibunya.


"Eh, iya ma. Mas Reza baru aja berangkat kerja. Mama lagi ngapain?" Lira batal masuk ke dalam kamar ibunya lalu memilih menghampiri mertuanya yang sedang duduk di ruang tengah.


"Ini, mama lagi nyoba buat topi rajut untuk Inas. Udah lama banget mama gak merajut, jadi agak kaku." Irma menunjukkan hasil rajutannya yang baru setengah jadi pada Lira.


"Udah lama gak rajut tapi kok bisa bagus kayak gini, ma?"


Lira merasa takjub dengan kemampuan mertuanya dalam membuat rajutan.


"Ah, kamu bisa aja." Irma tersipu malu mendapat pujian dari menantunya. "Dulu waktu Reza masih seumuran Inas, mama pernah ikut kursus merajut. Kan mama gak ngapa-ngapain di rumah, cuma ngurusin papa sama Reza. Ternyata tanpa sepengetahuan mama, papa ngirim seseorang untuk ngajarin mama belajar merajut. Kata papa sih, biar mama gak bosen aja, gitu. Pas mama udah lumayan jago, mama coba deh buatin Reza sepatu."Lanjut Irma antusias menceritakan pengalamannya yang sangat berkesan itu.


"Wah, papa romantis juga ya ma?"


Lira tak menyangka, di balik sikap tegas mertua laki-lakinya itu, ternyata bisa bersikap romantis juga. Lira menjadi tersenyum membayangkan, seandainya Reza juga bisa melakukan hal romantis padanya.


"Alhamdulillah. Biar pun papa itu keliatan tegas dan dingin di luar, tapi sebenarnya papa itu orangnya romantis banget tahu, Ra. Mama bersyukur bisa menjadi pendamping hidup papa." Irma mengulas senyum indah saat menceritakan suaminya.


"Tunggu-tunggu, kayaknya mama masih simpan deh, sepatu rajut yang mama buat untuk Reza waktu kecil dulu. Bentar ya, mama nyari dulu di kamar."


Irma meninggalkan Lira dan Inas di ruang tengah. Sambil menunggu mertuanya datang, Lira menyalakan televisi lalu mencari saluran yang menyiarkan kartun khusus anak-anak. Inas menonton dengan serius sambil sesekali mengoceh saat melihat kartun bocah kembar yang sedang bermain bersama teman-temannya.


Tak lama kemudian, Irma datang dengan membawa kotak kecil di tangannya yang berisi sepatu rajut. Irma menyerahkan kotak yang terlihat masih terawat itu pada Lira.


"Ternyata masih ada. Nih, coba kamu buka."


Lira membuka kotak itu lalu matanya berbinar saat melihat sepatu rajut dengan berwana biru muda polos yang terlihat begitu manis.

__ADS_1


"Ma, serius ini mama yang buat?" Tanya Lira sambil terus memandangi sepatu rajut itu dengan dengan perasaan takjub.


"Iya dong. Masih bagus kan? Padahal itu sepatu pertama yang mama rajut. Dulu mama sempat ragu, dan gak percaya diri. Tapi ternyata hasilnya cukup memuaskan untuk kategori pemula seperti mama."


"Kenapa mama gak buka toko khusus pakaian rajut aja, ma?"


"Aduh, mama udah cukup tua. Mama pengen menikmati waktu tua mama dengan bermain bersama cucu-cucu mama."


Lira tersenyum bangga pada mertuanya. Lira tak menyangka, ternyata mertuanya itu sangat mementingkan keluarga daripada yang lain.


"Nanti Lira coba pakein ke dedek ya, ma. Terus Lira mau liatin ke Mas Reza, pasti nanti Mas Reza bakal kaget pas liat sepatu rajutnya waktu kecil bisa dipake sama dedek." Ucap Lira antusias.


"Boleh, boleh. Mama malah seneng banget, Ra." Irma tak kalah antusias. Merasa tak sabar melihat cucunya memakai sepetu buatannya dahulu.


🌸🌸🌸🌸


Sore hari ketika pulang dari bekerja, Reza sengaja mampir ke salah satu mall. Reza ingin sekali membelikan Lira cincin berlian untuk mengganti cincin pernikahan yang ia berikan pada Lira ketika dahulu mereka menikah. Reza pernah melihat Lira masih memakai cincin pernikahannya yang ternyata adalah berlian palsu. Meski cincin itu telah berubah warna menjadi coklat kehitaman, Lira tetap memakainya.


Untuk menebus kesalahannya, Reza akan menggantinya dengan berlian asli yang jauh lebih indah dan mewah dari berlian yang pernah ia berikan saat melamar Anita.


Reza menuju toko yang khusus menjual perhiasan berlian. Reza menjatuhkan pilihannya pada satu set berlian yang begitu indah dan nampak sangat elegan. Tak lupa juga Reza membelikan anting berlian untuk anaknya, serta kalung berlian untuk mertuanya. Reza sengaja tak membelikan perhiasan untuk ibunya karena memang ibunya sudah punya banyak perhiasan.


Saat Reza akan membayar belanjaannya, ia tak sengaja melihat Doni bersama seorang wanita berhijab sedang berjalan ke arahnya.


"Assalamu'alaykum, bro apa kabar?" Sapa Doni sambil mengulurkan tangannya pada Reza.


"Wa'alaykumussalam Warahmatullah. Alhamdulillah kabar gue baik." Reza menerima uluran tangan Doni lalu memeluk sahabatnya itu.


"Itu siapa, bro?" Bisik Reza pada Doni, saat melihat wanita berhijab dengan perut buncitnya sedang menggandeng mesra tangan Doni.


"Oh iya, gue lupa. Sayang kenalin, ini Reza sahabat baik mas." Ucap Doni tersenyum lembut pada Amel.


"Saya Reza, sahabat Doni."


"Amel." Amel membalas Reza dengan mengkupkan kedua tangannya ke dada.


Melihat sikap Amel yang begitu mirip dengan Lira, membuat Reza menjadi merindukan istrinya itu. Padahal belum sampai 24 jam mereka berpisah.


"Bro, lo ngapain di sini?" Tanya Doni usai Reza berkenalan dengan Amel.


"Gue lagi beli perhiasan untuk bini gue." Jawab Reza santai. "Lo sendiri ngapain di sini?" Reza bertanya balik.


"Bini yang mana nih? Anita atau siapa?" sindir Doni dengan seringai mengejek. "Gue lagi nyari perlengkapan bayi. Insya Allah bulan depan bini gue lahiran, jadi kita lagi nyari semua perlengkapan untuk menyambut calon anak kita nanti." Jawabnya lagi sambil tersenyum ke arah Amel.


"Bini gue cuma Lira, gak ada yang lain." Balas Reza kesal.


"Oh, kirain lo jadi nikah sama yang dulu." Timpal Doni dengan wajah santai seolah tak bersalah. "Ya udah, gue duluan ya. Insya Allah nanti gue main deh, ke rumah lo. Sekalian gue mau kenalin bini gue ke Lira. Siapa tahu aja mereka bisa jadi sahabat seperti kita." Lanjut Doni dan mendapat anggukan setuju dari Reza.


"Oke, gue tunggu kedatangan kalian. Gue juga mau kenalin lo ke anak gue."


Kedua sahabat itu berpelukan sebelum akhirnya mereka kembali ke tujuan masing-masing.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


Setelah membeli perhiasan, Reza langsung menuju butik yang menjual khusus pakaian muslim untuk orang dewasa dan anak-anak. Reza masuk ke dalam butik itu lalu memilih-milih gamis yang cocok untuk dikenakan istrinya. Reza membeli beberapa lembar gamis sepasang dengan hijabnya. Reza juga membelikan beberapa gamis lucu untuk putri kecilnya serta gamis untuk mertuanya.


Sepulangnya dari membeli perhiasan serta gamis untuk istri dan anak serta mertuanya, Reza langsung memesan private room di salah satu restoran mewah. Rencananya, malam ini Reza akan mengajak keluarga kecilnya untuk menikmati makan malam romantis bersama.


Karena waktu sholat Maghrib telah tiba, Reza memilih untuk sholat di musholah mall, setelah itu Reza pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan, Reza tak berhenti tersenyum. Rasanya ia sudah tak sabar untuk melihat reaksi istrinya saat melihat kejutan yang telah Reza siapkan untuknya.


Reza telah tiba di rumahnya, lalu ia segera menuju kamarnya sambil menenteng belanjaannya. Kecuali perhiasan yang ia belikan untuk istrinya sengaja ia sembunyikan.


"Assalamu'alaykum." Reza mengucapkan salam saat ia memasuki kamarnya.


"Wa'alaykumussalam Warahmatullah. Mas, kok tumben pulang telat? Mas udah makan?" Tanya Lira sambil menggendong Inas lalu menyium punggung tangan suaminya.


"Maaf sayang, tadi mas ada urusan mendadak. Mas belum makan, sayang. Mas mau mandi dulu baru itu kita makan sama-sama, ya." Jawab Reza.


Melihat ayahnya telah pulang, Inas langsung merentangkan kedua tangan mungilnya meminta Reza untuk menggendongnya.


"Eh, papa belum mandi sayang. Masih banyak kumannya, tunggu papa mandi dulu ya."


Balita itu malah menangis kencang dengan menggoyangkan tubuhnya saat melihat ayahnya pergi menghilang ke kamar mandi tanpa mau menggendongnya.


Tak sampai 15 menit, Reza telah menuntaskan mandinya. Padahal, biasanya ia akan menghabiskan waktu hingga setengah jam di kamar mandi. Namun, karena mendengar tangisan anaknya, Reza langsung menyingkatkan waktu mandinya.


Usai memakai baju santainya, Reza langsung menggendong Inas yang sejak tadi sudah menangis di gendongan Lira.


"Cup...cup....cup....sayangnya papa kok nangis, sih?"


Inas langsung terdiam saat sudah berada digendongan ayahnya. Inas menyusupkan kepala dan tanganya ke leher ayahnya. Rasanya begitu nyaman hingga ia tertidur dengan liur yang mengalir dari mulut mungilnya dan membasahi baju Reza.


"Yahh, baju mas jadi basah deh, kena iler si adek. Sini mas, biar Lira pindahin adek ke ranjang."


"Udah gak usah. Gak papa kok. Kayaknya si dedek nangis karena ngantuk deh, sayang" Reza menepuk pelan punggung Inas yang sudah tertidur nyenyak dalam pelukan hangatnya.


"Kayaknya sih gitu, mas. Soalnya tadi siang dedek gak tidur karena keasyikan main jadi gak mau tidur siang dianya." Jelas Lira.


"Oh iya sayang, nanti habis isya kita keluar ya." Ucap Reza.


"Emang kita mau kemana mas? Terus si dedek gimana?" Tanya Lira.


"Ya, kita bawa dong." Jawab Reza enteng.


🌸🌸🌸🌸


Bersambung........😊


Jangan lupa dukungannya ya.


LIKE, KOMEN, VOTE, VOTE, AND VOTE SEIKHLASNYA.


TERIMA KASIH.....😊β™₯️

__ADS_1


__ADS_2