Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 56


__ADS_3

"Sebenarnya neng yang pergi dari rumah dengan izin dari Mas Reza."


"Kenapa bisa neng pergi dari rumah?" Ada apa sebenarnya?" Indah mulai khawatir, takut apa yang ia pikirkan benan-benar terjadi.


Lira mulai menceritakan semua yang ia alami, mulai dari ketika awal menikah, Reza menyiksanya dengan begitu kejam, tak memberinya makan hingga kelaparan. Ia tak dianggap sebagai istri melainkan hanya sebagai pembantu. Bagaimana dulu Reza tak mengakuinya di depan banyak orang hingga ia diusir secara hina dari acara pesta, dan sengaja meninggalkannya sendiri berjalan kaki di tengah malam. Semua ia ceritakan dengan secara detail. Termasuk Reza yang menolak kehadiran anak di rahimnya yang dianggap hanya akan menjadi aib dalam hidupnya karena lahir dari rahim seorang wanita miskin sepertinya. Serta alasan mengapa ia pergi dari rumah. Sudah tak ada lagi yang Lira tutup-tutupi dari ibunya.


Indah terkejut mengetahui kebenaran tentang anaknya yang selama ia pikir telah bahagia, ternyata sangatlah menderita. Hati Indah begitu sakit seperti tertusuk ribuan panah menghujam jantungnya. Wajah Indah yang tadinya terlihat sendu, kini berubah menjadi wajahnya yang menyiratkan kesakitan penuh luka. Air matanya langsung mengalir deras menahan sakit di hatinya.


Hati ibu mana yang tak sakit, melihat anaknya menangis dengan pilu di hadapannya. Tangisan yang terdengar begitu menyakitkan bagi siapa saja yang mendengarnya. Sembilan bulan ia mengandung Lira, setelah lahir ke dunia, Indah menjaganya dengan sepenuh hati. Mendidiknya dengan ilmu agama agar anaknya tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak baik serta penurut. Ia tak menyangka anaknya akan menjadi se penurut ini, menyembunyikan penderitaannya sesuai perintah suaminya.


Indah merasa bersalah karena telah melepaskan anaknya ke tangan lelaki yang selama ini ia anggap bisa memberikan kebahagiaan yang tak mampu ia berikan, dan dapat menjadi pelindung di saat anaknya merasa terancam, nyatanya justru lelaki yang berstatus suaminya lah yang telah menciptakan neraka untuk Lira.


Yang lebih menyakitkan hati Indah adalah ketika Reza mengatakan menolak kehadiran anak yang lahir dari rahim wanita miskin dan kampungan seperti anaknya. Apa kesalahan anaknya, hingga Reza tak menginginkan anak yang lahir dari rahim Lira? Apakah orang miskin seperti mereka, begitu terlihat hina hingga tak boleh ada anak yang lahir dari rahim mereka? Apakah hanya wanita dari keturunan kaya saja yang boleh melahirkan keturunan?


"Kenapa neng gak pernah cerita ke ibu? Kenapa neng harus pendam semuanya sendiri?" Tanya Indah saat tangis mereka mulai mereda.


"Neng gak mau ibu sakit lagi karena mikirin neng."


"Justru ibu akan tambah sakit kalo neng gak mau berbagi kesedihan sama ibu." Indah mengusap lembut air mata anaknya yang masih terus mengalir membasahi seluruh wajahnya.


"Maafin neng, bu. Neng hanya ingin mencoba menyelesaikan masalah rumah tangga neng sendiri."


"Iya, tapi tidak dengan menyimpannya semua sendiri, yang justru akan menyakiti hati, neng. Berbagi sama ibu bukan karena neng mau membuka aib rumah tangga, tapi untuk berbagi mencari solusi agar hati neng gak terasa sesak." Timpal Indah lembut.


Lira hanya menunduk. Wajah mereka sama-sama menyiratkan luka yang begitu dalam.


"Maaf bu, neng gak berpikiran sampe ke sana. Maaf juga karena udah bikin ibu kepikiran." Ucap Lira masih dengan posisi menunduk, merasa bersalah karena telah menyembunyikan semua masalahnya dari dari ibunya sendiri.


"Gak papa. Neng yang sabar ya, Insya Allah ada hikmah di balik ini semua. Allah itu Maha Baik, yang tak akan menguji hamba-Nya di luar dari batas kemampuannya. Allah menguji neng lewat suami neng, karena menurut Allah, neng mampu menghadapi itu semua. Jangan pernah menyerah untuk terus berdoa pada Allah dan yakin suatu saat apa yang neng impikan pasti akan terkabul. Ini hanya masalah waktu. Sabar dan terus bersabar, karena sabar itu gak ada batasnya. Ibu akan selalu ada untuk neng." Ucap Indah bijak, memberi semangat pada anaknya.


Indah tak ingin menaruh dendam pada orang yang telah menyakiti batin dan fisik anaknya. Menurutnya semua manusia pernah berbuat salah dan khilaf tapi tak perlu menanam rasa dendam di hati yang nantinya akan menimbulkan penyakit hati. Indah juga tak pernah mengajarkan anaknya untuk dendam pada orang lain. Sesakit apapun orang itu melukai hati, teruslah memaafkan. Hanya dengan maaflah jiwa akan menjadi tenang tanpa beban.


Lira langsung berhambur memeluk ibunya yang selalu saja baik pada siapa pun, termasuk pada orang-orang yang pernah menyakitinya.


"Terima kasih bu, udah jadi orang hebat dalam hidup neng dan mengajarkan neng tentang kesabaran.

__ADS_1


"Sama-sama. Sekarang neng istirahat ya, ibu hamil gak boleh terlalu banyak pikiran." Indah mengecup kening anaknya lalu melenggang pergi untuk memberi ruang pada Lira.


🌸🌸🌸🌸


Brak......


Terdengar suara pintu yang dibuka dengan sangat kasar. Doni masuk ke dalam kamar Reza langsung melayangkan pukulan di wajah tampan lelaki itu. Reza yang dalam posisi tak siap mendapat serangan, langsung terhuyung ke belakang. Sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.


"Maksud lo apa mukul gue kek gini?" Tanya Reza merasa tak terima dibogem.


"Gue yang harusnya nanya ke lo, maksud lo apa ninggalin Lira dan ngelamar Anita? Lo gak ingat, siapa dulu yang bikin lo jadi lupa diri sampe nyentuh minuman haram itu?" Ucap Doni dengan nafas terengah-engah menahan emosinya yang ingin sekali lagi membogem wajah tampan Reza yang terlihat begitu menyebalkan menurutnya.


"Gue gak pernah ninggalin Lira, tapi dia sendiri yang minta pergi dari rumah. Lo garis bawahi ini, BUKAN GUE YANG NINGGALIN LIRA, TAPI LIRA YANG NINGGALIN GUE." Timpal Reza membela diri penuh penekanan, tak terima disalahkan oleh Doni.


"Apapun alasan lo, tetep aja lo udah nyakitin Lira. Dan gue harap lo gak menyesal nantinya." Usai mengatakan itu, Doni melenggang pergi meninggalkan Reza yang kesakitan memegang sudut bibirnya yang terasa perih.


"Gue udah pernah bilang ke lo, kalo gue gak akan pernah menyesal."


Doni menghentikan langkahnya mendengar ucapan Reza yang begitu percaya diri. Doni membalikkan badannya menatap Reza dengan senyum mengejek.


Doni benar-benar pergi meninggalkan Reza yang sudah kesal setengah mati mendengar ucapannya.


Reza melihat wajahnya ke cerimin yang terkena bogem dari tangan Doni, sahabatnya sendiri. Pantas saja Reza merasakan perih di sudut bibirnya, warna biru tercetak jelas di sana.


"Sial, kayaknya dia niat banget mukul gue sampe biru gini." Reza berdecak kesal melihat sudut bibirnya yang sudah membiru. "Cih, dia pikir gue bakal nyesel. Yang ada gue beruntung karena dia pergi sendiri tanpa gue usir."


Dert....dert....dert.....


Bunyi getaran ponsel Reza yang berada di atas nakas, terdengar jelas. Reza menarik bibirnya membentuk sebuah senyuman saat melihat gambar Anita dan Farel terpampang di layar.


"Halo."


"Halo, papi. Falel kangen papi. Kapan papi mau ke lumah Falel?"


Suara Farel terdengar begitu kencang dari seberang sana membuat Reza menjauhkan ponselnya dari telinganya.

__ADS_1


"Jagoan papi kok teriak-teriak gitu sih? Telinga papi jadi sakit nih."


Farel hanya terkekeh, merasa lucu karena Reza mengadu sakit pada telinganya.


"Hehe, maaf papi. Habisnya papi gak dateng main ke lumah mami, jadi Falel kesel sama papi." Ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya membuat wajah tampannya menjadi lucu dan menggemaskan.


"Maaf ya, papi lagi sibuk. Besok deh papi datang ke rumah mami terus kita main sampe puas. Oke?"


"Benel ya, papi. Falel tunggu!"


"Iya sayang. Eh, mami mana? kok gak ada suaranya?"


"Mami di sini, dali tadi nguping celita kita pi." Adu bocah tampan berumur empat tahun itu.


"Wah, mami hanya nguping gak mau ngomong sama papi?" Ya udah, kalo gitu papi tutup ya telponnya? Bilang ke mami jangan kangen sama papi." Ucap Reza menggoda Anita yang hanya menguping tanpa bersuara.


"Eh, kok mau ditutup sih? Aku kan belum ngomong." Ucap Anita merajuk manja.


"Habisnya mami gak mau ngomong sama papi. Maunya cuma nguping doang."


"Kan kalian lagi kangen-kangenan, masak aku ganggu."


"Ya udah, mami mau ngomong apa?" Tanya Reza lembut.


"Cuma mau bilang, kangen papi." Jawabnya malu-malu.


"Sama dong, papi juga kangen sama mami. Ya udah, besok aku ke rumah ya."


"Iya, papi."


"By mami."


"By juga papi."


🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2