Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 62


__ADS_3

Irma masih diam, membiarkan Reza menumpahkan tangisan penyesalannya dipangkuannya. Sesekali tangan Irma mengusap lembut kepala Reza. Irma menyusupkan tangan lembutnya ke dalam rambut Reza yang sudah terlihat panjang. Reza yang biasanya tampil sempurna dengan rambut yang selalu disisir ke belakang, ditambahkan Pomade agar rambutnya lebih rapi dan mudah diatur, kini terlihat berantakan. Kumis dan jenggotnya sudah lebat memenuhi tempat bulu-bulu halus itu tumbuh.


Irma merasa iba melihat tampilan putranya yang begitu berantakan. Penyesalan telah membuat seorang Reza yang biasanya hidup bersih dan tampan, kini menjadi seorang Reza yang malas dan kumal. Bahkan, tubuhnya yang dulu tegap berisi, kini terlihat lebih kurus.


Air mata Reza masih mengalir, namun sudah tak sederas tadi. Celana Irma ikut basah terkena air mata Reza yang sejak tadi terus keluar dari pelupuk matanya. Irma hanya tersenyum melihat penyesalan yang begitu dalam di wajah putranya.


Setelah merasa puasa menumpahkan semua tangisnya dipangkuan sang ibu, Reza mendongakkan kepalanya ke atas, menatap wajah ibunya yang masih tetap melemparkan senyum padanya. Meski Reza tahu dibalik senyum itu, tersimpan kekecewaan yang cukup besar padanya. Namun, ibunya itu sangat pandai menyembunyikan rasa kecewanya di balik senyuman teduhnya.


"Ma, Reza nyesel udah bikin Lira menderita dan pergi dari hidup Reza. Papa jatuh sakit juga karena ulah Reza, ma." Wajah Reza terlihat begitu memilukan. "Tapi Reza udah berusaha buat nyari alamat kampung Lira dan rencananya Reza mau jemput anak dan istri Reza pulang, sekalian sama mertua Reza juga ma."


Reza mengeluarkan foto USG anaknya dari dalam dompetnya, kemudian diserahkan ke ibunya.


"Ini anak Reza, ma." Senyum sendu tercetak diwajah tampannya. "Mungkin sekarang dia udah lahir, tapi Reza gak tahu dia laki-laki atau perempuan. Kalo bener dia udah lahir, berarti sekarang Reza udah jadi seorang ayah. Papa sama mama udah jadi kakek dan nenek." Dada Reza terasa sesak ketika mulutnya mengatakan dirinya adalah seorang ayah. Sedangkan dulu, ia pernah dengan tegas menolak kehadiran anak yang lahir dari rahim Lira, si wanita miskin dan kampungan yang nantinya hanya akan membuat aib dalam hidupnya.


Reza hanya berharap, suatu saat ketik mereka bertemu, semoga anaknya bisa memaafkan kesalahannya dan mau menerimanya sebagai ayahnya. Kalau pun anaknya tak bersedia menerimanya, Reza akan terus berusaha meyakinkan hati anaknya nanti.


Irma menerima foto USG cucunya dari tangan Reza dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya. Ia tak menyangka, jika sekarang statusnya sudah berubah menjadi seorang nenek.


"Kalau dia laki-laki, pasti akan terlihat tampan seperti ayahnya. Tapi kalau dia perempuan, pasti akan cantik dan solehah seperti ibunya." Ucap Irma sambil mengusap foto USG cucunya.


Irma menoleh ke arah suaminya yang masih tertidur tenang efek dari obat yang disuntikan padanya. Irma meraih tangan suaminya lalu meletakan foto USG cucunya di tangan kokoh milik suaminya.


"Mas, ini foto USG cucu kita. Kita udah punya cucu, mas. Sekarang kita akan dipanggil kakek dan nenek. Eh, bagusnya kita dipanggil apa, ya? Kakek dan nenek? Atau oma dan opa? Mas cepet bangun ya, biar mas bisa ngasih masukan mau dipanggil apa sama cucu kita." Irma mengusap lembut wajah lelaki yang telah setia menemaninya dan menerima kekurangannya, termasuk tak bisa memberikannya keturunan.


Sementara, Reza memandang wajah pucat ayahnya dengan penuh rasa bersalah. Ia berjanji, setelah ayahnya sadar nanti, ia akan meminta maaf. Bahkan jika perlu, ia akan bersujud di bawah kaki ayahnya.


"Oh iya, Za. Kamu udah makan belum?" Tanya Irma pada Reza, namun tangannya masih setiap menggenggam tangan suaminya.


"Reza belum laper, ma."


"Ya Allah, nak? Kamu makan dulu sana, biar mama yang jagain papa." Irma memekik setelah mengetahui jika Reza belum makan.

__ADS_1


"Reza udah makan sedikit di pesawat saat dalam perjalanan ke sini. Mama jangan khawatir, ya. Sekarang mama istirahat aja, biar Reza yang jagain papa. Kalo Reza laper, nanti pasti Reza makan, kok."


"Ya udah, terserah kamu." Irma merapikan selimut suaminya, lalu berjalan menuju sofa yang berukuran cukup besar dan nyaman untuk tidur. Memang tubuhnya terasa sangat lelah dan matanya juga sudah sangat mengantuk. Namun, sebisa mungkin Irma menahan rasa kantuknya karena ia sengaja menunggu kedatangan Reza.


Tak lama Irma langsung memejamkan matanya yang sudah terasa berat. Reza tersenyum ketik melihat ibunya sudah terlelap. Dikecupnya kening ibunya, lalu Reza kembali duduk di sofa dekat ranjang pesakitan ayahnya. Ia memandang wajah ayahnya dengan sangat dalam. Lelaki paruh baya yang dahulu sering mengajarkannya untuk selalu bersikap tegas namun harus tetap dermawan pada siapa pun, kini terbaring lemah dengan alat bantu pernapasan karena ulahnya.


"Pa, maafin Reza karena udah bikin papa jadi kek gini." Reza kembali terisak. Air matanya yang tadinya sudah mengering, kini kembali mengalir deras di pipinya. Biarlah ia dikatakan cengeng dan rapuh. Kalau perlu, ia akan terus menangis untuk sepanjang hari untuk menyesali perbuatannya yang telah melukai banyak pihak.


🌸🌸🌸🌸


Esok paginya, usai mengerjakan sholat subuh berjamaah bersama ibunya. Reza melihat ke arah jam berbentuk bundar yang bergantung di dinding kamar, telah menunjukan pukul 5 subuh, berarti di Indonesia sudah pukul 10 pagi. Selisih waktu antara Jerman dan Indonesia adalah lima jam. Reza langsung menghubungi anak buah ayahnya untuk menjaga rumah istrinya. Selain itu juga, Reza meminta mereka untuk mengirimkan foto setiap kegiatan yang dilakukan istri dan anaknya ketika sedang berada di luar rumah. Dengan begitu, Reza akan mengetahui keseharian istrinya serta perkembangan anaknya dari jauh.


Reza belum tahu pasti sampai kapan ia akan berada di Jerman. Namun, ia akan tetap berada di negara itu sampai ayahnya benar-benar sembuh. Maka dari itu, Reza sengaja menyuruh anak buah ayahnya untuk terus memantau anak dan istrinya. Reza akan merasa tenang jika mengetahui anak dan istrinya tetap dalam keadaan aman dari gangguan orang-orang yang mungkin saja akan berbuat jahat pada mereka.


Reza menghampiri ibunya yang sudah duduk di sebelah ayahnya sejak mereka selesai sholat berjamaah.


"Mama gak tidur lagi?" Tanya Reza saat ia menjatuhkan bokongnya di sofa kecil tepat di sebelah ibunya.


"Gak, mama udah gak ngantuk. Kamu aja sana yang tidur. Sejak tiba di sini, kamu udah kurang istirahat karena jagain papa. Jadi sekarang kamu istirahat aja. Mama gak mau nanti kamu juga ikutan sakit. Mama gak bisa ngurus kamu dan papa bersamaan. " Jawab Irma lembut sambil melirik wajah Reza sekilas. Pandangannya tetap mengarah ke wajah suaminya yang masih terlelap.


Perjalanan yang ia tempuh dari Indonesia ke Jerman, bukanlah waktu yang singkat. Saat telah tiba di rumah sakit, Reza tak langsung istirahat. Ia menggantikan ibunya untuk menjaga ayahnya. Tak butuh waktu lama, Reza telah masuk ke alam mimpinya. Dengkuran halus terdengar sampai ke telinga Irma, membuat wanita itu tersenyum geli melihat wajah polos Reza ketika tidur.


🌸🌸🌸🌸


Martin memicingkan matanya yang terasa silau ketika lampu kamar mengenai tepat di matanya. Ia melihat ke tangannya yang digenggam erat oleh istrinya yang sudah terlelap tidur dengan posisi kepala berada di atas ranjang, sedangkan tubuhnya berada di sofa kecil.


Martin melepaskan genggaman tangannya secara perlahan agar istrinya tak merasa terusik. Martin mengusap lembut kepala wanita yang sudah setia dan sabar menemaninya hingga saat ini.


Tak lama, Irma merasa terusik karena usapan lembut di kepalanya. Ia memegang tangan lebar Martin yang masih berada di atas kepalanya. Irma meraba tangan itu dengan sangat hati-hati, seolah sedang mencari tahu siapa pemilik dari tangan halus itu. Kemudian mata Irma terbuka lebar setelah mengetahui siapa pemilik tangan itu.


"Alhamdulillah, mas. Akhirnya mas sadar juga." Ucap Irma senang bercampur haru, lalu ia menekan tombol untuk memanggil dokter dan perawat agar datang memeriksa kondisi suami tercintanya.

__ADS_1


Kemudian dokter pria paruh baya bersama perawat wanita cantik berjumlah dua orang, datang memeriksa kondisi Martin. Dokter itu mengatakan jika kondisi Martin perlahan sudah berangsur membaik. Hanya saja, Martin diminta untuk lebih meningkatkan pola hidup sehat dan sebisa mungkin untuk menghindari stres. Selain itu juga, Martin diminta untuk selalu melakukan pengontrolan ke rumah sakit agar sakit jantungnya dapat langsung titangani oleh dokter spesialis jantung yang terkenal di Jerman. Pengontrolan itu tentu membutuhkan waktu yang cukup lama. Itu berarti, Reza akan tinggal lebih lama di Jerman sampai menunggu ayahnya benar-benar pulih.


Reza yang tertidur pulas di atas sofa, belum mengetahui jika ayahnya telah bangun dari tidurnya. Tadinya ia berencana hanya tidur selama satu jam lamanya, namun ia baru sadar telah tertidur dua jam lamanya. Bahkan ia tak merasa terusik ketika dokter bersama para perawat datang ke dalam ruang inap ayahnya. Hingga dokter dan para perawat itu pergi, Reza masih tertidur pulas.


Reza mulai merasa terusik ketika mendengar suara ketawa renyah dari ibunya. Samar-samar juga Reza mendengar suara ketawa ayahnya. Meski tak sebesar suara ketawa ibunya, namun Reza masih bisa menangkap suara ayahnya yang terkekeh geli mendengar cerita lucu dari ibunya. Reza langsung segera bangun dengan kondisi tubuh yang lebih segar.


Reza dapat bernafas lega ketika melihat ayahnya sudah mulai bercanda kembali seperti biasa, meski belum dapat tertawa renyah seperti dahulu. Namun, hal itu sudah membawa peningkatan yang cukup baik untuk kesehatannya.


Sepasang suami istri yang sedang asik bercanda sambil itu terlihat bahagia ketika mengenang masa-masa indah ketika awal mereka menikah dahulu. Namun, Martin langsung menghentikan tawanya saat Reza mulai mendekati mereka. Wajah bahagia Martin langsung berubah menjadi dingin. Terlihat jelas kekecewaan di wajah Martin.


"Gimana kondisi papa sekarang?" Tanya Reza bas-basi meski menyadari tatapan dingin dan tajam dari sang ayah.


"Alhamdulillah, papa udah mendingan, nak. Tapi papa harus tetap kontrol jantung. Jadi kita akan lebih lama lagi tinggal di sini. Kamu keberatan gak, kalau misalkan kita tinggal lebih lama sambil temenin papa kontrol sampai sehat kembali?" Jawab Irma ketika melihat raut wajah dingin dan tatapan tajam sang suami pada putra mereka.


"Reza gak masalah kok, ma. Reza siap buat temenin papa di sini sampe sembuh." Jawab Reza mantap. "Kalo gitu, Reza mau buat surat izin cuti dulu lalu dikirim ke *e*mail Direktur Rumah Sakit."


"Bagus! Kan emang harus gitu. Walaupun rumah sakit itu milik keluarga kita, tapi kita gak boleh seenaknya asal cuti gitu aja tanpa alasan yang jelas." Irma memuji sikap rendah hati putranya.


"Terima kasih, ma." Ucap Reza sambil tersenyum tulus.


Sementara, Martin masih terus memasang tampang dingin tak bersahabat pada Reza. Ia merasa sangat kecewa pada putranya kebanggaannya itu. Reza memaklumi sikap dingin ayahnya padanya, karena memang semua adalah kesalahannya.


🌸🌸🌸🌸


Bersambung........


jangan lupa dukungannya ya


Like, like, like


Komen, komen, komen

__ADS_1


VOTE...VOTE...VOTE...**SEIKHLASNYA


TERIMA KASIH🌹😊**


__ADS_2