Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 127


__ADS_3

Selamat membaca........๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Reza dan Lira yang baru saja tiba di rumah, langsung menuju taman belakang karena mendengar suara tawa Inas yang begitu kencang. Inas sedang bermain bersama ketiga anak Nur di taman bermain yang dua bulan lalu dibuat secara mendadak oleh ayahnya.


Awalnya, Lira merasa terkejut saat melihat taman bermain yang cukup lengkap dengan wahana permainan anak, berada tepat di mana kolam ikan seharusnya berada. Namun, saat Reza menjelaskan bahwa ia sengaja menghancurkan dan mengubah kolam ikan menjadi wahana bermain agar Lira bisa sedikit melupakan kenangan buruknya, Lira pun langsung merasa terharu. Reza benar-benar ingin mengobati setiap kenangan buruk Lira dengan cara memberinya banyak kebahagiaan.


Kini, taman bermain itu telah menjadi tempat favorit bagi Inas. Hampir setiap hari, di saat pagi dan sore, Inas pasti akan bermain di sana. Inas juga mengajak ketiga anak Nur untuk ikut bermain bersamanya.


Seperti pagi ini, Inas begitu bahagia saat bermain prosotan berwana merah cerah yang berukuran kecil sesuai usianya. Inas bersorak kencang saat melihat kedua orang tuanya yang sedang berjalan mengarah padanya.


"Papa, kakak naik polotan." Ucapnya sambil bertepuk tangan dengan girang.


"Prosotan, sayang." Timpal Reza gemas, membenarkan ucapan putrinya.


"Iya, pototan."


Reza menjadi semakin gemas mendengar jawaban Inas dan langsung menggendong tubuh mungil itu ke udara. Inas langsung tertawa kencang merasa bahagia karena ia merasa sedang terbang. Saat Reza menaruh tubuh Inas kembali ke atas prosotan, Inas malah merengek minta kembali diterbangkan.


"Udah ya, sayang. Kakak tambah ndut, jadi papa kecapean gendong kakak."


"Iya, kakak ndut."


Reza langsung dibuat tertawa nyaring oleh Inas yang tanpa sadar, mengakui dirinya gendut. Tubuh Inas memang berisi dan gempal. Apalagi pipinya yang gembul, membuatnya semakin terlihat menggemaskan.


Lira dan Indah pun ikut tertawa mendengar jawaban polos Inas. Setelah itu, Lira pamit ke dapur dan diangguki oleh Reza karena Inas masih enggan melepaskan ayahnya begitu saja sebelum keinginannya kembali terbang, tercapai.


Lira berjalan pelan menuju dapur. Kemudian, Lira mengambil air minum untuk menghilangkan rasa hausnya. Lira sempat menyapa para asisten rumah yang sedang sibuk dengan pekerjaanny di dapur. Setelah itu, Lira memutuskan menyeduh teh untuk Reza dan Indah. Mirna melihat Lira akan membuat teh pun langsung menawarkan diri. Namun, dengan halus Lira menolak karena ia sangat ingin membuat teh untuk suami dan ibunya. Naas, saat Lira ingin menaruh cangkir ke piringnya, Lira tak sengaja menumpahkan teh panas itu ke tangannya hingga membuat cangkir putih bercampur emas itu langsung jatuh dan pecah di lantai.


"Awww!" Adu Lira pelan menahan perih di tangannya yang terlihat sudah memerah.


"Ya Allah, Neng Lira!" Pekik Mirna dengan suara cukup kencang.


Bunyi cangkir pecah dan suara pekikan Mirna terdengar nyaring hingga ke penjuru ruangan, termasuk di taman bermain. Mendengar suara Mirna yang menyebut nama Lira, membuat Reza menjadi panik dan langsung berlari meninggalkan putrinya bersama neneknya, menuju dapur.


Benar saja, saat tiba di dapur Reza melihat Mirna yang sedang membantu Lira menghilangkan rasa panas yang menjalar di tangannya di bawah guyuran air di wastafel dapur. Lira terlihat meringis menahan perih di tangannya.


"Sayang, ini kenapa bisa kayak gini?" Tanya Reza, langsung mengambil alih memegang tangan Lira dibawah guyuran air.


"Tadi Lira gak sengaja numpahin teh yang Lira buat mas dan ibu." Jawab sambil menahan perih.


"Ya Allah, sayang. Mas udah bilang, sayang gak boleh ngapa-ngapain, tapi kenapa sayang gak mau denger sih?" Omel Reza kesal.


"Maaf, mas."


Lira mulai terisak. Bukan hanya tangannya terasa perih perih, tapi juga hatinya. Di saat seperti ini bukannya menenangkan, Reza justru memarahinya.


Tak lama Irma dan Indah menyusul ke dapur sambil menggendong Inas, untuk melihat apa yang terjadi. Kedua ibu itu langsung terkejut melihat cangkir sudah berserakan di lantai dan Lira juga menangis dengan tangan yang masih berada dibawah guyuran air keran.


"Kamu kenapa nangis, Ra?" Tanya Irma saat menghampiri anak dan menantunya.


"Iya. Tangan neng kenapa?" Indah ikut menimpali.

__ADS_1


"Tangan Lira gak sengaja kena air panas ma, bu." Bukan Lira yang menjawab, tapi Reza. Terlihat jelas kekhawatiran di mata Reza saat melihat tangan istrinya memerah.


"Lho, kok bisa?" Tanya Irma kembali.


"Tadi katanya Lira lagi buat teh, terus gak sengaja ketumpah dan kena tangannya. Padahal, Reza udah ingetin gak usah ngapa-ngapain."


"Subhanallah. Tapi tangannya gak papa, kan?"


"Alhamdulilla, gak papa. Mama sama ibu gak usah khawatir. Reza bawa Lira ke kamar ya ma, bu. Mau olesin salep biar gak melepuh nanti. Titip Inas, ya."


"Iya, Za."


Melihat ibunya menangis membuat Inas penasaran dan langsung bertanya pada ayahnya.


"Papa, bunda napa nanit (nangis)?"


"Bunda gak papa, sayang. Kakak sama eyang dan nenek dulu, ya. Papa mau obatin bunda dulu."


"Iya, papa."


Sepeninggal Reza dan Lira, Irma langsung meminta pada asistennya untuk segera membereskan pecahan keramik dengan bersih dan hati-hati agar tak melukai orang lain.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Tiba di kamar, Reza membantu Lira yang masih saja.menangis untuk duduk di sofa. Kemudian, Reza mengambil salep khusus luka bakar dari dalam kotak obat dan mengolesinya ke tangan Lira yang memerah dengan lembut.


"Mas minta maaf, ya. Mas gak marah ke sayang. Tapi Mas marah pada diri mas sendiri karena gak becus jagain sayang. Mas marah pada diri mas sendiri, karena dulu mas pernah lakuin hal ini ke sayang dengan sengaja. Mas gak tahu, gimana perasaan sayang waktu itu. Sayang nyembuhin lukanya pake apa? Itu yang mas pikirin. Karena waktu itu, mas sengaja nyembunyiin kotak obat." Ucap Reza dengan linangan air mata yang mengalir deras di pipinya disertai tangannya yang gemetar hebat, merasa bersalah mengingat kekejamannya dahulu yang ia lakukan pada Lira.


"Kenapa mas masih ingat itu, sih? Lira kan udah maafin, mas. Jadi tolong, jangan terus merasa bersalah kayak gini. Mari kita sama-sama belajar untuk menutup luka lama dan menciptakan kenangan bahagia di keluarga kecil kita, mas. Lira sayang dan cinta sama mas." Sahut Lira lalu mendaratkan kecupan hangat di kening dan mata basah suaminya.


Reza hanya mengangguk kecil dan membalas senyum Lira. Mereka langsung berpelukan erat sambil menangis menumpahkan beban di hati masing-masing. Adegan berpelukan itu langsung terhenti karena Lira tiba-tiba merasa sakit pada perutnya.


"Awww."


"Kenapa sayang?" Tanya Reza panik.


"Kontraksi palsunya dateng lagi. Mas, tolong bantu usap perut Lira, ya." Jawabnya sambil meringis kesakitan karena merasakan kontraksi palsu yang sering datang menjelang waktu bersalinnya.


Diarahkannya tangan Reza ke perut buncitnya. Dengan perasaan yang campir aduk, antara khawatir dan bahagia karena tak lama mereka akan bertemu dengan sang calon anak yang. Reza menempelkan telinganya ke perut Lira lalu mengajak calon anaknya berbicara.


"Assalamu'alaikum. Dedek udah gak sabar ya, mau ketemu sama bunda, papa dan kakak? Sabar ya sayang, insya Allah gak lama lagi kita ketemu kok."


Lira mengusap kepala Reza yang masih menempel di perutnya. Reza menatap mata Lira yang sedikit bengkak karena tadi ia sempat menangis. Reza mengusap lembut pipi chubby Lira dengan tangan kanannya. Tangis kesedihan mereka berganti menjadi senyum bahagia terlihat jelas dari wajah keduanya yang sudah tak sabar untuk segera bertemu sang bayi.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Pada malam hari di saat semua orang sedang tertidur lelap, Lira terbangun karena merasa kencang pada perutnya. Kontraksi palsu yang sejak beberapa hari lalu ia rasakan, kini semakin terasa. Lira berusaha bangun dan bersandar pada kepala ranjang untuk mengatur nafasnya. Tangan Lira mengusap perutnya sambil terus beristighfar, berharap rasa sakitnya bisa sedikit berkurang.


Rasa sakit itu perlahan mulai berkurang, namun Lira masih terus beristighfar. Matanya sudah enggan untuk terpejam karena rasa kantuknya tiba-tiba hilang bersamaan dengan rasa sakit yang menyerangnya beberapa saat lalu.


Reza merasa terusik saat ingin memeluk Lira, tapi ia justru mendapati istrinya sedang duduk bersandar pada kepala ranjang.


"Ada apa, sayang?"

__ADS_1


"Tadi kontraksinya dateng lagi, mas. Tapi ini lebih lama dari yang kemarin-kemarin."


Reza langsung panik. "Kita ke rumah sakit sekarang, ya."


"Gak usah, mas. Nanti kalo kontraksinya udah lebih lama dan lebih sakit lagi, baru kita ke rumah sakit."


"Kalo gitu, nanti sakit lagi, sayang bilang ya."


"Iya, mas."


Reza ikut bersandar pada kepala ranjang dan membantu Lira dengan mengusap lembut perutnya.


"Mas, pengen pipis."


Sejak usia kandungan Lira semakin membesar, intensistas buang air kecilnya semakin bertambah karena perubahan hormon yang terjadi selama kehamilan. Perubahan hormon ini membuat aliran darah dan cairan ke ginjal menjadi lebih cepat, sehingga membuatย ibu hamilย jadi lebih sering buang air kecil . Selain itu, pertumbuhan janin di dalam kandungan dapat menekan kantung kemih.


"Ayo, mas bantu ke kamar mandi."


Dengan pelan, Lira turun dari tempat tidur menuju kamar mandi dan dibantu oleh sang suami tercinta. Setelah keluar dari kamar mandi, Lira kembali bersandar pada kepala ranjang. Kontraksinya kini semakin terasa dengan durasi yang lebih lama, disertai buliran keringat yang membasahi dahi hingga lehernya.


Perkiraan dokter yang menyatakan Lira akan melahirkan satu Minggu lagi, ternyata meleset. Sekarang Lira sudah tidak kuat menahan nyeri di perut, sakit pada pinggang dan pangkal pahanya.


"Sayang, kita ke rumah sakit sekarang aja ya. Mas gak sanggup liat sayang kesakitan kayak gini." Lira hanya mengangguk lemah. "Sini mas bantu pakein jilbab sama kaos kakinya."


Reza sangat cekatan membantu Lira memakai jilbab instan jumbo dan kaos kaki. Beruntung saat itu, Lira memakai daster panjang. Jadi Reza tak perlu lagi menggantinya dengan yang baru. Setelah semua selesai, Reza membopong Lira menuju lantai lift.


Tiba di lantai satu, Reza langsung berteriak memanggil Jono dengan cukup kencang seperti orang kesetanan, hingga para orang tuanya pun ikut terbangun mendengar suara teriakannya.


Indah bangun lebih dulu dari yang lain dan langsung membuka pintu menuju sumber suara. Mata Indah langsung membulat saat melihat Reza sedang membopong Lira yang terlihat kesakitan. Rasa panik tak bisa Indah sembunyikan lagi dari wajahnya.


"Neng, udah kontraksi ya sayang?"


Lira mengangguk lemah sebagai jawaban. Tak lama kemudian, Jono datang disusul kedua orang tua Reza.


"Pak Jono, tolong siapkan mobil. Kita ke rumah sakit sekarang."


Jono mengangguk patuh.Tanpa menunggu lama, Jono langsung menuju garasi untuk menyiapkan mobil.


"Nanti mama, papa sama ibu nyusul ke rumah sakit ya. Sekalian, tolong bawain tas perlengkapan bayi yang ada di kamar. Reza gak sempat ambil tadi." Lanjutnya dengan wajah panik dan ketakutan melihat istrinya terus meringis kesakitan.


"Iya, Za. Udah, sekarang kamu berangkat sekarang. Kasian Lira, udah kesakitan." Timpal Irma tak kalah panik.


Reza langsung menggendong Lira menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumah. Reza benar-benar merasa ketakutan. Ini pengalaman pertama bagi Reza, menemani istrinya melahirkan anak keduanya.


"Istighfar, sayang. Gak lama lagi kita sampe ke rumah sakit." Ucap Reza sambil mengusap keringat yang membasahi dahi Lira.


"Sakit, mas."


"Iya, sayang. Sabar ya."


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Bersambung........๐Ÿ˜Š

__ADS_1


__ADS_2