
Selamat membaca.........πΉπΉπΉπΉ
πΈπΈπΈπΈ
Kekhawatiran Anita akhirnya tak terjadi. Usai menyelesaikan kesalahpahaman di antara mereka, Reza langsung melamarnya. Tapi lamaran ini belum bersifat resmi karena Reza belum mengantongi restu dari kedua orang tuanya. Rencananya, setelah ini Reza akan menghubungi orang tuanya untuk menyampaikan niatnya menikahi Anita. Ia tak peduli dengan reaksi orang tuanya nanti yang menentang hubungannya, ia akan tetap menikahi Anita. Ia tak ingin kehilangan wanita itu untuk kedua kalinya.
Usai menyatakan lamarannya kepada Anita, Reza langsung membawa Anita dan Farel ke sebuah restoran mewah untuk menikmati makan malam romantis di sana.
Raut wajah bahagia tak dapat Anita sembunyikan saat ia duduk bersama kekasihnya juga putra semata wayangnya, menikmati santapan makan malam dengan hiasan lilin yang mengelilingi mereka, hingga meninggalkan kesan yang sangat romantis.
Reza menyadari rona bahagia yang terpancar dari wajah Anita, membuatnya ikut bahagia. Usahanya untuk membuat kekasihnya bahagia tak sia-sia, meski harus mengorbankan waktunya. Apalagi Farel, bocah tampan itu terlihat tak kalah bahagia dari maminya.
"Farel seneng gak?" Tanya Reza sambil memotong daging steak yang ada di piringnya.
"Iya, Falel seneng banget, pi." Jawabnya dengan mulut yang penuh pasta.
"Bagus deh kalo Farel seneng, papi juga jadi ikutan seneng liatnya."
"Kalo mami, seneng gak?" Tanya Reza menggoda Anita yang sejak tadi selalu tersenyum melihat interaksi Reza bersama Farel.
"Seneng banget dong, pi. Makasih ya, udah bawa kita ke sini."
"iya, sama-sama."
Mereka melanjutkan makan malam mereka sambil bercanda ria. Farel yang selalu mengocel dengan gaya cadelnya membuat Reza dan Anita menjadi gemes melihat tingkah lucu dari bocah tampan itu.
πΈπΈπΈπΈ
Makan malam romantis mereka akhirnya selesai. Reza menggendong Farel yang sudah ketiduran karena kekenyangan menuju mobilnya. Setelah itu, Reza mengantar Anita pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan Anita terus saja mengembangkan senyumnya sambil mengusap cincin berlian yang beberapa waktu lalu telah tersemat di jari manisnya . Reza mengerutkan keningnya ketika melihat wanita itu tak berhenti tersenyum.
"Kamu kenapa sih, senyum-senyum terus dari tadi?" Tanya Reza mobilnya mereka berhenti di lampu merah.
"Gak, cuma lagi seneng aja. Bahagia banget bisa rasain momen ini sama kamu."
__ADS_1
"Oh, kirain apa. Aku juga bahagia banget. Apalagi pas liat Farel gak berhenti ngoceh, jadi gemes dan tambah sayang."
"Kalo sama maminya, sayang gak?"
"Ya, sayang dong. Sayang banget malah. Emang kamu gak ngerasa, gitu?"
"Ngerasa banget, yank. Makasih ya, kamu udah mau ngasih aku kesempatan buat perbaiki kesalahan bodoh aku dulu." Ucap Anita dengan wajah sesal.
"Iya, sama-sama. Kamu jangan ninggalin aku lagi, ya."
"Iya."
Mobil Reza telah tiba di rumah Anita. Ia langsung segera turun membukakan pintu untuk Anita lalu mengambil alih Farel dari pangkuan Anita dan menggendongnya masuk ke dalam rumah.
Reza membaringkan tubuh mungil Farel di atas tempat tidur lalu merapikan selimutnya hingga ke dada bocah tampan itu. Tak lupa Reza mengecuk kening Farel.
"Good night, boy. Papi pulang dulu ya, besok papi ke sini lagi." Bisik Reza di telinga Farel yang sudah tertidur pulas.
Reza berpamitan pada Anita yang sedang berdiri di pintu kamar Farel. Anita mengangguk sambil tersenyum, lalu mengantarkan Reza hingga depan rumahnya.
"Iya, bawel." Balas Anita sambil tersenyum.
Reza pergi dari rumah Anita menuju rumahnya. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sama seperti Anita, Reza juga tak melepaskan senyum dari wajahnya. Ia merasa begitu bahagia. Apakah seperti ini rasanya bahagia bila nanti punya anak? Pikirnya.
πΈπΈπΈπΈ
Di tempat lain..
Usai melaksanakan sholat Isya, seorang wanita duduk dengan posisi kaki diselonjorkan di ranjang dengan beralaskan kasur usang yang sudah terlihat tua dan lapuk di beberapa bagian. Wanita itu sedang melantunkan ayat suci Al-Qur'an dengan sangat merdu sambil terus mengelus lembut perutnya yang sudah mulai membuncit. Usia kandungannya telah memasuki empat bulan. Karena tak mampu mengadakan acara syukuran empat bulanan, akhirnya ia hanya bisa membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an sendirian. Pada usia kandungan empat bulan, bayi sudah bisa mendengar apa yang ibunya ucapkan, karena pada saat itu telah ditiupkan ruh ke dalamnya.
"Sesungguhnya setiap orang di antara kalian, dikumpulkan penciptaanya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari (berupa ******) kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu empat puluh hari pula, kemudian menjadi segumpal daging dalam waktu empat puluh hari juga, kemudian diutuslah seorang malaikat untuk meniupkan ruh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menuliskan empat hal; rezekinya, ajalnya, amalnya, dan apakah dia menjadi orang yang celaka atau bahagia. (Hajjah An-Naisaburi, Shahih Muslim)
Meski tak bisa mengadakan acara syukuran empat bulanan, Lira tak berkecil hati. Setidaknya ia masih bisa membacakan Al-Qur'an untuk calon anaknya. Ia berharap, suatu saat nanti anaknya bisa menjadi penghafal Al-Qur'an yang mulia. Dengan begitu, ketika kelak nanti ia meninggalkan dunia ini, maka itulah yang akan menjadi penolongnya ketika berada di akhirat. Doa dari anaknya yang soleh.
__ADS_1
Lira memang tak memiliki harta berlimpah yang bisa diwariskan ke anaknya, hanya dengan membacakan Al-Qur'an sejak anaknya masih dalam kandungan dan mengajarkan Al-Qur'an sejak dini, disertai dengan bekal ilmu agama, maka itu sudah cukup baginya untuk dijadikan warisan terbaik sekaligus berharga untuk anaknya nanti ketika telah lahir ke dunia.
πΈπΈπΈπΈ
Pagi menjelang, seperti biasa Lira membantu ibunya membersihkan rumah. Meski dalam keadaan hamil, Lira tak bisa duduk berdiam diri membiarkan ibunya mengerjakan pekerjaan rumah seorang diri.
Setelah pekerjaannya selesai, Lira membersihkan diri lalu berwudhu untuk melaksanakan sholat Dhuha. Keseharian Lira tak pernah jauh dari membantu ibunya membersihkan rumah, memasak, sholat dan mengaji.
Lira ingin sekali berkeliling kampung, karena sejak ia pulang kampung, ia tak pernah sekali pun keluar rumah. Indah melarangnya untuk keluar rumah jika tak ada hal penting. Mata-mata para pemburu berita hot kampung selalu memasang mata elang mereka untuk mencari sumber bahan ghibahan yang nantinya akan mereka sebar secepat kilat, yang tentunya sudah ditambahkan dengan bumbu penyedap agar gosip yang diterima konsumen mereka, tak terasa hambar.
Indah menghampiri Lira yang baru saja selesai melaksanakan sholat Dhuha kemudian dilanjutkan dengan mengaji. Sebenarnya sudah dari beberapa hari yang lalu, Indah sudah menaruh curiga dengan kondisi pernikahan putrinya.
"Neng, suami kamu kok gak pernah nelpon ke sini?" Tanya Indah untuk memancing reaksi Lira.
Benar saja, Lira langsung gelagapan dan terlihat gugup. Lira meletakan Al-Qur'an nya di atas meja kecil di dekat lemarinya. Sebisa mungkin ia harus tetap bersikap tenang, agar ibunya tak merasa curiga padanya. Padahal ibunya telah lebih dulu melihat kegugupannya di wajahnya.
"Mungkin Mas Reza masih sibuk, bu." Jawabnya dengan tenang.
"Sesibuk apa pun itu, dia harus bisa sisihkan waktunya meski sebentar untuk menanyakan kabar neng di sini. Ibu liat, sejak neng tiba di sini, suami kamu sama sekali belum pernah menelpon." Sarkas Indah dengan tatapan menyelidik.
Lira tak bisa menjawab, apa yang diucapkan ibunya itu memang benar adanya. Sekuat apapun ia mencoba menutupi masalahnya, ibunya akan tetap tahu. Naluri ibu memang tak pernah salah. Lira menunduk menahan tangisnya. Apakah ini saatnya untuk ia menceritakan tentang apa yang ia alami selama ini? Tapi, bagaimana jika nanti ibunya jatuh sakit karena mengetahui masalahnya?
"Neng, ada apa? Ayo cerita sama ibu, jangan dipendam sendiri." Indah mengelus kepala Lira dengan penuh kasih sayang.
Lira langsung memeluk tubuh ibunya lalu menangis sejadi-jadinya. Dadanya terasa sesak akibat menampung banyak beban penderitaan. Ia sudah berusaha agar tetap terlihat tegar dan kuat, tapi ternyata ia sekuat itu, menanggung bebannya sendirian tanpa membaginya dengan orang lain hanya membuatnya semakin sesak. Selama ini, hanya Allah lah yang menjadi tempatnya mengadu.
"Maafin neng, bu. Neng telah kalah." Ucapnya di sela-sela tangisnya.
"Ada apa neng? Kalah? Apa maksudnya dengan kalah?" Indah masih belum paham dengan ucapan anaknya.
"Sebenarnya......
πΈπΈπΈπΈ
__ADS_1
Bersambung...........
jangan lupa dukungannya ya, LIKE, KOMEN, DAN VOTE biar author makin semangat....π