
"Barangsiapa yang meringankan (menghilangkan) kesulitan seorang muslim kesulitan-kesulitan duniawi, maka Allah akan meringankan (menghilangkan) baginya kesulitan di akhirat kelak. Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan di dunia, maka Allah akan memudahkan baginya kemudahan (urusan) di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selalu ia menolong saudaranya.β (HR. Tirmidzi).
Selamat membaca........πΉπΉπΉπΉ
πΈπΈπΈπΈ
Pukul delapan pagi, Bela yang ditemani suami dan anaknya, datang berkunjung ke rumah Lira. Rencananya, hari ini mereka akan bernostalgia ke suatu tempat yang pernah menjadi saksi bisu awal kisah persahabatan mereka dimulai.
Bela masuk ke dalam rumah sambil mengucap salam. Bela sudah menganggap rumah Lira seperti rumahnya sendiri karena sejak kecil, ia sudah sering datang berkunjung dan menemani Lira berjualan di pasar atau keliling kampung. Jadi, ia tak perlu menunggu untuk dibukakan pintu oleh pemilik rumah.
"Sayang, yakin mau bawa cemilan segini banyak?"
Reza dibuat heran oleh tingkah istrinya yang begitu antusias menyiapkan segala keperluan piknik dadakan mereka. Ya, Reza menyebutnya itu sebagai piknik dadakan karena awalnya mereka hanya ingin berkunjung ke tempat yang penuh kenangan untuk Lira dan Bela, kini mendadak menjadi acara piknik sekeluarga. Ide itu tiba-tiba saja muncul dari benak Lira yang ingin sekali merasakan bagaimana rasanya piknik. Seumur hidupnya, Lira belum pernah merasakan bagaimana rasanya duduk bersama keluarga dan sahabatnya di tempat tamasya sambil menikmati makanan yang sudah disiapkan dari rumah. Meski tempat yang mereka kunjungi nanti bukanlah tempat tamasya, tapi Lira sudah sangat merasa bahagia.
Mendengar alasan sederhana dari istrinya, tentu saja sebagai suami yang ingin melihat istrinya bahagia, Reza dengan senang hati mewujudkan itu semua. Reza juga membebaskan istrinya untuk menentukan menu dari makanan dan cemilan yang akan mereka bawa untuk piknik nanti. Tapi dengan syarat, Lira dilarang keras memasak atau membuat cemilan. Ia hanya dizinkan membantu menyiapkan hal-hal yang ringan saja, seperti menyusun buah-buahan ke dalam keranjang.
Ketiga orang tua mereka hanya menggelengkan kepala melihat sikap posesif Reza yang semakin menjadi-jadi. Namun begitu, mereka juga merasa senang karena Reza begitu mencintai keluarganya.
"Yakin dong, mas. Kita kan mau piknik." Sahut Lira antusias.
"Mas, ini air minumnya udah dimasukin belum?" Lanjutnya sambil mengemas peralatan makan ke dalam keranjang dengan dibantu oleh Bela.
"Udah, sayang."
Kemudian muncullah Inas dari ruang tamu bersamaan dengan Farel, anak Bela sambil memegang satu batang coklat berukuran cukup besar dengan merek ternama, yang ia ambil langsung dari toko kelontong milik neneknya.
"Papa, mau cokat boyeh?" Tanya Inas dengan wajah menggemaskan sambil menunjukan satu batang coklat digenggamannya.
"Kakak, dapat coklatnya dari mana sayang?" Tanya Reza sambil berjongkok di depan putrinya.
__ADS_1
Bukannya menjawab pertanyaan putrinya, Reza justru balik bertanya dengan wajah bingung. Pasalnya, Reza sangat melarang keras putrinya memakan coklat secara berlebihan. Ia juga sudah mengingatkan pada istri dan ketiga orang tuanya agar tak memberikan Inas coklat atau apapun itu yang berhubungan dengan makanan yang mengandung pengawet. Namun, sekarang coklat itu sudah berada digenggaman putrinya. Siapa yang sudah berani memberikan coklat itu pada putri kesayangannya? Batin Reza.
"Dali walung nenek." Jawabnya polos.
Bela dan suaminya, hanya bisa diam saat melihat wajah Reza yang terlihat marah. Lira langsung menghentikan langkah suaminya saat ingin menuju ke pintu samping yang terhubung dengan gudang toko kelontong. Lira tahu, pasti Reza ingin memarahi karyawan toko karena sudah ceroboh membiarkan Inas mengambil coklat.
"Mas istighafar atuh, jangan marah kayak gitu. Bisa aja, itu emang ulah si kakak yang ngambil coklat sendiri." Ucap Lira dengan lembut.
Reza langsung menghembuskan nafasnya kasar. Jika saja Lira tak mengingatkannya, bisa jadi sang karyawan toko akan terkena amukannya.
"Maaf, sayang. Mas hampir aja kebablasan." Sahutnya dan lansung beristighfar sambil mengusap dadanya.
"Kakak, belum boleh makan coklat ya. Kan masih pagi, sayang. Nanti perut kakak bisa sakit." Lanjut Reza, memberi pengertian pada putri kesayangannya.
"Iya, papa." Jawabnya patuh.
Reza tersenyum lalu mengecup gemas kedua pipi putrinya yang begitu patuh dan tak pernah membantah setiap ucapannya.
πΈπΈπΈπΈ
Jarak tempat tujuan mereka dengan rumah Lira, tak begitu jauh. Hanya berjarak lebih kurang sekitar 10 menit dengan menggunakan mobil, mereka telah tiba di persawahan yang cukup luas dan terdapat sebuah gazebo cukup luas terbuat dari bambu dengan tiang-tiang kayu yang cukup besar.
Sawah itu dulunya milik saudara sepupu Bela, tapi karena sepupunya sedang membutuhkan biaya untuk kuliah anaknya di Jakarta, akhirnya dengan terpaksa sawah itu dijual kepada saudara sepupu Bela yang lainnya.
Sebelum mereka memutuskan untuk mengadakan piknik dadakan di sawah itu, Bela telah lebih dahulu menemui sepupunya meminta izin untuk mengadakan piknik di sawah dan duduk di gazebo tanpa dinding yang berada di tengah-tengah sawah. Dengan senang hati sepupu Bela mengizinkannya. Apalagi pas mengetahui jika Lira juga ikut dalam acara piknik itu. Hampir semua keluarga Bela mengenal Lira dengan baik. Karena sejak kecil jika ada acara atau pesta, Bela selalu mengundang Lira ke rumahnya.
Lira dan Bela terlihat sangat senang saat tiba di tempat yang menyimpan banyak kenangan indah mereka. Setelah sekian lama, akhirnya Lira dan Bela bisa kembali ke tempat yang menjadi sejarah awal dimulainya persahabatan mereka berdua.
Reza menggendong Inas, sedangkan Arman suami Bela menggendong Farel. Kedua suami itu hanya bisa tersenyum saat melihat kedua istri mereka merasa bahagia dengan dunianya.
__ADS_1
"Mau tulun, papa. Mau cama bunda."
Inas meronta ingin turun dari gendongan ayahnya. Bocah lucu itu, ingin ikut bersama ibunya yang sedang duduk bersama Bela, menikmati masa kecilnya di pinggir sawah yang terasa sejuk.
"Gak boleh, sayang. Kakak sama papa aja ya, di sini. Tuh, ada Abang Farel."
"Ndak mau, papa. Mau cama bunda."
Kali ini Inas tak ingin menurut. Inas seperti penasaran bagaimana rasanya duduk di pinggir sawah.
"Sayang, ikut papa ke sana yuk. Ke tempat eyang dan nenek. Kita duduk di situ terus kita makan cemilan buatan bunda, gimana?"
"Iya, papa."
Reza langsung menggendong Inas menuju gazebo. Di sana telah duduk ketiga orang tuanya yang terlihat sangat menikmati suasana sejuk dan damai di sawah itu.
Tak lupa tikar digelar dan makanan dan cemilan pun disajikan bersama minuman hangat yang disimpan di dalam termos yang berukuran cukup besar.
Sambil menunggu makanan yang sedang ditata oleh Irma dan Indah, Reza dan Arman bercerita banyak hal mengenai masa kecil Bela dan Lira yang sedikit diketahui oleh Arman. Reza mendengarkan semuanya dengan seksama.
"Menurut cerita Bela, sawah ini dulu tempat awal bertemunya mereka berdua. Dulu waktu kecil, Bela sering bermain ke sini bersama sepupunya yang lain. Saat itu, Lira sedang mencari bekicot untuk dijadikan sebagai lauk. Bela melihat Lira lalu mengajaknya bermain terus Bela membantu Lira mencari bekicot. Mulai saat itulah, mereka menjadi dekat sebagai sahabat. Bela selalu menemani Lira berjualan atau apapun itu ketika Lira mencari uang. Nasib Lira kecil memang tak seberuntung Bela yang hidup serba berkecukupan, tapi Lira tak pernah mengeluh akan keadaannya.
"Bela juga bercerita, sejak kecil Lira tak pernah memiliki banyak waktu untuk bermain bersama teman-temannya, karena Lira harus membantu kedua orang tuanya mencari uang. Terkadang, Bela yang merasa kasihan dan sedih melihat tubuh kecil Lira yang harus memikul karung yang cukup berat berisi jualannya menuju pasar sambil berjalan tanpa alas kaki. Bela sering menawarkan bantuan, tapi Lira menolaknya secara halus dengan alasan, Lira lebih senang menghasilkan uang dari keringatnya sendiri. Mulai saat itu, Bela selalu menemani kemana pun Lira pergi." Ucap Arman sambil terus memandangi istrinya yang sedang tertawa bersama sahabatnya, Lira.
Hati Reza seperti diremas, terasa sakit dan perih. Meski ia sudah sering mendengar cerita tentang masa kecil istrinya yang begitu memilukan, tapi tetap saja ia merasa sakit hati dan rasanya ingin menangis sambil mendekap tubuh mungil Lira.
Reza membayangkan, bagaimana rasanya memakan bekicot sebagai lauk pendamping nasi? Bagi sebagian orang, pasti merasa geli dan jijik saat melihat hewan berlendir itu berjalan. Tapi tidak untuk Lira dan keluarganya, mereka menganggap bekicot sebagai berkah. Di saat tak memiliki uang, bekicot lah yang akan menjadi lauk mereka.
Reza menoleh ke arah ibu mertuanya yang terlihat teduh, lalu Reza kembali menoleh ke arah istrinya yang masih betah duduk di pinggir sawah sambil tertawa bersama Bela. Entah apa yang sedang mereka bicarakan hingga bisa tertawa begitu renyah tanpa menghiraukan tatapan heran dari ketiga orang tuanya.
__ADS_1
πΈπΈπΈπΈ
Bersambung.......π